Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Desember 2013

My Weekend: Life Is Never Flat


Berasa iklan banget ya hehe. Kriuk kriuk ngemil kripik kentang itu memang asyik banget. Sayang, aku sendiri jarang beli jajanan itu. Enak sih, tapi isinya seuprit. Mendingan beli pisang goreng aja lebih nendang hihi. Namanya perhitungan apa medit yo iki? Dan seperti si kripik, hidup memang ga pernah datar. Seringkali kruel kruel bergelombang, ada tanjakan ada turunan bahkan lubang. Lha wong jalan tol aja masih bisa macet, apalagi hidup yang memang bisa jadi lebih rumit, errr kalau dibikin rumit hehe. Eh, tapi kan ada tho orang yang merasa hidupnya terlalu datar sampai akhirnya sibuk mencari sensasi lain yang pada akhirnya malah merepotkan dirinya sendiri.

Cerita weekendku kuanggap warna-warni penuh kejutan dan membuatku terpana tapi segera tersadar tuk kembali gegas berjalan. Setelah cerita weekend sebelumnya yang ada foto-foto narsisnya, kali ini nihil ga ada bukti autentiknya. Ya karena kejadian biasa aja yang nggak bisa diabadikan. Ehm, alias asline ga pergi plesiran ke mana-mana hehe, ngruntel aja di rumah.

Weekend ketiga di Nopember kemarin, ada kejadian biasa tapi luar biasa *halah. Biasa lah ya kalau pasangan suami istri bertengkar. Ya kemarin itu tapi kaya Perang Dunia ketiga hiks. Pokoknya shocking deh, ga boleh lah dibahas di sini hehe. Hal terpenting adalah aku tertampar untuk introspeksi diri lebih serius kini. Kalaupun aku benar, aku ga boleh mentang-mentang, ojo dumeh kata wong Jowo. Lha apalagi kalau aku salah, ya harus tahu diri lah. Tentang salah ini, kadang kita lupa ya kalau dosa kita tuh sebenarnya buanyak tapi orang lain kan tidak tahu. Jadilah kita sok innocent. Please don’t do that. Tetaplah tahu diri dan rendah hati. Allah masih berbaik hati menutupi aib kita hingga kita tidak merasa malu hati dan rendah diri.

Weekend keempat, masih nggak ke mana-mana. Beli mangga yang sudah kurang bagus 2 kilo, daripada numpuk banyak gitu akhirnya kubikin puding mangga dan es loli mangga. Sayangnya nggak difotoin hihi. Penampakane ga menarik blas soale hehe. Resep puding mangga dapat dari gugling, milih yang paling mudah cara dan bahannya. Kalau es loli, kebetulan ada cetakan esnya, sayang kalau nggak pernah dipakai, makanya bikin deh buat anak-anak. Mangga tinggal diblender kasi gula atau SKM sesuai selera dan dimasukkan ke cetakan esnya, bekukan  jadi deh.

Weekend kelima, aku dan misua hunting gadget baru di Roxy. Ya karena Selasa sebelumnya BB jadul kesayanganku hilang dicopet di kereta huhuhu. Kalau hape misua memang sudah waktunya ganti, lha sudah sering mati-mati sendiri sih. Cerita lengkapnya ada di rumah sebelah sih hehe.
Eh, ini ngejurnal dari gadget baru lhoo ihiiir. Semoga jadi lebih sering nulis di kedua blogku, aamiin.
Read More

Jumat, 25 Januari 2013

Si Bebe Sumber Galau

Koooyooo ngenee rasaneee *nyanyi lagu Jowo #muka galau

Gadget yang bernama handphone memang satu-satunya yang kumiliki, hape jadul yang setia menemani. Bukannya karena medit mlirit sehingga aku tidak segera menggantinya dengan hape baru (padahal emang bokek), tapi memang merasa belum butuh banget sih. Selama hape jadul bisa buat konek internet, udah cukup.

Seiring dengan berjalannya waktu *tsaaah, ada keinginan untuk kembali eksis jualan online, ditambah lagi dorongan faktor kepepet juga sih. Dan untuk melicinkan rencana tersebut, aku membutuhkan sarana, minimal ya hape yang memadai untuk upload foto-foto barang dagangan dan mempromosikannya di sosmed.

Sebenarnya, bebe adalah pilihan yang umum ya. Melalui BBM dan grupnya, oya bisa whatsapp-an juga, kita bisa dengan mudah mempromosikan dagangan, bisa eksis juga di sosmed yang rame seperti FB dan Twiter. Bisa kirim-kirim gambar juga ke supplier barang misalkan mau jualan sistem dropship.Tapi, kurang sreg sama si bebe ini. Konon, suka nge-hang dan dari banyak cerita teman sih sering "sakit" bebenya dan harus dibawa ke "dokter". Males banget ngebayanginnya, kurang nyaman.

Banyak teman-teman dumay yang selama ini sudah eksis dagang online menyarankan si bebe. Bahkan teman-teman bukan seller juga menyarankan hal yang sama. Sayang, sampai sekarang, dana yang seharusnya digunakan untuk modal membeli bebe harus dialihkan terlebih dahulu ke hal lain yang jauh lebih penting.

Tidak disangka, seorang sahabat menawarkan bebe jadulnya, model lawas yang dibelinya sekitar tahun 2010, si Javelin. Dia bercerita bahwa si bebe tersebut sudah lama nganggur, tidak ada yang menggunakannya. Istrinya tidak suka ber-bebe-ria dan anaknya pun lebih memilih si Android. Heem, lantas aku pun mengiyakan tawarannya itu. Si Javelin ini harga sekennya di pasaran sekitar Rp. 950.000,- ya, namun aku hanya perlu membayarnya dengan harga teman saja :D.

Nah, hari Rabu minggu lalu, si bebe sudah ada di genggaman, diantarkan oleh salah satu OB kantornya sahabatku itu. Langsung saja, aku asyik bercengkrama dengan si bebe yang sudah sekalian di up grade ke OS 5 ini, sehingga memungkinkanku untuk bisa ber-whatsapp-an juga. Kali pertama utak-atik bebe, membuat gelisah juga, langsung galau karena bebenya kurang mau bekerja sama, atau akunya yang belum terbiasa ya? Sempat mati soalnya, ternyata batrenya habis, aku ga sabar sih, ga ngecek dulu. Malamnya udah bisa dipakai sih, udah mulai ribut BBM-an, tapi kok terus nge-hang yak, duh. Ga bisa diapa-apain, dipencet-pencet juga ga ngefek.

Galauku berangsur hilang, saat seharian besoknya si bebe cukup lancar bisa dipakai. Meski, ternyata tetap sempat ngambek lagi sih. Nah, pas pulang kantor, baterainya sudah low, minta dicolok, sayang sudah tidak sempat lagi. Sesampainya di rumah, si bebe tetap ngambek, tidak bisa dipergunakan meski bisa dicharge baterainya, hiks. Ya seperti yang sebelumnya, nyala sih iya, tapi dipencet-pencet tetap tidak bereaksi, duuuh. Sahabatku sampai heran dan merasa tidak enak hati, karena sebelumnya si bebe baik-baik saja kok, tidak rewel. Heemm...apa nih bebe ngikutin pemiliknya ya? Diriku yang mudah galau geje dan suka ngambek ini? Hahaha...entahlah.

Sampai hari ini, si bebe sudah masuk tempat servis dua kali. Katanya sih keypadnya yang eror, sudah diganti baru, bebe seharian bisa dipake, tapi sorenya ga bisa lagi. Yasud masuk diservis lagi, nanti malam pulang kantor baru mau diambil. Semoga lancar jaya bisa dipergunakan lah ya...Aamiin.

