Senin, 27 Agustus 2012

Lebaran 2012

Sukses hibernasi di rumah, tentunya dengan menuai protes Syifa dan Farah. Beribu pertanyaan *hiperbola banget* terlontar dari bibir-bibir mungil mereka. Kenapa tidak pergi ke Mampang? Kapan bisa jalan-jalan ke mall? Kok di rumah saja? Dan masih banyak pertanyaan bernada protes lainnya, kutampung sambil tersenyum. Duh Nak, sebenarnya ummi juga ingin bisa jalan-jalan, mengajak kalian bertiga meski hanya ke Monas maupun TMII. Sayang, misua berasa ribet kalau harus berkendara umum, sedangkan mau naik mobil tidak punya, naik motor berlima...wah bahaya dong. Jadilah hari lebaran 19 Agustus 2012 yang lalu hanya silaturahim ke tetangga terdekat saja, hanya 1 rumah doang! Sedangkan tetangga yang lain banyak yang noni dan rumahnya terlihat sepi.

Lebaran kedua, 20 Agustus, seharian ngruntel di rumah. Anak-anak (terpaksa) tidur siang lebih awal menuruti kemauan abinya. Aku yang mirip hobinya sama Nobita, sukses tidur begitu mencium bau bantal (bukan bau iler ya, catat!). Terasa nelangsa juga, jauh dari keluarga besar, ealah lebaran kok hibernasi aja. Akhirnya tanggal 21 keluar rumah juga, naik motor berlima ke Bintaro Plaza. Anak-anak cukup terhibur, bisa sebentar main-main games dengan kartu yang hanya diisi beberapa ribu rupiah, tak lama isi kartunya juga habis. Tak mengapa, anak-anak sudah senyum-senyum cerah kok. Keliling-kelliling mall meski hanya cuci mata melihat ramainya pengunjung sudah lumayan menghapus kebosanan. Hari terakhir cuti bersama, 22 Agustus malam, ngeboyong anak-anak ke pasar malam dekat rumah, naik kereta api kecil yang muter-muter, beli gula kapuk, mainan, keliling-keliling, done! Mereka sudah gembira ria.

Aku yang kaget, tersadar cuti bersama sudah habis saja. Tanggal 23 dan 24 Agustus sudah harus ngantor lagi, maklum jatah cuti tahunanku sudah habis. Tanpa ada mbak yang bisa jaga trio krucil, terpaksa membawa mereka ngantor, lengkap dengan bekal makanan dan baju gantinya. Heboh banget, tapi cuek sajalah, toh kantor masih suepii tenan. Lagipula banyak juga pegawai yang membawa anaknya serta, sama-sama ga ada ART karena sedang mudik semua. Jadilah, dua hari itu aku tidak bisa kerja. Bahkan hari keduanya sengaja komputer tidak kunyalakan, lah percuma, ga bisa megang tuh. Intinya momong Azzam saja hehe, Syifa dan Farah sih sibuk asyik main berdua. Kubikelku sampai berantakan penuh tempelan dan kertas coretan buah karya mereka.

Alhamdulillah wiken datang, Sabtu Minggu kemarin benar-benar menikmati kebersamaan bersama trio kwek-kwek itu. Azzam sampai lengkeeet deh sama umminya ini, hiks jadi kangen. Tadi pagi saat mau berangkat kantor, sediih rasanya. Azzam pasang muka melas dengan tatapan mata sendu yang menggetarkan kalbu. Duh Naaak.... Kembali menjalani rutinitas yang menyebalkan, bengkerengan sama misua biar tidak terlambat ngantor, ninggalin anak-anak lagi, duh. Hanya bisa berpikir positif saja, isi pagi hati sumpek dengan istighfar banyak-banyak, not cacian. Lebaran "aneh" jadinya hehe.
Read More

