Tampilkan postingan dengan label azzam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label azzam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2015

[Azzam] REKA ULANG TKP

Tidak hanya kerjaannya pak polisi saja ternyata. Si bungsu Azzam juga selalu melakukan hal yang sama. Seringkali bikin emaknya ini nahan dongkol. Tapi ya unik dan menggelikan ulahnya.

Contoh kasus 1:

Bapaknya lagi ngepel, aturannya tidak ada yang boleh jalan-jalan nginjak lantai. Kalau ada yang melanggar, wew marah deh dia. Nah, suatu waktu aku terjebak di kamar sedangkan Azzam di ruangan depan. Dia manggil-manggil pengen digendong masuk kamar tapi ga boleh lewat kan, lantai masih basah.

Akhirnya marah tuh si Azzam, mewek ngomel ga jelas. Pas aku dah datang, dia ngamuk ga mau dipegang. Aku diusir-usir disuruh balik masuk kamar, trus aku dipanggil-panggil lagi. Maunya dia, direka ulang saat dia manggil aku langsung datang. Plus tanganku harus terbuka lebar mau meluk dia dari jauh. Berasa film india:-D Beberapa kali salah persepsi maunya dia seperti apa karena dia ngomel sambil nangis kenceng.

Contoh kasus 2:

Setiap malam dia punya kebiasaan terbangun lantas minta minum madu. Nah, harus sesuai urutan yang dia mau lho. Digendong ke kulkas ambil madu, ambil air putih, lalu masuk kamar. Nah, di kamar kami harus duduk berhadap-hadapan, bakal teriak protes kalo aku duduknya miring ato posisinya beda. Kakiku harus ada di samping badannya, kanan dan kiri. Jadi aku ga boleh duduk lipat kaki, kudu selonjor ngapit dia.

Contoh kasus 3:

Habis Azzam pup atau pipis, biasanya aku otomatis narik kran flush. Ealah lupa kalau dia kan pengen nge-flush sendiri. Ngamuk deh mewek. Aku jelasin pelan dia ga mau. Aku minta flush sendiri dia udah mangkel. Akhirnya setelah agak lama nangisnya, mau juga dia narik kran. Masih sambil ngomel hehe.


Read More

Jumat, 20 Desember 2013

Weaning With Love

WWL yang merupakan singkatan dari Weaning With Love adalah istilah yang belum lama kuketahui. Gegara join di grup yang concern tentang masalah ASI di Facebook, alhamdulillah bisa nambah wawasan. Dulu ketika Azzam masih bayi kan aku sudah niatin untuk Asi Eksklusif 6 bulan dan alhamdulillah lulus sampai dengan Azzam umur 1 tahun. Ingin hati memberikan ASI perah sampai usianya 2 tahun, apa daya aku males *halah. Sejak usia Azzam 1 tahun, aku sudah pensiun memerah ASI. Alasannya karena males, lha hasil perahannya juga sedkit banget. Susu Azzam di siang hari kala aku bekerja adalah susu kambing dan susu UHT yang merk Ultra. Ga prefer ke merk lain meski lebih murah, karena aku yakin dengan rasa dan mutu lebih bagusan Ultra.

Weaning With Love, menyapih dengan cinta. Sesuai anjuran di Al-Qur'an untuk menyusui hingga 2 tahun, maka kebanyakan ibu menyapih anak mereka setelah menginjak usia 2 tahun. Meski ada lho anak yang masih nenen sampai usianya 3 bahkan 4 tahun haha, kebayang ga tuuuh? Di usia 2 tahun ketergantungan anak kepada ASI sudah makin berkurang. Anak sudah mampu makan makanan keluarga, jadi bisa mendapatkan gizi dari asupan yang lebih variatif. Nah, WWL ini adalah cara menyapih anak tanpa paksaan. Harus ada kerelaan dari kedua belah pihak, baik dari ibu maupun juga dari si anak.

