Kamis, 12 Januari 2012

Berkubang Dalam Hutang

Asal tidak berkubang dalam dosa yaaa....tapi tetep deh yang ini tetep bikin nyesek. Hutang ooh hutang. Benar-benar bisa bikin orang galau sampai kacau apalagi kalau tidak ada uang untuk melunasinya.

Alkisah, kemarin tiba-tiba seorang teman di Majene memberi kabar. Cukup lama memang tak terdengar kabar darinya, terakhir sekitar beberapa bulan yang lalu setelah aku melahirkan. Itupun setelah suaminya yang tanpa sepengetahuannya meneleponku untuk meminjam sejumlah uang yang mana tidak dapat kuberikan karena aku juga lagi bokek :D. Heran juga, nih suaminya kok tidak bercerita kepada temanku, kan istrinya sendiri, main rahasia-rahasian segala.

Ah....musibah, datang tak dinyana, siapa kan menyangka, bikin kaget saja. Cukup terkejut juga aku mendengar kabar darinya. Tersedu sedan tangisnya. Bicaranya kacau dan terbata-bata. Suaminya itu pergi meninggalkan dia dan anaknya yang masih 9 bulan usia, entah kemana. Makin terpukul, karena ternyata suaminya pergi dengan meninggalkan hutang di mana-mana dan berbunga. Duuuh...miris dan super sedih aku dibuatnya. Suami berhutang tanpa bercerita padanya, rencananya untuk mengurus sertifikat tanah atau apalah. Sialnya orang yang diserahi uang hasil berhutang untuk mengurus sertifikat itu malah kabur entah kemana, membawa serta semua uang itu. Tinggal suami temanku yang melongo ditagih utang rentenir, mungkin karena tak sanggup menghadapi (ah tak jantan kau jadi laki-laki ) dia malah pergi, sendiri. Meninggalkan sang istri untuk menghadapi kejaran penagih hutang yang datang ke rumah setiap hari dengan marah-marah.

Ah....nasib, membawamu ke dalam situasi macam ini, teman. Ingin hati aku membantu, ingin hati aku membobol rekening untuk membantumu, tapi rekening siapa?? Aku saja tak punya tabungan, gaji tiap bulan ya habis dimakan hari-hari. Lalu apa yang bisa kulakukan...ah, pasti kan kucarikan jalan, kan kucoba bantu sekuat tenaga.

Baru saja dia menelponku lagi, masih sambil menangis. Mengemis katanya padaku agar aku bisa membantu, melunasi sebagian hutangnya itu...Makin sedih aku saat dia berkata terlintas keinginan untuk bunuh diri beserta anaknya yang masih bayi....oh no!! Jangan wahai teman, lebih besar masalah yang akan kau hadapi di alam akhirat nanti. Semoga kau tetap tegar dan sabar, jangan jauh-jauh dari Allah...merapatlah...mohonlah pertolongan, baca terus doa agar terlepas dari hutang yang dicontohkan Rasulullah saw.

*aah sedihnya....
Read More

Rabu, 11 Januari 2012

Dimana...Dimana...Dimana...

*ayuting2 mode on
Hedeeeh....beneran nih, mulai deh galaunya. Begini ceritanya...

Sejak pertengahan bulan Desember 2010 yang lalu, aku dan suami berniat membeli (dengan kredit tentu sajaaa) sebuah rumah hunian di daerah Bintaro dan sekitarnya. Pokoknya nyari yang harganya terjangkau oleh kreditan gaji PNS golongan II . Hampir tiap hari kami berdua keliling melihat-lihat berbagai macam rumah yang infonya didapat dari mantengin situs-situs penjualan rumah. Tidak hanya ke Bintaro tapi juga sempat ke Ciledug, tapi nihil, tidak ada yang cocok. Ada rumah yang harganya oke tapi kecil, ada rumah yang harganya lumayan maksa tapi kegedean rumahnya, ada yang terlalu jauh jaraknya dari kantor, susah transportasinya, macem-macem deh. Sedangkan rumah impian kami adalah rumah mungil dengan halaman cukup luas.

Akhirnya banting setir, dari keliling-keliling lihat rumah sekarang jadi cek lokasi tanah. Hampir banget beli di Pondok Safari tapi ga jadi. Ketemu jodoh deh sama tanah di jalan Cucur Bintaro 4 dan kami adalah pembeli pertama sehingga lumayan dapet harga lebih murah dari pembeli selanjutnya. Dengan bermodal kreditan kami pun bisa memiliki tanah idaman, nah rumahnya gimana? Hehe namanya juga PNS, kredit lagi laaah. Sayang urusan kredit kali ini agak terhambat dengan pengurusan IMB sehingga rencana pindahan kami dari Mampang ke Bintaro sebelum waktu tahun ajaran baru sekolah dimulai terancam njlimet.

Ternyata...ngurus IMB tuh bisa mahal bisa murah, tarif beragam. Biasa deh birokrasi yang dibikin njlimet dengan pungli dimana-mana. Karena keterbatasan dana itulah maka pengurusan IMB untuk calon rumahku bisa 2 sampai 3 bulan baru selesai, termasuk yang lama. Padahal rencana semula, kalau bisa cair pembiayaan pembangunan rumah dari bank bulan ini dan langsung dimulai pembangunannya, kira-kira dalam 3 bulan kami sudah bisa menempati rumah tersebut. Tentu saja proses masuk sekolah Syifa ke SD dan Farah ke TK akan lebih mudah karena sudah domisili di Bintaro.

