Tampilkan postingan dengan label prt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prt. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Januari 2014
[PRT] Silih Berganti
Ternyataaa, sekian lama tidak pernah menjurnal tentang si mbak di rumah, sekarang mau cerita lagi ah. Terakhir kali sharing sudah sekitar setahun yang lalu ketika masih ada mbak N. Singkat cerita akhirnya keluargaku pindah rumah ke rumah kontrakan yang tidak terlalu jauh dari rumah kami yang akhirnya diratakan dengan tanah :( Kurang lebih sebulan tinggal di kontrakan, mbak N pun tidak bekerja lagi padaku. Alasannya ada beberapa, pertama karena rumah kontrakan kami kecil, hanya ada 2 kamar sehingga tidak nyaman bagi mbak N untuk tinggal bersama kami. Kalau pun dia mau pulang pergi Bintaro - Mampang, maka akan membengkak ongkos transportasinya. Imbasnya ya dia minta naik gaji, oalala aku nggak sanggup kalau harus nambah pengeluaran lagi. Sudah mepeet anggarannya. Maka, say good bye to mbak N. Alhamdulillah tidak lama kemudian ada temanku yang membutuhkan tenaga PRT dan mbak N pun kurekomendasikan. Sampai sekarang kelihatannya mbak N cocok bekerja di sana, jarak tempat tinggal mbak N ke rumah temanku pun tidak terlalu jauh, jadi bisa lah diatur.
Setelah mbak N tidak bekerja lagi di rumah, aku pun mencoba mencari tenaga kerja yang mau membantu mencuci beres-beres saja. Jadi mbak A tugasnya memasak dan menjaga Azzam yang saat itu masih sekitar 1 tahun usianya. Alhamdulillah bisa kenal dengan mbak W yang rumahnya tidak jauh dari kontrakanku. Mbak W ini datang jam 6.30 dan pulang jam 10.00, lalu kembali lagi ke rumah jam 13.00 untuk menjaga Azzam ketika mbak A pergi menjemput Syifa dari sekolah. Mbak W awalnya diberi Rp450ribu lalu naik sampai Rp550ribu setelah beberapa bulan. So far mbak W dapat dipercaya dan tidak neko-neko, bisa bekerja sama dengan baik dengan mbak A. Memang ada sih sekali dua kejadian kurang menyenangkan, yah intrik normal lah, tapi alhamdulillah bisa dilewati.
Setelah lebaran Juli 2013 kemarin, wacana naik gaji sepertinya sudah bisa ditebak ya. Di mana-mana terdengar kabar dari beberapa teman tentang si mbaknya yang tidak mau balik lagi atau tetap kembali dengan syarat naik gaji. Sama lah seperti mbak A dan mbak W, keduanya minta naik gaji. Hoho tinggal aku dan misua yang puyeng deh. Setelah kami berkompromi akhirnya diambil keputusan bahwa lebih baik kami membeli mesin cuci otomatis dan tidak menggunakan jasa mbak W lagi. kalau dihitung-hitung secara ekonomi, kami bisa lebih ngirit dengan cara itu. Lebih baik menaikkan gaji mbak A saja, toh kami sudah cocok dengannya. Susah nyari PRT yang seperti dia, kasihan juga anak-anak kalau harus adaptasi dengan orang baru. Sedangkan mbak W kan hanya membantu sedikit saja, pekerjaannya bisa digantikan dengan mesin cuci.
Namun, timbul satu masalah lagi. Siapa yang bisa menjaga Azzam ketika mbak A menjemput Syifa dari sekolah? Haha mumet lagi dong. Pikir punya pikir akhirnya aku berinisiatif untuk meminta bantuan tetangga sebelah rumah. Dia mempunyai seorang anak laki-laki berusia sekitar 3 tahun yang biasanya bermain bersama Azzam. Nah, kupikir dia pasti mau menjaga Azzam hanya sekitar 15 menit ketika mbak A tidak ada. Untuk itu aku memberinya Rp200ribu tiap bulannya. Dan hal ini berjalan hingga hari ini.
Bagaimana dengan mbak A? Single fighter dong dia sekarang? Yup, sekarang hanya mbak A yang bertugas menjaga anak-anak sekaligus memasak dan beberes rumah. Mencuci kan sudah ada mesin cuci otomatis jadi tidak merepotkan, bisa ditinggal untuk mengerjakan hal lainnya. Tidak terasa sudah 6 bulan kami hanya memakai jasa seorang PRT saja. Read More
Selasa, 11 Desember 2012
[PRT] Mbak N
Alhamdulillah, sudah dua bulan ini mbak N (kakak ipar mbak A) bekerja di rumahku (akhirnya). Setelah sempat sebulan lebih mbak A jadi single fighter, sendirian jagain trio krucil plus beberes rumah. Ribet lah pasti, kesian dong. Mana lagi musim hujan, rumah bocor, riweuh, belum lagi harus jemput Syifa sekolah. Jalan keluarnya sih, Syifa dijemput sama pak satpam yang letak posnya pas di sebelah rumah, aman deh.
Mencari PRT itu susah banget sekarang, curhatanku sebelumnya ada di sini. Sempat galau sih ya, cari nggak dapat-dapat, akhirnya kakak ipar mbak A mau bantuin, hanya membantu, berarti untuk sementara waktu saja. Yah, sambil komat-kamit berdoa semoga si mbak N betah dan mau lanjut bekerja untuk seterusnya. Setelah kurang lebih sebulan, ternyata si mbak N ini mempunyai permintan khusus, sebagai syarat untuk terus bekerja di rumah. Mengingat sebelumnya dia bekerja di rumah bu dokter, dapat fasilitas lebih nyaman, yaitu paviliun sendiri plus TV dan VCD player. Maka, setelah merasakan menginap di rumahku, sendirian, tidak ada tontonan, sepi, bosan deh yang dia rasakan. Ini yang kubicarakan di curhatanku sebelumnya.
Maklum, TV ya hanya satu-satunya di rumah. Tiap malam misuaku nongkrong di depan TV biasanya sampai dini hari, entah nonton film-film bajakan atau sekedar nobar bola bersama tukang-tukang yang bekerja di rumah sebelah (kadang sama aku juga sih, kalau lagi ga tepar). Jadi, syarat mbak N nih, secara tidak langsung dia minta diberikan TV juga untuk tontonannya kalau malam di kamarnya. Wah, baru kali ini setelah bertahun-tahun gonta-ganti mbak, dapat permintaan seperti itu. Aku menyanggupi awalnya, demi anak-anak dan mbak A. Oalah, kenyataannya tidak semulus yang diharapkan. Uang yang ada bulan berikutnya ternyata tidak bisa digunakan untuk membeli TV, ada hal yang lebih urgent tentunya.
Aku pasrah, yo wis lah kalau memang mbak N akhirnya ga jadi mau kerja di rumah, mungkin ya memang belum jodoh. Lagipula ternyata misua sudah minta tolong kepada salah satu tukang untuk mencarikan PRT dari daerah asalnya, dan kabarnya sudah ada yang bersedia berangkat ke Jakarta. Berat hati juga sih, secara kerja mbak N bagus dan cukup sabar menghadapi anak-anak, yang pasti dia bertanggung jawab. Sementara orang yang bakalan datang itu, belum tau seperti apa kan ya?
Jreng..jreng...hari terakhir mbak N pun tiba. Saatnya aku ngasih uang gaji yang sebulan dia kerja kemarin. Udah pasrah, say good bye nih ceritanya, pake minta maaf ke mbak N kalau-kalau aku ada salah, anak-anak bikin sebel, dll dkk, udah pasang tampang perpisahan. Heemm...loh kok, mbak N lain-lain mimik mukanya, seperti mau bicara sesuatu tapi ga jadi, yo ditahan, diempet. Tapi aku cuek aja, meski merasa sih. Dan benar adanya, siang-siang ketika aku di kantor, mbak N pun sms.
Panjang kali lebar deh smsnya (aku lupa tepatnya), intinya bahwa mbak N meskipun tidak jadi dibelikan TV, tetap mau bekerja di rumah, bantuin mbak A, jagain anak-anak juga. Katanya kasian adik iparnya itu kalau sendirian, keteteran, kerepotan, kecapaian. Alhamdulillah, lega banget dong aku, bagai menemukan mutiara yang hilang *bukanjudullagu. Langsung deh aku colek misua via gtalk, kasih kabar plus meminta agar dia membatalkan keberangkatan si mbak yang tetangga pak tukang sebelah. Ga mau ah coba-coba, buat anak kok coba-coba *bukaniklan. Lagipula Farah yang cukup keras sifatnya itu sudah luluh sama mbak N, udah deket, kasian kalau dia dan saudara-saudaranya harus adaptasi lagi dengan mbak baru yang belum jelas kan.
