Cerita terakhir tentang pindahan rumah kutulis di bulan Juli 2012 yang lalu. Membacanya membuka sebuah luka lama. Bagaimana tidak, 6 bulan setelah pindahan rumah ke rumah baru milik sendiri, ternyata kami harus balik ngontrak lagi. Rumahku yang itu terpaksa harus kami tinggalkan karena konstruksinya dianggap membahayakan. Sayang, tidak ada file gambar rumah itu sebagai kenang-kenangan. Dulu ketika posting di Multiply, kukira postingan itu bisa menjadi jejak rekam. Sekali lagi sayang, ketika pindahan ke Blogspot, smua file picture tak dapat ikut diselamatkan. Entah ya kalau misua, apa dia menyimpan file foto rumah yang dulu, aku juga tak pernah menanyakannya.
Jadi, cerita berawal ketika kami dengan uang pinjaman bank akan mendirikan rumah. Biasalah, nasib PNS kalau ga ngutang ya ga bakal kuat beli rumah. Saat itu kami mengenal seorang tetangga di lahan calon rumah kami. Dia beserta keluarganya adalah penghuni pertama di lahan kaplingan itu. Menurut ceritanya yang enak didengar dan meyakinkan, dia sudah ahli menjadi kontraktor dan ingin membantu kami untuk bisa segera mempunyai rumah. Dia yang pegang proyek rumah kami, dengan harga miring sebagai bantuan, begitu katanya. Entah bagaimana, saking percayanya suamiku ke dia, kami tidak membuat perjanjian hitam di atas putih. Heloo jaman gini gitu lhooo, tapi ya aku dan suami benar-benar ga ada pikiran negatif ke dia. Sama-sama perantauan, sama-sama wong Jowo, dan dia bilang pengen bantu agar dia bisa segera punya tetangga. Memang sih, di sana sepi deh kalau malam. Tanah seluas itu baru dia yang menempati, rumah dia juga dia sendiri yang bangun dan bagus hasilnya.
Rumah kami jadinya gede banget lho, di atas tanah seluas 150 m2 misua hanya menyisakan sedikit untuk halaman. Kebayang dong luasnya, capeknya kalau nyapu dan ngepel haha. Sekarang dipikir-pikir, mana ada rumah gedong kaya gitu bisa dibangun dengan dana minimalis? Ga mungkin kan, maka jadilah rumahku itu retak di mana-mana, lantai duanya doyong kalau tertiup angin, ngeri kaaaan, horor mak. Penampilan luar rumah pun sudah berantakan, mencong sana-sini, bentuknya ga rapi, mbuh gimana itu tukang-tukang ngerjainnya, ga jelas blas. Dia si tetangga itu bukannya bertanggung jawab, malah sibuk menjawab dengan cara menyalahkan para tukang. Lha kan tukang-tukang itu kerjanya sama dia, lha dia mandornya tho. Intinya dia sama sekali ga ada rasa bersalah atau menyesal, ga ada kata maaf terucap, aseli bikin esmosi aja pokoknya. Akhirnya setelah kami pindah ngontrak lagi, misua memutuskan untuk merubuhkan rumah tersebut. Yap, rata dengan tanah.
Nyesek? Ya iyalaaaaah. Cicilan kami masih bertahun-tahun lamanya, hutang ke selain bank juga menumpuk, sutris lah pasti. Saling menguatkan sajalah aku dan misua. Sambil terus menyemangati diri bahwa ini musibah, cobaan, ujian hidup yang harus kami lewati. Bahwa semua ini adalah bagian dari takdir, bahwa semua ini adalah salah satu puzzle hidup kami yang harus kami susun bersama. Pengalaman memang mahal harganya sodara-sodara, dalam artian yang sebenarnya hehehe. Termasuk tentang masalah hati, memaafkan dia yang sudah berlaku jahat pada kita itu ternyata tak mudah juga.