Kenyataannya sekarang tidak demikian. Artinya demi sekolah anak-anak, mau tidak mau kami sekeluarga harus tetap pindah ke Bintaro meski belum ada rumah alias ngontrak. Dimana?? Belum tau nih, belum kebayang, belum nyari. Lalu bagaimana sekolah anak-anak nantinya ya, pengen masukin Syifa ke SDIT tapi mihil kan, begitu juga TKIT, biaya yang tidak sedikit untuk mereka berdua -sigh-. Biaya masuk sekolah anak TK dan SD saja jumlahnya hampir setara uang kuliah jaman dulu (ga tau kalau sekarang, kurang lebih sama ya?). Itupun masih dengan pertanyaan yang sama...Dimana?? Lha wong sekolahnya saja belum nemu kok, duh pusing jadinya.

NB : Kalau ada teman MP yang punya info sekolah di sekitaran calon rumah di Jalan Cucur, Pondok Aren, Bintaro 4...mohon sharingnya ya....matur tengkyuuu




Read More

Kamis, 05 Januari 2012

Cinta Buta

I think, it's needed sometimes. Tanya kenapa?
Tahu dong yang namanya cinta buta. Sejelek apa pun si dia, entah fisiknya, tindak tanduknya, atau perangainya, ealah masiiiih saja dibela-belain. Model cinta seperti ini biasanya melanda pasangan yang masih  pacaran, belum menikah lah. Pokoknya serasa bunga-bunga dimana-mana, dunia milik berdua yang lain pada ngontrak.

Bagi pihak yang sedang dijatuhi cinta buta, bagaimanapun keadaan pasangan, dia tidak peduli, nggak ambil pusing gitu. Seringkali melihat, si cowoknya pengangguran, muka pas-pasan, oalah kelakuan ga bener, suka mabuk gitu misalnya. Kok ya si cewek tetep keukeuh bilang I Love U. Sedangkan bagi pihak lain yang masih mikir waras bin terang benderang, pasti sudah mengurut dada, istighfar sambil geleng-geleng kepala.

Lha terus kapan dan bagaimana cinta buta (kadang) dibutuhkan? Jawabannya (menurutku) adalah saat kita sudah menikah, baik yang menikahnya karena dijodohkan atau karena sudah pacaran sebelumnya.

Setiap diri kita dan pasangan pasti punya kekurangan yang mana pada masing-masing pasangan pasti punya trik tersendiri untuk menyiasatinya agar bisa hidup tenteram damai aman sentosa bahagia selamanya. Lagipula yang punya kekurangan toh bukan hanya pasangan kita, tapi kita juga gitu lhoooo. Jadi nggak usah terlalu ribet, banyak menuntut dan tidak sabar menghadapinya. Intinya sih, saat melihat kekurangan pasangan, merem aja deh. Maksudnya mbok ya sabar, sama-sama sadar untuk terus memperbaiki diri. Tidak mungkin bagi kita dan pasangan untuk tiba-tiba menjadi sesuai seperti yang kita inginkan. Bukannya bahkan ada kekurangan yang sudah jadi cetakan pasangan kita alias susah dirubah tho?? Masa mau maksain agar pasangan kita berubah sesuai dengan apa yang kita mau. Tidak mungkin juga tiba-tiba kekurangan itu cliiiiing....lenyap dan menghilang begitu saja. Bisanya kan paling tidak dikurangi ya, sedikit demi sedikit menuju ke arah yang lebih baik.

Di sinilah peran cinta buta itu. Jangan sampai gara-gara tidak berkenan dengan kekurangan pasangan lantas kita melupakan kebaikan-kebaikannya yang sebenarnya banyaaak deh. Hati-hati lho, terlalu mempermasalahkan kekurangan malah bisa menurunkan kadar cinta kita pada si dia. Dulu sewaktu sebelum menikah kita bisa tuh (sok) menerima dia apa adanya, tidak banyak mempermasalahkan, setelah menikah resiko itu ditanggung bersama dooonk. Sama-sama saling menghargai, memperbaiki, jangan saling menuntut saja.

Jadi, cintailah pasangan dengan kadar yang tak berkurang meski kini kita sudah mulai enek dengan kekurangan-kekurangannya, lapangkan dada biar lebih bisa memahaminya, empati, dan lebih sabar. Cinta buta pada pasangan karena Allah bukankah berpahala .


Read More

Rabu, 04 Januari 2012

Waktu Untuk Menulis

Susaaaahh...........
Makin kesini makin susah saja menyisihkan waktu untuk menulis jurnal di sini. Kalau hanya untuk menulis curcolan sih gampang ya, cepet gitu kaya ini ni. Tapi pengen banget bisa menulis yang bener, hal-hal yang lebih berat (batu kaleeee) yang seringkali berseliweran di benakku dan begitu ingin kuingat dengan menuliskannya agar dapat menjadi jejak-jejak dalam kehidupanku (jadi ingat buku jejak-jejak terseraknya mas jampang).