Meski kini, mulai mengerti gimana mbak N, kata mbak A juga ya, dia agak rewel dan banyak keluhannya :D Tapi ya biar deh, disayang-sayang saja, yang penting dia sekarang bisa betah di rumah, anak-anak terjamin juga, insyaAllah. Read More
Mencari PRT itu susah banget sekarang, curhatanku sebelumnya ada di sini. Sempat galau sih ya, cari nggak dapat-dapat, akhirnya kakak ipar mbak A mau bantuin, hanya membantu, berarti untuk sementara waktu saja. Yah, sambil komat-kamit berdoa semoga si mbak N betah dan mau lanjut bekerja untuk seterusnya. Setelah kurang lebih sebulan, ternyata si mbak N ini mempunyai permintan khusus, sebagai syarat untuk terus bekerja di rumah. Mengingat sebelumnya dia bekerja di rumah bu dokter, dapat fasilitas lebih nyaman, yaitu paviliun sendiri plus TV dan VCD player. Maka, setelah merasakan menginap di rumahku, sendirian, tidak ada tontonan, sepi, bosan deh yang dia rasakan. Ini yang kubicarakan di curhatanku sebelumnya.
Maklum, TV ya hanya satu-satunya di rumah. Tiap malam misuaku nongkrong di depan TV biasanya sampai dini hari, entah nonton film-film bajakan atau sekedar nobar bola bersama tukang-tukang yang bekerja di rumah sebelah (kadang sama aku juga sih, kalau lagi ga tepar). Jadi, syarat mbak N nih, secara tidak langsung dia minta diberikan TV juga untuk tontonannya kalau malam di kamarnya. Wah, baru kali ini setelah bertahun-tahun gonta-ganti mbak, dapat permintaan seperti itu. Aku menyanggupi awalnya, demi anak-anak dan mbak A. Oalah, kenyataannya tidak semulus yang diharapkan. Uang yang ada bulan berikutnya ternyata tidak bisa digunakan untuk membeli TV, ada hal yang lebih urgent tentunya.
Aku pasrah, yo wis lah kalau memang mbak N akhirnya ga jadi mau kerja di rumah, mungkin ya memang belum jodoh. Lagipula ternyata misua sudah minta tolong kepada salah satu tukang untuk mencarikan PRT dari daerah asalnya, dan kabarnya sudah ada yang bersedia berangkat ke Jakarta. Berat hati juga sih, secara kerja mbak N bagus dan cukup sabar menghadapi anak-anak, yang pasti dia bertanggung jawab. Sementara orang yang bakalan datang itu, belum tau seperti apa kan ya?
Jreng..jreng...hari terakhir mbak N pun tiba. Saatnya aku ngasih uang gaji yang sebulan dia kerja kemarin. Udah pasrah, say good bye nih ceritanya, pake minta maaf ke mbak N kalau-kalau aku ada salah, anak-anak bikin sebel, dll dkk, udah pasang tampang perpisahan. Heemm...loh kok, mbak N lain-lain mimik mukanya, seperti mau bicara sesuatu tapi ga jadi, yo ditahan, diempet. Tapi aku cuek aja, meski merasa sih. Dan benar adanya, siang-siang ketika aku di kantor, mbak N pun sms.
Panjang kali lebar deh smsnya (aku lupa tepatnya), intinya bahwa mbak N meskipun tidak jadi dibelikan TV, tetap mau bekerja di rumah, bantuin mbak A, jagain anak-anak juga. Katanya kasian adik iparnya itu kalau sendirian, keteteran, kerepotan, kecapaian. Alhamdulillah, lega banget dong aku, bagai menemukan mutiara yang hilang *bukanjudullagu. Langsung deh aku colek misua via gtalk, kasih kabar plus meminta agar dia membatalkan keberangkatan si mbak yang tetangga pak tukang sebelah. Ga mau ah coba-coba, buat anak kok coba-coba *bukaniklan. Lagipula Farah yang cukup keras sifatnya itu sudah luluh sama mbak N, udah deket, kasian kalau dia dan saudara-saudaranya harus adaptasi lagi dengan mbak baru yang belum jelas kan.
Meski kini, mulai mengerti gimana mbak N, kata mbak A juga ya, dia agak rewel dan banyak keluhannya :D Tapi ya biar deh, disayang-sayang saja, yang penting dia sekarang bisa betah di rumah, anak-anak terjamin juga, insyaAllah. Read More
Rabu, 24 Oktober 2012
[PRT] Duh, Susahnya
Makin kesini makin susah mencari PRT, apalagi dengan embel-embel kriteria baik, amanah bin jujur, sregep bin rajin, sabar sama anak-anak. Serasa mencari jarum dalam jerami, seolah mencari mutiara di lautan *halah.
Banyak pabrik di mana-mana membuka lapangan pekerjaan. Anak-anak gadis yang putus sekolah pun berbondong-bondong menjadi buruh pabrik, berbekal ijazah SMP-nya mungkin, atau SMA-nya. Enak kerja di pabrik, lebih berkelas daripada menjadi PRT. Lebih gaul pula, banyak teman, haha hihi, kos bareng rame-rame, atau yang rumahnya dekat pabrik, enak bisa ngirit. Dan yang pasti, kerja di pabrik tidak usah capek mikir, kerjanya itu-itu saja. Tidak harus memakai emosi. Tidak capek hati.
Kalau jadi PRT, harus rajin-rajin. Salah sedikit bisa diomeli. Banyak peraturan dari majikan. Beda rumah ya beda aturannya. Apalagi kalau ada anak-anak yang harus dijaga, tambah ribet deh. Harus gini harus gitu, ga boleh gini ga boleh gitu. Capek deh ah (-_-"). Bisa-bisa makan hati, putus cinta deh ga boleh telpon-telponan melulu sama pacar.
Makin kesini makin susah mencari PRT. Read More
Banyak pabrik di mana-mana membuka lapangan pekerjaan. Anak-anak gadis yang putus sekolah pun berbondong-bondong menjadi buruh pabrik, berbekal ijazah SMP-nya mungkin, atau SMA-nya. Enak kerja di pabrik, lebih berkelas daripada menjadi PRT. Lebih gaul pula, banyak teman, haha hihi, kos bareng rame-rame, atau yang rumahnya dekat pabrik, enak bisa ngirit. Dan yang pasti, kerja di pabrik tidak usah capek mikir, kerjanya itu-itu saja. Tidak harus memakai emosi. Tidak capek hati.
Kalau jadi PRT, harus rajin-rajin. Salah sedikit bisa diomeli. Banyak peraturan dari majikan. Beda rumah ya beda aturannya. Apalagi kalau ada anak-anak yang harus dijaga, tambah ribet deh. Harus gini harus gitu, ga boleh gini ga boleh gitu. Capek deh ah (-_-"). Bisa-bisa makan hati, putus cinta deh ga boleh telpon-telponan melulu sama pacar.
Makin kesini makin susah mencari PRT. Read More
Senin, 22 Oktober 2012
[PRT] Manusia, Bukan Robot
Seringkali, kami melupakan satu hal. Bahwa kami memperkerjakan dan bekerja sama dengan manusia, bukan robot. Robot memang bisa disuruh semaunya, kapan saja, tidak capek, tidak protes. Robot juga bisa dimatikan, kalau kita sudah tidak butuh lagi, atau kembali dinyalakan ketika kita membutuhkan tenaganya. Kepada robot kita tidak usah capek-capek memikirkan emosi bin perasaan, bahkan logika. Bahkan, kepada robot kita hanya memberikan sedikit saja, ganti baterai atau diisi ulang tenaganya? Hem, plus servis perbaikan mungkin ya (kapan ya ada robot PRT?).
Seringkali, kami terlalu egois (mungkin). Banyak melupakan bahwa mereka juga sejenis dengan kami, manusia, bukan lelembut yang imut-imut :D. Merasa sudah memberi upah yang lumayan besar, merasa sudah urun toleransi juga pada mereka, merasa sudah menurunkan standart tinggi yang kami patok, kebanyakan merasa tapi lupa merasakan.
Dalam banyak hal, memang ada kasus PRT yang na'udzubillah ulahnya. Ada yang bawa masuk cowok ke kamar, ada yang sampai hamil di luar nikah, ada yang hobi mencuri, ada yang suka cubitin dan marahin anak, dll, dkk. Pokoknya bikin panas adem, bikin kepala pening, bikin galau para WM seperti aku ini. Sudah 7 tahun sejak anak pertama lahir sampai sekarang, keluargaku putus sambung hubungan dengan mbak-mbak yang silih berganti.
