Tampilkan postingan dengan label farah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2015

Ikut Ngantor

Malam sebelumnya, aku diskusi sama misua, enaknya ngajak krucil ke kantor apa nggak. Mereka tuh udah mupeng dan berharap banget, nah aku juga ga sengaja PHP-in sih sebelumnya. Kalo ngajak kan kudu berangkat pagian lah ya biar dapat komuter yang pagian juga jadi ga telat sampai kantornya. Akhirnya diberilah syarat ke mereka, kalau bangunnya bisa pagi, bisa siap-siap pagi, ntar jadi diajak ngantor.

Nah, kemarin pagi aku sengaja ga ngebangunin sih hihi. Ga usah ngajak ajalah, musim hujan begini ribet banget bawa krucil naik angkutan umum. Lah dalah, pas Syifa dan Farah terbangun, mereka kaya kaget gitu. Kluar kamar, lihat jam, dan langsung pasang wajah memelas. Saat aku bilang ga jadi ngajak, Farah langsung mewek syahdu, ambil nada rendah dengan irama merana gitu. Duh, ga tega aku. 

Yo wis lah, Syifa Farah kuajak saja minus Azzam. Lha kalo ngajak Azzam butuh tenaga ekstra. Sudah terbayang bawaan aneka macam sepulang kantor nanti. Kalau ngajak krucil kan gitu, sekalian belanja di Sojong  Alhamdulillah, si mba datang bawa anak lelakinya. Pas banget untuk nemani Azzam seharian dirumah.

Kami pun berangkat bertiga naik komuter. Misua berangkat sendiri naik motor. Sebetulnya dia tidak setuju kemarin aku ngajak Syifa dan Farah. Lha udah kesiangan berangkatnya, bisa terlambat aku sampai kantor. Ternyata memang akhirnya aku telat, setor jari di mesin absensi jam 07.34 huhu. Telat 4 menit saja, hiks. Mungkin karena aku sempat mampir dulu di loket stasiun untuk menukarkan kartu tiket komuter dengan uang. Tapi ya sudahlah, sesekali telat yang penting anak-anak seneng diaja dolan ke kantor emaknya.


Benar sesuai dugaanku, sorenya pulang naik bis jemputan masih hujan. Bawaan 3 buntelan gede, berat. Ga hanya hasil belanja tapi juga aneka titipan. Satu buntelan berat sudah didelegasikan ke misua, isinya 6 paket yang harus dikirim via JNE hari ini. Farah sudah tertidur dininabobo goncangan bis. Gapopo wis, lega wiken sudah di depan mata, lanjut cuti seminggu. Mudik deh, horeeee :-D



Read More

Kamis, 29 Agustus 2013

[Farah] 6 Tahun Masih Cadel Aja?


Farah, si tengah baru saja berulang tahun yang keenam pada 15 Juli yang lalu. Subhanallah, semoga tambah sholehah ya nduk. Sebenarnya Farah sudah bisa masuk SD lho, usianya sudah mencukupi syarat untuk itu. Namun, aku mempunyai pertimbangan sendiri mengenai hal ini, yaitu Farah akan masuk SD ketika nanti berumur 7 tahun, sama seperti halnya Syifa kakaknya dahulu. Di samping itu, memang ada beberapa Sekolah Dasar Negeri yang mensyaratkan usia 7 tahun untuk calon siswanya, jadi menurutku klop sudah. Usia 7 tahun menurutku anak sudah lebih mandiri dan siap untuk menerima kurikulum pelajaran yang WOW itu. Ampun dah, beda banget dengan jaman SD-ku dulu yang masih belajar baca Ini Ibu Budi (heluu tahun kapan itu yaaaa :p)