Masih terekam dalam ingatan, dulu aku disapih oleh Mamaku dengan cara Mama mengoleskan puyer pahit dan obat merah di putingnya. Jadi kala aku ingin menyusu rasanya tidak dan takut juga melihat dada mama yang merah-merah. Kalau pengalamanku dengan Syifa, dia terpaksa berhenti menyusu karena aku hamil adiknya di saat usia Syifa masih 15 bulan. Alhamdulillah kala itu tidak sulit sama sekali. Syifa kecil begitu pengertian, tidak mengamuk ataupun menangis minta nenen sebelum tidur. Subhanallah, Syifa hanya manggut-manggut seolah mengerti kalau aku sudah tidak kuat menyusui lagi karena kondisi kehamilan yang membuatku mual muntah serta pusing. Sebelum tidur, Syifa kuberi segelas susu atau teh atau air putih. Ketika kami sudah berbaring dan dia minta menyusu, aku lantas bilang bahwa dia tadi sudah minum banyak, jadi sudah tidak usah mimik Umi lagi dan dia menurut.

Lain Syifa lain lagi Farah. Menyapih Farah merupakan perjuangan. Aku sedang LDL dengan suami yang kuliah di Tangerang, jadi hanya bertiga dengan anak-anak di Sulawesi. Seingatku selama seminggu Farah menangis setiap malam karena aku tidak meloloskan permintaannya untuk menyusu. Hatiku sakit rasanya, antara tega ga tega akhirnya ditega-tegain hiks. Farah pasti juga sedih dan marah karena tidak bisa menyusu plu aku menolaknya pula. Oh, it was not an easy situation. Belum tahu-menahu soal WWL sih :(

Weaning With Love, diharapkan penyapihan terjadi tanpa adanya paksaan dan tanpa pembohongan kepada anak, seperti nenen diberi obat merah dll. Dengan WWL anak mengerti bahwa sudah saatnya dia disapih dan dia ikhlas untuk itu. Bagaimana langkah-langkahnya? Alangkah baiknya kalau anak sudah dipersiapkan, ibu sounding ke anak bahwa dia sudah besar, sudah tidak nenen lagi, seperti itu. Sounding bisa dilakukan sebelum anak berulang tahun yang kedua, mungkin 2-3 bulan sebelumnya. Dan selama fase itu, jadwal menyusuinya dikurangi, dari misalnya 4x menjadi 3x. Jadi tidak drastis. Jadi saat dia tepat berumur 2 tahun, diharapkan sudah mengerti. Tips laiinnya adalah anak diberi kegiatan lain sebelum tidur agar tidak teringat nenennya :) Ibu atau Ayah bisa membacakan buku cerita sambil tiduran hingga si kecil mengantuk, atau bermain sebentar sebelum tidur, atau bisa juga menyanyi. Hasilnya tidak akan instan tentu saja, akan dibutuhkan kesabaran sampai anak benar-benar bisa disapih. Waktunya juga tergantung pada kesiapan si anak.

Bagaimana dengan si bungsuku Azzam? Hehehe di usianya yang sudah 2 tahun lebih 3 bulan ini Azzam masih nenen. Ups, WWLku belum berhasil nih. Ada beberapa kesalahan trik yang kulakukan sehingga sampai saat ini Azzam masih nenen sebelum tidur bahkan di waktu lainnya. Pertama, aku terlena. Yup, terlena berperan sebagai ibu menyusui yang akhirnya tidak menyadari bahwa waktu untuk menyapih sudah tiba. Nyadar pas Azzam tinggal beberapa minggu lagi berulang tahun yang kedua. Langsung heboh sama misua, buru-buru sounding ke Azzam kalau dia udah gede, udah ga nenen lagi harusnya. Hahaha dan sampai sekarang masih belum berhasil. Ealah misua juga malah santai bilang kalau Azzam nggak apa-apa biarin aja nenen sampe dia bosen sendiri, whatta!! Dan dari pihakku sendiri, jujur kok rasanya sayang ya kalau mau melepas momen dan bonding menyusui ini hehe. Ini akunya yang males nyapih atau lebay sih, ga tau deh^_^