Dari sekian banyak, memang ada yang bikin cenat-cenut. Dapet yang suka mencuri pernah, dapet yang suka bohong, dapet yang suka pacaran sampai ber-hape-ria lupa waktu (ini sih biasa yaa), dapet yang berhenti tiba-tiba karena hamil di luar nikah (padahal mbaknya baiiiiiik deh (_ _")), sampe mbak yang biasa merokok. Alhamdulillah, beberapa kali mendapat yang baik dan sayang anak-anak. Ada yang sampe 2 tahun kerja, ada yang 1 tahun, dan berhentinya karena hal lain, bukan karena hubungan dalam negeri antara kami.
Nah, sejak pindah ke Jakarta pertengahan 2010 yang lalu, alhamdulillah bisa dapat mbak A yang akhir tahun 2012 ini berarti sudah 2 tahun bekerja di rumah. Sejak ada Azzam, mbak A tugas utamanya jagain dia. Mbak yang satunya beres-beres rumah dan bantu-bantuin mbak A. Selama 2 tahun ini, partnernya mbak A yang gonta-ganti, mbak A sih alhamdulillah tetep. Sudah cocok dan mbak A sudah memahami tabiat kami sekeluarga.
Kalau flash back lagi, pengorbanan mbak A tuh banyak juga. Mbak A ini sudah berkeluarga dan punya anak cowok berusia 4 tahun, yang sehari-hari lebih banyak bersama dengan bapaknya daripada mbak A. Ya karena mbak A seharian di rumahku jaga anak-anakku. Beberapa kali kepentingannya tersisihkan kala harus bertugas di rumah, pun ketika anaknya sakit. Saat-saat seperti itu aku juga ikut merasakan tidak enaknya perasaan si mbak, tidak bisa berada di samping anaknya sehari penuh. Meski aku membolehkan dia tidak datang, tapi pada akhirnya dia selalu muncul di rumah. Mungkin dia kepikiran juga ya, siapa yang jaga krucil di rumah, padahal aku tetap harus ngantor.
Ketika kami pindah ke Bintaro, mbak A rela menginap dari Minggu malam sampai Kamis malam. Jum'at malam dia pulang ke Mampang, libur dua hari dan balik lagi ke Bintaro pada Minggu malam atau Senin subuh. Aku selalu berdo'a, agar keluarga mbak A sehat selalu, anak-anakku juga sehat, jadi dia maupun aku bisa bekerja dengan hati tenang. Tak terbayangkan kelunya hati, kalau anak si mbak sakit dan harus berpisah berhari-hari seperti itu. Alhamdulillah, keluarga kecil mbak A kini ikut pindah sekitaran Bintaro, tepatnya di Cipulir. Jadi, kini mbak A bisa PP dari rumahnya ke rumahku naik motor.
Mbak A ini tipikalnya berani protes hehe. Baguslah begitu, karena aku sadar seringkali berbuat salah terutama sebagai "bos"nya. Mungkin karena jarak usia kami yang tidak terpaut jauh dan juga kami lebih sering berkomunikasi layaknya teman, sehingga dia lebih bebas dalam menyuarakan kata hatinya. Meski kadang membuat sebal juga, karena kata-kata yang dipilihnya lewat sms terkesan kurang sopan (ga sampe kurang ajar lah). Tapi aku berusaha maklum, mungkin memang hanya itu pilihan kata yang bisa dia berikan ^_^ .
Seperti kejadian beberapa hari yang lalu, terkirim sms-sms bernada protesnya yang panjang kali lebar. Sempat membuat mataku mendelik dan hatiku dongkol -sigh- tapi aku langsung ngerem dan instropeksi diri. Ya, apa yang dia katakan ada benarnya. Ya, aku dan suami ada salahnya. Ya, baiklah kita cari win-win solution. Karena aku tau, kami masih sangat membutuhkan mbak A. Karena aku tau, tidak akan mudah mencari pengganti yang baik, sayang anak, dan bertanggung jawab seperti mbak A. Karena aku tau, lebih baik ngemong, sedikit mengalah, dan tidak membesarkan masalah, bila masalahnya bisa diselesaikan baik-baik. Seni berhubungan dengan manusia, memang selamanya tidak selalu mudah :).
Read More
Seringkali, kami terlalu egois (mungkin). Banyak melupakan bahwa mereka juga sejenis dengan kami, manusia, bukan lelembut yang imut-imut :D. Merasa sudah memberi upah yang lumayan besar, merasa sudah urun toleransi juga pada mereka, merasa sudah menurunkan standart tinggi yang kami patok, kebanyakan merasa tapi lupa merasakan.
Dalam banyak hal, memang ada kasus PRT yang na'udzubillah ulahnya. Ada yang bawa masuk cowok ke kamar, ada yang sampai hamil di luar nikah, ada yang hobi mencuri, ada yang suka cubitin dan marahin anak, dll, dkk. Pokoknya bikin panas adem, bikin kepala pening, bikin galau para WM seperti aku ini. Sudah 7 tahun sejak anak pertama lahir sampai sekarang, keluargaku putus sambung hubungan dengan mbak-mbak yang silih berganti.
Dari sekian banyak, memang ada yang bikin cenat-cenut. Dapet yang suka mencuri pernah, dapet yang suka bohong, dapet yang suka pacaran sampai ber-hape-ria lupa waktu (ini sih biasa yaa), dapet yang berhenti tiba-tiba karena hamil di luar nikah (padahal mbaknya baiiiiiik deh (_ _")), sampe mbak yang biasa merokok. Alhamdulillah, beberapa kali mendapat yang baik dan sayang anak-anak. Ada yang sampe 2 tahun kerja, ada yang 1 tahun, dan berhentinya karena hal lain, bukan karena hubungan dalam negeri antara kami.
Nah, sejak pindah ke Jakarta pertengahan 2010 yang lalu, alhamdulillah bisa dapat mbak A yang akhir tahun 2012 ini berarti sudah 2 tahun bekerja di rumah. Sejak ada Azzam, mbak A tugas utamanya jagain dia. Mbak yang satunya beres-beres rumah dan bantu-bantuin mbak A. Selama 2 tahun ini, partnernya mbak A yang gonta-ganti, mbak A sih alhamdulillah tetep. Sudah cocok dan mbak A sudah memahami tabiat kami sekeluarga.
Kalau flash back lagi, pengorbanan mbak A tuh banyak juga. Mbak A ini sudah berkeluarga dan punya anak cowok berusia 4 tahun, yang sehari-hari lebih banyak bersama dengan bapaknya daripada mbak A. Ya karena mbak A seharian di rumahku jaga anak-anakku. Beberapa kali kepentingannya tersisihkan kala harus bertugas di rumah, pun ketika anaknya sakit. Saat-saat seperti itu aku juga ikut merasakan tidak enaknya perasaan si mbak, tidak bisa berada di samping anaknya sehari penuh. Meski aku membolehkan dia tidak datang, tapi pada akhirnya dia selalu muncul di rumah. Mungkin dia kepikiran juga ya, siapa yang jaga krucil di rumah, padahal aku tetap harus ngantor.
Ketika kami pindah ke Bintaro, mbak A rela menginap dari Minggu malam sampai Kamis malam. Jum'at malam dia pulang ke Mampang, libur dua hari dan balik lagi ke Bintaro pada Minggu malam atau Senin subuh. Aku selalu berdo'a, agar keluarga mbak A sehat selalu, anak-anakku juga sehat, jadi dia maupun aku bisa bekerja dengan hati tenang. Tak terbayangkan kelunya hati, kalau anak si mbak sakit dan harus berpisah berhari-hari seperti itu. Alhamdulillah, keluarga kecil mbak A kini ikut pindah sekitaran Bintaro, tepatnya di Cipulir. Jadi, kini mbak A bisa PP dari rumahnya ke rumahku naik motor.
Mbak A ini tipikalnya berani protes hehe. Baguslah begitu, karena aku sadar seringkali berbuat salah terutama sebagai "bos"nya. Mungkin karena jarak usia kami yang tidak terpaut jauh dan juga kami lebih sering berkomunikasi layaknya teman, sehingga dia lebih bebas dalam menyuarakan kata hatinya. Meski kadang membuat sebal juga, karena kata-kata yang dipilihnya lewat sms terkesan kurang sopan (ga sampe kurang ajar lah). Tapi aku berusaha maklum, mungkin memang hanya itu pilihan kata yang bisa dia berikan ^_^ .
