Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 November 2010

Salah Sekolah?

Menyesal...kenapa kemarin tidak survey dulu sebelum memasukkan Syifa ke PS (Persiapan Sekolah) di salah satu sekolah swasta dekat rumah. Dalam bayangan saya kemarin, persiapan untuk masuk SD ini akan menyenangkan bagi anak. Memperkenalkan huruf dan angka, belajar nulis dalam keceriaan, sambil bermain dan bernyanyi, seperti itu. Ternyata kenyataannya, anak benar-benar dituntut untuk bisa menulis, membaca, berhitung (menjumlah dan mengurangi). Syifa tentu kaget (mungkin begitu juga anak-anak yang lainnya ya), terus terang saya belum menekankan "harus bisa" padanya, saya hanya sebatas mengarahkan, tidak memaksakan (meski kadang kebablasan seperti yang sudah diposting sebelumnya).

Setiap hari Syifa membawa pulang PR, dan kelihatannya dia mulai merasa tidak nyaman. Beberapa hari ini dia mengeluh capek menulis di kelas. Saat disuruh bu guru untuk menyalin PR, Syifa cuek tidak mau menulis, dan akhirnya bu guru yang menuliskan di bukunya untuk agar kemudian Syifa salin lagi di rumah. Saya hanya berpesan pada Syifa, kalau dia capek ya nggak apa-apa, nanti saja menulis di rumah dengan Umi.

Dan seperti halnya anak SD, tanggal 29 nanti ada jadwal UTS bagi siswa-siswi PS. Alamak, anak usia 4-5 tahun pakai UTS segala??Hahaha, ketawa miris deh jadinya. Sempat saya bicara dengan bu gurunya agar Syifa tidak usahlah ikut UTS. Disamping saya rasa itu tidak perlu, juga karena Syifa belum siap. Semua siswa yang lain mulai masuk sekolah bulan Juli yang lalu, sedangkan Syifa baru satu bulan ini. Tentu saja banyak ketertinggalan Syifa dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Saya khawatir ini akan membuat Syifa merasa tidak pede. Semalam ketika pulang kantor, Syifa bercerita bahwa dia mendapat nilai 0 dalam berhitung. Yah, Syifa memang belum pandai berhitung apalagi kalau dalam jumlah yang banyak.

Menyesal...kenapa kemarin tidak dimasukkan saja ke TK di dekat rumah, yang meski juga ada belajar calistungnya, tapi anak bisa bermain dan bernyanyi, dan tentu saja tidak ada UTS-nya lah. Memang sih, masuk ke PS juga atas permintaan Syifa sendiri, karena semua anak-anak di sekitar rumah bersekolah di sana. Tapi ini menjadi satu penyesalan pada diri saya, kok ya kurang tanggap ya. Mudah-mudahan Syifa bisa enjoy menjalaninya, saya tidak akan memaksa, dan saya akan terus menyemangatinya.

Keluar dari PS dan pindah ke TK?? Saya berpikir juga kesana, tapi Syifa bilang mau sekolah di PS saja. Heemm....dilihat saja nanti bagaimana perkembangannyalah. Tapi untuk masuk SD, berapa umur yang ideal ya? 6 atau 7 tahun?


Read More

Senin, 15 November 2010

Tim Solid

Suatu keniscayaan, di dalam sebuah keluarga harus terdapat sepasang tim solid, yaitu terdiri dari suami istri atau ayah ibu. Dari merekalah lalu Allah Swt mengembangbiakkan umat manusia dengan lahirnya anak-anak sebagai generasi penerus. Kualitas bin mutu generasi penerus tergantung pada kerja tim solid tersebut.

Tim solid ini haruslah terbentuk kuat dari masa awal pernikahan. Lancar seretnya, maju mundurnya atau jalan di tempatnya suatu keluarga sangat bergantung pada hal tersebut. Komitmen di awal masa pernikahan, terutama sebelum momongan terlahir sangatlah berperan penting. Bagaimana cara mendidik anak, mau diarahkan dan dikembangkan kemana keluarga kita, cita-cita keluarga adalah sedikit dari banyak hal yang membutuhkan dasar komitmen bersama. Tanpa komitmen di awal, seperti kebanyakan orang bilang "biarlah mengalir bagaikan air" ternyata akan membuat laju kita tersendat-sendat, terkaget-kaget, jatuh bangun, dan sedikit lebih rumit dalam perjalanannya.