Read More

Kamis, 22 November 2012

Menulis Kembali

Counting down, 9 hari lagi harus say goodbye pada Multiply tercinta. Banyak kenangan indah dari rumahku di sana. Betapa tidak, 3 tahun aku menghuni Multiply, meski jumlah kontak hanya sekitar 300-an saja, tapi rasa kekeluargaan dan pertemanan yang ada begitu akrab. Bahkan beberapa di antaranya sudah kopdar, yang awalnya hanya sebagai teman maya, terealisasi bertemu secara nyata. Duh, senangnya!

Kini, meski Multiply masih bisa diakses, tapi keadaanya sudah jauh berubah. Begitu buka Inbox, yang terlihat hanya update-an OS saja :( Sudah tidak ada lagi update-an teman-teman blogger. Yup, mereka sudah ngungsi semua, seperti halnya diriku, ngungsi ke Blogspot sini. Bimbang juga lho, sepertinya lebih banyak yang ngungsi ke Wordpress, ingin juga ikutan kesana, tapi terlanjur ngontrak di sini hehe. Seolah tak rela, silaturahim dengan teman-teman Multiply jadi terputus karena beda rumah maya.

Efek lainnya yang kurasa, ternyata sudah hampir sebulan aku tidak posting nih. Jadi males hehe. Padahal kalau dipikir-pikir nih, kan banyak tuh kejadian-kejadian asik yang harus didokumentasikan, terutama tentang anak-anak ya. Merekam perkembangan mereka itu wajib sebenarnya. Asik aja kalau beberapa tahun kemudian bisa dibaca-baca bareng dengan mereka, seru kali yaaa.

So, yuk menulis kembali. Yuk, rajin-rajin lagi merekam apa yang dilihat, didengar, dan dirasa ^_^


Read More

Senin, 29 November 2010

[PRT] Baru Lagi

Sejak Sinta ingin pulang ke Malang dan aku plus suami juga ingin ganti PRT, mulailah hunting sana-sini. Tiba-tiba ingat kalau di PAUD-nya Farah ada beberapa PRT yang antar anak-anak, mereka berasal dari Sukabumi, Karawang, dan daerah sekitarnya. Jadi aku minta Sinta untuk cari info kalo ada orang yang mau kerja, dan alhamdulillah ada satu dari Sukabumi. Dengan bekal no hp, hati sudah lumayan tenang, sudah dapat calon, tinggal dihubungi saja.

Ternyata no hp itu punya kakaknya Siti, si mbak yg mengantar Raken, teman PAUD-nya Farah. Info dari mbak Iyan, kakaknya Siti, bahwa yang mau kerja masih ABG usia 18 tahun namanya Lina. Si Lina ini tidak punya hp jadi kalau mau tanya-tanya harus lewat mbak Iyan. Hem...baguslah tidak punya hp, awal yang bagus, jadi nantinya kalau kerja tidak akan asyik sendiri smsan atau telpon-telponan dong ya. Katanya si Lina ini sudah beberapa kali kerja, sempat juga di Jakarta Pusat, kerjanya beres-beres rumah dan jagain anak. Oke deh kalau begitu, deal aja, langsung janjian kapan mau diantar ke Jakarta.

Sesuai kesepakatan, mbak Iyan mau antar Lina dengan diganti ongkos busnya Rp. 200.000,-. Kemarin sore datanglah Siti, mbak Iyan, Lina dan dua orang laki-laki yang ternyata masih sepupunya Siti dan Lina. Oooo ternyata satu keluarga besar banyak yang kerja di daerah Mampang, ada yang jadi PRT ada yang kerja di konveksi. Kata mbak Iyan insyaAllah Lina betah, karena kakak-kakaknya di Mampang semua.

Awal lihat Lina, suami langsung bisik-bisik kalau kelihatannya nih anak kok kurang sreg di hati (suamiku biasanya memang suka nilai orang kaya gitu). Ngobrol-ngobrol dikit, sempat cerita kalau Lina kerja terakhir kemarin selama 5 bulan dan minta pulang karena jarang dikasih makan (??!!), dan akhirnya mbak Iyan pamit pulang. Si Lina....duduk diam saja di tempatnya, mungkin masih malu-malu ya, tapi aneh juga. Katanya sudah sering kerja pegang anak, ini kok sama anak-anak cuek saja, tidak SKSD. Malah Syifa yang mendekat trus tanya-tanya siapa namanya, rumahnya di mana, dll. Lina hanya menjawab sedikit-sedikit dengan suara pelan, kurang antusias menghadapi Syifa.

Dari pengalaman sering berinteraksi dengan banyak PRT, kalau memang sudah biasa pegang anak-anak harusnya ramah, terlihat antusias, atau SKSD gitu ya sama anak, ini diam saja. Apa karena malu? Tapi tidak berlanjut sampai hari berikutnya dong ya. Seperti hari ini, saat kutelpon Sinta dan mbak Anik minta pendapatnya, mereka bilang kalau Lina dingin terhadap anak-anak, waduh. Selain itu dia kurang tanggap, misal nih suami mau ngepel lantai semalam, eh dianya tetep aja duduk si lantai tidak segera pindah. Dan sejak kemarin hingga sekarang dia belum mau makan, ditawari terus tapi selalu menolak, lhah piye tho iki?? Ntar kalau sakit gimana?? Hiks...moga-moga karena dia masih newbie yah, masih malu kali, masih canggung, masih adaptasi...semoga...

Suamiku maunya ganti aja deh, ganti aja deh. Ampun pak, susah ini nyarinya. Ya sudah, kasih kesempatan dulu sama Lina. Ntar malam pulang kantor juga saya mau turun tangan, mentraining langsung deh. Kalau sama anak-anak harus ramai, "cerewet", banyak cerita, banyak ajak main, ngemong lah gitu, jangan cuma diam aja lihatin anak-anak doang.
Tentang sisi positifnya selain dia tidak punya hp, Lina alhamdulillah rajin sholat. Baguslah, tidak usah ngejar-ngejar seperti kalau menghadapi Sinta.   

Alhamdulillah ada mbak Anik, dia sayang banget sama anak-anak, kerjaan rumah juga beres. Jadi sambil melihat perkembangan Lina, semua tanggung jawab diserahkan ke mbak Anik. Untung juga Sinta belum kupulangkan, sekarang tugasnya mendampingi Lina. Semoga ada perubahan, waktu yang dikasih suamiku cuma seminggu saja. Kalau masih belum beres ya harus dipulangkan. Bismillah.....
Read More

Dapat Lagi

Melanjutkan curhatan sebelumnya. Akhirnya tanggal 16 yang lalu saya memeriksakan diri ke dsog di RSB Duren Tiga, sengaja memilih dokter yang perempuan agar lebih syar'i dan nyaman. Sedari kantor sudah banyak-banyak minum air putih dan tahan pipis, agar kalau di USG nanti tidak usah lagi bolak-balik disuruh minum. Sudah pernah sih kejadian seperti itu, beberapa kali keluar masuk kamar periksa gara-gara mau di USG tapi tidak terlihat jelas rahimnya, jadi disuruh minum dulu banyak-banyak.

Pas masuk kamar periksa dan sudah menjelaskan ke dokternya, ditawari USG Transvaginal agar lebih akurat. Ya sudah, mau saja, biar nggak parno lagi kan. Untung saya langsung bilang ke dokternya kalau sementara nahan pipis nih untuk persiapan USG biasa, bu dokternya langsung senyum-senyum dan menyuruhku untuk segera pipis saja karena ini kan USG Transvaginal, haha bisa ngompol dooong kalau kantung kemihku full.

Kali pertama USG Transvaginal nih, memang rahim terlihat lebih jelas. Alhamdulillah tidak terlihat ada keanehan di dalam sana, everything's ok. Legaaa..... Kata dokter sih cuma karena hormon saja, sehingga haidku bisa lama dan tidak seperti biasanya.  Setelah itu diberi obat untuk flek dan nyeri, yang mana obatnya tidak habis saya minum, apalagi ketika darah berhenti keluar di hari ke 18.