Setelah jatuh bangun, alhamdulillah kami berhasil memiliki rumah lagi kini. Hutang masih ada lah pasti, semoga Allah lapangkan rizki agar kami bisa segera melunasinya, aamiin. Daaaan, tanggal 25 Agustus kemarin kami resmi pindahan rumah (lagi). Ada rasa lega juga melihat kami sekeluarga sudah bisa menempati rumah yang kami perjuangkan, meski ketar-ketir juga kalau ingat cicilan utang hoho. Foto-foto rumah ntar mau diposting juga ah, untuk kenang-kenangan :)
Read More
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 September 2014
Kamis, 12 Juli 2012
Pindah Rumah
Seperti yang kuceritakan sebelumnya, keluarga besarku datang jauh-jauh dari Malang naik bis sampai pantatnya tepos, badan kaku pegel, perut lapar, plus kehausan. Perjuangan bangeeett, karena perjalanan via bis resikonya ya macet, ditambah lagi jadwal istirahat untuk mampir makan yang molor. Biasanya jam 2 an siang sudah sampai Mampang, kemarin itu rombongan Mama, Ratih, Dimas, dan Yoga sampainya jam 7 malam, tentu saja dalam kondisi kelaparan dan kecapekan. Beberapa malam sebelumnya suami sudah bercapek ria pergi ke Bintaro dan menginap di sana sepulang kantor. Tetap saja, rumah kontrakan mungilku penuh sesak
dan makin panas saja hawa terasa. Sudah tidak nyaman lagi dan ingin segera pindah ke rumah baru yang jelas lebih lapang, meski belum jadi.
Setiap malam suami selalu menelepon, menceritakan perkembangan terbaru kondisi rumah yang prosesnya ternyata masih jauh dari selesai. Ditambah lagi ada konflik antara suami dan calon tetangga yang (katanya) kontraktor, dialah yang membangun rumah kami dengan harga murah, karena tetangga begitu klaimnya. Entah bagaimana, pengerjaan fnishing malah kacau balau. Banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para tukang. Dengar-dengar sih, si bapak itu ternyata kurang koordinasi terhadap anak buahnya, atau lebih tepat disebut kurang pengalaman? Entahlah.
Aku agak mendesak suami, agar sesegera mungkin bisa pindah. Sudah kurang nyaman, oleh pemilih kontrakan ditanyai terus-menerus, "Kapan jadi pindah?", "Rumahnya sudah jadi kan?", "Kapan kosong rumahnya?". Meski sudah menambah masa kontrak selama sebulan, tapi batas akhirnya memang tanggal 30 Juni, sesuai perkataanku pada mereka, tanggal segitu kami sudah pindah. Akhirnya, Minggu malam tanggal 1 Juli, kami nekad bongkar muatan, pindah ke Bintaro. Hanya sempat pamitan ke beberapa tetangga saja, rasanya kurang sreg, pengennya sih pamitan ke banyak orang
.
Alhamdulillah, barang-barang yang ada cukup diangkut sekali jalan oleh sebuah pick up saja. Lemari-lemari dibongkar jadi lembaran kayu, jadi irit tempat. Lagipula beberapa hari sebelumnya sudah dicicil angkut barang baik via taksi pas aku dolan kesana ataupun dengan bantuan mobil teman yang rumahnya di Bintaro. Bismillah malam itu kami pindahan, lega campur deg-degan.
Sesampainya di sana, tetap saja kaget. Lubang besar menganga di depan rumah! Olala, itu adalah galian septictank. Duh Ya Rabb, berarti kamar mandi belum beres. Orang tuaku terutama mulai kasak-kusuk. Bisa-bisanya membangun rumah tanpa mendahulukan penyelesaian kamar mandi. Meski 2 kamar di lantai satu sudah bisa ditempati, tapi tanpa kamar mandi?? Hiks
akhinya MCK di rumah sebelah, yang kebetulan sudah jadi tapi belum ditempati. Rumah itu adalah milik teman suami, jadi oleh mereka kami dipersilahkan mempergunakan kamar mandi yang ada, bahkan diminta untuk menempati rumahnya sementara. Tapi tentu saja kutolak, biarlah rumah belum jadi, masih berantakan, asal bisa ditempati tidur.