Kamis, 16 Agustus 2012

Menjelang Lebaran 2012

Ga mudiiik oiiii...berlima saja menempati rumah baru yang belum full beres, tapi alhamdulillah sudah amat sangat nyaman. Terlebih lagi, sudah beli Javan Bed Canopy alias kelambu nyamuk untuk menangkis serbuan ratusan nyamuk ajaib setiap malamnya. Kubilang ajaib, karena dengan memakai lotion anti nyamuk, obat nyamuk bakar, obat nyamuk cair bermacam merek, tetap saja, nyamuk-nyamuk itu menggila setiap malam. Habis nih kulit bentol dan gatal, kalau suamiku lebih parah lagi, kulitnya luka-luka di sana-sini gegara dia garuk sampai berdarah. Paling ga nahan katanya, akhirnya beli kelambu nyamuk deh meski mihil. Mau beli yang kelambu biasa, males getok-getok tembok pake paku dan palu, jadi memilih si Javan deh, belinya di teman sendiri.

Hari ini terakhir ngantor lhoo...tadi pagi saja Bintaro-Gatsu hanya kurang dari 30 menit, dah berasa sepi jalanan. Besok libuuurr..alhamdulillah. Meski tidak ikut serta meramaikan dunia permudikan, tapi tetap semangat menyambut libur lebaran dong ya. Bisa ngumpul dengan anak-anak kan sesuatu banget.

Tidak mudik....mau jalan kemana ya? Heemm...mencari altenatif yang murmer pokoknya. Mungkin berenang, secara HTM juga murmer hoho dan anak pun senang. Kalau ke TMII? Itu suatu pilihan juga sih, HTM juga murmer tho, hanya perlu dipikirkan alat transportasi apa yang sebaiknya digunakan dari Bintaro kesana *belum ngeh. Kalau Ragunan sudah sering, dulu sewaktu tinggal di Mampang kan dekat tuh dengan Ragunan, jadi pilihan itu dikesampingkan. Nah, permintaan anak-anak nih, silaturahim ke Mampang. Syifa dan Farah kangen bertemu dengan teman-temannya di kontrakan lama, mereka berdua sudah asyik mengkhayal akan dapat bertemu lagi dengan si anu, si ini, si itu, banyaak deh. InsyaAllah ide kesana akan dinomersatukan, hitung-hitung menyambung tali silaturahim dengan kakek nenek yang punya rumah kontrakan kemarin.

Lebaran, liburan, berarti masak. Heeemm....aku dan memasak. Hihi sudah gemeter saja nih. Mumpung di rumah, ingin bisa membuat sesuatu untuk orang rumah, yang mudah dan anti gagal, haha...apa ya... Selain itu, tidak ada si mbak berarti harus beres-beres rumah sendiri, tentu saja dengan "standar khusus" misua, lumayan membuat grogi hehe, tapi dinikmati sajalaah .

Penduduk MP tercinta, meski masih bingung mau pindahan rumah maya kemana, gimana caranya, tapii tetap semangat aah! Mohon ma'af ya kalau selama ini ada salah-salah kata, salah-salah tulis, salah-salah curhat....I'm so sorryyyy. Selamat Idul Fitri, selamat liburan, selamat mudik untuk yang mudik. Semoga di manapun, kapan pun, apa pun yang kita lakukan, diberikan kemudahan dan kelancaran...Amiin.
Read More

Rabu, 15 Agustus 2012

Dicekal?!

Tik..tok..tik..tok...
Menghabiskan sisa waktu jam kerja hari ini di kantor, ditemani suara gaduh Syifa dan Farah yang ikut aku hari ini.

Senin dan Selasa kemarin, dua hari aku bolos, tidak berangkat kerja. Apa pasal? Kejadian lagi, kena pencekalan. Bukan hanya pejabat bermasalah dan tersangka kasus aja yang kena cekal ternyata hehe. Aku dilarang misua kerja, titik.

Sumber masalah pasti ada lah ya, sampai berbuntut pencekalan seperti kemarin dan yang sudah-sudah dulu. Kami berdua sama keras kepala, kepala batu, ndableg, mbuh apa lagi sebutannya. Kalau saja tidak ingat cicilan bank yang buanyak itu, bisa-bisa aku disuruh resign (lagi).

Alhamdulillah, sedikit ada titik terang, pencerahan di dalam kepalaku. Semalam iseng-iseng buka buku tebel "Fiqih Sunah Wanita" yang sudah lama berdebu mejeng di lemari buku. Awalnya ingin mencari referensi tentang Talaq alias cerai, karena ada sms seorang kawan nun jauh di sana yang menanyakan tentang hal tersebut, lalu malah berlama-lama membaca bab lain. Yup, jadi sebuah instropeksi buatku.