Seperti kejadian beberapa hari yang lalu, terkirim sms-sms bernada protesnya yang panjang kali lebar. Sempat membuat mataku mendelik dan hatiku dongkol -sigh- tapi aku langsung ngerem dan instropeksi diri. Ya, apa yang dia katakan ada benarnya. Ya, aku dan suami ada salahnya. Ya, baiklah kita cari win-win solution. Karena aku tau, kami masih sangat membutuhkan mbak A. Karena aku tau, tidak akan mudah mencari pengganti yang baik, sayang anak, dan bertanggung jawab seperti mbak A. Karena aku tau, lebih baik ngemong, sedikit mengalah, dan tidak membesarkan masalah, bila masalahnya bisa diselesaikan baik-baik. Seni berhubungan dengan manusia, memang selamanya tidak selalu mudah :).
Read More
Senin, 29 November 2010
[PRT] Baru Lagi
Sejak Sinta ingin pulang ke Malang dan aku plus suami juga ingin ganti PRT, mulailah hunting sana-sini. Tiba-tiba ingat kalau di PAUD-nya Farah ada beberapa PRT yang antar anak-anak, mereka berasal dari Sukabumi, Karawang, dan daerah sekitarnya. Jadi aku minta Sinta untuk cari info kalo ada orang yang mau kerja, dan alhamdulillah ada satu dari Sukabumi. Dengan bekal no hp, hati sudah lumayan tenang, sudah dapat calon, tinggal dihubungi saja.
Ternyata no hp itu punya kakaknya Siti, si mbak yg mengantar Raken, teman PAUD-nya Farah. Info dari mbak Iyan, kakaknya Siti, bahwa yang mau kerja masih ABG usia 18 tahun namanya Lina. Si Lina ini tidak punya hp jadi kalau mau tanya-tanya harus lewat mbak Iyan. Hem...baguslah tidak punya hp, awal yang bagus, jadi nantinya kalau kerja tidak akan asyik sendiri smsan atau telpon-telponan dong ya. Katanya si Lina ini sudah beberapa kali kerja, sempat juga di Jakarta Pusat, kerjanya beres-beres rumah dan jagain anak. Oke deh kalau begitu, deal aja, langsung janjian kapan mau diantar ke Jakarta.
Sesuai kesepakatan, mbak Iyan mau antar Lina dengan diganti ongkos busnya Rp. 200.000,-. Kemarin sore datanglah Siti, mbak Iyan, Lina dan dua orang laki-laki yang ternyata masih sepupunya Siti dan Lina. Oooo ternyata satu keluarga besar banyak yang kerja di daerah Mampang, ada yang jadi PRT ada yang kerja di konveksi. Kata mbak Iyan insyaAllah Lina betah, karena kakak-kakaknya di Mampang semua.
Awal lihat Lina, suami langsung bisik-bisik kalau kelihatannya nih anak kok kurang sreg di hati (suamiku biasanya memang suka nilai orang kaya gitu). Ngobrol-ngobrol dikit, sempat cerita kalau Lina kerja terakhir kemarin selama 5 bulan dan minta pulang karena jarang dikasih makan (??!!), dan akhirnya mbak Iyan pamit pulang. Si Lina....duduk diam saja di tempatnya, mungkin masih malu-malu ya, tapi aneh juga. Katanya sudah sering kerja pegang anak, ini kok sama anak-anak cuek saja, tidak SKSD. Malah Syifa yang mendekat trus tanya-tanya siapa namanya, rumahnya di mana, dll. Lina hanya menjawab sedikit-sedikit dengan suara pelan, kurang antusias menghadapi Syifa.
Dari pengalaman sering berinteraksi dengan banyak PRT, kalau memang sudah biasa pegang anak-anak harusnya ramah, terlihat antusias, atau SKSD gitu ya sama anak, ini diam saja. Apa karena malu? Tapi tidak berlanjut sampai hari berikutnya dong ya. Seperti hari ini, saat kutelpon Sinta dan mbak Anik minta pendapatnya, mereka bilang kalau Lina dingin terhadap anak-anak, waduh. Selain itu dia kurang tanggap, misal nih suami mau ngepel lantai semalam, eh dianya tetep aja duduk si lantai tidak segera pindah. Dan sejak kemarin hingga sekarang dia belum mau makan, ditawari terus tapi selalu menolak, lhah piye tho iki?? Ntar kalau sakit gimana?? Hiks...moga-moga karena dia masih newbie yah, masih malu kali, masih canggung, masih adaptasi...semoga...
Suamiku maunya ganti aja deh, ganti aja deh. Ampun pak, susah ini nyarinya. Ya sudah, kasih kesempatan dulu sama Lina. Ntar malam pulang kantor juga saya mau turun tangan, mentraining langsung deh. Kalau sama anak-anak harus ramai, "cerewet", banyak cerita, banyak ajak main, ngemong lah gitu, jangan cuma diam aja lihatin anak-anak doang.
Tentang sisi positifnya selain dia tidak punya hp, Lina alhamdulillah rajin sholat. Baguslah, tidak usah ngejar-ngejar seperti kalau menghadapi Sinta.
Alhamdulillah ada mbak Anik, dia sayang banget sama anak-anak, kerjaan rumah juga beres. Jadi sambil melihat perkembangan Lina, semua tanggung jawab diserahkan ke mbak Anik. Untung juga Sinta belum kupulangkan, sekarang tugasnya mendampingi Lina. Semoga ada perubahan, waktu yang dikasih suamiku cuma seminggu saja. Kalau masih belum beres ya harus dipulangkan. Bismillah.....
Read More
Ternyata no hp itu punya kakaknya Siti, si mbak yg mengantar Raken, teman PAUD-nya Farah. Info dari mbak Iyan, kakaknya Siti, bahwa yang mau kerja masih ABG usia 18 tahun namanya Lina. Si Lina ini tidak punya hp jadi kalau mau tanya-tanya harus lewat mbak Iyan. Hem...baguslah tidak punya hp, awal yang bagus, jadi nantinya kalau kerja tidak akan asyik sendiri smsan atau telpon-telponan dong ya. Katanya si Lina ini sudah beberapa kali kerja, sempat juga di Jakarta Pusat, kerjanya beres-beres rumah dan jagain anak. Oke deh kalau begitu, deal aja, langsung janjian kapan mau diantar ke Jakarta.
Sesuai kesepakatan, mbak Iyan mau antar Lina dengan diganti ongkos busnya Rp. 200.000,-. Kemarin sore datanglah Siti, mbak Iyan, Lina dan dua orang laki-laki yang ternyata masih sepupunya Siti dan Lina. Oooo ternyata satu keluarga besar banyak yang kerja di daerah Mampang, ada yang jadi PRT ada yang kerja di konveksi. Kata mbak Iyan insyaAllah Lina betah, karena kakak-kakaknya di Mampang semua.
Awal lihat Lina, suami langsung bisik-bisik kalau kelihatannya nih anak kok kurang sreg di hati (suamiku biasanya memang suka nilai orang kaya gitu). Ngobrol-ngobrol dikit, sempat cerita kalau Lina kerja terakhir kemarin selama 5 bulan dan minta pulang karena jarang dikasih makan (??!!), dan akhirnya mbak Iyan pamit pulang. Si Lina....duduk diam saja di tempatnya, mungkin masih malu-malu ya, tapi aneh juga. Katanya sudah sering kerja pegang anak, ini kok sama anak-anak cuek saja, tidak SKSD. Malah Syifa yang mendekat trus tanya-tanya siapa namanya, rumahnya di mana, dll. Lina hanya menjawab sedikit-sedikit dengan suara pelan, kurang antusias menghadapi Syifa.
Dari pengalaman sering berinteraksi dengan banyak PRT, kalau memang sudah biasa pegang anak-anak harusnya ramah, terlihat antusias, atau SKSD gitu ya sama anak, ini diam saja. Apa karena malu? Tapi tidak berlanjut sampai hari berikutnya dong ya. Seperti hari ini, saat kutelpon Sinta dan mbak Anik minta pendapatnya, mereka bilang kalau Lina dingin terhadap anak-anak, waduh. Selain itu dia kurang tanggap, misal nih suami mau ngepel lantai semalam, eh dianya tetep aja duduk si lantai tidak segera pindah. Dan sejak kemarin hingga sekarang dia belum mau makan, ditawari terus tapi selalu menolak, lhah piye tho iki?? Ntar kalau sakit gimana?? Hiks...moga-moga karena dia masih newbie yah, masih malu kali, masih canggung, masih adaptasi...semoga...
Suamiku maunya ganti aja deh, ganti aja deh. Ampun pak, susah ini nyarinya. Ya sudah, kasih kesempatan dulu sama Lina. Ntar malam pulang kantor juga saya mau turun tangan, mentraining langsung deh. Kalau sama anak-anak harus ramai, "cerewet", banyak cerita, banyak ajak main, ngemong lah gitu, jangan cuma diam aja lihatin anak-anak doang.