Alhamdulillah, setelah seminggu tinggal di sana, seminggu MCK tidak nyaman terutama ketika anak-anak terbangun di malam hari dan minta diantar pipis atau pup, akhirnya kamar mandi sudah bisa digunakan. Meski belum ada pintunya, jadi hanya ditutup dengan kain gorden saja
, untung kainnya tebal jadi tidak terlihat siluet bayangan. Bagaimana keadaan rumahku sekarang? Masih belum banyak perubahan, maklum duit sudah habis. Tidak sesuai perencanaan di atas kertas memang, yang dulu dihitung duitnya cukup, kenyataannya malah kurang banget. Sepertinya karena suami dan kontraktornya yang kurang perhitungan serius, karena harga tetangga tadi itu lho, mungkin jadinya kebablasan dari rencana awal. Wallahu'alam. Aku memang tidak banyak tahu proses pembangunan rumahnya, semua suami yang handle, jadi ya nerimo saja wis.
Hal terpenting, kami sudah punya rumah sendiri, meski hasil ngutang
. Harus makin pinter atur duit biar irit nih. Teman-teman kantor yang minta makan-makan selametan, ma'af ya kapan-kapan ajaaa, secara rumah juga belum jadi dan duit habis pula hoho. Ini dia penampakan rumahnya.
Papa bergaya di depan rumah, beliau pulang ke Malang paling akhir, sendirian lagi. Saat suami dinas luar kota, beliau jadi mandor tukang dan bantu jagain cucu hehe.
Naaa...gundukan tanah itu sampe sekarang masih ada lho. Hasil galian septictank yang belum dibersihkan. Akhirnya suami memutuskan untuk menghentikan hubungan kerja dengan tetanggaku itu. Duh, jadi ga enak, moga hubungan tetanggaan tetap baik.
Sekarang hanya 2-3 tukang yang bekerja dibawah komando suami langsung, bahkan dia juga ikut terjun kerja. Berat katanya, capek semua badan
.
Read More
Setiap malam suami selalu menelepon, menceritakan perkembangan terbaru kondisi rumah yang prosesnya ternyata masih jauh dari selesai. Ditambah lagi ada konflik antara suami dan calon tetangga yang (katanya) kontraktor, dialah yang membangun rumah kami dengan harga murah, karena tetangga begitu klaimnya. Entah bagaimana, pengerjaan fnishing malah kacau balau. Banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para tukang. Dengar-dengar sih, si bapak itu ternyata kurang koordinasi terhadap anak buahnya, atau lebih tepat disebut kurang pengalaman? Entahlah.
Aku agak mendesak suami, agar sesegera mungkin bisa pindah. Sudah kurang nyaman, oleh pemilih kontrakan ditanyai terus-menerus, "Kapan jadi pindah?", "Rumahnya sudah jadi kan?", "Kapan kosong rumahnya?". Meski sudah menambah masa kontrak selama sebulan, tapi batas akhirnya memang tanggal 30 Juni, sesuai perkataanku pada mereka, tanggal segitu kami sudah pindah. Akhirnya, Minggu malam tanggal 1 Juli, kami nekad bongkar muatan, pindah ke Bintaro. Hanya sempat pamitan ke beberapa tetangga saja, rasanya kurang sreg, pengennya sih pamitan ke banyak orang
Alhamdulillah, barang-barang yang ada cukup diangkut sekali jalan oleh sebuah pick up saja. Lemari-lemari dibongkar jadi lembaran kayu, jadi irit tempat. Lagipula beberapa hari sebelumnya sudah dicicil angkut barang baik via taksi pas aku dolan kesana ataupun dengan bantuan mobil teman yang rumahnya di Bintaro. Bismillah malam itu kami pindahan, lega campur deg-degan.
Sesampainya di sana, tetap saja kaget. Lubang besar menganga di depan rumah! Olala, itu adalah galian septictank. Duh Ya Rabb, berarti kamar mandi belum beres. Orang tuaku terutama mulai kasak-kusuk. Bisa-bisanya membangun rumah tanpa mendahulukan penyelesaian kamar mandi. Meski 2 kamar di lantai satu sudah bisa ditempati, tapi tanpa kamar mandi?? Hiks
Alhamdulillah, setelah seminggu tinggal di sana, seminggu MCK tidak nyaman terutama ketika anak-anak terbangun di malam hari dan minta diantar pipis atau pup, akhirnya kamar mandi sudah bisa digunakan. Meski belum ada pintunya, jadi hanya ditutup dengan kain gorden saja
Hal terpenting, kami sudah punya rumah sendiri, meski hasil ngutang
Papa bergaya di depan rumah, beliau pulang ke Malang paling akhir, sendirian lagi. Saat suami dinas luar kota, beliau jadi mandor tukang dan bantu jagain cucu hehe.Sekarang hanya 2-3 tukang yang bekerja dibawah komando suami langsung, bahkan dia juga ikut terjun kerja. Berat katanya, capek semua badan
Kamis, 28 Juni 2012
Kapan Pindahan?