Komitmen bersama dalam membentuk tim solid ini menurut saya adalah penyatuan visi dan misi dalam membentuk keluarga, urun rembug usul dan saran dalam rangka pengembangan keluarga di masa depan, tidak hanya hal-hal besar yang harus disepakati dalam berkomitmen, justru hal-hal kecillah yang paling banyak mempunyai peranan dalam tumbuh kembang sebuah keluarga. Misalnya, dimulai dari perubahan-perubahan kebiasaan calon ayah maupun calon ibu yang sebelumnya suka-suka gue menjadi lebih terarah, contoh kalau biasanya suka begadang tidak jelas, bangun kesiangan jadi hobi, setelah menikah dan akan punya anak, kebiasaan itu harus dirubah. Kasihan kan si bayi, kalau ayah ibunya masih molor sampai siang sementara dia sudah terjaga dari pagi, muter-muter sendiri di kasur, merengek tidak ada yang mendengarkan padahal perutnya sudah lapar.

Satu lagi, hal kecil yang ternyata merupakan hal besar adalah kebiasaan merokok para pria yang akan atau sudah menjadi suami kita. Kalaupun sampai menikah dan sudah punya anak tetap tidak bisa lepas dari rokok, oke lah, asal please deh jangan merokok di dalam rumah. Semua orang termasuk para perokok itu tahu kok racun-racunnya si rokok, tahu kok bahwa perokok pasif lebih kena bahaya asap rokok ketimbang si perokok sendiri. Tahu tapi pura-pura tidak tahu atau tahu tapi tidak mau tahu?? Silakan deh merokok, tapi di luar rumah dong. Nikmatilah sendiri semua racun dan akibat negatif rokok itu. Sayangi dan lindungi anak istrimu dong bapak-bapak yang terhormat.

Cara mendidik anak juga merupakan salah satu hal penting untuk dibuat komitmen bersama. Tidak akan bisa pasangan suami istri menjadi tim yang solid bila si ayah bilang A dan si ibu bilang B. Anak akan merasa bingung nantinya kan, terombang-ambing, kasihaaan. Mendidik anak bukan hanya tugas dan tanggung jawab ibu semata, sori ya, bikin anak berdua kok masa mendidiknya mau sorangan wae. Jadi, belajar tentang parenting bersama-sama itu wajib 'ain, entah lewat buku-buku parenting yang sekarang amat sangat banyak beredar dan mudah didapatkan atau bisa juga lewat dunia maya, tempat mencari ilmu itu tak berbatas euy...

Susah bangetlah kalau salah satu pasangan mau mendidik anaknya dengan kesabaran, penuh kasih sayang, dan full teori parenting yang mau dipraktekkan sementara pasangan yang lain tidak sabar, mudah meledak di depan anak karena hal kecil yang seharusnya bisa diredam dan tak usah terjadi bila komitmen awal sudah di tangan dan disepakati bersama.Saling mengingatkan, mau menerima kritik, dan semangat untuk berubah jadi lebih baik, ini adalah kuncinya.

Bagaimanapun ada atau tidaknya komitmen awal, bila dengan kemauan dan niat yang kuat, suami dan istri tetap bisa menjadi tim yang solid dengan kunci yang saya sebut tadi. Memang sih akan lebih banyak jatuh bangunnya jika tanpa komitmen awal, tapi sesuai kata bijak "learning by doing", yah boleh sajalah. Asal punya banyak stok kesabaran dalam menghadapi pasangan saja, di samping juga sementara tengah menghadapi anak-anak.
Read More

Teori vs Praktek

Tentang parenting.

Teorinya anak-anak seumuran Syifa yang baru 5 tahun 3 bulan itu hanya diperkenalkan saja dengan calistung, tidak boleh dipaksa.
Prakteknya kalau mau masuk SD harus sudah bisa calistung, kalau mau mengandalkan perkenalan saja ya mana cukup modalnya, tiap hari menyuruh Syifa belajar calistung termasuk maksa gak ya??

Teorinya sebagai ortu harus bersabar, banyak senyum, banyak memotivasi anak dengan perlahan-lahan.
Prakteknya bagaimanapun entah kenapa semua itu hanya bertahan pada 5-10 menit pertama saja,selanjutnya bisa dongkol, sebel, gemes, mata mulai melotot, suara mulai meninggi.