Tentang sisi positifnya selain dia tidak punya hp, Lina alhamdulillah rajin sholat. Baguslah, tidak usah ngejar-ngejar seperti kalau menghadapi Sinta.
Alhamdulillah ada mbak Anik, dia sayang banget sama anak-anak, kerjaan rumah juga beres. Jadi sambil melihat perkembangan Lina, semua tanggung jawab diserahkan ke mbak Anik. Untung juga Sinta belum kupulangkan, sekarang tugasnya mendampingi Lina. Semoga ada perubahan, waktu yang dikasih suamiku cuma seminggu saja. Kalau masih belum beres ya harus dipulangkan. Bismillah.....
Read More
Jumat, 19 November 2010
[PRT] Klepto atau Kepepet??
Seperti yang pernah kuceritakan di sini, ada beberapa kali kejadian si mbak ngambil uang (yang sepengetahuanku lho ya). Kali pertama umurnya masih 13 tahun dan sudah pinter banget bohongnya. Sekarang usianya sudah ABG, 18 tahun lho. Kalau sudah kebiasaan dari kecil dan tidak ada yang mengarahkan atau menasehati terutama orang tuanya tidak peduli, pasti dia akan kebal. Apakah ga ada rasa takut, ga ada rasa bersalah, ga ada rasa malu?? Entahlah.
Awal kerja lagi kemarin pas sesudah lebaran dan gajinya sudah 2 bulan dibayar di muka sesuai syaratnya. Pesan dari orang tuaku sih aku harus hati-hati nantinya kalau naruh uang di rumah karena pasti uangnya dia sudah habis, kalau ga pegang uang bagaimana dia mau beli pulsa, jajan, dsb? Meski aku dan suami sudah memberi dia uang jajan lagi (tidak tiap hari lah), di luar gaji yang sudah dikasih, tetep saja kami kuatir. Udah parno, udah ga percaya sama dia. Kebohongannya selama kami bersama dulu di Majene sudah terlalu banyak dan sering.
Sebulan pertama dia di Jakarta, hampir tiap hari jajan terus. Tiap weekend main PS atau ke warnet. Saya dan suami saling lihat saja, sambil membatin kok uangnya banyak ya padahal gaji 2 bulan di muka sudah dia bagi dengan orang tuanya, sisanya dibelikan hape baru. Didorong rasa curiga, saya melihat isi dompetnya, dan menghitung jumlah uangnya ada berapa. Beberapa hari berlalu, dia masih sering jajan, royal pokoknya. Secara berkala saya cek isi dompetnya, mungkin perbuatan ini tidak baik, tapi kami merasa ini perlu.
Ternyata kecurigaan kami benar. Jumlah uang di dompetnya sering bertambah. Ada uang pecahan baru, padahal seharusnya uangnya sudah habis. Oya, dia tidak punya tempat penyimpanan uang yang lain. Rumah kami mungil, lemari baju untuknya jadi satu dengan baju anak-anak. Jadi tidak mungkin baginya untuk menyimpan uang selain di dompetnya.
Sedih rasanya, kok hobi ngambil uangnya masih jalan saja sih. Apalagi saya dan suami suka menaruh dompet di atas kulkas, di saku celana, pokoknya di tempat yang mudah diakses siapa saja. Lha mau disimpan di mana? Di dalam lemari juga tidak bisa, ribet juga lah. Kelemahanku yang lain, jarang menghitung sisa uang di dompet. Jadi kalau berkurang juga tidak terasa. Pasti dia keenakan ya....
Puncaknya beberapa hari yang lalu, beberapa hari dia tidak pernah jajan, uang pulsa dan kebutuhan pribadinya minta ke aku. Terakhir dicek uangnya cuma 7rb, lalu kukasi uang jajan 10rb berarti total 17 rb ya. Nah, lalu di suatu pagi kucek lagi dompetnya dan.....ada uang baru 50ribu dilipat-lipat kecil!!! Aarrggh, sebel banget deh. Kebetulan memang kemarin habis ambil uang di ATM, dan kali ini kuhitung jumlahnya, memang gak klop. Ya sudah, kuambil aja tuh uang 50 ribu. Kalau memang uang dia pasti dia akan bingung dan menanyakannya, ya kan?? Eh, pas dia cek dompetnya, mukanya kaget, tapi dia diam saja, kliatan mikir gitu. Sudah begitu saja, tidak pernah sekalipun dia menanyakan uangnya yang hilang, berarti bener duitku itu kan.....
Kejutan lagi, besoknya dia sms suami dan bilang kalau dia minta pulang ntar sebelum tahun baru. Ditanya suami, alasannya karena mau pulang aja, pengen kerja di Malang aja. Entahlah, apa mungkin karena merasa ketahuan ngambil uang ya?? Kami sengaja tidak menanyakan perihal uang hilang karena males, ntar juga dia bohong lagi. Ga enak juga kalo suasana hatinya jadi buruk, padahal anak-anak masih dijaga olehnya. Alasan lain menurutku dan suami, dia merasa tidak bebas di rumah. Sebelum ke Jakarta dia kerja di Malang, tiap weekend pasti jalan-jalan bersama pacar dan teman-temannya ke daerah wisata kota Batu, pokoknya senang-senang khas ABG lah. Lha kalau ikut aku kan paling cuma bisa keluar ke warnet aja. Bosan kali dianya.
Ya sudahlah, kalau dia minta pulang ya pulangkan saja. Sekarang sambil nanya-nanya ke siapa saja, hunting PRT lagi gitu. Aku sih sudah bilang sama dia, akan kupulangkan ke Malang kalau sudah dapat penggantinya. Tapi lihat saja nanti, kalau sudah benar-benar tidak betah ya akan segera kupulangkan. Huff...ada-ada saja deh.
Read More
Awal kerja lagi kemarin pas sesudah lebaran dan gajinya sudah 2 bulan dibayar di muka sesuai syaratnya. Pesan dari orang tuaku sih aku harus hati-hati nantinya kalau naruh uang di rumah karena pasti uangnya dia sudah habis, kalau ga pegang uang bagaimana dia mau beli pulsa, jajan, dsb? Meski aku dan suami sudah memberi dia uang jajan lagi (tidak tiap hari lah), di luar gaji yang sudah dikasih, tetep saja kami kuatir. Udah parno, udah ga percaya sama dia. Kebohongannya selama kami bersama dulu di Majene sudah terlalu banyak dan sering.
Sebulan pertama dia di Jakarta, hampir tiap hari jajan terus. Tiap weekend main PS atau ke warnet. Saya dan suami saling lihat saja, sambil membatin kok uangnya banyak ya padahal gaji 2 bulan di muka sudah dia bagi dengan orang tuanya, sisanya dibelikan hape baru. Didorong rasa curiga, saya melihat isi dompetnya, dan menghitung jumlah uangnya ada berapa. Beberapa hari berlalu, dia masih sering jajan, royal pokoknya. Secara berkala saya cek isi dompetnya, mungkin perbuatan ini tidak baik, tapi kami merasa ini perlu.
Ternyata kecurigaan kami benar. Jumlah uang di dompetnya sering bertambah. Ada uang pecahan baru, padahal seharusnya uangnya sudah habis. Oya, dia tidak punya tempat penyimpanan uang yang lain. Rumah kami mungil, lemari baju untuknya jadi satu dengan baju anak-anak. Jadi tidak mungkin baginya untuk menyimpan uang selain di dompetnya.
Sedih rasanya, kok hobi ngambil uangnya masih jalan saja sih. Apalagi saya dan suami suka menaruh dompet di atas kulkas, di saku celana, pokoknya di tempat yang mudah diakses siapa saja. Lha mau disimpan di mana? Di dalam lemari juga tidak bisa, ribet juga lah. Kelemahanku yang lain, jarang menghitung sisa uang di dompet. Jadi kalau berkurang juga tidak terasa. Pasti dia keenakan ya....
Puncaknya beberapa hari yang lalu, beberapa hari dia tidak pernah jajan, uang pulsa dan kebutuhan pribadinya minta ke aku. Terakhir dicek uangnya cuma 7rb, lalu kukasi uang jajan 10rb berarti total 17 rb ya. Nah, lalu di suatu pagi kucek lagi dompetnya dan.....ada uang baru 50ribu dilipat-lipat kecil!!! Aarrggh, sebel banget deh. Kebetulan memang kemarin habis ambil uang di ATM, dan kali ini kuhitung jumlahnya, memang gak klop. Ya sudah, kuambil aja tuh uang 50 ribu. Kalau memang uang dia pasti dia akan bingung dan menanyakannya, ya kan?? Eh, pas dia cek dompetnya, mukanya kaget, tapi dia diam saja, kliatan mikir gitu. Sudah begitu saja, tidak pernah sekalipun dia menanyakan uangnya yang hilang, berarti bener duitku itu kan.....