Pertanyaan yang beberapa kali terlontar dari teman-teman. Rencana awalnya tanggal 23 Juni yang lalu, tapi apa mau dikata, rumah masih jauh dari selesai, belum bisa dihuni. InsyaAllah tanggal 30 besok kalau rumah sudah beres untuk lantai satunya, kami sekeluarga mau boyongan. Meski masih harap-harap cemas lah, H2C dari hari ke hari. Semoga tidak meleset lagi. Kalau pak kontraktornya sih bilang tanggal 30 sudah siap untuk lantai satunya. Lantai dua belum diplester, masih batu bata gitu, maklum kurang dananya
. Memang ya, membangun rumah kalau tidak siap banyak duit ya jadinya mumet deh, sudah hutang sana-sini masih saja belum cukup untuk menyelesaikan pembangunan sampai finishing.
Kabar mau pindahan rumah, membuat orang tuaku ingin dolan ke Jakarta. Namanya juga orang tua ya, ingin membantu bersibuk ria sekaligus menengok cucu-cucunya. Karena rencana boyongannya tanggal 30, papaku sudah membeli tiket bus untuk berangkat tanggal 27 malam, untuk mama dan Yoga plus Ratih dan Dimas(pasangan pengantin baru) berangkat tanggal 29 malam. Setelah beberapa hari yang lalu aku dan suami mempertanyakan keabsahan rencana boyongan, jadi sibuklah aku smsan dengan Ratih. Suami meminta agar kedatangan mereka diundur atau dibatalin saja, takutnya belum jadi pindah tanggal itu, kan kasihan mereka sudah capek jauh-jauh datang. Kalau Ratih dan Dimas sih memang sengaja mau ke Jakarta dalam rangka perjalanan bulan madunya hehe. Heran deh, bulan madu kok ngejar Book Fair, siapa lagi kalau bukan si Ratih tuh
. Dari Jakarta mereka mau ke Jogja lalu entah kemana lagi, keliling Jawa kali yaaa.
Alih-alih membatalkan atau mengundurkan tanggal keberangkatan, ternyata mama dan papa tetap saja berangkat. Mungkin mereka berharap rumah sudah cukup nyaman dihuni dan kami bisa pindahan. Daripada batal berangkat, eh ternyata bisa terlaksana pindahannya, kan sayang mereka melewatkan momen mendampingi anak cucunya masuk rumah baru hehe.
Nah, sekarang sudah hampir jam 2 siang, tapi papaku belum juga sampai Mampang. Padahal biasanya kalau naik bus, jam 10 atau 11 sudah sampai lho. Malahan dapat kabar dari Ratih, kalau jalur Pantura sedang diaspal jalanannya, sehingga menyebabkan macet. Duuh semoga papa tidak kelaparan di jalan, lah kemarin tidak bawa bekal apa-apa kecuali rokok Wismilak
, perokok akut! Kuatir juga karena papa berangkat sendirian, semoga sehat-sehat saja di perjalanan dan selamat sampai di rumah, amiin.
Semalam suami nginep di rumah Bintaro, masang lampu-lampu hasil hunting di Plaza Kenari. Belum sempat ngobrol dengan suami nih, sampai mana perkembangan pembangunannya, apakah siap huni beberapa hari lagi atau tidak. Semoga dimudahkan, dilancarkan, dan hari Sabtu besok bisa beneran pindahan rumah.