Eh, ternyata kemarin sudah haid lagi....moga-moga kali ini tidak berlama-lama seperti kemarin deh. Ingin semuanya normal, ingin mencanangkan tuk hamil lagi
Read More

Jumat, 26 November 2010

Salah Sekolah?

Menyesal...kenapa kemarin tidak survey dulu sebelum memasukkan Syifa ke PS (Persiapan Sekolah) di salah satu sekolah swasta dekat rumah. Dalam bayangan saya kemarin, persiapan untuk masuk SD ini akan menyenangkan bagi anak. Memperkenalkan huruf dan angka, belajar nulis dalam keceriaan, sambil bermain dan bernyanyi, seperti itu. Ternyata kenyataannya, anak benar-benar dituntut untuk bisa menulis, membaca, berhitung (menjumlah dan mengurangi). Syifa tentu kaget (mungkin begitu juga anak-anak yang lainnya ya), terus terang saya belum menekankan "harus bisa" padanya, saya hanya sebatas mengarahkan, tidak memaksakan (meski kadang kebablasan seperti yang sudah diposting sebelumnya).

Setiap hari Syifa membawa pulang PR, dan kelihatannya dia mulai merasa tidak nyaman. Beberapa hari ini dia mengeluh capek menulis di kelas. Saat disuruh bu guru untuk menyalin PR, Syifa cuek tidak mau menulis, dan akhirnya bu guru yang menuliskan di bukunya untuk agar kemudian Syifa salin lagi di rumah. Saya hanya berpesan pada Syifa, kalau dia capek ya nggak apa-apa, nanti saja menulis di rumah dengan Umi.

Dan seperti halnya anak SD, tanggal 29 nanti ada jadwal UTS bagi siswa-siswi PS. Alamak, anak usia 4-5 tahun pakai UTS segala??Hahaha, ketawa miris deh jadinya. Sempat saya bicara dengan bu gurunya agar Syifa tidak usahlah ikut UTS. Disamping saya rasa itu tidak perlu, juga karena Syifa belum siap. Semua siswa yang lain mulai masuk sekolah bulan Juli yang lalu, sedangkan Syifa baru satu bulan ini. Tentu saja banyak ketertinggalan Syifa dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Saya khawatir ini akan membuat Syifa merasa tidak pede. Semalam ketika pulang kantor, Syifa bercerita bahwa dia mendapat nilai 0 dalam berhitung. Yah, Syifa memang belum pandai berhitung apalagi kalau dalam jumlah yang banyak.

Menyesal...kenapa kemarin tidak dimasukkan saja ke TK di dekat rumah, yang meski juga ada belajar calistungnya, tapi anak bisa bermain dan bernyanyi, dan tentu saja tidak ada UTS-nya lah. Memang sih, masuk ke PS juga atas permintaan Syifa sendiri, karena semua anak-anak di sekitar rumah bersekolah di sana. Tapi ini menjadi satu penyesalan pada diri saya, kok ya kurang tanggap ya. Mudah-mudahan Syifa bisa enjoy menjalaninya, saya tidak akan memaksa, dan saya akan terus menyemangatinya.

Keluar dari PS dan pindah ke TK?? Saya berpikir juga kesana, tapi Syifa bilang mau sekolah di PS saja. Heemm....dilihat saja nanti bagaimana perkembangannyalah. Tapi untuk masuk SD, berapa umur yang ideal ya? 6 atau 7 tahun?


Read More

Rabu, 24 November 2010

Perselisihan

Menyesal, entah kenapa, obrolan ringan dengan suami via gtlak malah menjadi perselisihan dan perdebatan sengit. Well...uummh, akunya yang sengit, bukan dia. Aku yang terus menyerang dan emosi bahkan sampai mewek-mewek di depan kompi. Awalnya reaksi suami adem, menanggapi dengan guyonan, tapi lama kelamaan terprovokasi juga olehku.

Oke, aku terlalu menyudutkanmu, aku terlalu menyalahkanmu, aku (lagi-lagi) merasa menjadi korban, pihak yang teraniaya. Ah, sifat yang belum bisa kuubah.

Kami belum menjadi tim solid. Kami masih punya amat sangat banyak kekurangan terutama pengendalian emosi. Entah, masih kekanak-kanakankah? Apa pengaruh menikah terlalu mudakah? Aku 19 tahun dan dia 20 tahun dulu saat menikah. Banyak faktor mungkin, entahlah.

Read More

Jumat, 19 November 2010

[PRT] Klepto atau Kepepet??

Seperti yang pernah kuceritakan di sini, ada beberapa kali kejadian si mbak ngambil uang (yang sepengetahuanku lho ya). Kali pertama umurnya masih 13 tahun dan sudah pinter banget bohongnya. Sekarang usianya sudah ABG, 18 tahun lho. Kalau sudah kebiasaan dari kecil dan tidak ada yang mengarahkan atau menasehati terutama orang tuanya tidak peduli, pasti dia akan kebal. Apakah ga ada rasa takut, ga ada rasa bersalah, ga ada rasa malu?? Entahlah.

Awal kerja lagi kemarin pas sesudah lebaran dan gajinya sudah 2 bulan dibayar di muka sesuai syaratnya. Pesan dari orang tuaku sih aku harus hati-hati nantinya kalau naruh uang di rumah karena pasti uangnya dia sudah habis, kalau ga pegang uang bagaimana dia mau beli pulsa, jajan, dsb? Meski aku dan suami sudah memberi dia uang jajan lagi (tidak tiap hari lah), di luar gaji yang sudah dikasih, tetep saja kami kuatir. Udah parno, udah ga percaya sama dia. Kebohongannya selama kami bersama dulu di Majene sudah terlalu banyak dan sering.

Sebulan pertama dia di Jakarta, hampir tiap hari jajan terus. Tiap weekend main PS atau ke warnet. Saya dan suami saling lihat saja, sambil membatin kok uangnya banyak ya padahal gaji 2 bulan di muka sudah dia bagi dengan orang tuanya, sisanya dibelikan hape baru. Didorong rasa curiga, saya melihat isi dompetnya, dan menghitung jumlah uangnya ada berapa. Beberapa hari berlalu, dia masih sering jajan, royal pokoknya. Secara berkala saya cek isi dompetnya, mungkin perbuatan ini tidak baik, tapi kami merasa ini perlu.

Ternyata kecurigaan kami benar. Jumlah uang di dompetnya sering bertambah. Ada uang pecahan baru, padahal seharusnya uangnya sudah habis. Oya, dia tidak punya tempat penyimpanan uang yang lain. Rumah kami mungil, lemari baju untuknya jadi satu dengan baju anak-anak. Jadi tidak mungkin baginya untuk menyimpan uang selain di dompetnya.

Sedih rasanya, kok hobi ngambil uangnya masih jalan saja sih. Apalagi saya dan suami suka menaruh dompet di atas kulkas, di saku celana, pokoknya di tempat yang mudah diakses siapa saja. Lha mau disimpan di mana? Di dalam lemari juga tidak bisa, ribet juga lah. Kelemahanku yang lain, jarang menghitung sisa uang di dompet. Jadi kalau berkurang juga tidak terasa. Pasti dia keenakan ya....

