Tampilkan postingan dengan label air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Oktober 2010

[Random Snippets-AIR] Takuuut...!!

Gantungkan cita-citamu setinggi langit.

Sering baca kalimat ini sewaktu SD, tertempel di tembok-tembok kelas. Ada satu cita-citaku yang belum kesampaian sampai sekarang, hanya baru tergantung aja di langit. Apa itu?? Berhubungan dengan air yang pasti, biasanya suka membuat aku susah nafas, merem melek mengusap muka, dan tersedak, gelagepan kata orang Jawa. Ya..ya..ya...tebakan Anda benar (emang tadi nebak gak?), saya bercita-cita ingin bisa BERENANG!!!!! Eiits....jangan mesam-mesem apalagi ketawa ngikik ya, saya memang sudah emak-emak, punya anak, cantik pulak -apa hubungannya?-, tapi saya pengeeeen sekali bisa berenang. Gaya apa saja deh, mau gaya kupu-kupu, gaya dada, gaya punggung, gaya katak, asal bukan gaya batu *ini mah langsung tenggelam*.

Jaman dahulu kala ketika tuan putri (baca : aku) masih kecil, seperti anak-anak lainnya suka main air, suka berendam meski cuma di bak mandi. Asli lho, dulu pas SD diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, aku berlama-lama mandinya, padahal aku masuk ke dalam bak mandi. Dulu rumah orang tuaku mungil, bak mandinya juga mungil. Aku membayangkan diriku sebagai seorang putri yang lagi berendam wewangian. Asyik banget sampai Mama ngetok-ngetok pintu kamar mandi sambil teriak-teriak, takut ada something wrong padaku. Ketagihan ceritanya, besoknya aku ngajak adikku yang juga cewek dan hanya terpaut 3 tahun untuk sama-sama menikmati berendam di bak mandi ala putri. Besok-besoknya lagi aku malah ngajakin tetanggaku berendam bertiga sampai lamaaaa banget. Kebayang kan tuh air mandi jadi terkontaminasi hahaha, akhirnya kami dimarahi Mama deh.

Orang tuaku jaraaang banget mengajak aku ke kolam renang, apalagi ke laut, jauuh itu sih. Hanya sekali dua kali saja, sehingga aku kurang akrab dengan air. Sewaktu mandi keramas saja sudah teriak-teriak kalau disiram air di kepala hehe. Jaman SMP juga gak pernah belajar renang, ingin sih, tapi gak ada ekskulnya jadi yah gak kepikiran juga. Nah, pas jaman SMU nih ada praktek olahraga berenang. Ampun, kaget banget, ngeri, jantungan, deg-degan, keringetan, takuuuut -lebay-. Mau nggak mau harus berlatih akhirnya, sekali seminggu sudah bagus banget, tapi tetep saja nggak mahir-mahir. Cuma bisa maju 2 meteran trus glek..glek...minum air kolam yang terkontaminasi itu huueeekk.......

Pernah juga hampir tenggelam, alhamdulillah ditolong mas-mas yang duduk di pinggir kolam. Sampai sekarang nih, aku masih gelagepan kalo main air sama suami trus tiba-tiba dia nyiram air ke kepalaku. Langsung deh aku teriak sambil merem dan nahan nafas, kalap mencari handuk untuk melap mukaku. Dan....ternyata kedua anakku juga begitu, suka main air tapi takut air -sigh-. Maka cita-cita nambah lagi, tidak hanya ingin agar aku bisa berenang tapi juga ingin agar Syifa dan Farah juga bisa berenang.



Apalagi Rasulullah menyunahkan agar kita mengajari anak-anak kita untuk berenang, selain memanah dan naik kuda. Jadi berenang itu pasti bermanfaat banget kan ya, selain untuk kesehatan, juga sebagai skill kita pribadi. Bukan tidak mungkin takdir membawa kita ke daerah yang berair dan tentunya memerlukan keahlian berenang. Contohnya aku nih, yang lulus SMU tiba-tiba harus kuliah ke pulau Sulawesi, nyebrang laut nih ceritanya, naik kapal pula. Kebayang kan ngerinya, kalau sampai ada musibah trus akunya nggak bisa berenang huhuhu. Komat-kamit berdo'a terus jadinya sewaktu di atas kapal, pengen selamat, pengen cepet sampai tujuan.

Alhamdulillah suami bisa berenang, jadi ada pelatih gratisan dong ah *ibu teladan suka yang gratisan haha*. Rencana kemarin mumpung ada di Jakarta, pengen banget ngajak anak-anak ke Waterboom, duuh sampai ngimpi-ngimpi lho. Bahkan aku sudah beli satu setel pakaian renang muslimah, yang sayangnya sampai sekarang masih terlipat rapi di dalam lemari. Belum kesampaian nih sampai hari ini untuk belajar renang dan untuk mengakrabkan air kepada anak-anak.