Read More
Kabar mau pindahan rumah, membuat orang tuaku ingin dolan ke Jakarta. Namanya juga orang tua ya, ingin membantu bersibuk ria sekaligus menengok cucu-cucunya. Karena rencana boyongannya tanggal 30, papaku sudah membeli tiket bus untuk berangkat tanggal 27 malam, untuk mama dan Yoga plus Ratih dan Dimas(pasangan pengantin baru) berangkat tanggal 29 malam. Setelah beberapa hari yang lalu aku dan suami mempertanyakan keabsahan rencana boyongan, jadi sibuklah aku smsan dengan Ratih. Suami meminta agar kedatangan mereka diundur atau dibatalin saja, takutnya belum jadi pindah tanggal itu, kan kasihan mereka sudah capek jauh-jauh datang. Kalau Ratih dan Dimas sih memang sengaja mau ke Jakarta dalam rangka perjalanan bulan madunya hehe. Heran deh, bulan madu kok ngejar Book Fair, siapa lagi kalau bukan si Ratih tuh
Alih-alih membatalkan atau mengundurkan tanggal keberangkatan, ternyata mama dan papa tetap saja berangkat. Mungkin mereka berharap rumah sudah cukup nyaman dihuni dan kami bisa pindahan. Daripada batal berangkat, eh ternyata bisa terlaksana pindahannya, kan sayang mereka melewatkan momen mendampingi anak cucunya masuk rumah baru hehe.
Nah, sekarang sudah hampir jam 2 siang, tapi papaku belum juga sampai Mampang. Padahal biasanya kalau naik bus, jam 10 atau 11 sudah sampai lho. Malahan dapat kabar dari Ratih, kalau jalur Pantura sedang diaspal jalanannya, sehingga menyebabkan macet. Duuh semoga papa tidak kelaparan di jalan, lah kemarin tidak bawa bekal apa-apa kecuali rokok Wismilak
Semalam suami nginep di rumah Bintaro, masang lampu-lampu hasil hunting di Plaza Kenari. Belum sempat ngobrol dengan suami nih, sampai mana perkembangan pembangunannya, apakah siap huni beberapa hari lagi atau tidak. Semoga dimudahkan, dilancarkan, dan hari Sabtu besok bisa beneran pindahan rumah.
Minggu, 08 April 2012
Antara BBM dan KPR
Ternyataaaa....semua itu memang ada hikmahnya. Lagi-lagi merasakan hal ini, sebuah hikmah, sebuah jawaban yang baru kuketahui sekarang, suatu sebab akibat yang baru bisa disadari saat ini, dan tidak mungkin kita ketahui hal itu kemarin, minggu lalu, atau bulan lalu.
Belum lama banget aku nulis kegalauanku tentang santernya rencana naik BBM dan tidak kunjung cairnya dana KPR. Intinya, karena si bank ini lemot banget belum juga nyairin pinjaman KPR padahal BBM mau naik, bahan bangunan aja sudah mulai naik harganya kan. Ketakutanku, kalau KPR cairnya telat, setelah BBM naik gitu, bisa-bisa duitnya tidak cukup tuk membeli bahan bangunan yang harganya membumbung tinggi, berarti rumahku terancam tidak bisa selesai tepat waktu kan. Ngarep banget bisa cair pas akhir Maret kemarin, jadi bisa segera memborong belanjaan semen, bata, dkk,dll,dsb.
Menghitung hari (bukan ala KD) menuju 1 April 2012. Aku ngantor sambil terus meneror si mbak pegawai bank yang ngurusin KPR, sms iya, nelpon iya, ngancem2 dikit iya, cuma nyantet yang nggak
. Televisi yang kebetulan berada dekat dengan kubikelku di kantor menyala terus, rame yang nonton. Semua harap-harap cemas akan kenaikan BBM dan kuatir melihat demo mahasiswa yang heboh. Mungkin semua orang juga sambil memanjatkan do'a dari lubuk hati terdalam ya agar BBM ga jadi naik, karena aku pun demikian. Pasrah sih iya, KPR lom cair juga, yo wis lah...
Alhamdulillah....ternyata BBM belum jadi naik kan per 1 April kemarin. Legaaa....berarti itung-itungan biaya pembangunan masih bisa normal insyaAllah. Kemarin itu sampai bela-belain nyari pinjaman sana-sini tuk beli bahan bangunan ala kadarnya, agar tidak terlalu kaget semisal BBM naik, toh sudah ada stok barang gitu. Misal kemarin itu KPR sudah cair dan langsung dipake beli bahan bangunan yang sudah lumayan naik harganya, ndilalah BBM ga jadi naik, bisa-bisa rugi bandar tuh. Lha wong sekarang harga bahan bangunan sudah turun kok, sudah normal kembali. Jadi beberapa item yang sudah sempat dibeli, jatuhnya sekarang sih kemahalan tuh belinya. Untuuung lom cair kan KPR....xixixi.