Puncaknya beberapa hari yang lalu, beberapa hari dia tidak pernah jajan, uang pulsa dan kebutuhan pribadinya minta ke aku. Terakhir dicek uangnya cuma 7rb, lalu kukasi uang jajan 10rb berarti total 17 rb ya. Nah, lalu di suatu pagi kucek lagi dompetnya dan.....ada uang baru 50ribu dilipat-lipat kecil!!! Aarrggh, sebel banget deh. Kebetulan memang kemarin habis ambil uang di ATM, dan kali ini kuhitung jumlahnya, memang gak klop. Ya sudah, kuambil aja tuh uang 50 ribu. Kalau memang uang dia pasti dia akan bingung dan menanyakannya, ya kan?? Eh, pas dia cek dompetnya, mukanya kaget, tapi dia diam saja, kliatan mikir gitu. Sudah begitu saja, tidak pernah sekalipun dia menanyakan uangnya yang hilang, berarti bener duitku itu kan.....

Kejutan lagi, besoknya dia sms suami dan bilang kalau dia minta pulang ntar sebelum tahun baru. Ditanya suami, alasannya karena mau pulang aja, pengen kerja di Malang aja. Entahlah, apa mungkin karena merasa ketahuan ngambil uang ya?? Kami sengaja tidak menanyakan perihal uang hilang karena males, ntar juga dia bohong lagi. Ga enak juga kalo suasana hatinya jadi buruk, padahal anak-anak masih dijaga olehnya. Alasan lain menurutku dan suami, dia merasa tidak bebas di rumah. Sebelum ke Jakarta dia kerja di Malang, tiap weekend pasti jalan-jalan bersama pacar dan teman-temannya ke daerah wisata kota Batu, pokoknya senang-senang khas ABG lah. Lha kalau ikut aku kan paling cuma bisa keluar ke warnet aja. Bosan kali dianya.

Ya sudahlah, kalau dia minta pulang ya pulangkan saja. Sekarang sambil nanya-nanya ke siapa saja, hunting PRT lagi gitu. Aku sih sudah bilang sama dia, akan kupulangkan ke Malang kalau sudah dapat penggantinya. Tapi lihat saja nanti, kalau sudah benar-benar tidak betah ya akan segera kupulangkan. Huff...ada-ada saja deh.
Read More

Sabtu, 13 November 2010

Haid Terlama

Bertahun-tahun, siklus haidku normal. Lama waktu haid 5 hari, maksimal 6 hari. Siklusnya antara 21 sampai 27 hari. Begitu terus hingga bulan ini ternyata jadi berbeda.

Sejak keguguran setahun yang lalu dan telah dinyatakan bahwa rahimku bersih meski tanpa kuret, baru tiga kali aku cek ke dsog. Kali pertama periksa aku mendengar kabar buruk, kata dokter di rahimku ada kista. Kaget lah, takut juga. Tapi saat itu dokter berpesan untuk cek ulang bulan depannya, agar lebih pasti katanya. Namun aku punya keinginan lain, cari second opinion tentunya. Dan untuk itu aku harus pergi ke kota Makassar mencari dokter lainnya, dan harus menempuh 8 jam perjalanan dari Majene. Alhamdulillah, kata dokter di sana, rahimku sehat dan siap untuk hamil lagi. Lega mendengarnya :D. Kali ketiga, bulan Januari 2010 ketika mudik ke Malang, aku menyempatkan diri periksa lagi. Alhamdulillah, hasilnya bagus, normal, sehat.

Keinginan hamil lagi? Tentu ada tapi ragu juga, entahlah. Sampai sekarang Allah belum mengkaruniai kesempatan itu ternyata, aku sih enjoy saja.

Akhir bulan lalu aku merasa h2c, sudah seminggu terlambatnya. Deg-degan dan penasaran, akhirnya beli test pack. Tapi ternyata hasilnya negatif tuh, dan besoknya akhirnya haid juga. Kecewa? Ah, tidak juga. Tanggal 1 Nop aku mulai haid, tanggal 5 kukira hari terakhir dan tanggal 6 biasanya sudah bersih. Eh, ternyata tanggal 8 keluar lagi lho, heran juga. Ga banyak sih tapi kok ga selesai-selesai ya? Bingung dan kuatir, sampai sekarang tanggal 13 masih belum berhenti juga. Aku nggak sholat sih, nunggu batas normal waktu haid yang 14 hari. Kalau sampai lewat tanggal 14 masih keluar darah juga, baru deh aku sholat, karena mungkin darahnya sudah darah penyakit alias istihadhah. Moga-moga saja tidak ada apa-apa. InsyaAllah ntar senin sepulang kantor mau periksa ke dsog, sekalian pap smear aja deh. Takut juga, parno neh.
Read More

Rabu, 10 November 2010

[PRT] Tambah Satu..........

Melanjutkan curhatanku sebelumnya. Aku juga punya kesepakatan dengan suami bahwa kita tetap usaha nyari PRT lain, kalau perlu yang sistem pulang pergi, jadi rumah kecil kami nggak tambah sumpek hehe. Usaha lewat mertua tetep sih, tapi kelihatannya susah juga nyari PRT jaman sekarang, apalagi yang jujur dan baik.

Alhasil Syifa yang harusnya sudah masuk sekolah tanggal 2 Nopember kemarin jadi tertunda. Masalahnya karena belum dapat si mbak yang pulang pergi itu. Kalau cuma mengandalkan Sinta seorang diri, setiap hari, untuk menjaga kedua anakku...wah kasian Sintanya juga lah, kecapekan ntar, repot juga. Apalagi waktu sekolah Syifa yang mulai dari jam 1 siang sampai jam 3 sore, itu kan jam tidurnya Farah. Jadi tidak mungkin Sinta antar jemput Syifa sekolah sementara Farahnya ngantuk.

Nanya ke tetangga kanan kiri, sebar info kalau aku butuh PRT pulang pergi, nanya ulang setiap pagi pas belanja sayur, wah H2C pokoknya. Kasian Syifa dah pengen banget masuk sekolah, tiap hari menanyakan kapan dia bisa berangkat ke sekolah. Alhamdulillah kebetulan ada PRT yang kerja tidak jauh dari rumah sedang mencari pekerjaan karena baru saja dia berhenti di tempatnya yang lama. Kerjaan lamanya jaga anak umur 1 tahun dan cuci gosok.

Hari Minggu kemarin dia datang ke rumah diantar salah satu tetanggaku. Si mbak ini namanya Anik, punya anak satu masih 2 tahun usianya. Orang Jawa tapi dah lama di Jakarta. Singkat kata singkat cerita, si mbak mau kerja di rumahku, dengan gaji Rp. 400.000,- per bulan. Kerjanya dari Senin sampai Jum'at jam 7 pagi sampai jam 4 sore dan Sabtu jam 7 sampai jam 10 pagi. Tugasnya setrika, bantu jaga anak, bantu bersih-bersih rumah.

Mulai Senin kemarin si mbak Anik sudah mulai kerja, Syifa jadi bisa sekolah deh. Moga-moga cocok dan jodoh sama mbak Anik ini. Amiiin.
Read More

Selasa, 09 November 2010

[PRT] Curhat Lagi

Sejak jaman dahulu kala, antara Sinta dan mas Hepy memang tidak cocok. Sinta yang dari sononya serampangan, kurang rapi dan kurang teliti versus mas Hepy yang suka banget rumah bersih, super rapi dan teliti apalagi dengan barang-barang printilan (baca:kecil-kecil) di dalam rumah. Tentu saja aku ikut terkena imbasnya, suami sebel, ngomel sampai marah-marah melulu apalagi di jam-jam capek deh a.k.a pulang kantor. Sinta apalagi, jadi keder berhadapan dengan suami sampai suka ngomel-ngomel sendiri.

Minusnya lagi, Sinta anaknya kurang tahu tata krama, apalagi berhadapan dengan orang yang lebih tua. Sejak dari rumahnya memang didikannya begitu. Sekarang dengan umurnya yang sudah ABG, kelakuannya makin menjadi, terutama menurut mas Hepy. Kalau menurutku sih, anak keras begitu ya jangan dikerasi, dinasehati atau diiingatkan saja pelan-pelan. Terbayang nggak suasana rumah yang hot banget setiap harinya?  