"Suami itu adalah surga atau nerakamu"
"Jika diperbolehkan pada umatku sujud pada selain Allah, maka akan kuperintahkan istri sujud pada suaminya"
Read More

Senin, 06 Agustus 2012

Ketemu Artis

Kemarin lusa, Sabtu tanggal 4 Agustus 2012, aku datang ke sekolah Syifa untuk menghadiri undangan pertemuan orang tua murid. Rombongan berempat, karena tidak ada mbak-mbaknya di rumah alias mereka libur, akhirnya anak-anak semuanya ikut deh. Suami tetap di rumah untuk bantuin tukang bekerja. Jadilah aku sedari pagi gubrak-gubruk menyiapkan diri dan anak-anak agar bisa datang tepat waktu, jam 8 teng.

Meski ketika agak terlambat sampai di sana, alhamdulillah acara belum dimulai kok, biasalah jam karet, hampir jam 8.30 baru deh dimulai. Anak-anak dengan segera merasa bosan, padahal di undangannya sampai jam 12 siang lho. Alhamdulillah makin siang makin banyak bocah-bocah yang ikut serta orang tuanya hadir, senang deh duo Syifarah bermain bersama teman-temannya. Tinggal si Azzam yang mbrangkang sana-sini, teriak-teriak bermaksud memanggil kakak-kakaknya, nenen sebentar, sudah dilepas dan teriak-teriak lagi.

Kurang lebih sekitar jam 9 lewat, ada ibu muda, putih kulitnya, terlihat cuantik bin ayu, duduk tak jauh dariku. Oh ya, di acara ini semua undangan duduk melantai beralaskan karpet. Jadi otomatis perhatianku langsung tertuju pada ibu muda ini. Gaya berpakaiannya biasa, memakai gamis panjang namun tak berjilbab, rambut panjangnya hanya diikat santai, digelung gitu.

Azzam makin merasa bosan, ibu muda tadi didekatinya, dicolek-colek, SKSD banget ni anak. Lama-kelamaan ibu cantik itu senyum-senyum, main-main sama Azzam. Duh, makin takjub aku melihat kemulusan kulit wajahnya, beniiing banged, kenyus-kenyus tanda dirawat maksimal (ga kaya mukaku). Sambil mikir, tuh muka diapain aja dan habis berapa duit yaaa hehe. Akhirnya kami ngobrol-ngobrol juga sambil lalu, membicarakan tentang anak-anak kami yang ternyata beda kelas. Azzam asyik mainin hape si ibu cantik itu, sampai akhirnya tempat hapenya yang jelly itu diberikan pada Azzam untuk digigit-gigit sambil bilang. " Tidak apa-apa, bersih kok, sudah dilap."

Duh, berasa sungkan deh, tapi Azzam makin kenceng teriaknya kalau diambil tuh tempat hape. Sambil sesekali ngobrol, aku membatin, kok sepertinya wajah ayu ini terlihat familiar ya....dimana yaa aku pernah melihatnya?? Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu mendekat, menyapa ibu cantik itu dengan ramah, ngobrol dikit eh lalu salaman n kenalan. Aku makin heran, loh nih ibu nyapa dan ngajak ngobrol kirain sudah kenal, ternyata kok malah baru kenalan sesudahnya ya?

Agak lama sambil mikir, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa jangan-jangan ibu cantik ini artis kali yeee. Kok sepertinya aku sudah akrab dengan wajahnya, siapa ya? Artis yang mana? Kemudian terlintas sebuah nama, Jihan Fahira, istrinya Primus Yustisio itu. Sepertinya dia sudah jarang muncul ya, tapi mungkin aku aja yang ga pernah nonton sinetron jadi tidak tau perkembangan, bisa jadi kan. Tapi, iya deh, kayanya dia Jihan Fahira.
Masih ragu tapi makin yakin (lhoh!?) aku makin mengamatinya, masih takjub dengan kecantikan dan kelembutan kulitnya yang putih, aku ngelirik hape BB nya itu. Nah itu dia, foto di layar hapenya ituuuu. Bener deh, itukan foto Jihan dan Primus, keduanya sama-sama berambut panjang. Dulu Primus sempet gondrong kan ya? Beneeer. Hihihi...pantas tadi ada ibu-ibu main ngajak ngobrol SKSD, oalaah ini artis thooo. Sayang kok aku ga kepikiran untuk minta dia berpose bersama Azzam yaaa...kan lumayan buat kenang-kenangan hihi.