Kerjaan banyak, harus merah ASIP pula. Barang dagangan terbengkalai, tersimpan (tak) rapi di dalam dos di bawah meja kerjaku. Kalau dulu ada waktu luang langsung dipakai untuk nawarin dagangan dan ngeblog, sekarang kan buat pumping tho. Gak enak hati kalau aku jadi maruk korupsi waktu banyak-banyak bin kebanyakan :(

Menejemen waktu.
Harusnya bisa ya, diatur sedemikian rupa agar semua bisa berjalan seimbang. Jalan semua gitu. Kalau nulis yang ini sih sembari kerja juga, nggak make mikir makanya bisa nulis cepet. Pas cuti kemarin itu sempat nulis di notes kecil, rencana mau diposting kalau sudah bisa megang kompi lagi, ternyata sampai sekarang belum sempat juga .

Apalagi blogwalking....huuu....mana sempaaatt.....kangen euy mampir di MP-nya si anu, si itu, si dia, banyak deh, kangeeeeen *mewek di pojokan.

Weits udah jam segini, waktunya pumping...............
Read More

Selasa, 27 Desember 2011

Oleh-Oleh Jahitan

Duuuh senangnya kemarin dapet tambahan libur satu hari lagi ya...jadi bisa 3 hari kumpul bareng keluarga. Ada yang pulang kampung, ada yang jalan-jalan rekreasi. Kalau aku dan keluarga sih gak jauh-jauh jalannya, maklum dalam rangka ngirit nih. Kebetulan adikku si Ratih datang mau jenguk ponakan-ponakan imutnya, jadi tambah lagi satu penghuni rumah kontrakan mungilku.

Sudah cukup lama anak-anak tidak diajak jalan-jalan, jadi kemarin itu akhirnya ngajak mereka pergi. Ga jauh, yang penting keluar rumah :p. Sabtu pagi jalan ke pasar dekat rumah, anak-anak semangat banget walau cuma diajak ke pasar. Mereka senang melihat berbagai macam jualan di sana, kan ada kelomang, burung warna-warni, ayam kecil, malahan kemarin ada yang jual ayam hutan imut-imut. Tapi cuma lihat saja, tidak kubelikan, kasihan binatang-binatang imut itu, anak-anak kan belum bisa merawat hewan peliharaan dengan baik, yang ada malah ortunya ntar yang repot, biasanya hewan imut gitu cepet mati, ga tega lihatnya.

Hari Minggu malam, ngajak anak-anak ngemol. Bapaknya perlu beli kemeja baru, jadi rame-rame deh pergi ke mol, si Azzam ngikut juga wkwk, bawa kereta bayinya juga nih, segambreng bawaannya. Ternyata cape juga, Azzam sampe tertidur padahal sekelilingnya ramai banget, suara manusia plus musik ditambah suara mainan anak, malah meninabobokkan Azzam.

Senin hari libur terakhir, sengaja nggak kemana-mana, istirahat ngumpul bareng. Sebenarnya aku pengen ngajakin Syifa nonton film "Hafalan Sholat Delisa" yang baru diputar di bioskop. Kalau dari bukunya sih oke banget ya jadi tontonan keluarga, memang sih kadang kalau diangkat ke layar lebar malah kurang greget, tapi penasaran pengen tau filmnya. Suami nggak setuju sih, yo wis, batal ngajakin Syifa nonton.

Senin sore itu aku asyik bobok siang sama Azzam sampai sekitar 2 jam, pingsan apa tiduuurr..... Eh, mbak Anik masuk kamar membangunkanku, sudah sore katanya. Kaget deh, udah sore gitu, aku belum sholat lagi. Terdengar suara gaduh anak-anak sedang mandi bareng, teriak-teriak sambil tertawa. Kok tiba-tiba terdengar suara gedebuk keras dan disusul tangisan Farah, kenceng banget. Duh, berasa copot nih jantung. Sambil melek-melekin mata yang masih lengket aku lari ke belakang, duuuh ternyata Farah terjatuh. Sudah berkali-kali Farah terjatuh di kamar mandi, entah ini yang keberapa kali, tapi tangisannya kali ini yang paling dahsyat.

Tak sengaja kulihat ada setetes air merah di dadanya, kusentuh dengan jari lalu kucium. Kok bau darah ya, padahal tubuh Farah tidak terluka. Kucium lagi jariku, beneran deh ini sih bau darah. Kalut juga, suamiku langsung memeriksa Farah lagi dan akhirnya menemukan luka menganga di kepalanya. Lumayan lebar, panjangnya kurang lebih 1 cm. Duuh karena ini yang terluka kepala, langsung deh mikir harus dibawa ke dokter. Cepat-cepat kami bersiap-siap menuju UGD RSB Duren Tiga, mendingan aku sholatnya di sana saja sekalian.