Kejutan lagi, besoknya dia sms suami dan bilang kalau dia minta pulang ntar sebelum tahun baru. Ditanya suami, alasannya karena mau pulang aja, pengen kerja di Malang aja. Entahlah, apa mungkin karena merasa ketahuan ngambil uang ya?? Kami sengaja tidak menanyakan perihal uang hilang karena males, ntar juga dia bohong lagi. Ga enak juga kalo suasana hatinya jadi buruk, padahal anak-anak masih dijaga olehnya. Alasan lain menurutku dan suami, dia merasa tidak bebas di rumah. Sebelum ke Jakarta dia kerja di Malang, tiap weekend pasti jalan-jalan bersama pacar dan teman-temannya ke daerah wisata kota Batu, pokoknya senang-senang khas ABG lah. Lha kalau ikut aku kan paling cuma bisa keluar ke warnet aja. Bosan kali dianya.
Ya sudahlah, kalau dia minta pulang ya pulangkan saja. Sekarang sambil nanya-nanya ke siapa saja, hunting PRT lagi gitu. Aku sih sudah bilang sama dia, akan kupulangkan ke Malang kalau sudah dapat penggantinya. Tapi lihat saja nanti, kalau sudah benar-benar tidak betah ya akan segera kupulangkan. Huff...ada-ada saja deh.
Rabu, 10 November 2010
[PRT] Tambah Satu..........
Melanjutkan curhatanku sebelumnya. Aku juga punya kesepakatan dengan suami bahwa kita tetap usaha nyari PRT lain, kalau perlu yang sistem pulang pergi, jadi rumah kecil kami nggak tambah sumpek hehe. Usaha lewat mertua tetep sih, tapi kelihatannya susah juga nyari PRT jaman sekarang, apalagi yang jujur dan baik.
Alhasil Syifa yang harusnya sudah masuk sekolah tanggal 2 Nopember kemarin jadi tertunda. Masalahnya karena belum dapat si mbak yang pulang pergi itu. Kalau cuma mengandalkan Sinta seorang diri, setiap hari, untuk menjaga kedua anakku...wah kasian Sintanya juga lah, kecapekan ntar, repot juga. Apalagi waktu sekolah Syifa yang mulai dari jam 1 siang sampai jam 3 sore, itu kan jam tidurnya Farah. Jadi tidak mungkin Sinta antar jemput Syifa sekolah sementara Farahnya ngantuk.
Nanya ke tetangga kanan kiri, sebar info kalau aku butuh PRT pulang pergi, nanya ulang setiap pagi pas belanja sayur, wah H2C pokoknya. Kasian Syifa dah pengen banget masuk sekolah, tiap hari menanyakan kapan dia bisa berangkat ke sekolah. Alhamdulillah kebetulan ada PRT yang kerja tidak jauh dari rumah sedang mencari pekerjaan karena baru saja dia berhenti di tempatnya yang lama. Kerjaan lamanya jaga anak umur 1 tahun dan cuci gosok.
Hari Minggu kemarin dia datang ke rumah diantar salah satu tetanggaku. Si mbak ini namanya Anik, punya anak satu masih 2 tahun usianya. Orang Jawa tapi dah lama di Jakarta. Singkat kata singkat cerita, si mbak mau kerja di rumahku, dengan gaji Rp. 400.000,- per bulan. Kerjanya dari Senin sampai Jum'at jam 7 pagi sampai jam 4 sore dan Sabtu jam 7 sampai jam 10 pagi. Tugasnya setrika, bantu jaga anak, bantu bersih-bersih rumah.
Mulai Senin kemarin si mbak Anik sudah mulai kerja, Syifa jadi bisa sekolah deh. Moga-moga cocok dan jodoh sama mbak Anik ini. Amiiin. Read More
Alhasil Syifa yang harusnya sudah masuk sekolah tanggal 2 Nopember kemarin jadi tertunda. Masalahnya karena belum dapat si mbak yang pulang pergi itu. Kalau cuma mengandalkan Sinta seorang diri, setiap hari, untuk menjaga kedua anakku...wah kasian Sintanya juga lah, kecapekan ntar, repot juga. Apalagi waktu sekolah Syifa yang mulai dari jam 1 siang sampai jam 3 sore, itu kan jam tidurnya Farah. Jadi tidak mungkin Sinta antar jemput Syifa sekolah sementara Farahnya ngantuk.
Nanya ke tetangga kanan kiri, sebar info kalau aku butuh PRT pulang pergi, nanya ulang setiap pagi pas belanja sayur, wah H2C pokoknya. Kasian Syifa dah pengen banget masuk sekolah, tiap hari menanyakan kapan dia bisa berangkat ke sekolah. Alhamdulillah kebetulan ada PRT yang kerja tidak jauh dari rumah sedang mencari pekerjaan karena baru saja dia berhenti di tempatnya yang lama. Kerjaan lamanya jaga anak umur 1 tahun dan cuci gosok.
Hari Minggu kemarin dia datang ke rumah diantar salah satu tetanggaku. Si mbak ini namanya Anik, punya anak satu masih 2 tahun usianya. Orang Jawa tapi dah lama di Jakarta. Singkat kata singkat cerita, si mbak mau kerja di rumahku, dengan gaji Rp. 400.000,- per bulan. Kerjanya dari Senin sampai Jum'at jam 7 pagi sampai jam 4 sore dan Sabtu jam 7 sampai jam 10 pagi. Tugasnya setrika, bantu jaga anak, bantu bersih-bersih rumah.
Mulai Senin kemarin si mbak Anik sudah mulai kerja, Syifa jadi bisa sekolah deh. Moga-moga cocok dan jodoh sama mbak Anik ini. Amiiin. Read More
Selasa, 09 November 2010
[PRT] Curhat Lagi
Sejak jaman dahulu kala, antara Sinta dan mas Hepy memang tidak cocok. Sinta yang dari sononya serampangan, kurang rapi dan kurang teliti versus mas Hepy yang suka banget rumah bersih, super rapi dan teliti apalagi dengan barang-barang printilan (baca:kecil-kecil) di dalam rumah. Tentu saja aku ikut terkena imbasnya, suami sebel, ngomel sampai marah-marah melulu apalagi di jam-jam capek deh a.k.a pulang kantor. Sinta apalagi, jadi keder berhadapan dengan suami sampai suka ngomel-ngomel sendiri.
Minusnya lagi, Sinta anaknya kurang tahu tata krama, apalagi berhadapan dengan orang yang lebih tua. Sejak dari rumahnya memang didikannya begitu. Sekarang dengan umurnya yang sudah ABG, kelakuannya makin menjadi, terutama menurut mas Hepy. Kalau menurutku sih, anak keras begitu ya jangan dikerasi, dinasehati atau diiingatkan saja pelan-pelan. Terbayang nggak suasana rumah yang hot banget setiap harinya?
Aku dan Sinta ternyata setipe, kalau menurut kami rumah sudah beres, sudah dibersihkan, sudah puas, eh pas suami lihat, dia marah-marah karena menurutnya rumah kok berantakan, belum bersih, belum beres. Stress gak sih? Kalau sudah begitu aku dan Sinta gerak cepat deh, tengok kanan kiri, mana ya yang katanya mas Hepy belum bersih??
Kadang hal kecil pun jadi masalah, seperti letak barang printilan tadi, harusnya ditaruh di mana, kalau sudah pakai harus ditaruh di tempatnya, seperti itu. Kadang memang aku dan Sinta nggak sengaja naruh di lain tempat (dah bawaannya gitu, serampangan dari lahir), kadang anak-anak yang memindahkan ke lain tempat. Tau dong gimana anak-anak, apalagi di umur mereka yang masih balita. Rumah mau dibersihkan seperti apa, dalam waktu sekejap bisa berantakan lagi, dan.....suamiku bisa ngomel-ngomel lagi.
Kemarin sewaktu ngajak Sinta kerja lagi, aku memang sudah males. Males merasakan suasana tegang setiap hari gara-gara kebersihan rumah. Tapi karena amat sangat butuh, kami waktu itu mikirnya bakal lumayan lama di Majene dan tentu saja aku dan anak-anak butuh teman, jadilah Sinta kami ajak lagi. Ketika SK pindah sudah keluar, suami merasa tidak usah bertahan menghadapi Sinta, jadi dia minta agar sepulang dari Malang kemarin, Sinta tidak usah diajak balik ke Jakarta!!
