Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Oktober 2015

Menghapal Nama Surah Al-Qur'an

SALAH SATU CARA MUDAH MENGHAPAL NAMA2 SURAH DALAM AL QUR’AN

Cobalah baca cerita-cerita di bawah ini, dan perhatikan kata-kata yang BERHURUF BESAR.
Kata- kata tersebut adalah nama-nama surat dalam Al Qur’an.
Hafalkan ceritanya, dan kemudian tuliskan kata-kata tersebut secara berurut. Maka akan kita dapatkan NAMA SURAT dan NOMOR URUTNYA.
Silahkan mencoba :

Cerita I ; (Surah 1 – 10)
Paman membaca AL FATIHAH sebelum memasak SAPI BETINA milik KELUARGA IMRAN yang punya anak wanita bernama AN NISA.
Sebagian HIDANGAN itu diberikan untuk BINATANG TERNAK.
Kemudian paman menuju TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI, untuk mencuri HARTA RAMPASAN PERANG.
Namun akhirnya paman ber-TAUBAT seperti taubatnya Nabi YUNUS.

NO.KRONOLOGI CERITA
1.AL-FATIHAH
2.SAPI BETINA – AL-BAQOROH
3.KELUARGA IMRAN – ALI IMRON
4.AN NISA
5.HIDANGAN – AL MAIDAH
6.BINATANG TERNAK – AL AN ‘AM
7.TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI – AL A’ ROF
8.HARTA RAMPASAN PERANG – AL ANFAL
9.TAUBAT – AT TAUBAH
10.YUNUS

Cerita II; (Surah 11 – 20)
HUD dan YUSUF melihat PETIR.
Sementara itu IBRAHIM sedang berada di PEGUNUNGAN HIJR.
Ia mencari LEBAH, untuk kemudian memulai PERJALANAN MALAM menuju ke GUA untuk menemui MARYAM dan TOHA.

NO.KRONOLOGI CERITA
11.HUD
12.YUSUF
13.PETIR – AR RA’D
14.IBRAHIM
15.PEGUNUNGAN HIJR – AL HIJR
16.LEBAH – AN NAHL
17.PERJALANAN MALAM – AL ISRO
18.GUA – AL KAHFI
19.MARYAM
20.TOHA

Cerita III ; (Surah 21 – 30)
PARA NABI pergi HAJI diikuti oleh ORANG-ORANG BERIMAN.
Mereka seperti CAHAYA.
Inilah yang menjadi PEMBEDA ANTARA YANG BENAR DAN BATHIL. Sementara itu, PARA PENYAIR bercerita tentang SEMUT.
Cerita itu terangkum dalam buku KISAH –KISAH.
Dalam buku itu juga diceritakan tentang LABA-LABA yang menyerang BANGSA ROMAWI.
NO.KRONOLOGI CERITA
21.PARA NABI – AL ANBIYA
22.HAJI – AL HAJJ
23.ORANG – ORANG BERIMAN-AL
MU’MINUN
24.CAHAYA – AN NUR
25.PEMBEDA ANTARA YANG BENAR
DAN BATHIL – AL FURQON
26.PARA PENYAIR – ASY SYU ‘ARO
27.SEMUT-AN NAML
28.KISAH2 – AL QOSHOSH
29.LABA-LABA – AL ‘ANKABUT
30.BANGSA ROMAWI – AR RUM

Cerita IV ; (Surah 31 – 40)
LUKMAN tidak berSUJUD di kaum yang terkena AHZAB dan tidak juga kepada kaum SABA’.
Sementara itu FATHIR dan YASIN berdiri bersama orang YANG BERSHAF-SHAF dan membentuk huruf SHOD.
Mereka teramasuk ROMBONGAN – ROMBONGAN yang memohon ampunan kepada YANG MAHA PENGAMPUN.

NO.KRONOLOGI CERITA
31.LUKMAN – LUQMAN
32.SUJUD – AS SAJDAH
33.AL AHZAB
34.SABA’
35.FATHIR
36.YASIN
37.YANG BERSHAF2– ASH
SHOOFFAT
38 SHOD
39.ROMBONGAN-ROMBONGAN – AZ ZUMAR
40.YANG MAHA PENGAMPUN – GHOFIR

Cerita V; (Surah 41 – 50)
YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu adalah tentang
PERHIASAN.
Bukan tentang KABUT.
Sementara itu banyak orang YANG BERLUTUT di BUKIT-BUKIT PASIR. Saat itulah MUHAMMAD mendapat KEMENANGAN.
Hal ini ditandai dengan KAMAR-KAMAR bertuliskan huruf QOF.
NO.KRONOLOGI CERITA
41.YANG DIJELASKAN – FUSHSHILAT
42.MUSYAWARAH – ASY SYURA
43.PERHIASAN – AZ ZUKHRUF
44.KABUT – AD DUKHAN
45.YANG BERLUTUT – AL JATSIYAH
46.BUKIT2 PASIR – AL AHQOF
47.MUHAMMAD – MUHAMMAD
48.KEMENANGAN – AL FATH
49.KAMAR2– AL HUJURAT
50.QOF

Cerita VI ; (Surah 51 – 60)
ANGIN YANG MENERBANGKAN membawa awan ke bukit THURSINA.
Ini terjadi saat BINTANG dan BULAN bersinar.
Sementara itu pak RAHMAN sedang berceramah tentang HARI KIAMAT. Dimana BESI hancur, WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN mengalami PENGUSIRAN, dan banyak PEREMPUAN YANG DIUJI.

NO.KRONOLOGI CERITA
51.ANGIN YANG MENERBANGKAN –
ADZ DZARIYAT
52.THURSINA – ATH THUR
53.BINTANG – AN NAJM
54.BULAN – AL QOMAR
55.AR RAHMAN
56.HARI KIAMAT – AL WAQI ‘AH
57.BESI – AL HADID
58.WANITA YANG MENGAJUKAN
GUGATAN – AL MUJADILAH
59 PENGUSIRAN – AL HASYR
60.PEREMPUAN YANG DIUJI – AL
MUMTAHANAH

Cerita VII ; (Surah 61 – 70)
BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG – ORANG MUNAFIK.
Demikian juga pada HARI DITAMPAKAN KESALAHAN -KESALAHAN.
Ketika aku di-TALAK, aku MENGHARAMKAN dia untuk masuk rumah ini. KERAJAAN yang indah, PENA yang mahal, pada HARI KIAMAT tidak lagi berharga.
Disinilah TEMPAT-TEMPAT NAIK bagi amal sholih.

NO.KRONOLOGI CERITA
61.BARISAN – ASH SHOF
62.HARI JUM’AT – AL JUMU’AH
63.ORANG-ORANG MUNAFIK – AL MUNAFIQUN
64.HARI DITAMPAKAN KESALAHAN- KESALAHAN – AL TAGHOBUN
65.TALAK – ATH THOLAQ
66.MENGHARAMKAN – AT TAHRIM
67.KERAJAAN – AL MULK
68.PENA – AL QOLAM
69.HARI KIAMAT – AL HAAQQAH
70.TEMPAT2 NAIK – AL MA ‘ARIJ

Cerita VIII ; (Surah 71 – 80)
NUH diganggu JIN disaat ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL tertidur pulas.
Ia tidak menyadari datangnya KIAMAT.
Sementara itu, ketika MANUSIA bertemu dengan MALAIKAT YANG
DIUTUS untuk menyampaikan BERITA BESAR tentang kematian, MALAIKAT- MALAIKAT YANG MENCABUT nyawa sedang melihat IA BERMUKA MASAM.