Sampai di sana, dokter jaga langsung memeriksa dan menganjurkan agar sebaiknya luka tersebut dijahit saja agar mempercepat proses penutupan luka dan agar tidak kena infeksi. Sudah kutebak sih, tapi syukur juga cuma dijahit satu saja. Duh Farah, dapet kenang-kenangan jahitan di usianya yang 4 tahun. Alhamdulillah Farah kooperatif, mau tiduran sambil megang tanganku. Mewek pas disuntik obat bius lokalnya dan meringis merintih sewaktu dijahit. Mewek lagi ketika disuntik serum anti tetatus. Huft, alhamdulillah beres. Sepulang dari RS, Farah nagih janji dibelikan es krim. Sesampainya di rumah, ealah dia malah seru bercerita pengalamannya dijahit ke kakaknya, bangga banget gitu hehe dasar anak-anak.

Sekarang rambut Farah jadi pitak deh, karena dicukur dikit kemarin sebelum dijahit lukanya. Tadi pagi, bangun tidur langsung main ke rumah temannya, pamer kepalanya yang ditutup penutup luka itu.

Read More

Selasa, 20 Desember 2011

[Diary Mama Perah] Salah Strategi

Alhamdulillah, sudah punya anak tiga. Untuk baby Azzam anak ketigaku, aku ingin memberikan ASI eksklusif dan insyaAllah lanjut sampai 2 tahun. Pengalaman sebelumnya, Syifa si sulung terpaksa disapih di usianya yang setahun lebih beberapa bulan karena aku mengandung lagi. Sedangkan Farah, alhamdulillah mimik ASI sampai usia 2 tahun lebih dikit. Sayangnya, kedua anakku itu tidak benar-benar full ASI, sudah terkontaminasi sufor beberapa saat setelah mereka lahir :(. Meski melahirkan di tempat yang dindingnya banyak poster pentingnya ASI dan kolostrum, tetep saja mereka diberi sufor dan sedihnya aku masih cuek tentang hal tersebut. Oleh karena itu, kali ini insyaAllah akan mengusahakan yang terbaik untuk Azzam.

Dulu sewaktu masih di Majene, kerja bisa nyantai, bisa bolak-balik pulang ke rumah, malah bisa bawa bayi ngantor dan nenenin kapan pun juga (inget Syifa yang ikut ngantor sejak usia 3 bulan). Sekarang sih mana bisa, secara sudah ngantor di Jakarta yang tentu saja tidak bisa seenaknya dewe, tidak mungkin bawa bayi ngantor, tidak bisa juga sering-sering pulang ke rumah kecuali jam istirahat. Alhamdulillah rumah kontrakan cukup dekat dengan kantor, jadi kalau mendesak masih bisa pulang dan macetnya juga tidak terlalu parah.

Semenjak melek internet, banyak ilmu terutama tentang per-ASI-an yang kudapat, terlebih sejak bergabung di grup HZLC di Facebook. Selain itu banyak teman-teman di kantor yang memerah ASI, jadi hal ini sudah tidak asing lagi, dan tentu saja aku semangat banget berniat akan berjuang juga demi memenuhi ASI untuk Azzam. Ternyata semua tidak semudah kelihatannya ya, gara-gara aku salah strategi, maklum ini kali pertama sih.

Sebelum melahirkan sudah terpikir untuk membeli "alat-alat perang" untuk nyetok ASIP, tapi kata suami ntar saja dulu setelah melahirkan. Yo wis, setelah melahirkan masih santai-santai nenenin Azzam, belum mikir belajar merah dan siapin stok ASIP. Kira-kira setelah sebulanan baru deh hunting breastpump, si minel yang banyak rekomendasikan, alhamdulillah dapat sekennya masih bagus baru beberapa bulan pakai. Lanjut dengan belanja printilan lainnya sampai beres dan siap digunakan. Salah satu teman menanyakan mengapa aku belum juga memulai memerah, tapi akunya santai saja, toh masih sebulan lagi ngantor. Lagipula dari informasi yang kudapat, belajar merah dalam 14 hari insyaAllah ASI akan lebih banyak dan sudah biasa diperah. Berhubung di rumah adanya hanya kulkas dengan satu pintu, niatan untuk nyiapin stok ASIP jauh-jauh hari urung kulakukan. Setahuku, ASIP hanya bertahan selama 2 minggu di dalam freezer kulkas satu pintu.Jadilah aku memulai memerah 2 minggu sebelum ngantor dengan harapan saat ngantor nanti produksi ASI untuk diperah sudah banyak dan melimpah.

Sayang, selama 2 minggu itu ternyata aku terlalu nyantai merahnya. Seharusnya tiap 3 jam untuk memancing produksi ASI lebih banyak dan banyak, tapi dalam sehari aku cuma memerah 3 sampai 5 kali saja. Keenakan nenenin si Azzam, males ribet dengan si minel yang meraung-raung. Hasilnya tentu minim, hanya sebotol tutup karet dalam sehari. Stok terkumpul saat ngantor kira-kira nggak ada 20 botol. Aku sih masih nyantai saja, mikirnya di kantor bisa merah untuk nambal stok di rumah. Haha ternyata...tidak semudah itu sodara-sodara, hasil merah di kantor maksimal 200ml saja, seringnya malah kurang dari itu. Tidak terasa stok di kulkas tiba-tiba lenyap saja, olala dedek Azzam mimiknya banyak ternyata. Hari pertama 450 ml, hari-hari berikutnya bisa sampai 550ml. Akunya cuma bisa kaget dan bengong, lalu panik!!! :p

