Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

[Syifa] Sekolah Atau Kuliah? (2)

Melanjutkan cerita sebelumnya.
Sampai ribut sama suami nih, gegara dia sebel sama aku , disuruh nyari info sekolah kok ga ada kabar kejelasannya sampai detik-detik terakhir. Yup, bener-bener mefeet. Baru tahu kalo di SDIP MBM itu pengambilan formulirnya paling telat hari itu. Buru-buru kutelepon, katanya formulir tinggal 2 saja. Langsung memelas sama ibu TU-nya, kujelaskan bahwa aku posisi di Jaksel dan butuh waktu untuk pergi ke Bintaro. Sampai minta tolong teman yang ada di sana untuk mengambilkan formulirnya, sayang karena hujan sehingga dia belum bisa mengambil sesegera mungkin. Saat itu hampir jam 12 siang, kutelepon ulang kantor TU sambil berharap masih ada formulir untuk Syifa. Ternyata, sudah habis! Pihak sekolah berkata bahwa formulir tidak bisa dipesan via telepon, harus diambil sendiri, siapa cepat dia yang dapat.

Nyesek deh, deg-degan, karena saat suami nanya, aku bilangnya sudah beres, ada teman mau bantu mengambilkan formulirnya. Ternyata meleset kan, terbayang wajah Syifa yang berharap bisa bersekolah di SD Islam yang bagus. Memang, itu keinginanku dari dulu. Anak bisa mendapatkan ilmu dan wawasan keislaman dari sekolah sebagai pelengkap. Mengapa bukan sekolah negeri yang kami pilih? Salah satu alasannya adalah dari info yang kami dapatkan, SD negeri mutunya kurang bagus, fasilitas juga kurang, meski ada yang oke loh ya, tapi ketat kurikulumnya. Mamaku kan seorang guru SMP negeri, sering mengeluh tentang banyaknya murid dalam satu kelas dan kurikulum berat yang harus dipenuhi. Dalam pemikiranku, kalau bisa masuk sekolah swasta, meski lebih mahal tapi mutunya lebih baik. Dalam satu kelas jumlah murid tidak terlalu banyak, fasilitas sekolah amat memadai, anak bisa lebih nyaman bersekolah. Meski semua relatif ya, secara belum pengalaman menyekolahkan anak di jenjang SD.

Suami menelpon dengan nada suara yang tidak menyenangkan, huff marah nih dia. Aku diminta ke ruangannya untuk mengambil sesuatu. Deg-degan, asliii...terbayang wajah sangarnya kalau lagi badmood. Sesampainya di sana, kaget! Ternyata dia memberikan formulir pendaftaran yang sedari pagi jadi hot topic. Hiks...lega campur haru, terbayang suamiku ngebut naik motor ke Bintaro mengambil selembar kertas tersebut. Makasih yaaaa.... Satu masalah terlewati, menuju masalah berikutnya :D.

Syifa senang, mukanya sumringah melihat-lihat brosur calon sekolahnya. Padahal belum tentu masuk kesitu juga kan. Jadwal tes masuk sudah ada, tinggal mempersiapkan Syifa saja. Persiapannya? Ah, tidak  aneh-aneh kok. Hanya mengingatkan Syifa tentang hafalan surat-surat pendek, do'a-do'a hariannya, sampai alamat dan nomer HP kedua orang tuanya hehe, jaga-jaga kalau ditanyakan juga gituu.

Pas hari H, kami sekeluarga kecuali Azzam sudah siap-siap berangkat dari Mampang jam 7.30 pagi. Suami sempat menanyakan kenapa tidak berangkat lebih pagi saja karena waktu tesnya kan jam 7.30 pagi. Seingatku sih mulai tes jam 8.30 ya, jadi ya suami manut aja berangkat agak siang. Di dalam taksi menuju Bintaro, tiba-tiba HP milik suami berdering. Wah, ternyata telepon dari pihak sekolah yang menanyakan mengapa Syifa belum sampai di sekolah padahal tes sudah dimulai sejak tadi. Doweeeng...kagetlah aku, dan suami langsung melirik tajam!!

Huhuhu lagi-lagi aku teledor...jangan-jangan aku salah info nih, atau memang aku lupa? Nggak tauuu. Pastinya sih, nih hati kebat-kebit, merasa bersalah banget. Sampai sekolah sudah jam 8.30 WIB, berarti Syifa sudah tertinggal selama 1 jam. Suami mendesakku agar bertanya pada panitianya, apakah ada dispensasi buat Syifa, misal tambahan waktu untuk mengerjakan soal-soal gitu, tapi tidak bisa. Kalau dilihat tesnya sih, serius banget, mungkin seperti tes IQ ya, lupa nama tesnya. Lalu dilanjutkan dengan observasi motorik kasar, anak-anak diminta lompat tali, main bola, berguling-guling dll.