NO.KRONOLOGI CERITA
71.NUH – NUH
72.JIN – AL JINN
73.ORANG YANG BERSELIMUT – AL MUZAMMIL
74.ORANG YANG BERKEMUL – AL MUDATSTSIR
75.KIAMAT – AL QIYAMAH
76.MANUSIA – AL INSAN
77.MALAIKAT YANG DIUTUS – AL MURSALAT
78.BERITA BESAR – AN NABA’
79.MALAIKAT2 YANG MENCABUT – AN NAZI ‘AT
80.IA BERMUKA MASAM – ‘ABASA

Cerita IX ; (Surah 81 – 90)
Ombak MENGGULUNG, bumi TERBELAH, ORANG-ORANG YANG
CURANG pun ikut TERBELAH.
Mereka seperti GUGUSAN BINTANG YANG DATANG DI MALAM HARI. Mereka berada di tempat YANG PALING TINGGI.
Pada HARI PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.

NO.KRONOLOGI CERITA
81.MENGGULUNG – AT TAKWIR
82.TERBELAH – AL INFITHOR
83.ORANG-ORANG YANG CURANG – AL MUTHOFFIFIN
84.TERBELAH – AL INSYIQOQ
85.GUGUSAN BINTANG – AL BURUJ
86.YANG DATANG DI MALAM HARI – ATH THORIQ
87.YANG PALING TINGGI – AL A ‘LA
88.HARI PEMBALASAN – AL GHOSYIYAH
89.FAJAR – AL FAJR
90.NEGERI – AL BALAD

Cerita X; (Surah 91 – 100)
MATAHARI tenggelam saat MALAM tiba.
Dan ketika WAKTU DHUHA, Allah MELAPANGKAN rizki dan menumbuhkan BUAH TIN.
Sementara itu manusia yang berasal dari SEGUMPAL DARAH tidak mempunyai KEMULIAAN sedikit pun.
Ini adalah BUKTI akan terjadi KEGONCANGAN di dunia.
Hingga KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG pun mati.

NO.KRONOLOGI CERITA
91.MATAHARI – ASY SYAMS
92.MALAM – AL LAIL
93.WAKTU DHUHA – ADH DHUHA
94.MELAPANGKAN – AL INSYIROH
95.BUAH TIN – AT TIN
96.SEGUMPAL DARAH – AL ‘ALAQ
97.KEMULIAAN – AL QODR
98.BUKTI – AL BAYYINAH
99.KEGONCANGAN – AZ ZALZALAH
100.KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG – AL`ADIYAT

Cerita XI ; (Surah 101 – 110)
HARI KIAMAT, hari dimana manusia tidak bisa lagi BERMEGAH-MEGAHAN.
Pada MASA itulah si PENGUMPAT mati diinjak-injak GAJAH.
Sementara itu SUKU QURAISY bertengkar dengan pak MA’UN di tepi telaga KAUTSAR.
Saat itu ORANG-ORANG KAFIR tidak mendapatkan PERTOLONGAN.

NO.KRONOLOGI CERITA
101.HARI KIAMAT– AL QORI ‘AH
102.BERMEGAH-MEGAHAN – AT TAKATSUR
103.MASA – AL ‘ASHR
104.PENGUMPAT – AL HUMAZAH
105.GAJAH – AL FI-L
106.SUKU QURAISY – QURAISY
107.MA’UN – AL MA ‘UN
108.KAUTSAR – AL KAUTSAR
109.ORANG-ORANG KAFIR – AL KAFIRUN
110.PERTOLONGAN – AN NASHR

Cerita XII (Surah 111-114)
Insya Allah 4 surat terakhir ini semua dari kita sudah menghafalnya.
NO.SURAT
111.AL LAHAB
112.AL IKHLASH
113.AL FALAQ
114. NAAS

Semoga bermanfaat

www.RUBAIYAT.id
Metode Belajar AlQuran 4 Jam
#IndonesiaBebasButaAksaraAlQuran2020
Read More

Senin, 28 September 2015

Be Positive Be Happy

Hari ini misua kebagian jatah pulang jam 7 malam. Jadi aku berencana pulang on time jam 5 teng agar bisa segera sampai di stasiun Palmerah. Kalo lancar bisa dapat kereta yang jam 5.15 dan sampai rumah sebelum jam 6. Bahagia lho kalo bisa sampai rumah langit masih terang benderang gitu. 

Tadi pagi bangun jam 4 pagi, alhamdulillah bisa ngerjain banyak hal dan siap berangkat kantor jam 6 lewat. Sayang oh sayang, misua susah bangun karena semalam begadang ngerjain kerjaan kantor. Kalau sampai kantor telat, terpaksa aku pulangnya telat juga. 

Oalah sampai kantor ternyata jam 8.06 huhuhu udah ga bisa ngeganti lagi. Lucu juga ya, terkabul tuh pengenku yang mau pulang jam 5 pas. Meski kenyataannya ga mengenakkan karena pulang tepat waktu karena pagi telat plus dapat potongan absen lebih banyak. 

Yo wis lah, hembuskan nafas perlahan sambil berucap, "Qadarullah wa masya'a fa'ala."
(Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).
Jangan sampai pagi ini ketiban bad mood. Oh no, dibikin seneng aja ^_^

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah dalam mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu lemah. Jika menimpamu satu perkara, janganlah kamu berkata, ‘Kalau aku lakukan ini, niscaya akan terjadi demikian dan demikian’, tetapi ucapkanlah, ‘Qadarullah wa masya’a fa’ala’, karena ucapan (kalau/berandai-andai) akan membuka amalan setan.” (Muttafaq alaih)

Alhamdulillah meski hari ini telat dan kena potongan absen banyak, tapi ada rejeki lain yang datang menghampiri. Ga usah sedih, mutung, bin mangkel. Hidup ini terlalu singkat, sayang kalau digunakan untuk meratap saja. Masih banyak hal yang harus disyukuri kok.
Read More

Selasa, 07 April 2015

Silsilah Keluarga

sumber: kaskushootthread.blogspot.com


Saat mudik bulan Januari lalu, Syifa dan Farah asyik melihat beberapa album foto di kamar Eyang Uti. Banyak sekali pertanyaan "Ini siapa?" yang dilontarkan ke Eyangnya. Eyang pun menjelaskan satu demi satu dengan antusias. Orang tuaku yang asli Salatiga dan Tuntang memang berasal dari keluarga besar. Dari Papa ada 7 bersaudara dan dari Mama ada 10 bersaudara. Nah, terbayang kan berapa jumlah cucu dan cicitnya. Saat ini mereka tinggal di berbagai kota, jarang bertemu kecuali ada acara keluarga seperti pernikahan atau kematian.

Setelah selesai bercerita tentang silsilah keluarga kepada Syifa dan Farah, Mama pun menemuiku. Beliau menyampaikan betapa pentingnya anak-anak mengetahui silsilah keluarganya dan mengenal sanak saudara mereka. Penting bagi mereka untuk tahu bahwa mereka punya akar keluarga yang kini tersebar di berbagai kota.