Dalam kekhawatiran aku buka-buka lagi dokumen di HZLC tentang Tips Memerah ASI, hem nyadar deh aku kurang rajin merahnya. Salah satu temanku produksi ASIPnya kurang lebih sama denganku tapi stoknya aman karena di malam hari dia mati-matian merah juga. Lha aku?? Molor dengan sukses tiap malam, kalaupun bisa bangun dan mau merah, eh suami gak mau denger raungan si minel huft. Akhirnya curhat sana-sini, minta dukungan n motivasi dari teman-teman seperjuangan sesama mama perah, alhamdulillah bisa mendongkrak semangat. Mulailah malam-malam penuh tantangan untuk menahan kantuk dengan menggemgam minel di tangan, untuk meredam raungannya, si minel ditutupin kain bedong berlapis-lapis :D. Tak lupa terus berdoa dan semangati diri sendiri bahwa ASIku cukup tuk Azzam, aku nggak akan ngasi sufor, no way!!

Akhirnya stok ASIP di rumah benar-benar habis, istilah kejar tayang yang kuucapkan dulu sambil mesem-mesem sekarang kuucapkan dengan muka panik merem melek. Sampai terpikir untuk minta bantuan donor ASI, siapalah gitu yang bisa bantuin nambal stok ASIPku. Aku sempat menanyakan hal ini di grup HZLC, minta bantuan donor ASIP, bahkan nanyain ke dua orang teman di kantor. Sayangnya mereka juga lagi kejar tayang, perah hari ini untuk mimik anaknya esok hari, tapi karena anak mereka sudah MPASI jadi konsumsi ASIPnya tidak terlalu banyak lagi, pas sesuai hasil perah hari itu.

Setiap hari Sabtu dan Minggu sekarang adalah hari paling kutunggu, karena bisa ngumpulin ASIP untuk Senin. Masih belum tercukupi ternyata. Saat-saat mulai genting, aku pulang ke rumah tiap jam istirahat, tentu saja jadi capek dan ribet, dan ibu bosku juga kurang setuju. Nah, minggu lalu benar-benar stok untuk hari itu kurang, pusing aku jadinya, bagaimana ini. Aku nggak mau nyetok sufor di rumah karena pasti akan terpakai kalau ASIP habis. Yo wis, aku akhirnya meminta salah satu teman angkatanku dulu yang juga punya bayi laki-laki untuk memberikan ASIPnya. Alhamdulillah dia bersedia, legaaa deh. Hari itu dia memberikan 3 botol ASIP yang dititipkan ke suaminya yang ngantor 3 lantai di atas kantorku.

Yah, akhirnya mencari ibu susu untuk Azzam adalah pilihanku ketimbang memberikan Azzam susu formula. Hukum syari'at tentang ibu susu, aku dan temanku sama-sama tahu. Semoga dengan bantuan ASIP dari temanku itu, aku bisa mulai nyetok ASIP sedikit demi sedikit, dengan lebih sering memerah minimal tiap 2 jam. Alhamdulillah sekarang aku bisa membawa pulang ASIP sekitar 300ml, lebih banyak dari sebelumnya, dan tiap malam di rumah memaksakan diri untuk merah juga. Heemm..ternyata memang butuh perjuangan dan pengorbanan ya....
Read More

Jumat, 02 Desember 2011

Back to Work

Ga terasaaaaaaaa.........dah 2 bulan usia Azzam tanggal 28 Nopember kemarin. Saatnya balik ngantor, cuti dah expired, kan 2 bulan sesudah melahirkan batas waktunya. Duuh, dag dig dug rasanya, grogi juga mau ngantor. Banyak persiapan seputar per-ASI-an nih, mulai belanja botol, breastpump, sterilizer, cooler bag yang semuanya alhamdulillah bisa beli online saja, nyaman, sambil nenenin sambil belanja.

Dua minggu sebelum ngantor, aku mulai belajar merah asi dengan pompa elektrik seken si Minel yang konon laris manis dan banyak disuka ibuk-ibuk itu. Wah, hasil perahan pertama cuma 20 ml...jadi kuatir kalau bakal sedikit terus dapetnya. Ternyata memang perlu jam terbang tinggi alias terbiasa untuk mendapatkan hasil perah yang lebih banyak. Alhamdulillah, gabung juga di grup HZLC -Henny Zainal Lactation Center di FB. Asli berguna banget, buanyak ilmu tentang ASI dan vaksin di sana. Tengah malam nenenin Azzam menjadi tidak bikin ngantuk, karena nyambi mantengin grup itu, nimba ilmu malam-malam hehe.