Aku sudah jatuh hati dengan sekolah tersebut, adem melihat ibu-ibu gurunya berjilbab lebar. Sempat melihat mereka ikutan halaqoh juga. Sekolahnya tidak luas dan megah, tapi itu tidak penting kan, yang penting mutu pengajarnya oke. Aku berharap Syifa bisa masuk ke sekolah itu, lagipula biaya masuknya Rp. 10 juta, bisa dicicil pula, dan separo dari Auliya dkk. Sambil H2C, apa keterlambatan Syifa tadi akan mempengaruhi hasil tes masuknya? Hiks...kuatir.

Lain aku lain suami, dia lebih tertarik ingin memasukkan Syifa ke SDI Al-Azhar, meski dua kali lipat lebih mahal dari MBM. Sebabnya, sekolah tersebut dekat dari rumah kami nantinya, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, naik motor malah dekat banget. Dihitung dari biaya bulanannya tidak jauh beda. Kalau di MBM Rp.500ribu untuk bulanan plus ongkos angkot, kurleb nilainya sama dengan biaya bulanan Al-Azhar yang Rp. 800ribu per bulan tapi tanpa ongkos angkot. Suamiku sudah bulat agar Syifa didaftarkan juga di sana. Aku manut, karena dapat feeling Syifa tidak diterima di MBM gara-gara tidak sempurna hasil tesnya yang dikerjakan telat 1 jam itu.

Akhir bulan Februari Syifa mengikuti observasi tes masuk SDI Al-Azhar. Jauh lebih mudah ternyata, hanya dites mengaji menggunakan IQRA 1-3 dan tentunya Syifa sudah bisa karena dia mengajinya sudah sampai IQRA 5. Tes lainnya, menyusun huruf menjadi kata, wah, lagi-lagi ini bukan hal sulit buat Syifa. Observasi lainnya motorik kasar, mirip dengan yang dilakukan di MBM. "InsyaAllah Syifa lolos." batinku. Dan benar, Syifa diterima. Alhamdulillah.

Masih tidak menyangka. Biaya sekolah Syifa yang baru SD saja sudah 20juta, dan kami membayarnya dengan mencicil. Biaya kuliah saja lebih murah dari itu, tergantung fakultasnya juga sih ya. Teringat dulu sewaktu di Majene, aku iseng-iseng ikut asuransi pendidikan dengan Rp. 100ribu per bulannya dan uang pertanggungannya Rp. 20juta untuk 17 tahun mendatang. Hoho padahal Syifa baru 7 tahun saja sudah kena segitu....

Bagaimana dengan Farah? Tahun ini dia usianya genap 5 tahun di bulan Juli. Saatnya masuk TK, tapi setelah habis-habisan untuk kakaknya, sepertinya Farah akan bersekolah di TK yang sederhana saja. Bukan TK Al-Azhar pastinya yang mematok Rp.10juta *mewek darah. Bukan pula TK lainnya yang masang harga Rp. 4-9 juta. Farah, dengan kelebihan dan keunikannya itu, hem...liat nanti sajalah.
Read More

Jumat, 25 Mei 2012

[Syifa] Sekolah Atau Kuliah?

Memasuki tahun 2012 kemarin, teringat bahwa di tahun ini sudah waktunya Syifa masuk Sekolah Dasar. Bulan Agustus 2012 nanti usianya tepat 7 tahun. Sengaja memang aku tidak memasukkan Syifa untuk bersekolah di SD ketika usianya 6 tahun. Alasan pertama, menurutku kesiapan mental anak akan lebih bagus ketika masuk SD di usia 7 tahun. Melihat kurikulumnya yang "berat" itu, aku saja mengerutkan dahi, dan bergidik ketika membayangkan anak-anak kecil itu pusing memikirkan begitu banyak pelajarannya, susah-susah lagi. Beda banget dengan jamanku sekolah dulu hihi, lebih dari 20 tahun yang lalu...*berasa tuwir. Alasan kedua, sejak tahun lalu kami berencana untuk mempunyai rumah sendiri di kawasan Bintaro dan insyaAllah akan bisa terealisasi di pertengahan tahun 2012 ini. Sehingga, kalaupun Syifa masuk SD di usia 6 tahun alias tahun lalu, lalu ikut pindah ke Bintaro di tahun kedua sekolahnya, kasihan banget kan. Berarti dia harus beradaptasi lagi dengan sekolah baru dan teman-teman baru.

Dalam benakku, ribut-ribut mencari calon sekolah anak itu nanti, sekitar bulan Mei lah, beberapa bulan sebelum tahun ajaran sekolah akan dimulai. Lalu tanpa sengaja aku melihat beberapa spanduk penerimaan siswa baru beberapa sekolah swasta di pinggir jalan yang membuka penerimaan siswa baru mulai bulan Desember 2011 sampai Januari 2012 untuk gelombang pertama. Wah, kaget juga dan baru tersadar bahwa kami pun harus segera hunting sekolah untuk Syifa. Pilihanku dan suami adalah sekolah swasta yang Islami. Pengennya sih bisa menemukan SDIT yang oke mutunya dan terjangkau biayanya.