Ada kesan kecewa dari Mama yang kutangkap. Aku tahu beliau menyayangkan mengapa aku yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, ternyata masih juga belum sowan ke beberapa rumah kerabat yang ada di sana. Padahal sebetulnya aku sangat suka bersilaturahim lho, jalan kemana hayuk aja. Sayang kondisi saat ini kan kemana-kemana harus ada ijin bos alias suami. Kebetulan suamiku memang kurang suka diajak jalan, nah jadinya ya mandeg deh aku. Hanya bisa berniat sowan tapi tak terlaksana dan mupeng saja.

Yah, semoga tahun ini bisa menjalankan amanah Mama. Tidak hanya ke rumah kerabat di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga lebih sering menengok orang tua. Jarak Jakarta-Malang memang tak terlalu jauh, tapi selama beberapa tahun terakhir ini memang kami belum bisa pulang. Semoga Allah lapangkan rejeki dan kesehatan, agar semua bisa terlaksana. Bukankah menyambung tali silaturahim itu banyak sekali manfaatnya.


Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)
Read More

Senin, 08 Desember 2014

Teringat Kematian


Dari jendela kamar, aku bisa melihat pesawat terbang melintasi langit malam. Hanya berupa titik kecil kelap-kelip, selintas, lalu menghilang. Kapan ya terakhir kali aku naik pesawat? Sepertinya sudah bertahun yang lalu hiks.

Bagaimana perasaanmu ketika sedang mengudara? Pernah tidak, naik pesawat butut yang membuatmu parno? Aku pernah, sungguh kondisi armada pesawat terburuk yang pernah kunaiki. Bikin bergidik, langsung terlintas kecelakaan pesawat Adam Air. Duh, langsung deh dzikir banyak-banyak. Berusaha menenangkan diri, lintasan bayangan kematian terasa begitu dekat.

Begitupun ketika sedang melakukan perjalanan darat, dengan bis misalnya. Duduk di bangku agak depan, akan membuatmu kelojotan hehe. Supir bis AKAP biasanya kebut-kebutan, suka main rem mendadak pula. Duuh, terbayang deh aneka berita kecelakaan lalin di depan mata. Ah, resah gelisah jadinya mengingat kematian yang tak terduga, kapan dan di mana.

Seringkali kita mengingat mati pada momen yang terjadi saat kita berada di luar zona nyaman kita. Sebaliknya, sehari-hari kita melebur dalam rutinitas, dalam lingkaran yang kita buat sendiri. Maka kita terlena akan mengingat mati, bahkan mungkin lupa. Na’udzubillah. Padahal, sejatinya kematian begitu dekat. Tak dapat kita bersembunyi darinya.

 "Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa’-78)

Read More

Senin, 27 Oktober 2014

Saat Membayar Zakat Fitrah

Sang istri cemberut, wajahnya ditekuk. Sudah lebih dari dua minggu ia ingatkan suaminya agar segera membayarkan zakat fitrah. Takutnya, ia atau suaminya terlupa. Kenapa tidak disegerakan saja? Kenapa perbuatan baik kok ditunda-tunda?

"Ramadhan tinggal hitungan hari, kenapa tak segera dibayarkan zakatnya?" tanya sang istri sedikit emosi.

"Dulu ayahku selalu membayarkan zakat pas malam takbiran lho. Selalu begitu setiap tahunnya." Jawab sang suami santai.

"Ah, dipas-pasin kali. Mepet banget waktunya. Mending segera, daripada lupa. Cepetan ah diantar uang zakatnya." sergah sang istri.

Akhirnya sang suami membayarkan zakat fitrah keluarganya malam itu, dua hari sebelum Lebaran. Tersenyum senang, sang istri merasa lega, sembari membuka hape dan membaca broadcast BBM yang berisi:

Waktu mengeluarkan zakat fithri terbagi dua:

1. Waktu utama:

Dimulai sejak matahari terbenam pada malam ‘Id hingga shalat ‘Id. Lebih utama antara shalat Fajar dan shalat ‘Id.

Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata,

“Beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) memerintahkan agar (zakat fitrah) ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (Id).” (Mutafaq alaih)

2. Waktu yang dibolehkan

Yaitu, sehari atau dua hari sebelum ‘Id. Sebagaimana terdapat dalam shahih Bukhari: “Mereka (para shahabat) biasanya memberikan (zakat fitrah) kepada orang-orang miskin sehari atau dua hari sebelum Idul Fithri.” (HR. Bukhari)

Maka hal tersebut merupakan ijmak para shahabat.

Wajah sang istri pun tersipu malu. Duhai, ternyata benar adanya yang dilakukan bapak mertuaku. Lalu aku? Ah, ternyata masih miskin ilmu. Hadits tentang bayar zakat saja sekarang baru tahu @_@

*kepingceritaRamadhan2014






Read More

Senin, 22 September 2014

Good People

Aku dan suami setiap hari pulang pergi bekerja naik sepeda motor. Kami sudah sampai di jalan Veteran ketika tiba-tiba hujan turun. Wah, padahal jas hujan yang kami bawa hanya satu saja. Beberapa waktu yang lalu, jas hujan satunya hilang diambil orang. Tau aja dia kalau kami baru saja membeli yang baru, merk oke lagi, Axio. Pantas saja hilang, lumayan buat yang ambil :D

Deg-degan berharap hujan hanya berupa rintik saja, ternyata malah turun begitu deras disertai angin kencang dan petir menggelegar berkali-kali. Ya Rabb, hanya bisa pasrah. Jas hujan satu-satunya kupakai dan si mas basah kuyup menerjang hujan. Kasihan banget sama si mas, tapi ya gimana lagi. Secara fisik aku memang lebih lemah, bisa langsung sakit kalau hujan-hujanan, malam-malam pula.

Masuk jalan Kesehatan, tiba-tiba motor kami mogok. Innalillahi, bensinnya habis. Qodarullah, tadi dari kantor lupa isi bensin dulu dan habis kok ya pas di kondisi hujan angin begini. Jadi kami pun akhirnya berjalan kaki menembus guyuran hujan dan banjir di atas mata kaki. Tidak ada penjual bensin eceran di sekitar sana, maka kami harus berjalan lumayan jauh untuk sampai di pom bensin. Si mas menuntun motor dan aku mengikutinya di belakang.

Tiba-tiba ada seorang pengendara motor menepi, berbicara dengan suami dan lalu mereka mencari tempat berteduh. Aku yang tertinggal di belakang segera menyusul sambil bertanya-tanya. Masya Allah, ternyata si bapak menawarkan bensin di tangki motornya untuk motor kami. Dalam kondisi hujan angin, banjir, dan kilat terus menyambar, begitu banyak pengendara lain berlalu begitu saja tapi bapak ini mau berhenti dan membantu.

Kami berteduh di depan sebuah bengkel yang sudah tutup. Air makin meninggi dan hujan tak memandakan akan berkurang saat itu. Si bapak tersebut membuka selang bensin di motornya lalu menampung tetesan bensin ke dalam sebuah botol yang didapat suamiku dari meminjam kepada pemilik bengkel tempat kami berteduh. Ah, meski sedikit, bensinnya sangat berharga bagi kami. Kebaikan bapak itu begitu terasa hangat, menghapus kepenatan tubuh kami yang kedinginan.

Allah Maha Baik, masih ada orang yang tulus ikhlas membantu sesama. Alhamdulillah. Semoga Allah merahmatimu Pak, juga melapangkan rejekimu. Aamiin.