Teorinya anak seusia SYifa kemampuan menulisnya belum sempurna, dan akan bagus di usia 7 tahunan. Jadi wajar kalau menulisnya masih acak adul, nulis huruf a kaya kecebong pake ekor panjang (sebenarnya kalau dilihat lucu banget, bikin geli). Sudah bagus banget kan dia sudah tau bentuk-bentuk huruf dan minat belajar semua itu.
Prakteknya aku kok secara nggak sadar nuntut dia lebih. Padahal aku sadar sesadar-sadarnya aku nggak boleh memaksa, mengkritik terlalu banyak yang mana akan mematikan kreatifitasnya, atau malah memadamkan kemauan belajarnya. Harusnya aku cukup memaklumi, mensupport, dan mengelus punggungnya seraya menyemangatinya!!!

Aaarrgghhh.....gemes banget sama diri sendiri!! Maafkan ummimu ya nak...ummi juga sedang belajar, belajar sabar, belajar memahami orang lain, manusia kecil seperti dirimu, belajar menjadi orang tua teladan tanpa tuntutan dan bisa mencintai tanpa syarat.
Read More

Kamis, 14 Oktober 2010

Cepatlah Sembuh Nak!

Melihat anak sakit...hati ibu mana yang tidak sedih. Menemani anak sakit...hati ibu mana yang tidak khawatir. Jantung rasa jatuh sampai ke ulu hati, saking dag dig dugnya. Tak tega sungguh tak tega *bukan nyanyi dangdut lho ya*.

Hanya bisa berusaha sekuat tenaga menenangkannya kala dia takut diperiksa suster atau bu dokter, trauma mungkin. Rengekannya yang melas mode on makin menguatkanku, pasang senyum semanis mungkin dan terus menyemangatinya. Hanya bisa terus berdzikir dalam hati, sambil menyelipkan banyak do'a. Hanya bisa sepasrah mungkin dalam tiap sholat, berusaha benar-benar menghamba padaNya.

Teringat dosa-dosa... Ah nak, kau masih anak-anak tanpa dosa. Ini aku umimu, itu abimu yang banyak punya dosa. Kalau umi atau abi yang sakit, mungkin wajar ya nak, karena akan menggugurkan dosa-dosa. Tapi kamu yang sakit, mungkin ini adalah ujian bagi umi dan abi agar bertambah iman padaNya. Atau teguran agar umi dan abi kapok berbuat dosa. Atau musibah agar umi dan abi selalu ingat padaNya.

Melihatmu membaik, banyak makan dan juga minum...aah betapa nikmatnya nak. Hati serasa tersiram air es, adeem. Syukur tak terkira yang umi rasa. Senangnya melebihi ketika umi dapat gaji 13 atau IPK. Bahagianya melebihi ketika dagangan umi laku. Leganya melebihi ketika hutang banknya umi lunas. Exitednya melebihi ketika paket belanja on linenya umi berdatangan. Ah, sungguh umi terlalu sibuk dengan nikmat dunia. Sampai kadang lupa, bahwa anugerah yang terbesar dan patut untuk selalu disyukuri adalah kamu nak.

Cepatlah sembuh ya nak!
Read More

Sabtu, 31 Juli 2010

Tiga Tahun Farah

Tanggal 15 Juli lalu alhamdulillah Farah usianya tepat 3 tahun. Tidak terasa ya, tambah besar saja, tambah jail pastinya. Pengen cerita tentang perkembangan Farah ni, sepertinya dulu sudah pernah kuceritain kalau sempet dia termasuk anak KEP alias Kekurangan Energi Protein alias kurang gizi gitu. Berat badannya sejak umur 8 bulan sudah susaaaah banget naiknya, bahkan sering berada di bawah garis merah. Saat itu aku merasa sedih dan bersalah banget, saking sibuknya sama kerjaan, sibuk sama diri sendiri, sibuk banyak kegiatan, sibuk sama kakaknya, hiks.....si Farah ini lebih banyak dipegang si mbak penjaganya yang ternyata males banget nyuapin Farah.


Untuk tumbuh kembangnya sudah banyak kemajuan, alhamdulillah. Maemnya sudah jauh lebih banyak dan lebih mudah disuapin. Farah lebih aktif bergerak ketimbang Syifa kakaknya. Dia juga lebih berani dan mandiri, lebih sering bantu-bantu emaknya, mau kalau disuruh-suruh, semangat banget malah. Badannya sih tetep imut mungil gitu, terakhir timbang BB 12,8kg dengan TB 90cm (kalo gak salah, agak lupa nih).
Untuk BAB nya yang dulu suka ngadat sampai 4-5 hari, alhamdulillah sekarang bisa 2-3 hari sudah BAB. Maem buah alhamdulillah sudah lebih mudah masuk, meski untuk sayur yaa gitu deh, butuh tipu daya haha. Ngemil juga dia udah mau, intinya semua tergantung ma usaha dan kemauan emaknya ya (ga boleh males keterusan!).