Mulailah aku ngotak-atik si Google, searching sekolah di kawasan Bintaro. Dan...mulai lah sport jantung, ketika menemukan nama beberapa sekolah Islam yang mematok biaya masuk sampai dua puluhan juta. Sebutlah Annisa, Auliya, Amalina, Al-Azhar Bintaro. Ada juga sih yang hanya separuhnya dari kusebutin di atas, seperti SDIP MBM, Al-Falah, Cordova, dan Ar-Ruhama. Nah, yang sepuluh jutaan itu aku baru tahu setelah kepepet, suamiku yang dapat info malah, bukan aku, yang memang dari awal ditugasi untuk hunting info.

Kepepetnya itu, ternyata hampir semua sekolah swasta tersebut membuka pendaftaran paling lambat di bulan Februari. Rata-rata tes masuknya dilaksanakan di bulan Februari. Duh, langsung galau tingkat tinggi deh. Bingung menentukan mau daftar sekolah dimana, ditambah waktunya yang mepet banget. Sampai akhirnya beberapa hari bolak-balik dari kantor ke Bintaro untuk mengejar jadwal pengambilan form pendaftaran.

SD jaman sekarang harus tes ria ya, ada sih yang hanya observasi anak, tidak duduk manis mengerjakan banyak soal tes IQ atau apalah namanya itu. Alhamdulillah Syifa sudah lancar membaca dan menulis, sehingga aku tidak khawatir tentang berbagai macam tes yang diadakan tersebut.



Read More

Minggu, 18 Juli 2010

Sekolah Untuk Syifa

Awal tahun ajaran baru 2010/2011 telah dimulai hari Senin yang lalu tepatnya tanggal 12 Juli 2010. Bagi anak-anak yang baru mulai masuk sekolah, hari itu pasti merupakan hari yang dinanti-nanti, hati deg-degan dan riang gembira plus bangga karena merasa sudah lebih besar dengan masuknya mereka ke sekolah. Begitu juga yang dirasakan oleh teman-teman bermainnya Syifa yang rata-rata baru masuk TK, meski ada juga yang baru masuk SD. Dengan bangganya mereka memakai seragam baru, tas dan sepatu baru, tak lupa memamerkan alat tulis barunya.

 

Tapi ada yang lain kali ini, di antara anak-anak yang sedang senang-senangnya sekolah itu ada satu anak yang hanya memandang dengan tatapan mupeng, dan terdiam saja kala teman-temannya berceloteh riang tentang sekolah barunya. Yup, anak itu adalah putri sulungku, Syifa. Tahun ini harusnya dia masuk TK B.

 

Sewaktu di Majene, Syifa sudah sekolah di TK A hanya sampai bulan Mei akhir karena harus ikut aku ke Jakarta. Dari sekolah lamanya Syifa sudah mendapatkan rapor dan surat pengantar untuk masuk sekolah di Jakarta sebagai murid pindahan. Dalam pemikiranku, sambil menunggu SK mutasi yang diharapkan secepatnya keluar, Syifa bisa sekolah dulu di Jakarta apalagi tahun ajaran baru sudah dimulai. Aku dan suami berharap SK bisa keluar sebelum cuti besarku habis, dengan begitu aku dan anak-anak tak usah lagi balik ke Majene. Berat rasanya harus boyongan lagi dari Jakarta ke Majene, meninggalkan suami dan rumah kontrakan mungil kami yang nyaman, dan harus LDL lagi............hiks.......beraaat!

 

Kami hanya bisa berdo'a, sampai hari ini proses SK belum ada perkembangan yang berarti. Opsi balik ke Majene kembali dibicarakan yang berarti sekitar akhir September karena cutiku habis tanggal 25 September nanti. Kalaupun Syifa dimasukkan ke TK sekarang berarti dia hanya akan sekolah sekitar sebulan aja dong, itu kalau anak TK libur pas Ramadan. Btw anak TK libur gak sih pas bulan puasa?? Kalau tetep masuk sekolah berarti Syifa bisa merasakan belajar di TK kurleb 2 bulanan saja kan. Dengan biaya masuk TK di Jakarta yang ternyata cukup mahal, apalagi kalau dibandingkan dengan biaya masuk TK di Majene, maka kami memutuskan untuk tidak menyekolahkan Syifa dulu saat ini.

 

Agak berat memang, kasihan juga melihat Syifa yang mupeng melihat teman-temannya berangkat sekolah beramai-ramai. Sebetulnya aku tidak terlalu khawatir mengenai belajarnya, tiap hari kami biasa belajar sambil bermain kok, meski harus dibiasakan buatku, maklum FTM jadi-jadian hehe. Yah, meskipun memang harus banyak yang mesti dibenahi sih, aku perlu lebih bersabar dan lebih kreatif agar dia merasa nyaman. Semoga keputusan kami ini bisa dijalani dengan baik, semoga aku tetep bisa membesarkan hati Syifa agar dia tidak sedih, semoga SK mutasiku bisa segera keluar, semoga kami sekeluarga bisa hidup bersama, berkumpul selayaknya sebuah keluarga, semoga......Amin!!  

Read More