Maka, sampai dengan detik ini, Azzam masih nenen sodara-sodara. Ketika hari libur, karena aku seharian di rumah, Azzam suka banget minta nennya, tapi nggak kukasi dong. Dialihkan perhatiannya ke hal lain, diajak main sama kakak atau abinya biasanya. Jadi momen tidur siang dan malam baru deh dia nenen. Begitu pun ketika hari kerja, pulang kantor tuh dia langsung ngejar nemplok minta nenen, lagi-lagi dialihkan dulu perhatiiannya sampai saat waktu tidur tiba. Waktu lamanya nenen sudah berkurang sih ya, seringkali dia cuma nenen sebentar lantas tengkurap minta digaruk-garuk punggungnya. Kegiatan sebelum tidur seperti bermain dan membaca sudah dilakukan tapi belum bisa membuat Azzam ngantuk banget sampai lupa nenen tuh hihi. Tetep saja kalau sudah mau bobo, ribut teriak-teriak minta nenen dengan suara imutnya itu, "Umii ayo nen, ayo bobooo". Duh, lucunyaaa, i am melting at that moment :D












Read More

Rabu, 05 Juni 2013

Langganan Bisul

Pertama kali berkenalan dengan si bisul tuh pas kakak Syifa kena, jaman duluuu banget pas masih di Majene. Nah, kali kedua belum lama ini, giliran anak kedua, Farah yang kena. Gede di hidung, bikin wajah hitam manisnya terlihat lucu hehe. Tapiiii, yang memang sering banget bermasalah pada kulitnya ya dedek Azzam, si bungsuku anak lanang dewe yang sedari baby ga kuat sama hawa panas, keringatnya berlebih dan selalu kena ruam dan biang keringat. Maka, tidak mengherankan ketika beberapa bulan terakhir ini si bisul lagi dan lagi, langganan deh :(

Ngerinya, kali pertama muncul kok yo buanyak gitu, lima biji langsung di leher depannya. Hiks, kasihan bangeeet tuh. Azzam kesakitan, mringis-mringis kalo kesenggol bisulnya. Udah gitu, bengkaknya ganti-gantian, jadi pecah satu dulu, baru bisulnya yang lain bengkak gede dan pecah juga. Sebenarnya hanya dua saja yang bengkak sampe guede, yang tiga biji lainnya hanya meradang, memerah dan tidak sampai keluar matanya.
 Nah, bisa dihitung tuh, tiga biji di bawah. satu di tengah. satunya lagi dibawah dagu. Paling gede dan habis pecah yang paling kiri tuh, merah mateng merona. Alhamdulillah Azzamnya nggak rewel, dikompres dan dikasi obat salep Ichtiol pun nurut aja.
Sampe diabadikan penampakan bisul-bisul dek Azzam , lha kali pertama dan langsung rombongan soalnya.  Dan ternyata tidak hanya sekali kejadian itu saja, kali kedua muncul lagi di kulit kepalanya. Kali ketiga niiih, tergres, ada di pinggulnya. "Adu, adu, atit." keluhnya ketika dipakaikan clodi ato celana. Kesenggol bisul sih ya dek, huhu sabar ya.

Dulu pas Syifa kena bisul, aku langsung nanya ke om gugel sih, dan memang bukan karena alergi. So far, ketiga anakku ga ada alergi, jadi aman makan telur, ikan, dkk. Nah, tapi keturunan juga nih di keluargaku kulitnya memang ga bagus, mudah kena biang keringat, ruam, dan bisul ini. Teringat aku, adik-adikku, bahkan Papa yang sering kena ruam di lipatan kulit, bahkan Yoga adik bungsuku gede gitu masih bisulan juga.

Dalam rangka merefresh kembali tentang si bisul, aku dapet informasi oke dari sini. Dikarenakan kulit Azzam yang sensitif, memang tidak pernah kuberikan bedak talc sama sekali. Ternyata bedak malah akan memperparah masalah kulitnya. Alhamdulillah, selama ini ruam-ruamnya bisa sembuh (meski muncul terus-terusan) hanya dengan diolesi minyak zaitun saja, memilih yang alami.
Read More

Jumat, 28 September 2012

[Azzam] Happy Birthday

Alhamdulillaaaaah.....ga terasa eeeuuuyyyyy, dedek Azzam udah setahun usianya *jogetpom2. Setahun yang lalu ngebrojolin dia, ditemani suami tuk kali pertama*akhirnya. Sedari subuh berasa kontraksi dan akhirnya setelah kelar sholat subuh, kluar deh fleknya. Setelah menunggu kontraksi makin sering, akhirnya aku dan suami naik motor ke klinik Bidan Ambar di Pancoran yang sebenarnya cukup jauh dari rumah tapi memang sudah kupilih. Selain cukup nyaman tempatnya, bisa milih kamar sendiri, dan biayanya itu lho, pas di kantong.