Sebenarnya masih ada alasan lain lagi mengapa Farah saat ini malah nganggur alias tidak sekolah, yaitu karena dia masih kurang jelas dalam berbicara alias cadel. Bukan hanya pada pengucapan huruf R lho ya, tapi dia kesulitan menyebut huruf-huruf konsonan seperti T dan K, J dan G, R dan F, masih sering keliru juga dengan M dan N. Sengaja tidak dimasukkan SD sekarang agar Farah bisa ikut terapi wicara bila perlu. Selain itu aku kuatir dia akan di-bully di sekolahnya karena bicaranya yang tidak jelas itu. Memang sih sampai saat ini kami belum menemui dokter ahli tumbuh kembang anak untuk berkonsultasi. Rencana ya ke dokter dulu lalu bila disarankan untuk terapi wicara ya akan diikuti semampu kami (biayanya itu lho). Farah sudah melalui TK A dan B, sehingga tahun ini aku dan misua memilih untuk tidak meminta Farah mengulang TK B lagi, karena saat ditanya dia bilang tidak mau kembali ke TK B. Meski sekarang malah dia yang kangen sekolah, bosan di rumah terus.

Awalnya, aku berjanji akan rutin mengajak Farah ikut ke kantor, ya paling tidak seminggu 2 atau 3 kali lah. Dalam pikiranku, aku bisa full day bersamanya dan sembari menemaninya belajar di kantor. Aku bisa mengambil materi-materi untuk Farah pelajari dari internet, bahkan banyak tersedia worksheet gratis berbagai macam bidang studi kan. Namun kenyataannya sampai sekarang baru terealisasi beberapa kali saja. Jarak Bintaro-Gatsu yang kurang lebih 45 menit naik motor seringkali membuat aku tidak tega mengajak Farah, selain jauh, macet, belum lagi kalau misua sering ngebut ngejar waktu, jadi parno lah. Dan Farah sempat bilang merasa capek dan mual ketika naik motor dengan waktu yang cukup lama kemarin itu.

Akhirnya Farah setiap hari di rumah, nemani Azzam main atau dia asyik main dengan anak tetangga. Kalau sudah merasa bosan, dia pasti protes, ingin sekolah lagi. Wah, jadi ribet deh. Bulan September rencananya mau masuk TPA aja yang jadwal pagi, jadi agar ada kegiatannya di pagi hari. Kalau siang kan Syifa sudah pulang sekolah tuh, jadi Farah tidak merasa bosan, sudah ada teman main dan lawan bertengkarnya soale hehe. Malam harinya, barulah Farah belajar membaca dan menulis denganku. Sedikit-sedikit sambil memperbaiki pengucapan huruf-huruf yang masih terdengar tidak jelas itu. Untuk menghitung, Farah malah lebih jago sebenarnya dan dia lebih suka berhitung daripada belajar baca. Berasa tegang kalau belajar baca karena aku atau abinya selalu meminta dia mengulang-ulang bacaan huruf-huruf yang masih susah di lidahnya itu.

Dalam hal pilihan sekolah, Farah meminta agar dia masuk ke sekolah yang sama dengan kakaknya, Al- Azhar Bintaro. Fyuuh, berarti kami harus menyiapkan dana cukup besar untuk itu. Dulu misua yang ingin Syifa bersekolah di sana, meski agak berat juga biayanya. Sekarang rasanya tidak adil kalau tidak mengakomodir permintaan Farah, meskipun keadaan keuangan kami sedang bermasalah saat ini. Well, semoga Allah beri kemudahan dan jalan keluar bagi kami sekeluarga, aamiin. Semoga tenggat waktu setahun ini bisa banyak memberikan kemajuan untuk Farah, sehingga dia bisa lebih siap nantinya ketika masuk Sekolah Dasar.

Read More

Jumat, 24 Februari 2012

[Farah] Kok Masih Cedal?

Si tengahku yang satu ini memang beda banget karakternya dibandingkan dengan Syifa kakaknya *yaiyalaaaah :p.  Lha wong sejak dari kandungan saja beda kondisi ya, kan berpengaruh banget tuh kondisi psikologis ibu saat mengandung terhadap si jabang bayi. Nah, sepertinya saat aku hamil Farah itu, lagi temperamental banget deh. Pas punya ART yang duuh ABG nyebelin suka bikin ulah gitu, pulang malem sama pacarnya, hiks nggak banget. Jadilah aku sering esmosi dibuatnya, dari nahan dalam hati sampe berdarah-darah nih *lebaaay, sampai akhirnya kuomelin tapi akunya yang sampe nangis-nangis di depannya, dianya lempeng aja.