Read More

Selasa, 31 Juli 2012

#galau

Ada butir-butir tertahan di sana
Mataku kaca

Ada kelabu menggelayut manja
Tak jemu, tak jua sirna

Hati meranggas pedih...luka
Ingin mati rasa tapi tak kuasa

Mencerna makna
Mengecap asa

Kuingin mata hati tetap terbuka
Syukur agar tetap terasa


Read More

Jumat, 27 Juli 2012

[Azzam] Merangkak, Alhamdulillah!

Alhamdulillah, Azzamku sudah 10 bulan sekarang. Tak terasa ya...tahun lalu masih menjalani ibadah puasa dengan perut mblendung isi bayi. Kenangan manis, ketika aku puasa, maka Azzam di dalam perut malah demo, nendang-nendang terus sampai kulit perutku monyong-monyong dan terasa sedikit nyeri.

Di usianya yang 10 bulan ini, giginya sudah empat. Tajam dan gede, cukup untuk membuat kakak-kakaknya menangis ketika kebagian gigitan gemes Azzam. Makin membuatku parno tentu saja, beberapa kali dia juga menggigitku ketika nenen, oouucchh saakiiiit
. Lucunya, pernah dia sengaja menggodaku, dengan wajah imut bayinya itu ditambah seringai jail, dia mainkan giginya sambil pura-pura mau menggigit. Jadilah aku makin merinding, ngeri aja kalau dia benar-benar langsung menggigitku ketika dikasi nenen.

Di usia 8 bulan yang lalu, Azzam sudah aktif minta berdiri dengan berpegangan pada kami yang sedang duduk atau pada kursi, ketika berada di rumah neneknya. Heemm, kami menebak-nebak, apakah Azzam akan bisa merangkak atau dari merayap langsung mau berdiri dan belajar jalan ya? Teringat akan Syifa dan Farah, mereka berdua tidak melalui tahap merangkak tapi malah ngesot (kaya suster ngesot itu
). Aneh melihatnya, kemana-mana soot...kesot...kesot... Bahkan Farah hampir berumur 2 tahun ketika bisa berjalan. Sampai-sampai para tetangga mengira kalau Farah tidak bisa berjalan. Mereka menyarankan agar Farah dibawa ke dukun pijat, ke dokter, diberi makan ini makan itu, diolesi ini dan itu di kakinya. Wah, pokoknya jadi ikutan cemas.

Berharap Azzam bisa merangkak, melihat geraknya yang aktif, merayap kemana-mana lalu pantatnya naik, jatuh lagi, begitu terus. Lama-kelamaan dia bisa duduk sendiri dari posisi tengkurap. Alhamdulillah, sejak awal bulan ini Azzam mencoba merangkak...dan bisaaaa!!
Hihihi seneeng deh melihatnya. Sekarang dia merangkak kemana-mana, masih suka terpeleset sih, merayap lagi lalu merangkak lagi. Heboh jadinya, punya anak laki-laki setelah dua anak perempuan dan bisa merangkak, sesuatu banget hehe. Dua kakaknya juga ikut berteriak-teriak gembira ketika melihat Azzam bisa merangkak.
Read More

Kamis, 26 Juli 2012

Renungan Pagi

Pagi ini terasa lebih menyesakkan, apalagi setelah semalam, sebelum tidur tiba-tiba terkalkulasi hitungan hutang-hutang di depan mata. Ya Rabb...banyak banget. Padahal dulu direncanakan, saat sudah pindah rumah kami hanya akan menyicil hutang yang dari bank saja. Kenyataannya lain kini. Belum lagi bulan depan lebaran, harus menyiapkan dana untuk THR dua mbak di rumah.