Pukul 3 sore pindah dari kamar ke ruang bersalin. Mulai heboh, teriak-teriak kaya neriakin maling. Huft, maklum yaaa, anak ketiga, setelah 4 tahun yang lalu terakhir melahirkan. Kata orang juga anak ketiga tuh biasanya susah ngebrojolinnya, berasa kaya mau lahiran anak pertama gitchu *alasan. Seru tenan, sempat ganti-ganti posisi melahirkannya. Kalau dulu lahiran Syifa dan Farah hanya satu posisi, telentang itu, sekarang nyobain posisi jongkok segala. Ealah, malah kram kakiku. Yo wis, nyoba posisi miring kanan, miring kiri, duduk, sampe telentang lagiii. Baby Azzam ga kluar-kluar juga. Sampai aku kehabisan nafas, kehabisan tenaga. Ga hanya aku, tapi bu bidannya juga capek, mulai stres deh dia.

Akhirnya jam 4 lewat, bidan sholat Ashar dan digantiin sama bidan yang lain, yang masih seger bin fresh. Mengomando aku dengan lebih tenang, lebih bersemangat. Akunya kepompa juga semangatnya dong. Sambil komat-kamit berdoa dalam hati, plus bilang pada diri sendiri, "Ayo Tikaaa kamu bisaaa, kudu lairan normal, ga usah cesar-cesaran, ga ada duit buuuuk!" Dan aku mengejan lagi dan lagi. Berhenti mengejan, bidan suruh suami nyuapin makan n minum untuk menambah tenagaku. Hap..hap...hap...aku telan aja tuh segala sari kurma n roti, minuman apa aja deh tuh. Trus ngejan lagi...aaaarrgghh....kok ya, tuh makanan kan masih sampai leher, belum turun ke perut, akhirnya aku muntaaaahh, masih sembari mengejan. Huhuhu...kok porak-poranda gini yaaa....jeda mengejan bidan dan suami cepet-cepet bantuin aku ganti baju, ngelap itu muntahan dan uuuggghhh...aku ngejan lagi, lagi, dan lagi.

Baby Azzam alhamdulillah lahir ke dunia ini jam 5 sore, setelah perjuangan di ruang bersalin sedari jam 3 sore. Hiks..hiks...legaaaa banget. Meski tangan udah kena 4 tusukan infis yang gagal, ya karena ga nemu urat nadinya, meski udah gonta-ganti posisi, meski sampe acara muntah segala, demi anak lelakiku. Sayang, foto-foto bayi merahnya hilang semua gegara suami otak-atik hape dan clink semua data kehapus, padahal foto-foto Azzam belum diselamatkan .

Di usianya yang setahun, Azzamku benar-benar menjadi obat bagi aku dan suami, juga kedua kakaknya. Obat stress, obat pusing, obat pertengkaran (buat kakak2nya), obat bokek juga hoho. Azzam yang peniru ulung, sok tau banget padahal masih juga unyil hihi. Azzam yang suka banget ikut tertawa seolah tau apa yang kuketawai, padahal akunya nonton acara Tahan Tawa. Azzam yang tidak mau kukunya dipotongkan, dan malah merebut pemotong kuku dan lalu sibuk mau memotong kukunya sendiri

 
Azzam barusan digundul lagi tuuh, yang kedua kalinya :D Tuh, ketika dipanggil, dia melihatku, ngoceh-ngoceh, trus asik lagi deh sama pemotong kukunya.








Read More

Jumat, 27 Juli 2012

[Azzam] Merangkak, Alhamdulillah!