Sewaktu Farah masih usia hitungan bulan saja sudah terlihat temperamennya. Masa di usia segitu dia sudah main cubit pukul siiih...asli sampe heran deh. Pernah nih, saat kuajak ikut pengajian ibu-ibu, Farah duduk berdekatan dengan anaknya temanku yang seumuran dengannya. Eh, tiba-tiba saja Farah yang tadinya anteng, langsung main hantam saja tuh ke anak temanku tadi. Seolah-olah dia merasa terancam *beuh bahasanya*, jadi langsung ciaat...ciaat membela diri deh. Yo nangislah anak temanku tadi, akunya cuma bisa melongo.

Sekarang usia Farah sudah 4 tahun 7 bulan lebih 9 hari, dikit lagi sudah 5 tahun saja. Subhanallah tidak terasa ya....bakalan jadi cewek aja nih (brarti aku makin tuwiiirr hahay). Selain suka emosi, Farah juga keras wataknya. Misal nih, tentang celana dalam, kubelikan yang ada gambar-gambar lucunya di bagian pantat. Nah, menurut dia, gambar lucu itu harusnya ada di bagian depan, bukan di belakang. Ngotot dia megang pikiran kaya gitu, akhirnya meski berasa kurang nyaman, dia tetep keukeuh memakai celana dalamnya dengan bagian belakang dipakai di depan. Kalau kutanya dan kukasih tahu, dia cuek aja. Seringnya, saat aku tidak bermaksud menertawakan atau marah, eh dia malah sudah sangar duluan. Langsung posisi mau mukul, manyun, kadang melotot, dan kadang juga langsung mewek. Huhuhu...mesti super sabaaar menghadapi si tengah ini.

Dulu saat masih berumur 3 tahun dan bicaranya masih belepotan tidak jelas, aku masih maklum. Meski pada umumnya di usia segitu anak cewek sudah cerewet ngomongnya dan sudah jelas kata-katanya. Dalam hati aku terus memupuk harap, Farah akan bisa bicara jelas dengan sendirinya nanti, tanpa harus terapi wicara atau macam-macam seperti yang diusulkan oleh orang tuaku. Toh, Syifa dulu juga sempat telat bicaranya. Namun, kok sampai sekarang bicaranya masih lebih parah dari cedal ya?? Tidak hanya susah mengucapkan huruf R tapi semua huruf mati diucapkan tidak jelas, bahkan ada yang hilang.

Oke, aku cek lidahnya, kali aja pendek. Ternyata tidak, normal tuh. Aku betulkan kata-katanya yang salah, sekali dua, dan dia menirukan...eh, bisa tuh. Tapi saat dia mengucapkannya lagi tanpa sadar balik lagi deh ga jelas gitu. Heemm.....kenapa ya??Atau dari dianya sendiri yang malas tuk bicara bener? Karena banyak yang dia harusnya bisa tapi tetep saja ngucapinnya salah. Meski, ada beberapa kata yang memang dia kesulitan untuk mengucapkannya sih.

Dulu, saat Syifa umur 3 sampai 4 tahun, dia rajin banget belajar. Seneng dan semangat banget diajari nulis dan baca. Kalau Farah?? Haha...baru nulis satu huruf saja sudah bilang capek, kadang bilang ngantuk. Mauku sih, ga kupaksa ya, biar dia nemuin kesenangannya sendiri. Meski aku tahu juga, sebentar lagi dia masuk TK (sengaja telat kumasukkan TK karena belum bisa ngomong dengan jelas), di sana pasti bakal diajari nulis dan baca dikit-dikit. Lha kalo Farah, di PG saja dia berani tuh ngambek dan nyubit bu gurunya kalau dia disuruh nyoba nulis. Pokoknya dia tidak bisa dipaksa, harus dengan kata-kata lembut rayuan pulau kelapa deh. Dan kalau suamiku, maunya dia si Farah tuh bisa kaya kakaknya. Duuh beda lah ya, dan seumuran Farah kan ga usah dipaksa baca tulis dulu harusnya. Sayang, suami beda paham, meski sudah seringkali dibicarakan tetap saja, dalam anggapannya anak umur segitu harus bisa baca tulis sebelum masuk SD. Hiks, memang sih kenyataannya SD sekarang seperti ini, masuknya saja dites ya, mana bayarnya mahal *mewek di pojokan.