Seharusnya aku ngantor tanggal 29 Nopember, tapi karena tidak enak badan akhirnya tanggal 1 Desember baru deh berangkat. Stok ASIP belum banyak, tapi lumayanlah untuk konsumsi Azzam selama 2 hari aku ngantor, tanggal 3 dan 4 Desember kan libur, jadi stok bakal tidak berkurang tapi bisa nambah nanti. Di kantor jadwal merahku 3x saja, seharusnya merah lagi di rumah pas malamnya ya, tpi ngantuuuuk . Kayanya harus kejar tayang nih stok ASIPku, ternyata dedek Azzam mimiknya hari ini banyak juga, sekitar 450ml. Seneng ya, tapi kebat-kebit stoknya, seharian di kantor cuma dapat sekitar 200ml saja. Harus semangat pumping malam-malam nih, ganbatte!!

Oya, dua bulan lebih absen ngejurnal, moga-moga nanti ada waktu untuk berbagi cerita pas brojolan Azzam kemarin, heboh acara ngelahirkannya, 3 posisi melahirkan dipakai, si Azzam gak kluar-kluar juga, 3 jam acara ngejannya, sampai mau diinfus 4x tusuk gagal terus, deg-degannya keinget terus sampai sekarang. Miss u Azzam....!!

Alhamdulillah Syifa dan Farah cukup kooperatif, terutama Syifa yang sudah 6 tahun, dia bisa diminta bantuin jagain adiknya. Kalau Farah sih harus tetap diwaspadai, seringkali tiba-tiba dia cubit Azzam, atau menarik kaki mungilnya duuuh ngeri deh pas kedapetan dia mau nyoba menggendong Azzam hoho.

Alhamdulillah, bersyukur banget, keluarga kecilku makin rame dan heboh dengan kelahiran Azzam. Emaknya narsis, tapi foto-foto Azzam belum juga teraplot, yang nagih pengen liat wujud Azzam nanyain melulu hihi. InsyaAllah ntar kuaplot, semoga ada waktu dan sarananya -edisinolaptop-



Read More

Selasa, 20 September 2011

[My Pregnancy] Akhirnya Ga Kemana-mana

Setelah nahan pengen ngejurnal kok lom bisa online dengan leluasa, akhirnya ni hari dibela-belain mampir ke warnet deket rumah hoho. Pengen banget cerita soale, lanjutan postinganku sebelumnya
Sepertinya, saat itu aku memang bener-bener terpengaruh oleh semua komentar dan kekhawatiran ibuk-ibuk di kantor. Sebelumnya dengan lapang hati dan ikhlas plus pede aku nggak apa-apa kalau ditinggal suami dan anak-anak pergi ke Malang selama seminggu untuk menghadiri pernikahan adik iparku. Lalu saat setelah kontrol ke dsog deket rumah dengan berita bayi yang beratnya udah 3,4kg dan kata-kata yang "cepet melahirkan lebih baik" itu lho, aku jadi parno. Ditambah lagi komentar dan kekhawatiran teman-temanku, takut kalau pas suami pergi aku malah lahiran, gimana hayo....trus kesan dari mereka yang menyiratkan "tega banget suamimu, istri hamil tua kok ditinggal" itu yang bikin aku jadi gimanaaaa gitu.
Kok ya, lah dalah si Ipit beneran ingkar janji. Katanya tanggal 11 mau balik ke Jakarta, ealah malah gak datang. Alasannya gak ada yang nemani, gak berani sendirian. Mau dijemput lha suami gak tau alamatnya, gak ada waktu pula tuk jauh-jauh ke Sukabumi kan. Asli sebeeellll...mana kemarin kan nggak persiapan mau nyari serepnya . Tegaaaaa....!!!! Makin frustasilah aku, gak bisa mikir dengan santai. Gak mau lah aku ditinggal sendirian ke Malang, akhirnya suami bilang kalau aku ikut saja deh. Sekalian melahirkan di Malang. Hoho waktu itu aku mikirnya bener-bener semua-semua gak bisa pasti, unpredictable banget. Yo wis, mendadak beli tiket KA, dan senin malam tanggal 12 Sept langsung ke dsog di RSB Duren Tiga tuk kontrol lagi dan minta pendapat profesional beliau, apakah aman untukku melakukan perjalanan jarak jauh di usia kehamilanku yang sudag 37 minggu.
Dan ternyataaaa...kata bu dokter "nggak boleh!". Setelah periksa dalam, katanya kepala nih anak udah masuk jalan lahir. Kalau mau naik KA, kan banyak goncangan tuh, mana lama lagi di jalan, takut kalau bisa memicu kontraksi dan brojolan di KA hoho, takuuuut. Kalau naik pesawat sebetulnya dia ngasih ijin, tapi akunya yang gak berani ah. Resiko lah yauw, meski ada teman yang berani naik pesawat di usia kehamilan 38 minggu, aku mending milih amannya. Secara anak ketiga, jalan lahirnya dah lebar hihi dan insyaAllah ni anak cowok, disayang-sayanglah.
Dengan berat hati (suami maksudku) kami membatalkan rencana mudik ke Malang. Aslinya aku nggak enak hati banget, ya sama suami ya mertua ya adik ipar. Alhamdulillah keluarga suami memahami banget, menelpon berkali-kali untuk meyakinkan suami agar kami nggak usah berangkat saja. Meski heemm...suamiku kayanya masih nyimpen kecewa karena tidak bisa berangkat menghadiri pernikahan adiknya. Sempat beberapa hari dia nggak banyak bicara, tauk deh mikir apa.
Alhamdulillah sekarang udah baik semua. Acara nikahan adik lancar jaya, suami sudah lebih nerimo, dan kehamilanku baik-baik saja. Tadi habis kontrol lagi, minggu ke 38 kurlebnya. Di USG kali ini, berat janin malah cuma 2,8kg, asli lega, aku gak harus parno duluan emang seharusnya, karena perhitungan berat janin di USG kan nggak akurat tho yo. Lega lah, berarti gak usah terlalu nahan-nahan mau makan apa, daripada tiba-tiba lemes kaya yang terjadi beberapa kali belakangan ini. Dan sepertinya aku emang kurang minum, air ketubanku kata bu dokter berkurang, jadi harus diperbanyak minumnya. Oke deh, siap laksanakan! Oya, tadi sempet rekam jantung janin juga, sebenarnya nggak penting-penting banget sih ya....tapi nggak apa-apa deh, meski keluar duit lebih juga hehe (dasar mlirit).
Alhasil, rencanaku mau tetep ngantor sampai beberapa hari sebelum brojolan ya gatot. Karena ada rencana mudik kemarin itu, aku udah ambil cuti terhitung sejak 13 Sept sampai 2 bulan setelah melahirkan nantinya. Oya perhitungan HPL ku ternyata 4 Oktober, masih lama yaaa. Pengennya cepet-cepet brojolan aja haha, sampai ngimpi-ngimpi lho. Mimpinya macem-macem, ya aku udah kontraksi lah, yang aku udah ngeden mau melahirkanlah, hihi. Sabaaar buuk..... Seneng juga sih, bisa cuti begini, berarti aku bisa antar anak-anak sekolah, bisa nemani mereka tiap harinya, mana nggak ada si Ipit kan, cuma mbak Anik aja. Minta tolong dong carikan ART, kali ajaaa bisa jodo kerja di aku..ya..ya.... Eh, tak lupa mohon do'anya yaaa....agar persalinanku nanti normal dan lancar. Amiin.