Mamaku sakit, kena stroke ringan dan harus diopname selama minimal 10 hari untuk penyembuhannya. Tidak disangka, papa mertuaku juga sakit sampai tidak bisa berjalan karena ada syarafnya yang terjepit. Alhamdulillah keadaan mereka berdua sudah lebih baik sekarang. Sedihnya, kami anak-anaknya tidak bisa menengok, parahnya lagi, kami tidak bisa mengirimkan bantuan meski ala kadarnya.

Bulan Ramadhan...seharusnya menjadi peluang amat sangat besar untuk meraih berkahNya dan juga pahala dariNya. Entah, justru saat-saat berat seperti ini kok malah futur akut. Hari keenam Ramadhan, ibadahku masih kurang bangeeett. Sedih banget melihat orang-orang dekatku setiap hari puasa tapi tidak sholat, akunya juga ga pol-polan nambah kualitas n kuantitas ibadah. Semoga hari ini bisa memaksakan diri untuk berbuat lebih, Amin.

Semua masalah yang ada, ditambah kurangnya komunikasi antara aku dan misua, makin menambah beban rasa. Makin banyak saja kesalahan-kesalahan yang kubuat. Memang, makin ga konsen, makin kacau aku. Hal-hal kecil yang harusnya kutangani, seperti pakaian bolong, menej mbak-mbaknya, dan printilan lainnya, makin tidak terpegang. Asli ga profesional banget nih jadi Manajer Rumah Tangga.

Dalam perjalanan ke kantor tadi pagi, kami melewati seorang ibu muda dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Mereka duduk-duduk di pinggir jalan, di sampingnya ada sebuah gerobak lusuh yang kemungkinan besar merupakan rumah mereka. Anak yang terkecil sedang minum dari sebotol minuman kemasan, entah susu atau air putih, tidak jelas, hanya terlihat sekilas. Dua kakaknya asyik mengobrol sambil memakan roti yang dibagi. Pemandangan yang membuatku trenyuh dan teringat anak-anak di rumah. Ya Rabb, betapa tidak bersyukurnya aku. Semua yang kualami insyaAllah akan bisa kulewati. Aku punya pekerjaan, punya penghasilan, punya rumah, punya kendaraan, punya banyak hal. Semenderita-menderitanya aku, (mungkin) masih jauh lebih enak daripada keluarga kecil tadi. Wallahu'alam.

Sayang, motor kami melaju kencang. Setelah jauh dari mereka malah baru kepikiran, duuh kenapa tadi tidak berhenti sejenak untuk memberi duit atau apa kek gitu pada mereka, malu ih, kok ga ada ACT dalam diri ini. Meski mata ini masih saja berat, pengen memuntahkan air mata, tapi hati lebih ringan. Yup, aku harus lebih banyak bersyukur, lebih banyak bertaubat, lebih banyak memohon, meminta, dan bersimpuh padaNya, apalagi momennya memang pas banget. Sayang kalau sampai aku melewatkannya bukan?


Read More

Selasa, 17 Juli 2012

[Lomba Senyumku Untuk Berbagi] Senyum Abadi.

Dalam banyak momen, terutama saat-saat kita narsis dan terabadikan dalam foto, ada satu hal yang pasti, kenangan. Yup, semua foto-foto itu menyimpan kenangan. Suatu saat nanti, ketika sengaja ataupun tidak, saat kita kembali melihat foto-foto tersebut, ingatan kita pasti akan kembali pada saat foto itu dibuat. Semua hal kecil bahkan detil tentang kapan, mengapa, dimana foto itu dibuat akan kembali terpampang dalam ingatan kita. Bahkan, suasana hati yang saat itu tersembunyi di balik seulas senyum dalam foto itupun bisa jadi akan kita ingat kembali.

Foto-foto yang membawa kenangan seumur hidup, momen terpenting dalam hidup, saat-saat membahagiakan, seperti halnya foto pernikahan. Ada banyak senyum di sana, senyum bahagia, senyum lega, senyum syukur, senyum yang membuat semua foto pernikahan makin terlihat manis, indah, dan bisa dijadikan obat suatu saat nanti.