Sekarang, meski KPR belum cair juga, masih setia menanti, kutunggu jandamu, eh kutunggu cairmu KPR. Suami sudah ga sepaneng, sudah nyantai, malah bilang kalau aku ga usah ngejar si mbaknya terus, biarin saja kapan mau dicairkan terserah banknya. Akunya ga mau dong, sebel ah, di bank lain kurleb 2 pekan saja sudah bisa cair kok, ini hampir sebulan masih tarik ulur saja, emang layangan..pleasee dweeh.. Gaji, uang makan, tunjangan semua-semua kan masuknya di bank itu, nanti tinggal potong saja tuk cicilannya, gampang kan mbak! (halah ngomelnya di sini)
.
Nanti Senin sudah bilang ke mbaknya, kalau belum cair juga aku mau langsung nyamperin ke bank, mau ketemu langsung sama Pimpinan Cabang yang berwenang mutusin cairnya KPR. Biarin deh, penasaran akunya, pengen tau sebab musabab kenapa kok lama prosesnya. Do'akan agar segera ada kejelasannya ya....
Read More
Belum lama banget aku nulis kegalauanku tentang santernya rencana naik BBM dan tidak kunjung cairnya dana KPR. Intinya, karena si bank ini lemot banget belum juga nyairin pinjaman KPR padahal BBM mau naik, bahan bangunan aja sudah mulai naik harganya kan. Ketakutanku, kalau KPR cairnya telat, setelah BBM naik gitu, bisa-bisa duitnya tidak cukup tuk membeli bahan bangunan yang harganya membumbung tinggi, berarti rumahku terancam tidak bisa selesai tepat waktu kan. Ngarep banget bisa cair pas akhir Maret kemarin, jadi bisa segera memborong belanjaan semen, bata, dkk,dll,dsb.
Menghitung hari (bukan ala KD) menuju 1 April 2012. Aku ngantor sambil terus meneror si mbak pegawai bank yang ngurusin KPR, sms iya, nelpon iya, ngancem2 dikit iya, cuma nyantet yang nggak
Alhamdulillah....ternyata BBM belum jadi naik kan per 1 April kemarin. Legaaa....berarti itung-itungan biaya pembangunan masih bisa normal insyaAllah. Kemarin itu sampai bela-belain nyari pinjaman sana-sini tuk beli bahan bangunan ala kadarnya, agar tidak terlalu kaget semisal BBM naik, toh sudah ada stok barang gitu. Misal kemarin itu KPR sudah cair dan langsung dipake beli bahan bangunan yang sudah lumayan naik harganya, ndilalah BBM ga jadi naik, bisa-bisa rugi bandar tuh. Lha wong sekarang harga bahan bangunan sudah turun kok, sudah normal kembali. Jadi beberapa item yang sudah sempat dibeli, jatuhnya sekarang sih kemahalan tuh belinya. Untuuung lom cair kan KPR....xixixi.
Sekarang, meski KPR belum cair juga, masih setia menanti, kutunggu jandamu, eh kutunggu cairmu KPR. Suami sudah ga sepaneng, sudah nyantai, malah bilang kalau aku ga usah ngejar si mbaknya terus, biarin saja kapan mau dicairkan terserah banknya. Akunya ga mau dong, sebel ah, di bank lain kurleb 2 pekan saja sudah bisa cair kok, ini hampir sebulan masih tarik ulur saja, emang layangan..pleasee dweeh.. Gaji, uang makan, tunjangan semua-semua kan masuknya di bank itu, nanti tinggal potong saja tuk cicilannya, gampang kan mbak! (halah ngomelnya di sini)
Nanti Senin sudah bilang ke mbaknya, kalau belum cair juga aku mau langsung nyamperin ke bank, mau ketemu langsung sama Pimpinan Cabang yang berwenang mutusin cairnya KPR. Biarin deh, penasaran akunya, pengen tau sebab musabab kenapa kok lama prosesnya. Do'akan agar segera ada kejelasannya ya....
Langganan:
Postingan (Atom)