Hem....apakah masalah Farah ini semua bersumber pada sifatnya yang keras dan teguh pendirian meski salah?? Jadi agak susah rasanya kalau mau mengarahkannya, salah body language atau kata sedikiiit saja, dia sudah antipati. Kalau kita malah emosi, dia bakal makin menarik diri dan ngambek. Bener-bener harus ekstra sepertinya, ekstra sabar, dengan taktik yang mengena agar Farah tidak merasa digurui, tapi diajak ngobrol santai. Tapi kan nemu kliknya yang sering susah...

Haruskah Farah ikut terapi wicara? Haruskah Farah masuk sekolah yang khusus, maksudku benar-benar bisa memahami dirinya? Tapi sekolah dimana? Terpikir olehku Sekolah Alam, tapi kan mihiiil...Ah, anakku sayang...semoga umi dan abimu bisa makin sabar dan pinter membimbingmu ya Nak...

*Farah dan Azzam



 



Read More

Selasa, 27 Desember 2011

Oleh-Oleh Jahitan

Duuuh senangnya kemarin dapet tambahan libur satu hari lagi ya...jadi bisa 3 hari kumpul bareng keluarga. Ada yang pulang kampung, ada yang jalan-jalan rekreasi. Kalau aku dan keluarga sih gak jauh-jauh jalannya, maklum dalam rangka ngirit nih. Kebetulan adikku si Ratih datang mau jenguk ponakan-ponakan imutnya, jadi tambah lagi satu penghuni rumah kontrakan mungilku.

Sudah cukup lama anak-anak tidak diajak jalan-jalan, jadi kemarin itu akhirnya ngajak mereka pergi. Ga jauh, yang penting keluar rumah :p. Sabtu pagi jalan ke pasar dekat rumah, anak-anak semangat banget walau cuma diajak ke pasar. Mereka senang melihat berbagai macam jualan di sana, kan ada kelomang, burung warna-warni, ayam kecil, malahan kemarin ada yang jual ayam hutan imut-imut. Tapi cuma lihat saja, tidak kubelikan, kasihan binatang-binatang imut itu, anak-anak kan belum bisa merawat hewan peliharaan dengan baik, yang ada malah ortunya ntar yang repot, biasanya hewan imut gitu cepet mati, ga tega lihatnya.

Hari Minggu malam, ngajak anak-anak ngemol. Bapaknya perlu beli kemeja baru, jadi rame-rame deh pergi ke mol, si Azzam ngikut juga wkwk, bawa kereta bayinya juga nih, segambreng bawaannya. Ternyata cape juga, Azzam sampe tertidur padahal sekelilingnya ramai banget, suara manusia plus musik ditambah suara mainan anak, malah meninabobokkan Azzam.

Senin hari libur terakhir, sengaja nggak kemana-mana, istirahat ngumpul bareng. Sebenarnya aku pengen ngajakin Syifa nonton film "Hafalan Sholat Delisa" yang baru diputar di bioskop. Kalau dari bukunya sih oke banget ya jadi tontonan keluarga, memang sih kadang kalau diangkat ke layar lebar malah kurang greget, tapi penasaran pengen tau filmnya. Suami nggak setuju sih, yo wis, batal ngajakin Syifa nonton.

