Setiap hari Syifa membawa pulang PR, dan kelihatannya dia mulai merasa tidak nyaman. Beberapa hari ini dia mengeluh capek menulis di kelas. Saat disuruh bu guru untuk menyalin PR, Syifa cuek tidak mau menulis, dan akhirnya bu guru yang menuliskan di bukunya untuk agar kemudian Syifa salin lagi di rumah. Saya hanya berpesan pada Syifa, kalau dia capek ya nggak apa-apa, nanti saja menulis di rumah dengan Umi.
Dan seperti halnya anak SD, tanggal 29 nanti ada jadwal UTS bagi siswa-siswi PS. Alamak, anak usia 4-5 tahun pakai UTS segala??Hahaha, ketawa miris deh jadinya. Sempat saya bicara dengan bu gurunya agar Syifa tidak usahlah ikut UTS. Disamping saya rasa itu tidak perlu, juga karena Syifa belum siap. Semua siswa yang lain mulai masuk sekolah bulan Juli yang lalu, sedangkan Syifa baru satu bulan ini. Tentu saja banyak ketertinggalan Syifa dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Saya khawatir ini akan membuat Syifa merasa tidak pede. Semalam ketika pulang kantor, Syifa bercerita bahwa dia mendapat nilai 0 dalam berhitung. Yah, Syifa memang belum pandai berhitung apalagi kalau dalam jumlah yang banyak.
Menyesal...kenapa kemarin tidak dimasukkan saja ke TK di dekat rumah, yang meski juga ada belajar calistungnya, tapi anak bisa bermain dan bernyanyi, dan tentu saja tidak ada UTS-nya lah. Memang sih, masuk ke PS juga atas permintaan Syifa sendiri, karena semua anak-anak di sekitar rumah bersekolah di sana. Tapi ini menjadi satu penyesalan pada diri saya, kok ya kurang tanggap ya. Mudah-mudahan Syifa bisa enjoy menjalaninya, saya tidak akan memaksa, dan saya akan terus menyemangatinya.
Keluar dari PS dan pindah ke TK?? Saya berpikir juga kesana, tapi Syifa bilang mau sekolah di PS saja. Heemm....dilihat saja nanti bagaimana perkembangannyalah. Tapi untuk masuk SD, berapa umur yang ideal ya? 6 atau 7 tahun?