Alhamdulillah, Azzamku sudah 10 bulan sekarang. Tak terasa ya...tahun lalu masih menjalani ibadah puasa dengan perut mblendung isi bayi. Kenangan manis, ketika aku puasa, maka Azzam di dalam perut malah demo, nendang-nendang terus sampai kulit perutku monyong-monyong dan terasa sedikit nyeri.

Di usianya yang 10 bulan ini, giginya sudah empat. Tajam dan gede, cukup untuk membuat kakak-kakaknya menangis ketika kebagian gigitan gemes Azzam. Makin membuatku parno tentu saja, beberapa kali dia juga menggigitku ketika nenen, oouucchh saakiiiit
. Lucunya, pernah dia sengaja menggodaku, dengan wajah imut bayinya itu ditambah seringai jail, dia mainkan giginya sambil pura-pura mau menggigit. Jadilah aku makin merinding, ngeri aja kalau dia benar-benar langsung menggigitku ketika dikasi nenen.

Di usia 8 bulan yang lalu, Azzam sudah aktif minta berdiri dengan berpegangan pada kami yang sedang duduk atau pada kursi, ketika berada di rumah neneknya. Heemm, kami menebak-nebak, apakah Azzam akan bisa merangkak atau dari merayap langsung mau berdiri dan belajar jalan ya? Teringat akan Syifa dan Farah, mereka berdua tidak melalui tahap merangkak tapi malah ngesot (kaya suster ngesot itu
). Aneh melihatnya, kemana-mana soot...kesot...kesot... Bahkan Farah hampir berumur 2 tahun ketika bisa berjalan. Sampai-sampai para tetangga mengira kalau Farah tidak bisa berjalan. Mereka menyarankan agar Farah dibawa ke dukun pijat, ke dokter, diberi makan ini makan itu, diolesi ini dan itu di kakinya. Wah, pokoknya jadi ikutan cemas.

Berharap Azzam bisa merangkak, melihat geraknya yang aktif, merayap kemana-mana lalu pantatnya naik, jatuh lagi, begitu terus. Lama-kelamaan dia bisa duduk sendiri dari posisi tengkurap. Alhamdulillah, sejak awal bulan ini Azzam mencoba merangkak...dan bisaaaa!!
Hihihi seneeng deh melihatnya. Sekarang dia merangkak kemana-mana, masih suka terpeleset sih, merayap lagi lalu merangkak lagi. Heboh jadinya, punya anak laki-laki setelah dua anak perempuan dan bisa merangkak, sesuatu banget hehe. Dua kakaknya juga ikut berteriak-teriak gembira ketika melihat Azzam bisa merangkak.
Read More

Rabu, 28 Maret 2012

[Azzam] Bronkiolitis

Azzam....bikin kangeeen deh. Kalau sementara merah trus iseng-iseng liatin foto-fotonya di HP, hati ini berasa rinduuu sekali, dag dig dug dueerr deh. Di rumah jadi kesayangan dua kakaknya yang hobi main rumah-rumahan itu. Azzam bisa jadi korban, dijadikan mainan juga wkwk.

Sejak lahir sampai sekarang, Azzam sudah beberapa kali sakit. Meski hanya batuk pilek, tapi kasihan melihatnya tersiksa begitu kalau lagi uhuk-uhuk dan susah bernafas. Minumnya jadi berkurang dan tidurnya tak nyenyak.
Kali pertama sakit ketika usia sekitar 2 bulan, gegara virus yang hobi ping-pong. Dari Syifa ke Farah lanjut ke aku, eh ke Azam deh. Tapi waktu itu tidak lama kok, semingguan saja. Karena ASIX, alhamdulillah ga pake ke dokter, meski orang tuaku tetep heboh saja sampai menelepon dari Malang sana.