Catatan 13 Juni 2014

Read More

Rabu, 17 September 2014

Haji



Pasti sudah tahu lah ya film Emak Ingin Naik Haji dan Tukang Bubur Naik Haji. Kita melihat kegigihan seorang hamba yang kalau dilihat dari segi ekonomi dan materi sangat tidak mungkin untuk bisa pergi haji dengan biaya yang tidak sedikit itu. Namun, dengan ijinNya mereka bisa pergi haji.

Kali ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada denyar di dada kala mendengar kabar teman-temanku pergi haji. Ada sesak menyeruak saat melihat tayangan pemberangkatan haji di TV. Haru, ikut bahagia, bangga, lalu sedih, sambil bertanya, "Aku kapan?"

Seorang teman pernah berkata, "Bisa jadi kita termasuk orang yang kufur nikmat, karena mempunyai keluasan rejeki tapi tidak gigih  digunakan untuk pergi haji." Mak jleb lah ya. Lalu ada kisah seorang teman yang lebih memilih menjual rumah satu2nya demi ongkos haji dan sepulang haji keluarganya pun mengontrak saja. Alhamdulillah beberapa tahun berikutnya, mereka sudah bisa punya rumah lagi, meski dengan KPR. Ada juga teman yang setelah melunasi biaya haji, uang yang dimilikinya hanya tinggal Rp82ribu saja. Gamang juga dia saat itu, tapi tetap tawakkal dan ikhtiar. Ah, pasti banyak cerita perjuangan dan pengorbanan semacam ini yang juga telah kau dengar kan sobat?

Aku tak mau berpikir bahwa aku belum berkesempatan pergi haji karena aku belum pantas. Tidak, bukan itu. Toh, banyak juga pejabat ga beres yang bisa sampai di Mekah. Bukan tentang seberapa baik atau buruk kelakuan kita sebagai tolok ukur syarat pergi haji. Mungkin, Allah ingin mengetahui seberapa besar usaha kita, seberapa gigih kita memancangkan tekad, seberapa tinggi ketawakkalan kita padaNya. Dan pada akhirnya Allah akan memudahkan segalanya, menyederhanakan prosesnya, dan mengundang kita ke rumahNya.


Read More

Rabu, 14 Mei 2014

Salah Ucap

X: Alhamdulillah, aku dikontrak penerbit. Mimpiku jadi kenyataan

Y: Subhanallah, duuuh ikut seneng nih :-)

X: Kok bilang Subhanallah sih, salah itu.

Y: Lho, kan aku menyatakan kekaguman, ikut seneng juga.

X: Subhanallah itu diucapkan ketika kita melihat hal yang ga baik, jadi artinya yang bener, "Maha Suci Allah dari yang demikian itu".

Y: Wah aku baru tau, lha ini kok di banyak buku anakku semua make Subhanallah untuk menyatakan kekaguman. Ada buku yang judulnya "Subhanallah, Allah Menciptakan Awan" dan banyak judul serupa. *masihngotot

X: Lha iyaaaa, itu salaaah.

Y: *mbesengut *heran *kepo *trusgugling

Finally aku dapat dari hasil gugling nih, bahwa memang kebanyakan dari kita salah dalam menggunakan kata Subhanallah dan MasyaAllah. Sejatinya, Subhanallah digunakan sebagai koreksi atau perbaikan atas sebuah kesalahan atau hal buruk. Contohnya dalam Al-Quran banyak sekali dituliskan didalamnya mengenai kata ini, umumnya sebagai koreksi atau perbaikan seperti ada di:
  1.  "Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya "(QS Al-Baqarah : 116)
  2.  "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara "(QS An-Nisa :171)
Contoh lainnya adalah pengguanaan sehari-hari dalam shalat berjamaah. Apabila imam salah dalam gerak shalatnya maka makmum akan mengucap Subhanallah.
      
Selanjutnya, MasyaAllah digunakan dalam Al-Quran sebagai berikut:

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan " (QS Al-Kahfi : 39)

Dari ayat Alkahfi 39 tersebut dapat dilihat bahwa sesungguhnya kata Masya'Allah itu kita gunakan sebagai kata untuk mengungkapkan kekaguman, bukanlah sebuah keburukan. namun dalam sehari-hari sangat sering sekali kita salah dalam menggunakannya.

Terima kasih pada temanku itu yang sudah memgingatkan kesalahanku selama ini. Padahal sudah terbiasa sedikit-sedikit ucap Subhanallah kalau kagum, dan ucapkan MasyaAllah kalau lihat hal buruk. Fyuuh harus rombak kebiasaan nih.


Read More

Rabu, 02 April 2014

Rumah Gedong

Setiap hari, pagi dan sore, aku beserta si mas melewati rute yang sama untuk berangkat dan pulang kantor. Di beberapa titik, kami melewati deretan rumah-rumah gedong alias gede magrong-magrong, bahasa Jawanya untuk rumah mewah yang besar. Entah apa yang ada dalam benak si mas, tapi kami berdua sama-sama suka menengok ke kanan dan ke kiri, menikmati penampakan rumah-rumah itu. Ada yang bentuknya minimalis, ada yang bergaya Victoria, ada yang mbuh model apa kesannya kok aneh buatku. Ada juga yang tidak terlalu besar namun asri, desainnya juga enak dilihat.

Justru yang terlintas dalam benakku adalah pertanyaan ketika melihat rumah yang gedong itu, berapa ya jumlah penghuni di dalamnya? Jangan dihitung pembantu dan supir ya, tapi jumlah keluarga inti. Pemilik rumah gedong seperti itu biasanya jarang yang beranak banyak kan ya? Palingan 2 atau 3 orang saja. Dengan rumah sebesar itu, wah pasti rasanya sunyi ya, apalagi kalau anak sudah beranjak dewasa dan sibuk masing-masing. Coba kalau anaknya banyak misal 5 atau 7 orang, wah ga rugi kayanya punya rumah gedong hoho. 

Memang sih, merupakan salah satu kenikmatan bagi kita untuk mempunyai rumah yang lapang, meski tak harus gede magrong-magrong. Seperti sabda Rasulullah Saw, " Ada empat sumber kebahagiaan seseorang, yaitu istri salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Juga ada empat sumber kesedihan seseorang, yaitu tetangga yang jahat, istri yang membangkang, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk."

Impian banyak orang, paling tidak kalau punya anak 3 ya punya rumah dengan 3 atau 4 kamar kali ya. Jadi privasi orang tua terjaga, anak juga bisa lebih mandiri. Rumah yang lapang juga lebih menyehatkan karena aliran udara lebih lancar, peletakan barang juga lebih rapi. Pun ketika sanak saudara datang, bisa menampung mereka dengan lebih leluasa. Semoga kita semua bisa mendapatkan rumah yang lapang ya baik lapang secara fisik maupun rumah yang.bisa memberi kelapangan di dalam hati.


Read More

Selasa, 01 April 2014

April Mop

Jaman kala aku masih unyu-unyu dengan seragam putih abu-abu, kelas 1 SMA. Suatu ketika ada kakak kelas 3 (cewek) yang ngasih surat lewat jendela, katanya sih dari si anu (cowok). Kaget dong aku, heran kenapa si mas anu nyurati aku segala. Secaraaa dia kan konon udah ada ceweknya, dan si mas ini anak band, bandel aka bad boy. Alamak, dari dulu aku doyan sama bad boy *nutupmuka. Jadilah hatiku berbunga-bunga, seneng tahu si mas ada rasa padaku.