Maka, aku memilih untuk mengikutsertakan foto pernikahan Ratih, adikku, yang diadakan tanggal 10 Juni yang lalu di dalam lomba ini.
Senyum yang terpatri di foto tersebut, semoga akan selalu mengingatkan, bahwa kebahagiaan itu anugerah dan tidak usah jauh-jauh dicari karena letaknya dekat, di dalam hati. Dan Allahlah Maha Pembolak-balik Hati, maka saat sedih, mengadulah, memintalah pertolongan hanya padaNya.

Note : Aku yang nomer dua dari kiri.

Karena syarat lomba maksimal 5 orang di dalam foto, maka kusertakan juga foto keluarga kecilku yang terdiri 5 orang saja (saat ini, insyaAllah nambah nanti ). Foto ini berarti banget buatku, karena kami numpang narsis berfoto ria sekeluarga. Selama ini ingin sekali bisa bikin foto keluarga tapi belum terlaksana juga. Alhamdulillah foto ini bisa jadi kenang-kenangan .
Diikutsertakan dalam lomba Senyum Untuk Berbagi.

Read More

Senin, 16 Juli 2012

[Syifa] Sudah SD.

Tanggal 9 Juli yang lalu adalah hari pertama masuk sekolah bagi Syifa. Sejak kepindahan kami ke Bintaro, Syifa makin semangat mempersiapkan keperluan sekolahnya. Begitu ceria dan penasaran tercermin dalam raut wajah dan polahnya. Heemm...membuatku ikut juga tersenyum dan bahagia. Subhanallah, sudah tambah besar anakku ternyata. Seragam baru, tas baru, buku-buku paket dari sekolah dan buku tulis baru sudah dipersiapkan. Beberapa malam mulai sibuk menyampuli buku-bukunya di malam hari, alhamdulillah dibantu sama mbak-mbaknya, sambil menahan kantuk.

Makin deg-degan, sumringah, tidur malam menjelang hari sekolah jadi tidak nyenyak. Syifa masih juga merem melek sambil sesekali melontarkan berbagai pertanyaan tentang sekolahnya, juga berapa besar uang jajannya. Sekolah Syifa termasuk sekolah mihil, sekilas melihat kantinnya, sepertinya harga-harga makanan yang dijual di sana mihil juga deh. Pasti jauh dari uang jajan harian Syifa yang biasanya cuma gopek sampai dua ribu saja sehari. Jadi, saat Syifa menanyakan uang jajan, sambil ragu-ragu akhirnya kuberikan dia uang dua ribu. Feelingku sih, ga cukup duit segitu hehe. Dan benar adanya, es Kiko yang biasanya gopek, di sana dijual seribuan. Makanan yang lain sebangsa Crepes minimal enam ribuan. Sampai-sampai temannya bilang mau minjami dulu uang untuk Syifa jajan. Alhamdulillah Syifa menolak tawaran temannya itu, cukup emakmu aja yang ngutang Nak.....

Tambah satu lagi tugas menanti sepulang kantor, menemani Syifa belajar. Kalau Farah masih santai ya, masih 2 tahun lagi masuk SD nya insyaAllah. Kalau dulu di usia segitu Syifa sudah bisa membaca dan menulis, ini Farah belum bisa, bicara juga masih cadel. Beda anak memang beda perkembangannya, yang penting mereka sehat, ceria, insyaAllah jadi anak sholehat..Amin.

Mumpung bisa antar sekolah, diajarin narsis deh sama emaknya. Ini dia Syifa dan salah satu temannya yang juga memakai jilbab. Di kelasnya hanya 3 anak perempuan yang memakai jilbab. Sayang sebetulnya, sekolah Islam tapi tidak membiasakan sedari dini untuk kewajiban muslimah yang satu ini. Semoga Syifa dan teman-temannya bisa istiqomah berjilbab sampai dewasa nanti...Amin.