InsyaAllah nanti kalau aku sudah resmi pindah Jakarta beserta anak-anak, bisa kumpul lagi dengan suami, sudah menetap di Jakarta, rencananya mau rutin sebulan berapa kali gitu pergi ke kolam renang, berusaha untuk meraih cita-citaku tersebut.

*****
Ditulis untuk meramaikan lombanya mbak Vina di http://revinaoctavianitadr.multiply.com/journal/item/348

Read More

[Random Snippets-AIR] Air Yang Tersia-siakan

Kalau flash back ke jaman dahulu kala, yah gak dulu-dulu banget lah, mungkin 30 atau 50 tahun yang lalu dimana bumi kita masih cukup terjaga kelestarian alamnya, pasti masih banyak sungai yang mengalir jernih, belum banyak banget sampah seperti sekarang. Tidak cuma sungai, aku membayangkan pantai-pantai biru yang masih terjaga kecantikannya, juga mata air yang banyak jumlahnya. Orang dengan cukup mudah bisa mendapatkan air segar nan murni. Asli ini hanya pemikiranku yah, karena sebenarnya aku nggak punya data-data hasil riset dari si ini atau si anu. Hanya menyayangkan keadaan alam kita yang makin parah rusaknya ini, membuat hati sedih saja.

Teringat olehku ketika dulu sempat kuliah satu tahun di kota Angin Mamiri, Makassar yang terkenal dengan pantai Losarinya. Dulu sering aku dan teman-teman, termasuk pacar ( ehem
sekarang dah jadi mantan pacar alias suami :D) ngumpul-ngumpul di sana, sekedar refreshing sambil makan pisang Epe, jajanan khas kesukaanku. Sementara asyik menikmati sunset, hembusan angin laut dan ngemil, tiba-tiba aku terganggu dengan pemandangan di depan mata, tepatnya di bawah kakiku, di bibir pantai. Sampah menghiasi pinggiran pantai, menutupinya malah. Bermacam-macam jenisnya, dari ranting sampai plastik kemasan minuman berbagai merk.  Ah, sedih rasanya, mengapa masyarakat tidak bersama-sama menjaga kelestarian alam yang mereka huni.

Lihat saja sekarang, banyak terjadi bencana alam yang melibatkan air. Ya, air menjadi penyebabnya, mulai dari banjir, longsor, dan turunnya ketinggian tanah (terutama di Jakarta). Kalau saja alam kita ini dilestarikan, maka air hujan sederas apapun, selama apapun (dalam keadaan normal tentunya ya) tentu tidak akan tersia-siakan. Air hujan bisa terserap oleh tanah dengan baik, menyuplai air tanah yang kita pijak, menyuplai mata air-mata air, melewati sungai-sungai kembali ke laut, sesuai siklus air yang dulu dijelaskan oleh bapak dan ibu guru kita sewaktu SD dulu.

Tidak seperti sekarang, air hujan dengan intensitas sedikit besar saja sudah membuat banjir jalanan, bahkan masuk ke perumahan. Air menjadi musibah, air menjadi tersia-siakan, tidak bermanfaat malah mematikan. Baru-baru saja musibah air bah di Wasior, Papua terjadi. Lagi-lagi, air kembali tersia-siakan, tidak bisa terserap tanah dengan baik malah lewat begitu saja dengan mengakibatkan kerusakan dan kematian.

Alhamdulillah, saat ini keluargaku mengontrak rumah di mana air dengan mudah didapatkan. Kualitas airnya bagus, jernih, segar. Dengar-dengar kalau di daerah lain di Jakarta ada yang cukup susah mendapatkan air, kalau pun ada tapi kurang jernih ya? Sayang kran air di kamar mandiku sudah berhari-hari rusak. Sehingga kalaupun kran sudah dimatikan, air tetap saja merembes, mengalir, padahal bak mandiku ukurannya kecil sehingga cepat penuh. Duh, gelisah hati ini, mengingat jaman sekarang harus hemat air, demi menjaga persediaan air tanah, menjaga alam. Berulang kali aku mengingatkan suami agar segera mengganti kran rusak tersebut tapi belum juga dia lakukan. Benar-benar mubadzir ya, airnya tersia-siakan, terbuang begitu saja. Feel guilty kalau ingat di lain tempat banyak orang susah nyari air, ini malah buang-buang.

Akhirnya, setelah lumayan lama jadi mak-mak cerewet ngingetin suami melulu, alhamdulillah suami membeli kran baru di pasar dan segera memasangnya. Sip deh, air sudah berhenti mengalir kalau kran sudah dimatikan. Tidak ada lagi air yang terbuang percuma, tidak ada lagi air yang tersia-siakan di rumahku.



*tulisan ini ditulis demi meramaikan lomba ultahnya bu dokter cantik di sini :

http://revinaoctavianitadr.multiply.com/journal/item/348/Temenan_ama_air? 

Read More