Hari itu, dia kirim surat beberapa kali lewat si mbak itu. Sekali, aku ga percaya. Masa sih si mas ini model yang pake surat kaya gini. Kedua kali, wah beneran ga nih? Seneng nih akunya, dia ngajak ketemuan sepulang sekolah pula. Haduuu, deg-degan! Beneran tak tunggui di depan sekolah lho, aku ditemani seorang teman, edun, ckck.

Lha kok, si masnya ga nongol-nongol ya. Malah kelihatannya lagi asyik ngumpul sama teman-temannya, rokokan. Hadeuh, aku mulai ga enak hati, curiga. Akhirnya aku pulang sambil mikir jungkir balik ngesot kayang *lebaypuol. Kok ada yang aneh apa yaa? Kok ada yang salah apa siih? Sampai di rumah, gegulingan di kasur, dan alamaak baru ngeh aku. Kurang asem, aku dikerjain April Mop sama si mbak ituuu! Maluuu aarrgghh.

Ngomong-ngomong tentang April Mop, ternyata ada sejarahnya. Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

April Mop adalah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yg sangat menyedihkan dan memilukan, yaitu satu episode sejarah Muslim Spanyol di thn 1487 M, atau bertepatan dgn 892 H. Dimana saat tentara salib menguasai kembali Spanyol dari tentara Islam. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dlm rumah untuk menyelamatkan diri. Mereka dijanjikan bisa berlayar dengan kapal-kapal. Lalu ribuan umat muslim keluar menuju dermaga. Sesampainya disana, kapal-kapal itu dibakar oleh tentara salib. Mereka terkepung oleh pedang. Dengan satu komando, tentara salib membantai mereka tanpa ampun. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yg biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dgn tanggal 1 April. Inilah yg kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tgl 1 April sbg April Mop. Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Perhatikan hadits ini : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.(HR. Abu Dawud, Ahmad) “Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS.5: 51).”

Sumber: http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/april-mop-hari-dimana-umat-islam-dibantai.html

Read More

Sabtu, 29 Maret 2014

Jin vs Manusia

Dua hari yang lalu Syifa bercerita bahwa dia melihat sosok berambut panjang, berpakaian putih, dengan mata putih tanpa pupil. Aku ngekek kirain dia guyon, eh dia sewot, katanya serius kok lihatnya pas pagi saat dia mengeluarkan sepeda dari rumah.

Sehari kemudian, ada kejadian aneh lagi. Cucunya yang punya kontrakan, seorang bapak 3 anak, kesurupan. Jam 3 dini hari melolong teriak-teriak. Tetangga semua terbangun dan banyak yang keluar menonton. Aku dan anak-anak juga terbangun, lha wong gulung-gulung dan teriak-teriak persis di sebelah rumahku. Cerita semalam, si bapak itu sampai dibawa ke RS dan malah ngamuk ngoceh ga karuan di sana. Duh, kasihan seharian si jin betah banget di tubuhnya.

Sebagai muslim, wajib bagi kita tuk percaya pada hal gaib. Ulama pun telah sepakat bahwa jin bisa merasuki tubuh manusia.

"Tidak ada satupun ulama islam yang mengingkari jin bisa masuk ke badan orang yang kesurupan dan lainnya. Orang yang mengingkari hal ini dan mengklaim bahwa syariat mendustakan anggapan jin bisa masuk ke badan manusia, berarti dia telah berdusta atas nama syariah. Karena tidak ada satupun dalil syariat yang membantah hal itu.” (Majmu’ al-Fatawa, 24:277).

Sementara sebab kerasukannya dijelaskan sebagai berikut:
"Jin yang merasuki manusia bisa saja terjadi karena dorongan syahwat atau hawa nafsu atau karena jatuh cinta. Sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia. Bisa juga terjadi karena kebencian atau kedzaliman (yang dilakukan manusia), misalnya ada orang yang mengganggu jin atau jin mengira ada seseorang yang sengaja mengganggu mereka, baik dengan mengencingi jin atau membuang air panas ke arah jin atau membunuh sebagian jin, meskipun si manusia sendiri tidak mengetahuinya. Namun jin juga bodoh dan dzalim, sehingga dia membalas kesalahan manusia dengan kedzaliman melebihi yang dia terima. Terkadang juga motivasinya hanya sebatas main-main atau mengganggu manusia, sebagaimana yang dilakukan orang jelek di kalangan manusia.” (Majmu’ al-Fatawa, 19:39).

Jadi, langkah paling tepat ya biasakan mengaji di rumah, jangan suka melamun dan kosong pikiran, bentengi diri kita dan keluarga. Semoga kita semua dilindungi dari kejahatan jin dan manusia, aamiin.

Read More

Selasa, 07 Januari 2014

Menapaki 2014: Resolusi dan Konsistensi

Sungguh, waktu terbang begitu cepat. Detik ke menit ke jam dan hari pun berganti. Dari Senin ke Senin lagi, seminggu pun terlewati. Lalu bulan demi bulan terlampaui. And here we are, welcoming a new year, again. Sungguh merugi jika tak ada sesuatu yang bisa kita bawa sebagai bekal untuk melangkah memasuki babak berikutnya, babak 2014.

Kilas balik setahun ke belakang, ternyata begitu banyak pengalaman yang tidak biasa. Up and down perjalanan yang (seharusnya) makin mendewasakan.Kehilangan materi yang tidak sedikit, masih juga ketiban hutang selangit yang baru akan lunas setelah tahunan, hampir kehilangan hal terpenting dalam hidup, memulai sesuatu dari nol lagi, ah semua ini hanya terjadi dalam hitungan bulan saja, tahun lalu. Sungguh, Allah Maha Penyayang, semua ini terjadi atas ijinNya dan berbagai jalan keluar pun Dia berikan pada akhirnya. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?

Setelah berbagai kejadian itu selayaknyalah diri ini menggenggam azzam alias tekad untuk berbuat kebaikan, kapan pun dan di mana pun. Membuang penyakit lama yang menjangkiti diri ini adalah suatu keharusan. Inkonsistensiku selama ini memang lebih banyak membuatku gagal. Menjegalku dari kancah perjuangan apa pun juga, di mana pun juga. Jadi, langkah awal memang perlu dituliskan, apa-apa yang perlu dibuang, diamputasi dan mana yang mau dilakukan, disuburkan, disemai.

Ada beberapa resolusi yang akhirnya kubuat dan sebagian kutulis di blog sebelah. Sebenarnya ada banyak hal lagi yang ingin aku lakukan dan aku wujudkan di tahun ini, oh yeah, tahun ini benar-benar harus lebih baik dari tahun lalu, insyaAllah. Banyak hal yang kusesali di tahun-tahun yang telah lewat. Banyak hal yang baru saja kusadari saat ini dan akhirnya membuatku ingin segera melejitkan diri untuk berubah, untuk meraih mimpi, untuk banyak berbuat kebaikan.

Jadi, sekarang lah saatnya untuk memancangkan impian, konsistensi, dan semangat pantang menyerah. Bismillah.



Read More

Selasa, 10 Desember 2013

Aku vs Aku

Manusia terkenal dengan keakuannya, fitrahnya menjadi makhluk yang lemah, dalam hal ini salah satunya adalah keegoisan yang melekat pada dirinya. Seringkali kita berbenturan dengan orang lain karena satu hal ini. Keakuan si A vs keakuan si B. Keegoisan si A vs keegoisan si B. Tidak akan pernah selesai kisahnya seperti sinetron kejar tayang. Hanya bila ada salah satu pihak yang mau mengalah, rendah hati, dan lebih bijaksana lah maka masalah bisa diselesaikan dengan lebih baik, tanpa pertumpahan darah dan air mata.