Read More

Jumat, 09 September 2011

[My Pregnancy] Minggu ke-37

Dikit lagiiiiii.......makin dag dig dug dhueerrr!!!
Perut penampakannya makin guede, lha iya, lha wong isinya juga makin gede hehe. Super kick makin menjadi, doyong-doyong deh nih perut kanan kiri atas bawah. Sempet kepikiran, kan katanya kalau udah hamil 8 bulan lewat kudu diet karbo ya, biar anaknya gak lahir gede gitu, tapi aku kemarin cuek saja. Habis selesai bulan puasa, BB turun kan tuh 2 kg, jd hantaaam makan apa saja, ngabisin nastar dkk di rumah, lha wong tamu-tamuan sendiri hihihi. Lha pas kemarin itu iseng-iseng nimbang, lha kok BBku udah 62kg aja. Naik 4 kilo booo, cepet banget naiknya. Jadi was-was nih, mana suami komen kalo perutku kok makin gede dan penuh gitu. Sampai-sampai dia minta aku nanti lahiran di RS saja, jangan di klinik karena khawatir kalau ada apa-apa biar cepat penanganannya, khawatir aku melahirkan bayi dengan BB gede.
Finally semalam USG deh, ngantri dari jam 20.30 sampai jam 22.30. Ngantuk ya ngantuk deh, tapi anak-anak tetep aja asyik main bedua, ramai banget. Sembari nonton OVJ, ni baby nendang melulu, ngajakin bobo kali yaaa :p Intinya sih USG kali ini pengen nanyain perkiraan BB bayi, penasaran saja. Olala ternyata di minggu 37 ini, beratnya sudah 3.4kg. Doweeeng!!! Harus diet dooonk...huaaa...padahal lagi doyan-doyannya ngemil. Mana di kantor teman-teman bawain oleh-oleh mudiknya bermacam-macam buk'eeee, enak-enak pisan huhuhu. Yo wis, mulai ni hari banyak-banyak ngemil buah deh kalau berasa pengen ngunyah. Kata dokternya, nih anak kudu cepet dikeluarin dari perut wkwk. Emak n bapaknya disarankan tuk lebih sering ML biar cepet lahiran . Weleh, saran ajib ituuu hoho.
Rencananya, suami dan anak-anakku mau menghadiri pernikahan adik suamiku tanggal 16 nanti, jadi tanggal 13 besok mau berangkat ke Malang. Nah, si mbak Anik karena kemarin nggak mudik, jadi mudiknya nanti tanggal 12, mau berangkat ke Purwokerto. Nah, aku rencananya bakal ditinggal sama si Ipit, berdua doang, itupun kalau si Ipit bener-bener balik ke Jakarta tanggal 11 nanti. Lha sampai sekarang saja, kabarnya masih kabu alias gak jelas, dia pasti mau balik atau tidak. Lha terus aku apa yo sendirian saja?? Lha kalau tiba-tiba mules mau brojolan gimene??? Huhuhu, nyesek deh ngebayanginnya.
Trus gimana? Pasrah aja deh, sesuai saran teman-teman yang kasi support *ngelirik ibuk-ibuk di kantor, siap sedia semua-semuanya, kalau ada apa-apa minta tolong sama tetangga terdekat, siap-siap no HP bidan yang bisa dihubungi, siap-siap mental tentunya. Berdo'a semoga ntar brojolannya kalau suami dah pulang saja dari Malang....mudahkanlah ya Rabb....Amiin.
Read More