Aku dan Sinta ternyata setipe, kalau menurut kami rumah sudah beres, sudah dibersihkan, sudah puas, eh pas suami lihat, dia marah-marah karena menurutnya rumah kok berantakan, belum bersih, belum beres. Stress gak sih? Kalau sudah begitu aku dan Sinta gerak cepat deh, tengok kanan kiri, mana ya yang katanya mas Hepy belum bersih??

Kadang hal kecil pun jadi masalah, seperti letak barang printilan tadi, harusnya ditaruh di mana, kalau sudah pakai harus ditaruh di tempatnya, seperti itu. Kadang memang aku dan Sinta nggak sengaja naruh di lain tempat (dah bawaannya gitu, serampangan dari lahir), kadang anak-anak yang memindahkan ke lain tempat. Tau dong gimana anak-anak, apalagi di umur mereka yang masih balita. Rumah mau dibersihkan seperti apa, dalam waktu sekejap bisa berantakan lagi, dan.....suamiku bisa ngomel-ngomel lagi.

Kemarin sewaktu ngajak Sinta kerja lagi, aku memang sudah males. Males merasakan suasana tegang setiap hari gara-gara kebersihan rumah. Tapi karena amat sangat butuh, kami waktu itu mikirnya bakal lumayan lama di Majene dan tentu saja aku dan anak-anak butuh teman, jadilah Sinta kami ajak lagi. Ketika SK pindah sudah keluar, suami merasa tidak usah bertahan menghadapi Sinta, jadi dia minta agar sepulang dari Malang kemarin, Sinta tidak usah diajak balik ke Jakarta!!

Kaget dong, ga setuju deh sama keinginan suami. Pertama, jelas kami masih butuh Sinta untuk jaga anak-anak apalagi kalau aku sudah ngantor nanti. Kedua, mau cari PRT baru dalam waktu singkat?? Ngayal kaliiiii. Ketiga, layaknya uang koin, Sinta juga punya kelebihan, dalam menghadapi anak-anak dia cukup sabar, baik, dan sayang mereka. Belum tentu nanti dapat PRT yang baik kan, takut banget kalau dapat yang sadis n kejam -halah- atau yang nggak sabar menghadapi anak. Duuh miris deh nih hati.

Banyak banget alasan mas Hepy agar Sinta nggak usah diajak balik lagi, dari masalah kebersihan (yang menurutku bukan masalah super penting, yang penting anak-anak tho!!), masalah sikap, masalah kleptonya yang sepertinya masih jalan (terpaksa aku tutup mata, hati-hati aja taruh uang), dan masalah Sinta yang hanya lulusan SD, yang menurut si mas nggak bisa lah dia ngajari anak dengan baik bak babysitter berpengalaman.

Huuuf, akhirnya minta tolong Mamaku lagi untuk dicarikan PRT. Reaksinya?? Mamaku udah capek selama ini sibuk mencarikan PRT, ada yang asal, mau kerja minta dibayar 1 jeti per bulan lah (gedubrak...kaya dari yayasan saja), ada yang mau kerja tapi milih-milih tugasnya nanti, dll. Pokoknya Mamaku sudah capek, akhirnya aku minta tolong ke ibu mertua yang selama ini belum pernah pusing nyarikan PRT.

Komentar adikku, jangankan mau mencari PRT yang pinter, rajin, rapi, mau cari yang nggak pinter dan serampangan aja susah banget kok. Belum lagi tidak ada kepastian dia bakal baik atau tidak terhadap anak-anak. Nilai plus Sinta di mataku, dia baik sama anak-anak, hal selain itu bisa dikompromikan, bisa disiasati. Aku harus turun tangan mengawasi dia langsung, menasehatinya lembut dan pelan-pelan untuk kebaikan semuanya. Ini janji yang kuajukan pada suami agar dia mau menerima Sinta lagi di rumah. Dengan berbekal minta bantuan kepada ibu mertua juga sih, agar beliau mau memberi saran pada si mas yang keras orangnya.

Alhamdulillah, si mas mau menerima saran dan bujukanku. Sinta kubawa balik ke Jakarta. Selama ini aku juga yang salah, mentang-mentang sudah ada PRT malah keenakan. Tidak mengawasi dan membimbingnya, kulepas begitu saja. Sekarang aku sudah balik ngantor, tugas-tugas harian Sinta selalu kupantau, kuevaluasi setiap hari. Itu pun masih kecolongan, ada saja yang masih membuat si mas ngomel-ngomel saat pulang kantor, bad mood kali ya....sabaaar....!

Read More

Jumat, 22 Oktober 2010

Alhamdulillah

Tanggal 20 kemarin di siang hari, ketika lagi sok sibuk di dalam rumah tiba-tiba hp berbunyi menandakan ada tarzan lewat rame-rame sama teman monyetnya *ringtone hpku suaranya tarzan*, eh maksudku menandakan ada sms masuk. Sekilas ngelirik hp jadul kesayanganku, kok ada sms dari temannya suami yang selalu mengira nomerku adalah nomer suami juga. Smsnya begini, "Hepy, pindah istrimu dah di-acc..". Reaksi saya?? Bengong, mata merem melek, senyum-senyum, cemberut lagi, mikir, trus salto......*yang ini bohong haha*. Tentu saja saya langsung mencet-mencet badan dekil si hp dengan maksud menelpon si mbak yang sms itu. Dengan semangat 45 say hi, SKSD, langsung nyerocos nanyain maksud smsnya.  Dan kata si mbak...........yup, SK pindahku sudah diteken, di acc, disetujui, dikeluarkan!!!

Alhamdulillah............Subhanallah...........Allahu Akbar...!!! Hati dan mata langsung gerimis mengundang *ups lagu Malay nih*. Bersegera aku sujud syukur, benar-benar nikmat rasanya mendapat anugerah seperti ini. Hal yang sangat kunantikan selama 2 tahun terakhir akhirnya kudapatkan. InsyaAllah tidak lama lagi say no to LDL.

Ok..ok...stop drama indianya, stop nyanyi-nyanyi sambil muter-muter di pohon jambu sebelah rumah, yang punya kontrakan dan tetangga kanan kiri dah mulai ngelirik dan bergidik jijik hiiiyy. Tarik nafas........hembuskan...........tariiiik...hembuskan...........*asli bukan sedang senam pernafasan atau latihan tenaga dalam*. Segera telepon suami, meneruskan sms temannya juga. Pokoknya nggak sabar mendengar kejelasan beritanya. Teman yang sekarang ada di Palu, sesama pelaku LDL juga telpon ngabarin berita yang sama, kami sama-sama bersyukur. Malamya ada teman sms nanyain perihal berita SK juga, dia dapat kabar dari temannya kalau memang SK per tanggal 19 Oktober 2010 sudah diteken dengan resmi, tinggal menunggu diluncurkan *albuuuum kalii*. Tambah panas dingin sayanya nih, akhirnya suami nelpon temannya dan dapat kepastian berita.

Alhamdulillah.........kemarin tanggal 21, pagi-pagi teman saya yang di Palu menelpon untuk kasi kabar bahwa SK pindah sudah mejeng di inbox imelnya. Saya dengan tak sabar menelpon suami untuk minta tolong dibukakan imel saya, karena lagi nggak ada laptop di rumah. Dan............SK benar-benar sudah ada! Mejeng dengan syahdu di inbox, saya dipindahkan dari MAJENE ke JAKARTA, tepatnya Kanwil DJP Jakarta Barat yang ternyata lokasinya satu gedung dengan kantor suami. Subhanallah....keinginan untuk bisa pulang pergi ngantor boncengan dengan suami insyaAllah bisa terlaksana. Benar-benar anugerah.