Dan ternyata aku baru tersadar, selama ini betapa dominan keakuanku mencuat dari dalam diri. Memikirkan banyak hal selalu dari kacamataku, melihat berbagai masalah dari cara berpikirku, berpraduga dari  prasangkaanku, dan banyak hal lainnya yang tanpa sadar makin membuat masalah rumit. Minimnya berempati dengan cara pandang dan cara pikir orang lain akan membutakan diri dan bisa menyesatkan. Seolah duniaku runtuh, seolah akulah seorang korban, seolah akulah yang didzalimi, seolah akulah yang benar. Kenyataannya? Belum tentu!

Katakanlah apa yang kuyakini memang benar adanya. Seharusnya itu tidak membuatku makin angkuh mendongakkan kepala.Seharusnya itu tidak membuatku makin menyerang lawanku berbicara. Seharusnya itu tidak membuatku meremehkannya. Seharusnya itu tidak membuatku membencinya. Seharusnya itu tidak membuatku merepet seperti petasan kecil yang berderet-deret dan menyala berurutan. Dibutuhkan kedewasaan untuk bisa bijaksana dan rendah hati. Mungkin lebih dibutuhkan juga pemahaman akan iman dan sabar. Tidak semua orang bisa melakukannya, bukan?

Dan ketika pada akhirnya aku sadar bahwa sudah waktunya untuk merubah cara pandang, merubah posisi duduk kita, ah ternyata susah-susah gampang. Ah tidak, mungkin gampang-gampang susah ya? Cukup mudah ketika kita bisa sedikit tahu jalan berpikir orang lain. Ya, tidak sesulit itu menempatkan kaki kita di sepatunya. Tapi, untuk lantas memahaminya dan mencocokkannya dengan pemahaman kita, itu lain cerita. Bila sepatu orang lain kekecilan atau malah kebesaran, tentu kita akan tidak nyaman memakainya, bukan? Justru di sinilah perang antara aku vs aku dimulai. Bagaimana cara kita untuk bisa memahami orang lain, mengerti arti sebenarnya dari keinginan dia dengan meminimalkan keakuanku.

Aku vs aku. Inilah saatnya mengalah, bukan untuk kalah tapi untuk menang. Konsolidasi dengan diri sendiri dulu baru dengan pihak luar. Meski sulit (baiklah ngaku betapa egoisnya aku) tapi bukankah Allah akan membukakan jalan dan membantu kita? Tujuan kita baik, hal yang diperjuangkan pun baik, insyaAllah akan berbuah manis nantinya. Baiklah, semangat, optimis, Bismillah.



Read More

Senin, 11 Maret 2013

Renungan (2)


Rasanya menyesakkan, seperti menemukan jalan buntu. Terhimpit, butuh helaan nafas panjang agar bisa tenang dan kemudian berpikir jernih.
Masalah...silih berganti datang. Perlu kesiapan dan kekuatan mental untuk menghadapinya, mencari jalan keluar yang paling baik, dan menyelesaikannya. Bagi pecundang, mungkin akan lebih baik lari dari masalah yang ada di hadapannya. Akan ada pengingkaran-pengingkaran dan juga pembelaan diri akan aksinya itu. Puncaknya adalah mengasihani diri sendiri, sehingga ia akan merasa sah-sah saja jika ia menghindari masalah yang ada.
Kemana kita akan berlari ketika masalah datang menghampiri?  Ketika kemudian gagal fokus dan gagal paham, berbelok dan salah arah bukan menuju Allah. Maka makin terasa berat beban yang menghimpit. Makin terasa besar masalah yang ada. Makin tersesat dalam labirin dilema. Seringkali kita alpa, menggantungkan harap pada sesama, bersandar pada yang fana. Lupa bahwa itu semua akan sia-sia. Hanya akan berbuah kecewa, bahkan duka.
Ada kalanya kita begitu jenuh menghadapi suatu hal. Merasa telah sampai di titik maksimal daya juang kita dan berpikir untuk menyerah. Seringkali kita lupa bahwa selalu ada hikmah di setiap kejadian. Selalu ada ujian di setiap kenaikan derajat iman. Selalu ada jalan keluar di setiap masalah.*) Selalu ada kemudahan bersama kesulitan.**) Diri ini boleh lelah, tapi tak boleh menyerah.
Selalulah ingat bahwa akan ada akhir dari sebuah awal, seberat apapun itu. Bahwa Allah tidak akan memberikan kita soal ujian yang tidak bisa kita jawab ***) Aku harus tetap positif dalam menghadapi semua hal, tetap tersenyum, tak usahlah selalu menangis, toh tidak akan merubah apapun.****) Saat ini menerima kesulitan sebagai ujian, lain hari bisa jadi mendapat kemudahan, pun sebagai bagian dari ujian yang Allah berikan.
Note :
*) Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
**)”Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.” (Al Insyiroh [94]: 5-6).
***)"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Al-Baqarah [2]: 286).
****)“…..Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita..,” (At-Taubah [9]: 40).
Read More

Selasa, 26 Februari 2013

Cinta Itu.....

Ketika aku mengingatnya...begitu membekas dalam angan.
Ketika aku menyebutnya...membuatku tersenyum manis dan bahagia.
Ketika aku berbicara dengannya...hatiku juga ikut berbicara.
Ketika aku memikirkannya...dia juga memikirkanku.
Ketika aku memandangnya...kulihat matanya merengkuhku dalam sejuta makna.
Ketika aku jauh darinya...hati ini terasa dekat.
Ketika sehari tak bertemu dengannya...rinduku membuah asa.
Ketika aku menyentuhnya...kutahu dia Cinta.



Read More

Jumat, 18 Januari 2013

Cinta Tanpa Pamrih?

Cinta tanpa pamrih. Banyak yang bilang, cinta seperti itu ada pada cinta ibu kepada anaknya. Benarkah? Apakah memang sudah tepat dan sesuai porsi maupun peletakannya?
Sebagai ibu dari tiga orang anak, saya akan memberikan pengakuan.

Ya, saya amat sangat mencintai mereka. Saya siap mempertaruhkan nyawa, setiap kali melahirkan satu demi satu anak saya. Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti bahwa cinta saya tanpa pamrih?
Siang penuh lelah dan malam tanpa jengah, saya jaga dan rawat mereka, dari bayi merah mungil sampai menjelma menjadi bocah. Menyusui setiap saat mereka menginginkannya, mengganti popoknya entah yang kesekian kalinya dalam sehari, menggendong dan meninabobokannya di setiap malam yang panjang, dan betapa banyak yang tak kan bisa disebutkan satu persatu apa yang telah dilakukan oleh seorang ibu. Bukankah semua itu sudah cukup menjadi bukti akan cinta saya yang tanpa pamrih?

Hingga, lalu saya sadari, bahwa mungkin saya salah selama ini.
Tak ada raut wajah kecewa, sebal, apalagi marah, ketika mereka berulah, dulu. Ya, itu dulu. Kala mereka masih 100% tergantung kepada saya, ibunya. Kala mereka murni 100% di bawah kontrol saya. Kala mereka belum mempunyai kemandirian untuk menyuarakan keinginan mereka dengan kuat.