Senin sore itu aku asyik bobok siang sama Azzam sampai sekitar 2 jam, pingsan apa tiduuurr..... Eh, mbak Anik masuk kamar membangunkanku, sudah sore katanya. Kaget deh, udah sore gitu, aku belum sholat lagi. Terdengar suara gaduh anak-anak sedang mandi bareng, teriak-teriak sambil tertawa. Kok tiba-tiba terdengar suara gedebuk keras dan disusul tangisan Farah, kenceng banget. Duh, berasa copot nih jantung. Sambil melek-melekin mata yang masih lengket aku lari ke belakang, duuuh ternyata Farah terjatuh. Sudah berkali-kali Farah terjatuh di kamar mandi, entah ini yang keberapa kali, tapi tangisannya kali ini yang paling dahsyat.

Tak sengaja kulihat ada setetes air merah di dadanya, kusentuh dengan jari lalu kucium. Kok bau darah ya, padahal tubuh Farah tidak terluka. Kucium lagi jariku, beneran deh ini sih bau darah. Kalut juga, suamiku langsung memeriksa Farah lagi dan akhirnya menemukan luka menganga di kepalanya. Lumayan lebar, panjangnya kurang lebih 1 cm. Duuh karena ini yang terluka kepala, langsung deh mikir harus dibawa ke dokter. Cepat-cepat kami bersiap-siap menuju UGD RSB Duren Tiga, mendingan aku sholatnya di sana saja sekalian.

Sampai di sana, dokter jaga langsung memeriksa dan menganjurkan agar sebaiknya luka tersebut dijahit saja agar mempercepat proses penutupan luka dan agar tidak kena infeksi. Sudah kutebak sih, tapi syukur juga cuma dijahit satu saja. Duh Farah, dapet kenang-kenangan jahitan di usianya yang 4 tahun. Alhamdulillah Farah kooperatif, mau tiduran sambil megang tanganku. Mewek pas disuntik obat bius lokalnya dan meringis merintih sewaktu dijahit. Mewek lagi ketika disuntik serum anti tetatus. Huft, alhamdulillah beres. Sepulang dari RS, Farah nagih janji dibelikan es krim. Sesampainya di rumah, ealah dia malah seru bercerita pengalamannya dijahit ke kakaknya, bangga banget gitu hehe dasar anak-anak.

Sekarang rambut Farah jadi pitak deh, karena dicukur dikit kemarin sebelum dijahit lukanya. Tadi pagi, bangun tidur langsung main ke rumah temannya, pamer kepalanya yang ditutup penutup luka itu.

Read More

Rabu, 04 Mei 2011

[Farah] BAB Merana

Sediiiiiiiiih deh, kemarin pagi ada kejadian yang bikin hati perih. Malam sebelumnya pas aku udah separo nyampe ke negeri antah berantah alias dah tidur-tidur ayam, eh Farah nangis teriak-teriak dari kamar mandi. Ternyata dia mau BAB tapi sakit, gak bisa keluar karena keras pupnya. Kirain aku mimpi denger teriakannya, ternyata tidak . Karena sudah jam 10 malam dan belum berhasil BAB juga, akhirnya Farah kuajak tidur kembali. Nah, pagi harinya setelah Farah bangun langsung berasa kebelet lagi. Tapi mukanya sudah merah gitu, takut, ngeri. Untung aku masih belum berangkat kantor, masih bisa nemani dia. Aku jongkok di depannya, memberi semangat buat Farah, genggam jarinya, duuh kaya mau nglairin aja. Karena tidak bisa keluar juga, ya sudah aku beri saja pantatnya minyak but-but sebagai pelumas, berharap pupnya bisa lebih mudah keluar.

Ya Allah....sediih saat mendengar teriakan dan rengeknnya....."atiiit...umiiiii....atiiiiiiit" katanya. Terus-menerus aku memberi semangat dan bujukan agar Farah mau keluarkan pupnya, agar tidak ditahan-tahan lagi meski sakit. Aku bilang bahwa kalau sudah keluar nanti lega, nggak sakit lagi, nanti umi kasih obat, terus Farah maem pepaya yang banyak jadi pupnya nggak sakit lagi. Lama-lama Farah nahan sakitnya, mencoba untuk mengejan, kubantu juga, tanganku kuberi minyak but-but banyak-banyak, kupencet-pencet daerah sekitar anusnya. Duuuh.....sambil nahan nangis, pupnya terasa keraas banget!!