Kali kedua sakit, sekitar awal bulan Februari yang dingin panas disertai sering hujan itu. Cukup lama tidak sembuh juga, hampir sebulan lah. Tetep, virus masih ping-pong saja. Sembuh beberapa hari, balik lagi meler dan uhuk-uhuk. Sampai akhirnya terlihat parah sekali batuknya, nafas beraaat banget. Bunyi grok-grok di dalam dada, susah tidur. Hiks, kasihan banget. Efeknya, minum ASIP jauh berkurang, dari 5 botol menjadi 3 botol saja, berat badan turun, terlihat kurang ceria meski masih saja hobi senyum-senyum. Akhirnya di akhir Februari aku ambil cuti 2 hari, melanjutkan libur wiken. Dikarenakan pas wiken Azzam bisa menyusui langsung dengan maksimal, lebih baik aku tidak ngantor agar bisa memantau langsung dan menyusuinya lebih lama. Alhamdulillah, Azzam baikan. Meski nafas masih mengi tapi sudah tidak terlalu berat. Jadwal ke dokter Markas Sehat pun kubatalkan.

Suatu malam, sambil penasaran nih, kubuka buku Q & A, Smart Parents for Healthy Children dari dr. Wati. Nyari deh tentang batuk pilek pada bayi. Baca-baca sampai akhirnya menemukan tentang Bronkiolitis yang disebabkan oleh virus dan sering menyerang pada bayi yang sering terpapar asap rokok. Langsung deh, esmosi jiwa kurasa...aarrgghh. Dengan semangat 45, kuangsurkan buku itu pada suami yang duduk di sebelahku. Kulihat terus nih, oke, dia membacanya. Kutunggu tanggapannya. Lalu akhirnya dia bilang, "Kayanya Azzam sakitnya yang ini ya." Yeah, yuo're so right mister!!! Berhenti dooonk rokokannyaaaaa, please dweeh. Azzam jadi korban tuuh.

Sejak Azzam lahir, aku terus wanti-wanti agar dia merokok jauh-jauh deh dari kami. Tetep aja dia merokoknya di depan rumah. Namanya rumah kontrakan kecil mungil ya, asap rokok terkutuk itu masiiih ada melenggang kangkung masuk ke kamar, bahkan ke dapur, dan terhirup kami semua tentunya. That's why dalam status Gtalkku pernah kutulis " Perokok itu 97% cinta rokok, 2% cinta keluarga, 1% cinta diri sendiri". Hoho, status nyindir para perokok terutama si dia, tapi tetep saja ga ngaruh tuuh.

Ternyata, seminggu setelah Azzam baikan. Tiba-tiba Sabtu malam di awal Maret, dia pilek lagi. Minggu malam langsung kena serangan (istilahku) karena dia batuk berat dan mengi. Susah bernafas, otot dada dan perut ikutan tertarik setiap Azzam menarik nafas. Kasihaaan banget. Semalaman aku, suami, dan Azzam begadang. Azzam susah tidur. Besoknya, aku tidak ngantor lagi, langsung membawanya ke RS. Di sana seperti biasa, kebanyakan dokter, langsung minta agar Azzam dirawat aja di RS. Ohoho, akunya nolak deh. Kubilang agar dirawat di rumah sajalah. Azzam pun diterapi uap, setelah itu alhamdulillah nafasnya lebih ringan dan dia langsung senyum-senyum ceria. Dokter pun (dengan agak kecewa) membolehkan kami pulang, dengan meresepkan beberapa obat termasuk vitamin. Ha? Bayi 5 bulan masih ASIX kok dikasi vitamin...please deh. Smuanya ga kutebus akhirnya hehe. Dokter juga mewanti-wanti agar bapaknya jauh-jauh kalau merokok (ke laut ajeee) agar tidak terhirup oleh Azzam.

Alhamdulillah, tanpa obat macem-macem, hanya terapi uap itu dan gempur ASI plus dijemur tiap pagi, Azzam sembuh. Tentu saja, tetep kudu galak ngusir bapaknya agar merokok jauh-jauh dari rumah. Huft, berdoa semoga cepet tobat tuk berhenti merokok. Kalau sudah perokok super duper aktif tuh susah banget ya ngebilanginnya... Sudahlah, yang penting Azzam sekarang sudah sehat, minumnya sudah banyak lagi, berat badan sudah naik lagi. Luph yu puuul Naak.

Share tentang bronkiolitis selengkapnya di sini.

 

Read More