Cinta tanpa pamrih, masihkah itu menjadi jargon, ketika anak sudah pandai memilih dan saya, ibunya, malah berdalih? Ah, banyak peristiwa berkelebat dalam putaran memori saya. Terbayang Syifa dan juga Farah. Raut muka kecewa mereka, sebal, marah, tapi juga takut. Tangisan keras yang membuat emosi makin tersulut, atau terkadang hanya sesenggukan halus di sela isak tangisnya. Aaah... :( Dan berada di pihak manakah saya? Sebagai kawan ataukah lawan? Sebagai motivator ataukah komentator, bahkan kritikus? Sebagai ibu ataukah bos?

Ternyata tak mudah mempertahankan cinta tanpa pamrih itu, apalagi ketika saya mulai berharap dan meminta balasan, entah apa pun sebutannya, kepada mereka, anak-anak saya. Sudah umum menjadi do'a semua orang tua, ingin agar anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan bermanfaat bagi orang lain. Adanya nilai-nilai umum di masyarakat yang seolah menuntut untuk dipenuhi, tanpa sadar telah meracuni pikiran saya sebagai ibu. Sebut saja, anak harus pandai di sekolah, anak harus rajin, mandiri, bisa membaca menulis di usia dini, tidak cengeng, pemberani alias bukan penakut, anak penurut, dan lain-lain.  Begitu banyak label yang seolah dipaksakan harus dipenuhi oleh anak-anak kita. Dan ketika pencapaian anak tidak sesuai harapan, apa yang terjadi? Kecewa, marah, sebal, uring-uringan, atau ngomel-ngomelkah kita? Sepertinya, meski saya berusaha untuk tidak melakukannya, saya sudah pernah mengekspresikan semuanya itu, di depan maupun di belakang anak-anak saya.

Seringkali saya melupakan satu hal penting, yaitu proses. Proses amat sangat panjang dan tidak instan dalam mendidik anak. Proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses yang berpeluh dan tak boleh jenuh. Dan faktor utama pendukungnya adalah keteladanan. Yup, keteladanan dari orang tua bagi anak-anaknya. Apa yang kita inginkan bagi mereka, tentu saja yang terbaik bagi mereka (ingat, menurut kita ya, jadi tidak semua pilihan kita adalah baik bagi mereka). Apakah kita sudah mencontohkannya?

Seharusnya anak diajak dan dibiasakan, bukannya hanya menyuruh anak, untuk sholat misalnya. Seharusnya diajak muroja'ah rutin bersama-sama, tidak hanya diminta untuk hafal sekian surah, dan hanya menagih saja. Akan menjadi konflik, ketika orang tua melewatkan proses. Atau...jangan-jangan orang tua hanya bisa menuntut anak-anaknya tanpa mereka melakukan hal yang sama? Kalau seperti itu, berarti kita sudah menjadi orang tua yg melakukan kecurangan dan juga menjadi diktator. Dan kemanakah cinta tanpa pamrih itu?

Betapa saya masih saja mudah lupa, bahwa anak-anak adalah bukan hak milik saya. Mereka adalah titipan Tuhan. Mereka memiliki dirinya sendiri, jalan hidup dan takdirnya sendiri. Sebagai orang tua, kita tidak bisa selamanya campur tangan dan memaksakan semua hal harus sesuai dengan keinginan kita. Tugas orang tua hanyalah merawat, mendidik, dan yang terpenting, memberi teladan yang baik. Semua itu sebagai ikhtiar orang tua dalam proses perkembangan anak agar mereka bisa survive menuju gerbang kemandirian anti galau. Menjadi generasi yang tangguh dengan modal iman dan takwa serta kecerdasan emosional yang stabil.


*catatan tengah malam
Read More

Jumat, 11 Januari 2013

Renungan

Hidup itu keras. Hidup itu penuh perjuangan. Hidup itu penuh intrik dan lika-liku.
Dan itu semua tidak akan terasa, kalau kita masih selalu berada di dalam zona nyaman.
Dataaarrrr. Adem ayem di dalam sanctuary yang seolah aman.

Someday, kita akan terkaget-kaget, ketika tiba-tiba keluar dari zona nyaman kita.
Katakanlah, musibah, ujian, cobaan yang tanpa permisi datang menerpa.
Begitu mendadak, unpredictable, mak bendunduk, ujug-ujug menimpa hidup kita.
Dan kita seolah baru tersadar, terpukul, lebih dari tersentil, shock.
Di saat seperti itulah, mau tak mau kita berhenti sejenak, tarik nafas panjaaang dan memulai perjalanan imagi sendiri untuk menyelami diri kembali, instropeksi.

Bersegera melakukan tindakan perbaikan, agar bisa meminimalisir kerugian. Kalaupun kerugian materi bukanlah hal yang terlalu dipermasalahkan, yang terpenting sebenarnya adalah mental kita. Bagaimana agar bisa bangkit dan tidak merasa down.
Bersyukurlah, kala akhirnya kita bisa menemukan hikmah yang terserak, memaknainya dalam, dan bisa membuat kita melangkah lagi, meski tersaruk dan pernah terpuruk.
Jangan pernah berputus asa, be positive all the time, karena Allah melarang kita untuk berputus asa akan rahmatNya.

 


Read More

Rabu, 19 Desember 2012

Jalan Kembali

Senin, 17 Desember 2012

Hari yang telah menjadi saksi. Ketika takdir Allah dilakoni. Ada sebab dan akibat, ada pahit namun berhikmah, manis yang pekat.

Masih jelas di ingatan, gerimis merinai kala itu, menjelang malam. Kami berdua berboncengan di atas sepeda motor tua yang setia. Menuju rumah, pulang setelah seharian berpenat lelah mencari nafkah.

Tak seperti dulu, saat kelabu. Ketika adzan berkumandang dan kami masih berjibaku di jalanan. Ketika aku minta dia menepi, berhenti, untuk bersegera sholat. Ketika dia selalu menjawab ringan bahwa masih ada waktu untuk itu, nanti ketika tiba di rumah.

Tertegun aku, namun sisi hatiku bersorak. Aku bahagia. Aku bersyukur. Hari itu, tanpa kuminta, dia menepi, berhenti di depan rumah Illahi. Tanpa kata dia melewatiku, masuk ke dalam masjid. Aku masih tercenung, namun kemudian bergegas mengikutinya di belakang. Sambil terus berucap syukur, lantas menikmati suasana damai di dalam masjid, juga di dalam hati.