SIngkat kata singkat cerita, teringat hutang kerjaan yang menumpuk dan menanti dengan putus asa di Majene. Huuff..mau nggak mau saya harus kembali ke sana untuk menyelesaikannya, it's my responsibility. Jadi, saya dan suami memutuskan untuk menitipkan anak-anak di rumah mbahnya di Malang selama kurleb seminggu, dan saya akan pergi sorangan wae ke Majene. Mudah-mudahan waktu yang semingguan itu cukup untuk menyelesaikan semua hutang pekerjaan yang ada, meski mungkin saya harus begadang ala Rhoma Irama untuk itu.

Ya..ya..ya...inilah akibat dari kebiasaan buruk saya yang sudah saya lakoni seumur hidup, malas dan selalu menunda-nunda pekerjaan. Jangan ditiru ya MPers, karena tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga juga menyebabkan komplikasi hati dan pikiran.

Do'ain agar semuanya lancar jaya ya................
Read More

Sabtu, 09 Oktober 2010

Kena DBD!!

Syifa selama ini alhamdulillah jarang sakit. Kalaupun demam biasanya dalam 1-2 hari sudah normal lagi suhu badannya, itupun tanpa minum obat kimia. Hanya herba saja seperti madu dan dioles minyak but-but dan atau parutan bawang merah di badannya.

Kali ini, Syifa demam sampai 5 hari lamanya. Kuatir tentu saja, kok tidak seperti biasanya ya. Syifa merasa mual dan muntah (meski jarang), BAB encer (meski tidak diare berat), dan mengeluhkan perutnya sakit. Akhirnya semalam Syifa kami bawa ke dokter terdekat untuk diperiksa. Kaget juga, dokter bilang kalau Syifa terkena gejala tipes, penyakit terberat yang pernah dialami Syifa, batinku. Diagnosa dokter, antara DBD dan tipes, tapi dokter berpendapat kemungkinan besar gejala tipes dan menyarankan agar segera cek darah.

Deg-degan, ini kali pertama Syifa ke lab untuk tes darah. Bagaimana nanti reaksinya?? Dengan dibantu seorang perawat yang memegangi tangannya, dan saya memangku Syifa, juga memegangi tangannya, ternyata tak mampu menahan gerakan tubuh Syifa kala diambil darahnya. Dia berteriak keras, meraung, berontak! Sayang, pengambilan darah yang pertama di tangan kanan tidak cukup banyak dan harus diambil lagi di tangan sebelah kiri...ya Allah!! Akhirnya suami tergopoh-gopoh datang, mendengar teriakan Syifa, Ternyata dia tadi tidak sadar kalau saya dan Syifa sudah masuk ke dalam. Kali ini suami yang memegangi tangan Syifa, saya berjongkok di depannya sambil membesarkan hatinya. Ya Rabb...melihat wajah Syifa yang meringis menahan sakit sungguhlah mengiris hati. Dia masih saja berteriak kalau dia tidak mau disuntik, tapi sudah lebih pasrah, tidak bergerak, dan mampu menahan sakit.

Alhamdulillah, pengambilan darah sudah selesai dilakukan dan kami pun pulang. Kira-kira satu jam kemudian telepon masuk di hape saya, dan ternyata dari pih ak lab yang mengatakan agar hasil pemeriksaan tadi segera diambil karena Syifa positif DBD!! Ya Allah...hati ini kebat-kebit rasanya. Segera suami berangkat, mengambil hasil tes darah dan mampir ke dokter 24 jam untuk konsul hasil tes tersebut. Kata dokter trombositnya turun sampai 188.000, dan kalau sampai 150.000 maka harus rawat inap. Untuk saat ini beliau menyarankan agar diperbanyak asupan cairan dan cukup istirahat di rumah saja, asal demamnya bisa diatasi dan terus dipantau.

Hari ini mau hunting sari kurma yang bisa menaikkan jumlah trombosit, selain itu juga menyiapkan rebusan air daun jambu. Do'akan Syifa segera sembuh ya......
Read More

Selasa, 05 Oktober 2010

Asuransi

Siapa yang punya asuransi??? Ngacuuuung............!!
Asuransi apa yang dimiliki mak2, bun2, mbak2, pak2 MP tercinta?? Kalau saya selama ini cuma punya 2 asuransi pendidikan buat Syifa dan Farah, keduanya dari Bumiputera. Punya Syifa yang syari'ah jadi per triwulannya murah, sedangkan punya Farah yang konvensional jadi mahalan. Sebenarnya punya asuransi pendidikan kaya gini untuk jaman sekarang dan yang akan datang cuma buat tambal-tambal dikit kali ya.... Secara inflasi yang akan terus terjadi apalagi 10 atau 15 tahun yang akan datang, kira-kira tuh duit asuransi kan jadi kecil artinya. Biaya masuk kuliah anak-anak nanti kira-kira berapa jeti yaa??? *mikiiiir....ngebayangin....bergidik*

Asuransi syari'ah yang punya Syifa dah setahun ini ngadat, gak pernah ada kuitansi resminya nyampe di Majene. Kata agenku ada sedikit problem, tapi gak usah kuatir. Gak tau kenapa, aku jadi maleeesss. Katanya yang syari'ah emang rada susah jalannya (napa coba?) kalo yang konvensional mah lancar jaya (apa karena lebih nguntungin ya?).

Beberapa hari yang lalu, aku ngobrol-ngobrol sama suami. Ngomongin tentang kondisi keuangan keluarga yang harus benar-benar dibenahi prioritasnya. Seperti layaknya keluarga lain, pasti pengen juga punya home sweet home, apalagi di kampung halaman, deket ma ortu. Untuk dapat mewujudkannya sebenarnya bisa dengan jalan kredit bank, tapiiiiiiiii aku dan suami sepakat gak milih jalan ini. Selain bunganya yang bikin sakit hatiiiii *gak rela...gak rela...-dangdutdotkom-* dan statusnya yang haram itu, menurutku kalau minjem bank tuh berat bebannya, kan lama tuh bayarnya, bisa 10 sampai 20 tahun huhuhu.

Jadi akhirnya kami sepakat untuk benar-benar belajar hemat *plaaaak...pdahal habis menang lelang sana-sini*. Diitung-itung, dikurang sana-sini, jadilah wajib setor tabungan untuk rumah atau tanah sekian rupiah. Biar deh meski mampu belinya entah kapan, yang penting pede ngumpulin dulu.

Balik lagi ke masalah asuransi nih, suamiku yang sejak dari awal kurang setuju aku ikut asuransi akhirnya memintaku untuk stop bayar premi asuransi yang konvensional punya Farah. Katanya lebih oke kalo uang itu tetep dikumpul tapi ntar dibeliin dinar emas aja, gak ngaruh ma inflasi sampai kapanpun. Heem....bener juga sih!! Aku juga tertarik banget dengan tabungan dinar dan kami nanya-nanya ke mbah google.

Sekarang nih yang mau kutanyain ke warga MPers....Ada tidak yang punya pengalaman berhenti asuransi di tengah jalan?? Punyaku ini baru jalan dua tahun kayanya. Uang yang kemarin disetor bakal balik lagi gak? Aku males nanya ke agenku, pasti dia nebar racun supaya aku gak stop bayar premi kan ya... Please sharingnya ya.....tengkyuuuu.
Read More

Senin, 04 Oktober 2010

Finally...SP

Bolooooooooooossss..............

Yup, sejak cuti super besarku berakhir tanggal 25 September lalu, harusnya tanggal 27 September kemarin aku dah masuk kantor, tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.....................till today i'm still in Jakarte, duduk manis depan laptop sambil OL hohoho. Kok kayanya girang banget neh bolos yak? Lha gimana duong, sama suami disuruh balik ke Majenenya tanggal 11 kok, ya udah dinikmatin aja hari-hari bolos ini.