Read More

Jumat, 13 Juli 2012

KRL Pertamaku

Apa saja yang merupakan pengalaman pertama itu memang mendebarkan, asyik, bikin penasaran mau tau rasanya. Sejak kepindahan kami ke Bintaro, terbayang jauhnya jarak tempuh dari rumah ke kantor di jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sewaktu di Mampang, bisa berangkat mepet, sampainya cepat, bahkan bisa pulang ke rumah saat jam istirahat untuk nengokin anak-anak di saat-saat tertentu, misal ketika ada yang sakit atau stok ASIP kurang. Kini, weew sudah gamang saja, mau berangkat rasanya beraat. Oleh karena itu, dua hari pertama pindahan, aku dan suami tidak masuk kerja, mengajukan ijin dan merelakan potongan 10% yang jumlahnya sebenarnya amat dibutuhkan di saat keadaan seperti sekarang ini.

Hari ketiga menempati rumah baru, suami malah dapet tugas luar kota, tour of duty ke Palembang selama dua hari lanjut ke Balikpapan juga selama dua hari. Terpaksa deh aku harus berangkat ke kantor sendirian, naik apa yaaa? Pilihannya ada dua, naik bis jemputan tapi harus naik dari kampus STAN dan harus sudah siap di sana sebelum jam 6 pagi (masih gelap euy) atau naik KRL yang mana stasiunnya dekat dari rumah, hanya beberapa menit naik angkot. Lagi pula kalau naik KRL bisa milih jadwalnya, mau jam 6.15 atau 6.30, mau yang Ekonomi atau yang AC. Akhirnya aku memilih KRL saja, asli deg-degan, berasa kaya balita seneng mau naik odong-odong.

Berangkat sendirian ada enaknya, yaitu lebih cepat dan beres segala persiapan sebelum berangkat. Jam 6 pagi teng, aku sudah mejeng di pinggir jalan untuk menunggu angkot yang lewat, ditemani trio bocah dan dua mbaknya. Hiks, berasa beraaat meninggalkan mereka di pagi yang belum teraba sinar mentari dan masih dingin seperti itu. Prosesi da-da da-da dari dalam angkot sambil menatap wajah trioku terutama si bungsu Azzam bikin hati cenat-cenut. Terapal do'a-do'a dari dalam hati, semoga Allah senantiasa menjaga mereka, dan mbak-mbaknya telaten jagain mereka.

Dan....tenyata ke stasiun Pondok Ranji dari rumah cukup naik angkot sekali saja, bisa naik yang nomer 8 atau 10. Sesampainya di sana, waah ternyata banyak banget orang yang searah, berbondong-bondong masuk ke stasiun, mau ngegawe juga ke Jakarta. Berasa seru, menunggu KRL yang konon bakalan berebut naiknya. Ealah, malah bertemu dengan teman lama, tetangga di kampung halaman, yang juga kakak kelasku sedari SD, SMP, SMA, bahkan STAN. Lumayan, dapat teman ngobrol sembari menunggu KRL dan ada teman lari-lari berebut masuknya.

Mau KRL yang AC Rp. 6000,- maupun ekonomi Rp. 1.500,- sama-sama umpel-umpelan. Bener-bener ga peduli mau cowok apa cewek, mau tua atau muda, bapak-bapak kek, ibu-ibu kek, semuanya berebut naik, yang penting bisa terangkut sampe tujuan *lap keringet. Ternyata perjuangan bangeeeet!! Pantas saja sampai ada pelecehan di KRL, lha modelnya kaya gini. Gerbong khusus wanita juga cuma dikit, padahal yang namanya wanita kan jumlahnya dimana-mana lebih banyak daripada laki-laki kan.

Itu baru berangkatnya, jadi ingin tau gimana dengan KRL yang sore saat pulang kantor. Sebenarnya pilihan aman dan nyaman ya naik bus jemputan, duduk manis bisa bobok dari kantor sampai Bintaro. Tapi, ternyata sempat terlambat masuk kantor yang mengakibatkan aku harus mengganti setengah jam di sore harinya, alias pulang telat dan tidak bisa ikut bis jemputan. Jadi deh, naik ojek ke stasiun Palmerah lanjut KRL sekitar jam 17.45. Ya Allah...penuh sesak sodara-sodara, sama dahsyaaat dengan yang pagi. Huks, makin pengen segera sampai rumah bertemu anak-anak.

*kenang-kenangan, tiket KRL dua hari pertama .

Read More