Kali pertama, dan semoga bukan yang terakhir, tidak, jangan. Hidayah Allah memang mahal, jangan sampai terjual. Kamu, aku, kini mencicipinya dengan bayaran yang tidak mudah apalagi murah. Cobaan atau musibah, mari kita cecap kini, dengan hati bening dan ikhlas, tanpa culas. Ya, karena insyaAllah berbuah hikmah, manis, indah.
Read More

Kamis, 13 Desember 2012

Candu Itu Bernama Dosa

*testing 1..2..3
*start singing
"Kenapa yang asyik-asyik...itu yang dilaraaang. Kenapa yang enak-enak itu yang dilaraaang."
*jogetandangdut -_-"

Tau kan ya, lagunya Bang Haji Rhoma yang konon mau jadi bakal calon Presiden itu? Meski aku ga bakalan ngevote dia, tapi tetep bakalan say thanks atas lagu-lagu dangdut jadulnya yang masih aja terekam di dalam memori banyak orang. Ya kan, ngaku deh, ngaku doong :p

Nah, lagu tersebut tuh pas banget, cocok dah sama yang mau kuceritain ini, tentang dosa. Dosa, whatever it is, kok ya terlihat ajiiib, terlihat asik beud, menarik, bahkan bikin nagih kaya candu. Benul kan... Daya tariknya itu lho...rruuaarr biasa, apalagi teruntuk orang yang amat sangat biasa keimanannya, ga ada spesial-spesialnya :( Makin susah lah kita memalingkan diri dari daya tarik dosa tersebut. Sekali lagi, ini berlaku bagi orang yang sudah mulai terbiasa melakukan dosa itu ya, just name it, ngedrugs, free sex, nonton bf, atauuu yang paling umum nih, pacaran, dll, dkk, etc. Well, udah tau kan yang dilakukan itu dosa, tapi terasa tak mudah meninggalkannya begitu saja, butuh perjuangan. Yup, karena setan canggih banget masang jerat-jeratnya.

Teringat salah satu hadits Arbain ke 41, Rasulullah saw bersabda, " Tidak beriman seorang dari kalian sebelum hawa nafsunya mengikuti ajaran yang kubawa." (Hadits ini shahih. Tertera dalam kitab Al-Hujjah) Bisa disimpulkan bahwa iman kita itu belum sempurna, kalau toh sampai sekarang ini masih saja kalah sama hawa nafsu. Hawa nafsu akan terus menyertai manusia hingga ia dapat mengendalikannya. Lah kalau belum bisa mengendalikan, yo wis, jadinya semua gerak-gerik kita dikendalikan oleh hawa nafsu, meskipun bertentangan dengan akal sehat dan pemahaman kita. Berasa buta dan tuli, menutup mata dan menulikan telinga dari kebenaran.

Pernah diberitahu oleh salah seorang temanku dulu di Majene, misal nih adzan Maghrib sudah berkumandang, lantas kita tidak bersegera sholat, malah masih asik ngetem di depan TV, cuek, terus aja nonton. Nah, kejadian seperti itu, kayanya kok biasa ya, remeh, sering lah dilakukan, padahal sebenarnya kita itu sedang menuhankan TV. Lho kok? Yup, kita lebih mentingin nonton TV daripada sholat *jleebb (ingat pas di kantor). Ibnu Abbas ra. berkata, " Hawa nafsu adalah tuhan yang disembah di dunia." Lalu ia membaca ayat, "Tidaklah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan." (Al-Furqan:43) " Di bawah langit ini, tiada tuhan yang disembah lebih besar bahayanya di sisi Allah, selain hawa nafsu."

Tuh kan, ternyata kita tuh memang lebih mudah condong pada hawa nafsu ya :( Padahal kita kan sudah diberikan akal, bisa milih mau jalan takwa atau maksiat. Semua tergantung kepada diri kita sendiri. Berat memang, tapi harga surga memang tidak murah. Sedih banget lho, kalau kita sampai berlarut-larut dalam melakukan dosa, menuruti hawa nafsu lagi dan lagi. Awalnya masih terasa tuh, ga enak di hati, ya feel guilty. Tapi lama-kelamaan, ketika kita malah tidak berhenti tapi melakukannya lagi dan lagi, hati kita makin gelap dan hitam, makin hilang rasa penyesalan, maka hilang pula sifat kemanusiaan kita, kemuliaan kita sebagai manusia. Habis, tinggal kenangan dan malah menjadi indikasi kedunguan dan kelemahan.

"Dan adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya." (An-Nazi'at 37-41)



*ngingetin diri sendiri





Read More

Kamis, 11 Oktober 2012

Duhai Suami, Wanitamu.

Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyub meski oleh setitik air.

Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut. Jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman.

Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.

Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus, dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.

Terhenyak aku membaca kalimat demi kalimat yang tersusun indah (dan romantis, menurutku) saat blogwalking beberapa waktu yang lalu. Atas seijin empunya tulisan yaitu masichang, aku pun mencatutnya di jurnalku kali ini. Bahasannya pas banget, dan membuatku ingin menuliskannya.

Wanita, banyak yang bilang bahwa wanita itu lemah. Kenyataannya, wanita itu kuat dan tegar, plus tahan sakit :), oleh karena itu wanita ditakdirkan untuk melahirkan dan menjadi ibu. Tapi memang, wanita identik dengan kehalusan perasaannya. Wanita ada untuk diperlakukan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sejatinya demikian. Dikarenakan agar jiwanya terbangun kasih sayang dan kesabaran, yang digunakan sepanjang waktu dalam mendampingi anak-anak dan keluarganya tanpa perasaan tersakiti. 

Rasulullah saw bersabda, "Berwasiatlah untuk para wanita karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan yang paling bengkok dari bagian tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau ingin meluruskan tulang rusuk tersebut maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap bengkok, maka berwasiatlah untuk para wanita(HR Al-Bukhari III/1212 no 3153 dan V/1987 no 4890 dari hadits Abu Hurairah)

Berwasiat dimaknai agar hendaknya para suami memberikan perhatian serius dalam bersikap baik terhadap para wanita. Oleh karena itu Rasulullah saw membuka wasiatnya dengan sabdanya "Berwasiatlah untuk para wanita" dan menutup wasiatnya dengan mengulangi sabdanya " maka berwasiatlah untuk para wanita" untuk menegaskan hal ini.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk dan ia (seorang wanita) tidak akan lurus bagimu di atas satu jalan, maka jika engkau menikmatinya maka engkau akan menikmatinya dan pada dirinya ada kebengkokan, dan jika engkau meluruskannya maka engkau akan mematahkannya. Dan patahnya wanita adalah menceraikannya.” (HR Muslim II/1091 no 1468)

Aku teringat hadits tentang tulang yang bengkok ini, karena dulu saat LDL dengan misua, aku dengan semangat 45 membaca buku-buku tentang pernikahan dan masalah rumah tangga. Dengan pemahamanku yang cetek, aku menafsirkannya bahwa kodrat wanita diciptakan dengan penuh kekurangan, tidak bisa sempurna, seshalihat apapun wanita tersebut. So, tidak mungkin bagi suami untuk mengharapkan istrinya lurus 100 persen alias sempurna, sama saja dengan mengharapkan kemustahilan dari istrinya!!

Oke, tapi bukan berarti wanita dibiarkan bengkok gitu ya. Wajiblah buat suami untuk mendidik dan membimbingnya, tentu saja dengan lemah lembut. Jika ingin memperbaiki wanita dengan cepat dan tergesa-gesa, dengan kasar, kemarahan, cacian, hinaan, maka sesuai hadits di atas, akan patahlah tulang tersebut. 

Apakah terlihat mudah? Kenyataannya rumit banget. Di sini dibutuhkan suami yang bisa bersabar dan mempunyai ilmu untuk mendidik dan membimbing istrinya. Aku percaya kok, jika istri diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang, sekeras apa pun dia, lama-kelamaan akan mencair dan makin sayang plus patuh kepada suaminya. Istri mana pun tahu, salah satu syarat ia masuk surga adalah dengan ridho suaminya. 

Para suami, sanggupkah engkau bersikap gentle pada istrimu, pada wanitamu? Rasulullah saw adalah sebaik-baik orang yang bersikap baik terhadap istrinya. Beliau tegas, tapi hatinya lembut :D. 
Read More