Kaget dong, ga setuju deh sama keinginan suami. Pertama, jelas kami masih butuh Sinta untuk jaga anak-anak apalagi kalau aku sudah ngantor nanti. Kedua, mau cari PRT baru dalam waktu singkat?? Ngayal kaliiiii. Ketiga, layaknya uang koin, Sinta juga punya kelebihan, dalam menghadapi anak-anak dia cukup sabar, baik, dan sayang mereka. Belum tentu nanti dapat PRT yang baik kan, takut banget kalau dapat yang sadis n kejam -halah- atau yang nggak sabar menghadapi anak. Duuh miris deh nih hati.
Banyak banget alasan mas Hepy agar Sinta nggak usah diajak balik lagi, dari masalah kebersihan (yang menurutku bukan masalah super penting, yang penting anak-anak tho!!), masalah sikap, masalah kleptonya yang sepertinya masih jalan (terpaksa aku tutup mata, hati-hati aja taruh uang), dan masalah Sinta yang hanya lulusan SD, yang menurut si mas nggak bisa lah dia ngajari anak dengan baik bak babysitter berpengalaman.
Huuuf, akhirnya minta tolong Mamaku lagi untuk dicarikan PRT. Reaksinya?? Mamaku udah capek selama ini sibuk mencarikan PRT, ada yang asal, mau kerja minta dibayar 1 jeti per bulan lah (gedubrak...kaya dari yayasan saja), ada yang mau kerja tapi milih-milih tugasnya nanti, dll. Pokoknya Mamaku sudah capek, akhirnya aku minta tolong ke ibu mertua yang selama ini belum pernah pusing nyarikan PRT.
Komentar adikku, jangankan mau mencari PRT yang pinter, rajin, rapi, mau cari yang nggak pinter dan serampangan aja susah banget kok. Belum lagi tidak ada kepastian dia bakal baik atau tidak terhadap anak-anak. Nilai plus Sinta di mataku, dia baik sama anak-anak, hal selain itu bisa dikompromikan, bisa disiasati. Aku harus turun tangan mengawasi dia langsung, menasehatinya lembut dan pelan-pelan untuk kebaikan semuanya. Ini janji yang kuajukan pada suami agar dia mau menerima Sinta lagi di rumah. Dengan berbekal minta bantuan kepada ibu mertua juga sih, agar beliau mau memberi saran pada si mas yang keras orangnya.
Alhamdulillah, si mas mau menerima saran dan bujukanku. Sinta kubawa balik ke Jakarta. Selama ini aku juga yang salah, mentang-mentang sudah ada PRT malah keenakan. Tidak mengawasi dan membimbingnya, kulepas begitu saja. Sekarang aku sudah balik ngantor, tugas-tugas harian Sinta selalu kupantau, kuevaluasi setiap hari. Itu pun masih kecolongan, ada saja yang masih membuat si mas ngomel-ngomel saat pulang kantor, bad mood kali ya....sabaaar....!
Read More
Minusnya lagi, Sinta anaknya kurang tahu tata krama, apalagi berhadapan dengan orang yang lebih tua. Sejak dari rumahnya memang didikannya begitu. Sekarang dengan umurnya yang sudah ABG, kelakuannya makin menjadi, terutama menurut mas Hepy. Kalau menurutku sih, anak keras begitu ya jangan dikerasi, dinasehati atau diiingatkan saja pelan-pelan. Terbayang nggak suasana rumah yang hot banget setiap harinya?
Aku dan Sinta ternyata setipe, kalau menurut kami rumah sudah beres, sudah dibersihkan, sudah puas, eh pas suami lihat, dia marah-marah karena menurutnya rumah kok berantakan, belum bersih, belum beres. Stress gak sih? Kalau sudah begitu aku dan Sinta gerak cepat deh, tengok kanan kiri, mana ya yang katanya mas Hepy belum bersih??
Kadang hal kecil pun jadi masalah, seperti letak barang printilan tadi, harusnya ditaruh di mana, kalau sudah pakai harus ditaruh di tempatnya, seperti itu. Kadang memang aku dan Sinta nggak sengaja naruh di lain tempat (dah bawaannya gitu, serampangan dari lahir), kadang anak-anak yang memindahkan ke lain tempat. Tau dong gimana anak-anak, apalagi di umur mereka yang masih balita. Rumah mau dibersihkan seperti apa, dalam waktu sekejap bisa berantakan lagi, dan.....suamiku bisa ngomel-ngomel lagi.
Kemarin sewaktu ngajak Sinta kerja lagi, aku memang sudah males. Males merasakan suasana tegang setiap hari gara-gara kebersihan rumah. Tapi karena amat sangat butuh, kami waktu itu mikirnya bakal lumayan lama di Majene dan tentu saja aku dan anak-anak butuh teman, jadilah Sinta kami ajak lagi. Ketika SK pindah sudah keluar, suami merasa tidak usah bertahan menghadapi Sinta, jadi dia minta agar sepulang dari Malang kemarin, Sinta tidak usah diajak balik ke Jakarta!!
Kaget dong, ga setuju deh sama keinginan suami. Pertama, jelas kami masih butuh Sinta untuk jaga anak-anak apalagi kalau aku sudah ngantor nanti. Kedua, mau cari PRT baru dalam waktu singkat?? Ngayal kaliiiii. Ketiga, layaknya uang koin, Sinta juga punya kelebihan, dalam menghadapi anak-anak dia cukup sabar, baik, dan sayang mereka. Belum tentu nanti dapat PRT yang baik kan, takut banget kalau dapat yang sadis n kejam -halah- atau yang nggak sabar menghadapi anak. Duuh miris deh nih hati.
Banyak banget alasan mas Hepy agar Sinta nggak usah diajak balik lagi, dari masalah kebersihan (yang menurutku bukan masalah super penting, yang penting anak-anak tho!!), masalah sikap, masalah kleptonya yang sepertinya masih jalan (terpaksa aku tutup mata, hati-hati aja taruh uang), dan masalah Sinta yang hanya lulusan SD, yang menurut si mas nggak bisa lah dia ngajari anak dengan baik bak babysitter berpengalaman.
Huuuf, akhirnya minta tolong Mamaku lagi untuk dicarikan PRT. Reaksinya?? Mamaku udah capek selama ini sibuk mencarikan PRT, ada yang asal, mau kerja minta dibayar 1 jeti per bulan lah (gedubrak...kaya dari yayasan saja), ada yang mau kerja tapi milih-milih tugasnya nanti, dll. Pokoknya Mamaku sudah capek, akhirnya aku minta tolong ke ibu mertua yang selama ini belum pernah pusing nyarikan PRT.
Komentar adikku, jangankan mau mencari PRT yang pinter, rajin, rapi, mau cari yang nggak pinter dan serampangan aja susah banget kok. Belum lagi tidak ada kepastian dia bakal baik atau tidak terhadap anak-anak. Nilai plus Sinta di mataku, dia baik sama anak-anak, hal selain itu bisa dikompromikan, bisa disiasati. Aku harus turun tangan mengawasi dia langsung, menasehatinya lembut dan pelan-pelan untuk kebaikan semuanya. Ini janji yang kuajukan pada suami agar dia mau menerima Sinta lagi di rumah. Dengan berbekal minta bantuan kepada ibu mertua juga sih, agar beliau mau memberi saran pada si mas yang keras orangnya.
Alhamdulillah, si mas mau menerima saran dan bujukanku. Sinta kubawa balik ke Jakarta. Selama ini aku juga yang salah, mentang-mentang sudah ada PRT malah keenakan. Tidak mengawasi dan membimbingnya, kulepas begitu saja. Sekarang aku sudah balik ngantor, tugas-tugas harian Sinta selalu kupantau, kuevaluasi setiap hari. Itu pun masih kecolongan, ada saja yang masih membuat si mas ngomel-ngomel saat pulang kantor, bad mood kali ya....sabaaar....!
Read More
Minggu, 26 September 2010
Susah Makan, Gak Mau Makan, atau Gak Biasa Makan?
Mau cerita (lagi-lagi) tentang PRTku. Selama punya anak, sudah beberapa kali gonta-ganti PRT. Kurleb ada sekitar 11 orang yang pernah kerja di rumah. Rekor terlama dipegang Sinta yang meski sering putus nyambung tapi kalo ditotal sudah dapet 2,5 tahunan lah. Disusul mbak Marni yang 2 tahun kerja, itupun mungkin bisa lebih kalo saja dia nggak MBA *hiks....jadi inget pas aku mewek2 shock dulu*. Rekor kerja terpendek ada 2 orang, namanya Ifa dan siapaa gitu aku sudah lupa, cuma seminggu pas. Gara-gara kurang bisa membujuk anak-anak tuk makan, kurang semangat merayunya gitu hehe.