Alhamdulillah, meski berdarah-darah, pupnya akhirnya bisa keluar, gede dan keras banget, pantes susah keluar. Kejadian ini sebenarnya bukan hanya terjadi sekali saja. Dulu saat usia Farah 1-2 tahun, kejadian ini sangat sering terjadi. Sampai aku menangis menungguinya BAB. Berkali-kali kontrol ke DSA, ternyata malah dari temanku yang herbalis aku mendapat info bahwa ada masalah di pencernaan Farah, jadi kurang cocok dengan susu sapi. Meski sudah makan sayur dan buah, minumnya pun amat banyak, tapi tetap saja pupnya mudah keras. Apalagi kalau buahnya kurang, wah-wah langsung deh bakal kejadian lagi.

Setelah ganti ke susu kambing, BAB nya lancar. Tapi karena tidak begitu mudah didapat, akhirnya ya balik lagi ke susu sapi, sampai sekarang. BAB mulai lancar, asal konsumsi buah terutama pepaya amat banyak. Pas kemarin itu, mungkin kurang makan pepayanya. Aku lalai memantaunya hiks. Maaf ya naak...akhirnya kamu menderita lagi.

Ya sudahlah, pesan lagi susu kambing. Kali ini beli yang beku, sebungkusnya Rp. 8.000,-. rasanya plain, tidak terlalu bau mbek kok, dan alhamdulillah Farah doyan. Dan pepaya tidak boleh lagi absen dari perut Farah dan kulkas. Harus sedia terus, makan banyak-banyak. Alhamdulillah tadi Farah sudah bisa BAB, gak sakit lagi. Sewaktu kutelp barusan, Farah bercerita dengan riang, masih dengan bahasa planetnya .
Read More

Sabtu, 31 Juli 2010

Tiga Tahun Farah

Tanggal 15 Juli lalu alhamdulillah Farah usianya tepat 3 tahun. Tidak terasa ya, tambah besar saja, tambah jail pastinya. Pengen cerita tentang perkembangan Farah ni, sepertinya dulu sudah pernah kuceritain kalau sempet dia termasuk anak KEP alias Kekurangan Energi Protein alias kurang gizi gitu. Berat badannya sejak umur 8 bulan sudah susaaaah banget naiknya, bahkan sering berada di bawah garis merah. Saat itu aku merasa sedih dan bersalah banget, saking sibuknya sama kerjaan, sibuk sama diri sendiri, sibuk banyak kegiatan, sibuk sama kakaknya, hiks.....si Farah ini lebih banyak dipegang si mbak penjaganya yang ternyata males banget nyuapin Farah.


Untuk tumbuh kembangnya sudah banyak kemajuan, alhamdulillah. Maemnya sudah jauh lebih banyak dan lebih mudah disuapin. Farah lebih aktif bergerak ketimbang Syifa kakaknya. Dia juga lebih berani dan mandiri, lebih sering bantu-bantu emaknya, mau kalau disuruh-suruh, semangat banget malah. Badannya sih tetep imut mungil gitu, terakhir timbang BB 12,8kg dengan TB 90cm (kalo gak salah, agak lupa nih).
Untuk BAB nya yang dulu suka ngadat sampai 4-5 hari, alhamdulillah sekarang bisa 2-3 hari sudah BAB. Maem buah alhamdulillah sudah lebih mudah masuk, meski untuk sayur yaa gitu deh, butuh tipu daya haha. Ngemil juga dia udah mau, intinya semua tergantung ma usaha dan kemauan emaknya ya (ga boleh males keterusan!).