Kalo dalam keadaan "normal" ni ya, aku bakal gelagepan, panas dingin kalau kena kasus dapet Surat Peringatan dari kantor. Tapi ini kan termasuk keadaan gak"normal" hehe, jadi aku sih pasrah ajeeee.....yang penting suami syeneng, ntar berangkat balik ke Majene bisa lancar jaya insyaAllah.

Iseng nanya-nanya ke mbak malatika di bagian kepegawaian kapus, maksimal dapet SP 3x baru dah kena pemeriksaan dan bakal dapet hukuman disiplin gitu. Moga-moga aja gak sampe lah yauw dapet borongan SP 3x....InsyaAllah.....
Read More

Rabu, 29 September 2010

Nggak Rela LDL Lagi

Waktu terus berjalan...tidak terasa sudah 4 bulan 2 hari aku dan anak-anak berkumpul lagi dengan suami, tak terasa cutiku sudah habis per tanggal 25 September kemarin.

Aku tahu, dengan SK mutasi yang belum kupegang, bahkan belum ada kabar sampai sekarang, aku dan anak-anak harus kembali ke Majene. Sampai kapan? Entahlah, sampai SK keluar pastinya, tapi kapan? Ah, hanya Allah Swt yg Maha Tahu.

Rencana semula dipilih tanggal 2 Oktober untuk terbang ke Makassar. Ketika hari itu makin dekat, seolah sama-sama jengah, aku dan suami tak kunjung membuking tiket, bahkan juga tidak bertanya-tanya harganya, seperti yang biasanya kami lakukan.

Aku sudah bolos ngantor 3 hari, pengen cuek bebek dengan urusan kantor tapi itu namanya tidak bertanggung jawab bukan?! Akhirnya aku cari info harga tiket dan ternyata lumayan mahal karena pas weekend. Kata suami diundur saja tanggal 4 Oktober, hari kerja biasanya kan lebih murah gitu. Tapi ya gitu deh, sampai hari ini suami sibuk dengan kerjaan kantornya dan aku cuma bisa usaha nanya-nanya harga tiket. Kalau aku tanya masalah tiket, suami diam saja. Tidak rela, ya aku tahu, aku juga tidak ingin LDL lagi. Beraaat! Tapi bagaimanapun aku harus menyelesaikan utang kerjaan di Majene, harus, sebagai bukti tanggung jawabku dan konsekuensi atas gaji yang sudah kuterima.

Berserah diri padaNya, terus berdoa, semoga semuanya diberi kemudahan dan jalan keluar.
Read More

Senin, 20 September 2010

Namanya Sinta.

Pertama kali ikut aku di tahun 2005, saat Syifa anak pertamaku lahir. Usianya kala itu baru 13 tahun, baru saja lulus SD tapi sudah tidak lanjut sekolah lagi, tidak ada biaya alasannya. Meski baru lulus SD, dia termasuk anak yang cukup ngerti (atau nerimo ya?) dengan keadaaan, tidak terlalu kekanakan, malah termasuk berani. Lha di usia segitu sudah mau kerja sama orang, ikut diculik ke luar Jawa lagi.

Teringat kala itu ibunya membawanya ke rumah orang tuaku, ikut bantu-bantu beberes rumah dan nyuci baju. Si ibu menawarkan agar Sinta ikut aku, bantuin aku jaga Syifa apalagi aku harus kerja lagi setelah cuti bersalin habis. Antara ya dan tidak, antara butuh tapi bimbang juga. Dia masih kecil pikirku, terbayang aku saat seusianya yang masih anak-anak banget, gak bisa apa-apa, belum mandiri. Tapi kata Mamaku, anak seusia Sinta masih gampang dididik dan diarahkan, syukur-syukur kalo betah dan dia bisa terus ikut aku sampai saat dia nikah nanti. Akhirnya setelah banyak pertimbangan, aku dan suami setuju. Dia ikut aku ke Majene, Sulawesi Barat.

Hanya setahun, lebaran tahun berikutnya aku bawa ia pulang lagi ke Malang, tapi tidak kubawa lagi balik ke Majene. Padahal di sana dia sudah sempat ikut Kejar Paket B beberapa bulan, aku juga sudah menganggap dia sebagai adik, sudah sayang. Tapi sayang seribu sayang, ada kelakuannya yang mengecewakan, dia suka (kelihatannya lumayan ahli) berbohong dan beberapa kali kedapatan ambil uangku.  Sediih dan ada rasa kehilangan ketika di Majene tidak ada Sinta. Tapi mau gimana lagi, aku merasa tidak sanggup stres mikirin dia.

Takdir di tahun 2007 mempertemukan lagi aku dan Sinta. Saat Farah anak keduaku lahir, dia kembali ikut aku ke Majene. Memang selama dia tidak kerja denganku, kami masih bertukar kabar via sms. Kelihatannya dia masih ingin ikut denganku, jadi saat itu aku ajak lagi dia dengan pertimbangan dia sudah lebih dewasa (meskipun usia 15 tentunya masih termasuk anak-anak ya....) dan harapan bahwa dia bisa lebih bertanggung jawab.

Satu setengah tahun berlalu, tentu tidak mudah, ada banyak peristiwa-peristiwa yang bikin sport jantung meski banyak juga yang baik. Saat pulang ke Malang dia kuajak juga dengan pikiran dia bakal ikut lagi ke Majene, ternyata bapaknya melarang. Saat itu ortuku, mertuaku jadi prihatin memikirkan gimana nanti aku dan anak-anak di Majene, tidak ada yang bantu. Padahal di dalam hati aku mengamini keputusan bapaknya Sinta, sebelum berangkat mudik aku sudah bertekad dalam hati, bahwa tanpa Sinta insyaAllah akan ada Sinta yang lain yang bahkan lebih baik dari Sinta yang ini.

Ya, satu setengah tahun bersama, dalam usia pubernya, ternyata cukup merepotkanku. Tipe anak puber yang susah dikasi tau, susah diatur, membangkang, bikin aku cukup stres. Hal lainnya adalah sikapnya yang selalu mengganggu Syifa, kalo nggak sampai nangis gak puas dia. Rasanya aku punya anak ketiga hahaha, tambah puyeng deh. Alhamdulillah ada mbak Marni yang usianya di atasku, kuanggap kakak dan selalu menengahi ulahnya Sinta. meski akhirnya Sinta dan mbak Marni jadi sering bertengkar juga. Pokoknya saat Sinta gak jadi balik kerja, aku legaaaa.....plus H2C cari penggantinya yang nyatanya alhamdulillah dimudahkan Allah, dapet pengganti yang baiiiiiik banget namanya Ana.

Hihihi alhamdulillah si Ana mau nikah tanggal 3 Okt nanti, seneng dong, tapi pusing dikit. Siapa yang nanti bakal jagain anak-anak ya.......... Pilihan jatuh lagi ke Sinta wakakaka, duh kaya sinetron aja pake season 1 sampai season tak terhingga!! Jadi ceritanya kali ini Sinta ikut lagi sama aku. Setelah ngasi bapaknya (nyogokdotkom) rokok satu slot, uang gaji Sinta dibayarkan di muka selama 1 bulan, dan uang bonus. Bapaknya sok jual mahal, gak mau nemuin aku n suami yang ke rumahnya, cuma nyampein pesan lewat ibunya. Setelah uang dikasih, aku pulang ke rumah. Eh, Sinta datang sambil bilang kalo bapaknya bakal  kasi ijin ikut aku kalau gajinya yang sebulan lagi dibayarkan di muka. Ampuuuuuuuuuuun......