Hanya satu yang tertinggal dalam tumbuh kembangnya, bicara. Sampai saat ini Farah belum lancar bicara, belum terdengar jelas pengucapan katanya. Biasanya yang terucap hanya akhir kata saja, bagian depannya hilang, kadang hanya berupa gumaman tak jelas. Kasihan juga, sering aku dan suami tidak mengerti apa dia ceritakan. Apalagi dia berbicara panjang lebar dan bersemangat, duh suka ga ngeh akunya.
Moga-moga masalah bicara ini bisa cepat teratasi agar Farah lebih pede dalam bergaul. Amin.
Read More

Minggu, 27 Juni 2010

Jam Tidur Syifarah

Berasa ngidaaaaaaaaaammm................eiittss.....bukan mau nyebar gosip kalo aku hamil lagi yah.....no........kalo itu sih ntar kalo aku hamil beneran pasti bakal pers conference kok hihihi. Maksudku adalah asli berasa ngidam pengen banget posting di my MP yang berhari-hari tak kusambangi hiks.... Sepertinya sudah pernah kucurhatin kalo untuk posting sekarang ini sudah agak susah, pertama karena laptop the one and only dibawa kangmas ngantor, kedua sering kalo ada laptop di rumah lagi nganggur eeehh dipake ngegame ato nonton pilem, ketiga kalo pas malam-malam kek gini dimana anak-anak sudah tepar dan akunya mau OL.....suami ngelarang dengan alasan harus nemeni dia ngobrol atau nonton TV. Yup, lengkaplah sudah penantian panjangku -lebaaaayy-.

Dari semua alasan tadi itu, sebetulnya aku bisa nyuri waktu kalo anak-anak sudah bobo sih, misal mereka jam 9 dah tidur ya, paling nggak aku bisa OL sejaman lah ya. Tapi masalahnya, mereka tuh masih aktif banget, masih melek bola matanya, kadang meskipun dah nguap berkali-kali tetep aja gak langsung tidur. Sampai di atas kasur masih cerewet, minta minum, minta dianter pipis, minta dibacain cerita, lagi dan lagi. Huuuaaa............

Seingatku dulu pas di Majene, Syifa sudah jarang tidur siang, asyik main dengan anak-anak tetangga sedangkan Farah masih rajin tidur siangnya, bisa sejam lebih lho. Itupun sebelum jam 9 malam udah siap-siap di tempat tidur, biasanya yang paling cepet merem si Farah. Kalau Syifa paling telat jam 10an baru pulas dianya, itu juga jarang kok. Lha sekarang?? Kalo siangnya tidur biasanya sejam lebih, bisa sampai 2 jam kadang, dan akibatnya kalo malam....huhuhu ya itu tadi deh, mereka gak ngantuk-ngantuk, ini tadi aja jam 10.30 malam mereka baru pules, padahal dari jam 9 dah guling-guling di kasur. Duh kebayangkan sebelnya nungguin mereka gak tidur-tidur, mana suami besok mulai ngantor lagi, berarti ni malam aku n dia harus lebih cepat tidurkan......

Nggak tau nih, dulu pas ngantor aku nggak tidur siang juga nggak apa-apa kok, sekarang kalo di rumah kok bawaannya ngantuk mulu kalo sudah jam 2 siang ya...pengennya  nyium bantal n meluk guling, mupeng banget deh kalo dah liat kasur. Jadinya selalu kuajak anak-anak tidur juga, pernah sih sekali, aku ngantuk banget, pas gak enak badan juga jadi mau tidur sedangkan anak-anak gak ngantuk, akhirnya mereka kuajak masuk kamar lengkap dengan mainannya, kukunci pintu dan aku tidur deh sementara mereka terus main sampai aku bangun dengan amat sangat terpaksa satu jam kemudian hehe, itu juga tidur gak nyenyak, digangguin terus ma mereka.

Sebenarnya kalo mereka nggak tidur siang, malamnya habis maghrib gitu mereka dah teler banget lho, dah 5 watt matanya, merem melek merem melek gitu. Jadi aku dan suami bisa ngabisin waktu berdua lebih lama. Ada sisi gak enaknya juga sih, kalo gak tidur siang mereka jadi sering mengigau dan terbangun beberapa kali kalo malam, cukup mengganggu kalo pas akunya baru mau pules tidur. Heem.....jadi enaknya gimana nih, pake acara bobok siang ato enggak ya??? Kalo sobat MP anak-anaknya gimana?? Share donk.....
Read More