Hanya satu yang tertinggal dalam tumbuh kembangnya, bicara. Sampai saat ini Farah belum lancar bicara, belum terdengar jelas pengucapan katanya. Biasanya yang terucap hanya akhir kata saja, bagian depannya hilang, kadang hanya berupa gumaman tak jelas. Kasihan juga, sering aku dan suami tidak mengerti apa dia ceritakan. Apalagi dia berbicara panjang lebar dan bersemangat, duh suka ga ngeh akunya.
Moga-moga masalah bicara ini bisa cepat teratasi agar Farah lebih pede dalam bergaul. Amin.
Read More

Rabu, 12 Mei 2010

Balada Farah dan Lemari Es.

Si bungsuku ini punya hobi aneh. Ada satu tempat favoritnya di rumah, kalau Farah sudah kelihatan tidak mondar-mandir dan dipanggil-panggil tidak ada sahutan, maka bisa dipastikan dia ada di satu tempat.........yup, di depan lemari es sodara-sodara. Tangan kecilnya sibuk ngubek-ngubek isi lemari es, terutama tempat es batu di dalam freezer. Kadang dia juga lagi asyik nyiumin n nempelin pipinya ke botol-botol kaca tempat air minum. Kalo aku habis buat puding, maka pasti mulutnya lagi penuh dengan puding dan tangannya kotor belepotan puding yang langsung dicomot, gak pake sendok gitu loh, by hand!!

Memang sih hawa Majene itu panas, gak tau panasan mana dengan Surabaya atau Jakarta, yang pasti kalo siang bolong gitu, paling enak ngadem di depan kipas angin (gak punya AC gitu) dan yang top markotop ya ngadem di depan lemari es hihihi. Nggak ingat kapan pastinya Farah mulai punya hobi unik ini. Seingatku sejak dia masih ngesot (anakku gak ada yang bisa merangkak lho!) kesana-kemari, memang kalo ada yang lagi buka lemari es, dia pasti akan ngesot dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di depan lemari es sebelum pintunya tertutup. Ternyata hobi ini berlanjut sampai sekarang, kalau dulu dia belum bisa berdiri mah masih aman, isi lemari es gak sampai diublek-ublek, sekarang.....waduuh ampuuun dah. Terakhir kemarin dia mainin botol Gamat yang baru kubeli, isinya masih full, dan ternyata dia tumpahin hampir semua isinya berceceran di rak lemari es...huuaaaa!!

Parahnya, kaya sekarang ini, dia lagi kena flu dan batuk. Gimana nggak tambah parah batuknya coba, tiap pagi bangun tidur pasti langsung nongkrong di depan lemari es, mau minum susu anget pagi-pagi malah maunya ditambahin es batu, kemana-mana pegang tempat es batu yang masih full isinya, tangannya jadi adem gitu kan. Duh, pusing aku. Tuh anak kalo dilarang dikiiit aja langsung ngambek, marah, nyubit, mukul. Sangar banget kan ya..... Farah memang keras anaknya, gak kaya Syifa yang lembut. Yah, beda anak beda karakter dong ya. Ini dia penampakan si Farah.

Read More

Kamis, 25 Februari 2010

Ngadat Lagi

Hiks......kasian deh si Farah. Lagi-lagi terjadi dan aku lalai ngontrol lagi. Gak tau nih dah berapa hari dia belum pup, perutnya sampai ndut gitu, kentut-kentut yang baunya mantaaaabbbbsss!! Tapi ya gitu deh, ngadat, yang diharapkan keluar gak keluar-keluar. Ni anak memang jarang banget maem sayurnya, susah gitu dan kadang aku kelupaan kasi buahnya banyakan.

Ni hari dia maemnya lumayanlah buat ngisi perut mungilnya itu. Tapi pas siangnya dia rebutan jajan ma Syifa, kakaknya sampai nangis kenceeeng banget, nangisnya ngerock gitu deh alhasil sampai muntah deh di kamar mandi (pas diajak abinya cuci tangan tapi dia malah makin ngamuk). Hiks....maemnya yang dikit itu malah keluar semua plus segelas susunya. Eh, pas malamnya dia maem lumayan banyak, dengan menu sate ayam, habis maem dia minum air putih, biasa deh sambil lari-larian gitu, maka tersedaklah dia, daaan...........huaaaa muntah lagi.............kali ini lebih banyak muntahnya. Makanan sesorean (mie) dan malamnya (lontong n sate) keluar semua....sediiiih deh............belum rejekinya Farah kali ya, makanan dah di dalem perut masih keluar juga.