Dari semua PRT itu, ada satu kesamaan yang ada pada 6 orang di antara mereka, yaitu kalau udah waktunya makan nih, disuruh makan tuh susaaaaaaaaaaaah banget. Kalau yang 5 lainnya lumayan gampanglah, waktu makan langsung ambil piring dan makan. Oya, aku nggak pernah membeda-bedakan menu makanan untuk PRT. Mereka makan dengan menu yang sama dengan apa yang aku makan.
Sinta. mbak Marni, Ucang, Ifa, Tina, dan Ana, mereka berenam ini yang jadwal makannya terserah perut. Kalau sehari belum terasa lapar, yaaaa gak makan deh seharian. Ampuuuun, gimana aku nggak khawatir coba. Mereka kan kerja, butuh tenaga, bakalan merasa capek, jelas-jelas butuh energi!! Kalau nggak makan, bisa sakit kan.......... Tapi tetep aja mereka nggak langsung makan kalo sudah tiba waktunya makan. Aku jelas geregetan, mungkin karena beda backgroundnya yah, aku kan kalau makan harus tepat waktu, 3x sehari pagi siang malam. Sedangkan mereka dari sononya bisa sehari cuma makan 1x atau paling banyak 2x sehari.
Analisa pertama kupikir mereka susah makan, entah karena belum napsu, belum lapar, atau....menu yang mereka kurang suka?? Padahal menu makanan di rumah biasa aja, asal ada sayur dan lauk ikan atau ayam. Kupikir bukan ini alasannya. kalau nggak mau makan...ah nggak juga, karena dalam sehari toh mereka pasti makan kok *ya iyalaah masa ya iya duuoong*. Jadi, kemungkinan besar alasannya adalah mereka nggak biasa makan. Mungkin karena secara ekonomi mereka kurang mampu, jadi sudah biasa dalam sehari makan cuma 1x sehari, kalau lagi berlebih bisa makan 2x sehari. Bahkan Sinta pernah cerita pernah nggak makan dalam sehari, jadi dia dan keluarganya seharian kerjanya cuma tidur untuk menghilangkan rasa lapar. Ya Allah....aku yang telat makan saja bisa gemetar nahan lapar, mereka malah gak biasa makan teratur. Aku patut sangat-sangat bersyukur atas rejekiku.
Tidak mungkin tidak, pasti kebiasaaan mereka jarang makan akan berimbas pada kesehatan mereka. Sebenarnya itu juga yang kukhawatirkan, kalau mereka sakit siapa yang bantu aku jagain anak-anak ketika aku ngantor? Riwayat kesehatan mereka yang kutau, Sinta kalau sakit bisa 2 hari tepar, itupun tetep nggak mau makan. Kaya kejadian kemarin ini, aku dan suami sampai maksa dia makan walau cuma sedikit. Alhamdulillah hari ini dia sudah baikan, sudah bergurau dengan anak-anak dan sudah beraktifitas seperti biasa. Mbak Marni, dia kuat fisiknya meski jarang makan tapi selama 2 tahun kerja kok rasanya nggak pernah ijin sakit ya, subhanallah. Kalo Tina dan Ana, badan mereka tuh berisi, hampir gemuk untuk ukuran mereka. Mungkin karena tulangnya gede ya kalau orang bilang. Kadang bergurau dengan mereka, nggak makan aja gemuk apalagi kalau makan, bisa obesitas kali hehe. Tapi ya gitu, Tina lumayan sering sakit begitu juga Ana, sampai muntahnya berdarah. Ya iyalah, gak biasa makan, tuh lambung jadi luka kaliii. Sedih aku dengernya, migrainnya juga sering kambuh sampai nangis-nangis dia. Rata-rata penyakit yang mereka punya ya maag itu deh.
Alhamdulillah dengan begini ada sisi baiknya, aku harus lebih mensyukuri apa aja yang tersedia di meja, apa aja yang bisa kumakan hari ini. Harus lebih bersyukur dengan uang hasil kerja yang kuterima, nggak capek-capek pake beberes rumah, berkutat di rumah seharian, ngerjain kerjaan domestik yang tiada henti kaya mereka. Ah, meski aku juga ingin jadi FTM tapi tetep nggak pengen sendiri di rumah haha dasar malas. Aku mah jadi FTM biar bisa main ma anak-anak dan bisa on line hahay, kalo kerjaan rumah mending PRT aja kaliii. Kecuali masak dan urus suami tetep aku yang handle hoho.
Read More
Dari semua PRT itu, ada satu kesamaan yang ada pada 6 orang di antara mereka, yaitu kalau udah waktunya makan nih, disuruh makan tuh susaaaaaaaaaaaah banget. Kalau yang 5 lainnya lumayan gampanglah, waktu makan langsung ambil piring dan makan. Oya, aku nggak pernah membeda-bedakan menu makanan untuk PRT. Mereka makan dengan menu yang sama dengan apa yang aku makan.
Sinta. mbak Marni, Ucang, Ifa, Tina, dan Ana, mereka berenam ini yang jadwal makannya terserah perut. Kalau sehari belum terasa lapar, yaaaa gak makan deh seharian. Ampuuuun, gimana aku nggak khawatir coba. Mereka kan kerja, butuh tenaga, bakalan merasa capek, jelas-jelas butuh energi!! Kalau nggak makan, bisa sakit kan.......... Tapi tetep aja mereka nggak langsung makan kalo sudah tiba waktunya makan. Aku jelas geregetan, mungkin karena beda backgroundnya yah, aku kan kalau makan harus tepat waktu, 3x sehari pagi siang malam. Sedangkan mereka dari sononya bisa sehari cuma makan 1x atau paling banyak 2x sehari.
Analisa pertama kupikir mereka susah makan, entah karena belum napsu, belum lapar, atau....menu yang mereka kurang suka?? Padahal menu makanan di rumah biasa aja, asal ada sayur dan lauk ikan atau ayam. Kupikir bukan ini alasannya. kalau nggak mau makan...ah nggak juga, karena dalam sehari toh mereka pasti makan kok *ya iyalaah masa ya iya duuoong*. Jadi, kemungkinan besar alasannya adalah mereka nggak biasa makan. Mungkin karena secara ekonomi mereka kurang mampu, jadi sudah biasa dalam sehari makan cuma 1x sehari, kalau lagi berlebih bisa makan 2x sehari. Bahkan Sinta pernah cerita pernah nggak makan dalam sehari, jadi dia dan keluarganya seharian kerjanya cuma tidur untuk menghilangkan rasa lapar. Ya Allah....aku yang telat makan saja bisa gemetar nahan lapar, mereka malah gak biasa makan teratur. Aku patut sangat-sangat bersyukur atas rejekiku.
Tidak mungkin tidak, pasti kebiasaaan mereka jarang makan akan berimbas pada kesehatan mereka. Sebenarnya itu juga yang kukhawatirkan, kalau mereka sakit siapa yang bantu aku jagain anak-anak ketika aku ngantor? Riwayat kesehatan mereka yang kutau, Sinta kalau sakit bisa 2 hari tepar, itupun tetep nggak mau makan. Kaya kejadian kemarin ini, aku dan suami sampai maksa dia makan walau cuma sedikit. Alhamdulillah hari ini dia sudah baikan, sudah bergurau dengan anak-anak dan sudah beraktifitas seperti biasa. Mbak Marni, dia kuat fisiknya meski jarang makan tapi selama 2 tahun kerja kok rasanya nggak pernah ijin sakit ya, subhanallah. Kalo Tina dan Ana, badan mereka tuh berisi, hampir gemuk untuk ukuran mereka. Mungkin karena tulangnya gede ya kalau orang bilang. Kadang bergurau dengan mereka, nggak makan aja gemuk apalagi kalau makan, bisa obesitas kali hehe. Tapi ya gitu, Tina lumayan sering sakit begitu juga Ana, sampai muntahnya berdarah. Ya iyalah, gak biasa makan, tuh lambung jadi luka kaliii. Sedih aku dengernya, migrainnya juga sering kambuh sampai nangis-nangis dia. Rata-rata penyakit yang mereka punya ya maag itu deh.
Alhamdulillah dengan begini ada sisi baiknya, aku harus lebih mensyukuri apa aja yang tersedia di meja, apa aja yang bisa kumakan hari ini. Harus lebih bersyukur dengan uang hasil kerja yang kuterima, nggak capek-capek pake beberes rumah, berkutat di rumah seharian, ngerjain kerjaan domestik yang tiada henti kaya mereka. Ah, meski aku juga ingin jadi FTM tapi tetep nggak pengen sendiri di rumah haha dasar malas. Aku mah jadi FTM biar bisa main ma anak-anak dan bisa on line hahay, kalo kerjaan rumah mending PRT aja kaliii. Kecuali masak dan urus suami tetep aku yang handle hoho.
Read More
Langganan:
Postingan (Atom)