Kamis, 18 Agustus 2011

Mari Pulang Marilah Pulang

Huhuhu....lebaran kali ini tidak bisa ikut rame-rame dengan ribuan orang lainnya tuk mudik lebaran. Berhubung ni perut makin buncit saja, penyok-penyok kesana kemari kalau si baby lagi olahraga, mana anggaran lebih diutamakan untuk persiapan lahiran. Yo wis, insyaAllah akan merasakan lebaran di Mampang Prapatan IV gang Pelukis no.3 Jaksel (kali aja ada yang mau mampir ).
Lebaran tidak berkumpul bersama keluarga besar sebenarnya sudah beberapa kali kualami, dulu di Luwuk, Sulteng pernah lebaran berdua saja dengan suami, lalu tahun 2008 (kalau tidak salah) berlebaran di Majene, Sulbar hanya berempat, aku, suami, dan anak-anak saja. Biasanya yang membuatku agak gugup ya hanya masalah masak saja, secara diriku ini gak pinter masak plus males wkwkwk. Dulu pas di Majene, dengan dibantu suami (akhirnya) aku masak gule kambing memakai bumbu instan hehe. Lha kalau lebaran nanti mau masak sendiri tidak ya? -malesdotcom- Rencana sih mau pesen nitip aja dimasakin sama ibu yang punya rumah kontrakan , ntar tinggal nitip duit berapa gitu plus uang capeknya.
Biasalah, ikut merasakan ditinggal mudik PRT niih. Sambil harap-harap cemas, si Ipit yang mudik ke Sukabumi moga-moga beneran mau balik kerja lagi. Banyak teman-temannya yang ngiming-ngiming kerja di pabrik, upahnya per 2 minggu sekitar Rp. 400.000,- kalau sebulan berarti Rp. 800.000,- an lah. Dikurangi biaya kos, makan, pulsa, jajan, kebutuhan harian, kurang lebih dia bisa dapat bersihnya sekitar Rp. 500.000,- sampai dengan Rp. 600.000,- ya. Nah, sama saja kan dengan kalau kerja jagain anak-anakku, sebulannya dapat hampir Rp. 600.000,-. Memang sih, kalau kerja di pabrik kan gaul gitu loh, banyak teman, luas pergaulan, kos bisa rame-rame, nyenengin lah di benak anak ABG macam Ipit.
Dengan perhitungan materiil yang gak beda jauh dan jurus membujuk ala PJTKI (tapi jujur), aku ajak dia ngobrol, sambil bilang minta tolong lah. Kasihan daku yang insyaAllah bakal punya bayi baru kalau harus bingung nyari PRT lagi, belum tentu cocok pula! Si Ipit ini meski baru 16 tahun, alhamdulillah gak neko-neko, masih lumayan lugu, rajin sholat, mau tiap hari belajar ngaji denganku. Jadi so far so good lah, aku merasa cocok dan berharap Ipit bisa balik lagi. Alhamdulillah dia kemarin bilangnya insyaAllah sekitar tanggal 12 September mau balik lagi ke Jakarta, semoga dimudahkan....Amiiin.
Kalau mbak yang satunya, yang PP tiap hari, dia mau mudik ke Banyumas. Alhamdulillah kalau yang satu ini lebih pasti, insyaAllah tetep kerja di aku. Secara suaminya juga kerja di Jakarta, sudah ada anak satu, jadi kalau soal kerjaan lebih tegas karena memang butuh, gak kaya Ipit yang kerja buat ngisi waktu saja, daripada gak kerja gitu, duit pun dia pakai sendiri, gak ada tanggungan. Malahan si mbak Anik kemarin nawarin infal ke aku, hitungan 10 hari dan seharinya dia minta Rp. 80.000,-. Heemmm......aku jelas mikir dulu lah. Selama libur lebaran, kerjaan rumah kan hanya beres-beres rumah n nyuci, bisa handle bareng suami. Anak-anak dah bisa dimintai bantu-bantu, seharian bisa main sama aku n bapaknya. Masak?? Kalau aku milih angkat tangan, bisa beli makanan jadi saja kan. Jadi aku milih nggak usah infal-infalan, lumayan duitnya bisa buat beli makan aja selama para mbaknya libur hehe. Saat nanti masuk kantor dan mbak-mbaknya belum ada di rumah pun, anak-anak bisa kuajak ngantor. Wah, pasti anak-anak seneng tuh, bisa main ke kantor mboknya. Lagipula di kantor masih banyak yang cuti, jadi nanti di sana juga masih lumayan sepi. Dan bakalan banyak anak-anak yang ikut emak-emaknya ngantor haha, buka PAUD baru deeh, bakalan ngumpul tuh anak-anak imut, banyak temannya.
InsyaAllah semua bisa dijalani dengan fun, sambil terus berdo'a semoga nanti bisa melahirkan dengan normal, sehat, selamat. Amiiin.



Read More