Hem...........apa gara-gara ngadat dah beberapa hari gak pup itu ya...perutnya jadi full dan jadi gampang muntah...........Dek Farah sayang.........besok maem yang banyak yaaaaaaaa.
Read More

Kamis, 13 Agustus 2009

Farahku Telat Bicara

Seperti yang udah kuceritain di postingan sebelumnya, Farahku kurang gizi alias Kekurangan Energi Protein (KEP). Padahal di usia 1 s.d. 2 tahun, perkembangan otak mencapai 80% ya, apakah kondisinya kemarin mempengaruhi itu atau tidak, aku harap2 cemas. Berdo'a moga IQ Farah tidak terpengaruh nantinya.

Tapi memang yang paling kentara sekarang adalah kemampuannya berbicara. Di kala anak lain masuk usia 1 tahun udah bisa bilang "mama" atau kata mudah lainnya, Farah di usia 2 tahun baru masuk fase itu. Memang untuk berjalan, Farah juga termasuk telat. Hampir 2 tahun umurnya dia baru bisa jalan n lari. Tapi hal itu tidak terlalu mengkhawatirkanku, karena toh aku dulunya dan Syifa anak pertamaku juga telat berjalan. Hampir usia 2 tahun juga baru pinter jalan. Turunan bisa gak ya?

Tentang telat bicaranya ini, beberapa hari ini mulai banyak kemajuannya loh. Mulai banyak kosakata baru yang Farah ucapkan, seneng rasanya. Berdo'a semoga kelak tidak akan mempengaruhi tumbuh kembangnya.
Read More

Kamis, 06 Agustus 2009

Farahku Sayang....

Satu hal yang dah lama mau kushare di sini. Tapi emang lom jodoh, beberapa kali gagal posting, dan juga kesempatan yang trbatas.

It's all about Farah. Putri keduaku yang tanggal 15 Juli lalu genap 2 tahun usianya. -tarik nafas dulu-
Sejak lepas ASI Eksklusif dan mulai dikenalkan MPASI, BB Farah mulai turun. Badannya yang semula montok jadi kecil. Saat itu, suami baru memulai kuliah D3 Khususnya di Jurang Mangu, yang entah kenapa jadinya, membuatku malah asyik dan sibuk dgn urusanku sendiri. Ngantor, jualan jilbab n baju muslim, liqo, anak2 kupercayakan kepada 2 ARTku. Farah yang ternyata susah makan, tidak segera kutangani sendiri. Browsing sana sini, beli buku tentang Medutainment, tapi tetep aku cuma kasi petunjuk aja ke ART, tanpa aku urun tangan.

Seiring bertambahnya usia Farah, BBnya stagnan. Akhirnya sampai di Bawah Garis Merah! Ya Allah, anakku kurang gizi. Aku tersentak, kaget, sedih, dan yang pasti menyesal, meski tiada guna. Sampai beberapa kali ke DSA di Parepare dan Makassar, jarak 3-6 jam dari Majene. Tapi tetap tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Farah tetap susah maem dan BAB keras berdarah.

Sampai akhirnya, kuikuti saran teman yang herbalis untuk tidak memberikan susu sapi terutama seperti Pediasure pada Farah, tapi diganti dengan susu kambing. Dan setelah juga konsumsi beberapa macam herba, alhamdulillah BABnya mulai lancar. Maem mulai mau dikit2.

Sekarang Farah BB dah 9kg. Pas di garis merah, moga2 bisa terus naik, Amin!

Hal ini tentu saja merupakan kelalaian terbesarku tentang amanah membesarkan anak. Moga ke depannya, aku bisa jadi ibu yang lebih baik bagi anak2ku.
Read More