Ya..ya...ya...kenapa aku milih Sinta lagi?? Pertimbangannya, dia sudah kenal dengan anak-anak, dibalik semua ulahnya dia adalah anak yang baik, saat ini umurnya sudah 18 tahunan, insyaAllah lebih tanggung jawab kerja dan kalau mau cari PRT lain yang baru, duuh..butuh penyesuaian lagi kan, belum tentu juga mau diajak ke Majene. Sedangkan Sinta mau aja diajak nostalgia balik ke Sulawesi, dianya suka diajak jalan sih. So.....saat ini Sinta di Jakarta sama aku, alhamdulillah kerjanya oke, membantulah. Meski....tetep aja susah diajak sholat, gak mau katanya, dan tetep dia dengan gaya ceplas-ceplosnya yang kata orang Jawa nglamak atau gak sopan, tapi enjoy aja lah. Aku juga gak sempurna, aku juga banyak salah, banyak cerewet.

Terpenting sama-sama niat baik, mau kerja sama, ada toleransi, ada aturan. Soal sholat di usianya yang udah baligh tentu dah wajib, maka aku tidak akan bosan ngingetin dia, insyaAllah. Alhamdulillah dia baik sama anak-anak, itu yang penting, mereka langsung akrab. Legaaaa saat perjalanan balik ke Majene nanti aku ada teman jadinya. Ready to go back to the jungle hahahay...........
Read More

Minggu, 19 September 2010

Ga Jago *belum kali yee*

Ngelanjutin postinganku sebelumnya tentang pengen jadi on line seller, ternyata ada aja hambatannya ya. Cocoklah sebaiknya adikku aja yang menghandle. Bukannya kalah sebelum berperang sih, cuma akunya pengen belajar fokus, buktinya semua yang kulakukan kemarin-kemarin banyak yang mogok, kurang lancar, kurang sukses gara-gara aku gak bisa konsen ke semuanya.

Untuk jualan on line, barang dagangan mesti difotoin donk, kemarin sempet nyoba jeprat-jepret, ternyata hasil gak memuaskan. Mau perbaiki foto tapi barangnya ada di Malang. hem...mungkin biar adikku aja deh yang benahi. Ceritanya aku yang nanti mau uploadkan gitu di blog atau di FB, tapi ntar dulu deh. Persiapan belum matang, aku gak mau ntar pertama jualan on line tapi citra sudah kurang memuaskan.


Read More

Sabtu, 18 September 2010

On Line Seller

Jualan, dagang, bisnis kecil-kecilan sebenarnya sudah kukenal sejak masih usia SD. Macam-macam yang dijual, dari cincin kancing sampai Sophie Martin dan Capriasi waktu jaman kuliah. Ketika sudah kerja dan ada modal, akhirnya mencoba jualan jilbab dan baju muslimah. Sebenarnya berawal dari hobi setiap wanita yaitu belanja, kata Uje kan wanita diberi nafsu, nafsunya untuk belanja hihihi. Daripada nggak mungkin belanja terus bakal dipelototin suami, mending belanja banyaaaak, macem-macem, harga grosir...trus dijual lagi deeeh. Jadi nafsu belanja dan megang-megang baju dan jilbab cantik sudah terpuaskan hoho.

Selama di Majene aku dah jualan sejak sekitar tahun 2004, barang pertama titipannya ibu mertua yaitu tas pesta yang cantik unik dari manik-manik, buatan tangan Mama sendiri. Lanjut ke baju musliah sampai sekarang, tapi semuanya berjalan secara off line. Barang ngider di antara teman maupun kenalan di Majene, dari mulut ke mulut sampai nitip barang ke toko teman. Sayang aku kurang serius dalam bisnis, entah karena aku yang kurang niat atau karena memang gak dimenej secara profesional ya (atau karena dua-duanya), hasil bisnisku gak keliatan seperti kata suamiku. Uang hasil bisnis gak tau tuh kemana, kepake sendiri kali ya, boros gitu, berasa pegang duit banyak jadinya malah embeeeerrrrrrrrr.......

Beberapa tahun nyemplung di dunia maya terutama ngeblog, jadi kenal dengan belanja on line. Seru ya...tinggal klik-klik, cuci mata sampai jereng, akhirnya mupeng. Transfer sana-sini, sumringah kala paket yang dinanti nyampe tapi manyun kala ngintip saldo tabungan huahaha. Naaa sekarang ini aku jadi kok kepikiran pengen seriusin bisnisku di Majene yang masih berjalan, tapi terseok-seok, tersendat-sendat. Paling gak sudah ada jaringan, ntar kalo dah pindah Jakarta bisa jadi supplier teman-teman Majene.

Kepikiran juga nyoba jualan secara on line, tapi yang menej adikku di Malang. Kebetulan sejak lulus kuliah beberapa tahun lalu, nyoba ngelamar kerja sana-sini, tes PNS di mana-mana kok belum rejeki diterima. Sekarang dia kasi les anak SLTP, tapi gak banyak sih. Waktu luangnya masih bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Jadi aku kasi usul untuk jualan on line aja. Barang yang dijual yang khas Malang lah, biar deket dengan supplier. InsyaAllah mau nyoba jualan daster bordir Malang dan berbagai macam keripik buah juga keripik tempe khas Malang.

Pengen banget minta nasehat serta saran dan masukan dari emak-emak MP yang getol jualan on line, secara ilmuku masih nol, cetek bangets. Mau nanya tapi bingung nanyanya ke siapa ya....kan banyak kontak MP ku yang jualan. Mohon yang mau kasi ilmunya dikit-dikit, banyak juga alhamdulillah bisa PM aku atau komen aja di bawah. Sebelumnya jazakillah, makasih banyak, suwun.....
Read More

Minggu, 05 September 2010

Siap-siap Hunting PRT/ART Lagiiii

Yak, tak terasa saudara-saudara, sebentar lagi mau lebaran, dan tak lama kemudian semua orang akan sibuk ngantor lagi. Ingat cuti yang tinggal beberapa hari lagi, sekitar 20 hari lah, mau tak mau mesti ingat harus ngantor lagi, dan jadi ingat anak-anak. Ya iyalah, pertanyaan 'Siapa yang menjaga mereka kala emaknya ngantor?' kembali berputar terus di kepala.

Kalau kemarin sebelum ke Jakarta ada Ana dan Tina, kini mesti hunting si mbak baru. Pasalnya, si Ana berencana mau nikah setelah lebaran, dan si Tina sibuk membantu kakaknya membuat batu bata. Terakhir kutelp, Tina mengatakan bahwa meskipun ingin, kali ini dia tidak bisa memenuhi tawaranku untuk jaga anak-anak. Sambil putar otak, nyari bantuan ke Mama dan Papa di Malang juga. Mereka sedang berusaha untuk mencarikan PRT/ART, tapi aku tak mau terlalu berharap. Aku mempersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk, kembali ke Majene hanya bertiga dengan anak-anak tanpa suami karena tidak bisa ambil cuti lagi dan tanpa PRT kalau ga dapat. Selanjutnya, di Majene sambil ngantor bawa anak-anak sekalian setelah jemput mereka dari sekolah. Sembari berharap secepatnya dapat PRT.

Sebenarnya ada PRTku sejak jaman Syifa lahir mau ikut aku lagi, sayangnya dia sementara kerja di orang lain. Ga enak juga kalau mau membajak PRT orang ya, lagian bapaknya juga katanya kurang setuju kalau anaknya kuajak lagi ke Majene.

Yah, harap-harap cemaslah, moga2 usaha ortuku ada hasilnya. Berharap juga semoga Tina bisa dilobi lagi, atau ada calon mbak yang didapat Ana, karena sempat tadi pagi aku ditelpon dia, jadi aku minta tolong dicarikan penggantinya.

Apapun itu, semoga dimudahkan Allah swt nantinya, amin.
Read More