Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2014

April Mop

Jaman kala aku masih unyu-unyu dengan seragam putih abu-abu, kelas 1 SMA. Suatu ketika ada kakak kelas 3 (cewek) yang ngasih surat lewat jendela, katanya sih dari si anu (cowok). Kaget dong aku, heran kenapa si mas anu nyurati aku segala. Secaraaa dia kan konon udah ada ceweknya, dan si mas ini anak band, bandel aka bad boy. Alamak, dari dulu aku doyan sama bad boy *nutupmuka. Jadilah hatiku berbunga-bunga, seneng tahu si mas ada rasa padaku.

Hari itu, dia kirim surat beberapa kali lewat si mbak itu. Sekali, aku ga percaya. Masa sih si mas ini model yang pake surat kaya gini. Kedua kali, wah beneran ga nih? Seneng nih akunya, dia ngajak ketemuan sepulang sekolah pula. Haduuu, deg-degan! Beneran tak tunggui di depan sekolah lho, aku ditemani seorang teman, edun, ckck.

Lha kok, si masnya ga nongol-nongol ya. Malah kelihatannya lagi asyik ngumpul sama teman-temannya, rokokan. Hadeuh, aku mulai ga enak hati, curiga. Akhirnya aku pulang sambil mikir jungkir balik ngesot kayang *lebaypuol. Kok ada yang aneh apa yaa? Kok ada yang salah apa siih? Sampai di rumah, gegulingan di kasur, dan alamaak baru ngeh aku. Kurang asem, aku dikerjain April Mop sama si mbak ituuu! Maluuu aarrgghh.

Ngomong-ngomong tentang April Mop, ternyata ada sejarahnya. Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

April Mop adalah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.

Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yg sangat menyedihkan dan memilukan, yaitu satu episode sejarah Muslim Spanyol di thn 1487 M, atau bertepatan dgn 892 H. Dimana saat tentara salib menguasai kembali Spanyol dari tentara Islam. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dlm rumah untuk menyelamatkan diri. Mereka dijanjikan bisa berlayar dengan kapal-kapal. Lalu ribuan umat muslim keluar menuju dermaga. Sesampainya disana, kapal-kapal itu dibakar oleh tentara salib. Mereka terkepung oleh pedang. Dengan satu komando, tentara salib membantai mereka tanpa ampun. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yg biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Tragedi ini bertepatan dgn tanggal 1 April. Inilah yg kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tgl 1 April sbg April Mop. Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Perhatikan hadits ini : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.(HR. Abu Dawud, Ahmad) “Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS.5: 51).”

Sumber: http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/april-mop-hari-dimana-umat-islam-dibantai.html

Read More

Rabu, 19 Desember 2012

Jalan Kembali

Senin, 17 Desember 2012

Hari yang telah menjadi saksi. Ketika takdir Allah dilakoni. Ada sebab dan akibat, ada pahit namun berhikmah, manis yang pekat.

Masih jelas di ingatan, gerimis merinai kala itu, menjelang malam. Kami berdua berboncengan di atas sepeda motor tua yang setia. Menuju rumah, pulang setelah seharian berpenat lelah mencari nafkah.

Tak seperti dulu, saat kelabu. Ketika adzan berkumandang dan kami masih berjibaku di jalanan. Ketika aku minta dia menepi, berhenti, untuk bersegera sholat. Ketika dia selalu menjawab ringan bahwa masih ada waktu untuk itu, nanti ketika tiba di rumah.

Tertegun aku, namun sisi hatiku bersorak. Aku bahagia. Aku bersyukur. Hari itu, tanpa kuminta, dia menepi, berhenti di depan rumah Illahi. Tanpa kata dia melewatiku, masuk ke dalam masjid. Aku masih tercenung, namun kemudian bergegas mengikutinya di belakang. Sambil terus berucap syukur, lantas menikmati suasana damai di dalam masjid, juga di dalam hati.

Kali pertama, dan semoga bukan yang terakhir, tidak, jangan. Hidayah Allah memang mahal, jangan sampai terjual. Kamu, aku, kini mencicipinya dengan bayaran yang tidak mudah apalagi murah. Cobaan atau musibah, mari kita cecap kini, dengan hati bening dan ikhlas, tanpa culas. Ya, karena insyaAllah berbuah hikmah, manis, indah.
Read More

Kamis, 13 Desember 2012

Candu Itu Bernama Dosa

*testing 1..2..3
*start singing
"Kenapa yang asyik-asyik...itu yang dilaraaang. Kenapa yang enak-enak itu yang dilaraaang."
*jogetandangdut -_-"

Tau kan ya, lagunya Bang Haji Rhoma yang konon mau jadi bakal calon Presiden itu? Meski aku ga bakalan ngevote dia, tapi tetep bakalan say thanks atas lagu-lagu dangdut jadulnya yang masih aja terekam di dalam memori banyak orang. Ya kan, ngaku deh, ngaku doong :p

Nah, lagu tersebut tuh pas banget, cocok dah sama yang mau kuceritain ini, tentang dosa. Dosa, whatever it is, kok ya terlihat ajiiib, terlihat asik beud, menarik, bahkan bikin nagih kaya candu. Benul kan... Daya tariknya itu lho...rruuaarr biasa, apalagi teruntuk orang yang amat sangat biasa keimanannya, ga ada spesial-spesialnya :( Makin susah lah kita memalingkan diri dari daya tarik dosa tersebut. Sekali lagi, ini berlaku bagi orang yang sudah mulai terbiasa melakukan dosa itu ya, just name it, ngedrugs, free sex, nonton bf, atauuu yang paling umum nih, pacaran, dll, dkk, etc. Well, udah tau kan yang dilakukan itu dosa, tapi terasa tak mudah meninggalkannya begitu saja, butuh perjuangan. Yup, karena setan canggih banget masang jerat-jeratnya.

Teringat salah satu hadits Arbain ke 41, Rasulullah saw bersabda, " Tidak beriman seorang dari kalian sebelum hawa nafsunya mengikuti ajaran yang kubawa." (Hadits ini shahih. Tertera dalam kitab Al-Hujjah) Bisa disimpulkan bahwa iman kita itu belum sempurna, kalau toh sampai sekarang ini masih saja kalah sama hawa nafsu. Hawa nafsu akan terus menyertai manusia hingga ia dapat mengendalikannya. Lah kalau belum bisa mengendalikan, yo wis, jadinya semua gerak-gerik kita dikendalikan oleh hawa nafsu, meskipun bertentangan dengan akal sehat dan pemahaman kita. Berasa buta dan tuli, menutup mata dan menulikan telinga dari kebenaran.

Pernah diberitahu oleh salah seorang temanku dulu di Majene, misal nih adzan Maghrib sudah berkumandang, lantas kita tidak bersegera sholat, malah masih asik ngetem di depan TV, cuek, terus aja nonton. Nah, kejadian seperti itu, kayanya kok biasa ya, remeh, sering lah dilakukan, padahal sebenarnya kita itu sedang menuhankan TV. Lho kok? Yup, kita lebih mentingin nonton TV daripada sholat *jleebb (ingat pas di kantor). Ibnu Abbas ra. berkata, " Hawa nafsu adalah tuhan yang disembah di dunia." Lalu ia membaca ayat, "Tidaklah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan." (Al-Furqan:43) " Di bawah langit ini, tiada tuhan yang disembah lebih besar bahayanya di sisi Allah, selain hawa nafsu."

Tuh kan, ternyata kita tuh memang lebih mudah condong pada hawa nafsu ya :( Padahal kita kan sudah diberikan akal, bisa milih mau jalan takwa atau maksiat. Semua tergantung kepada diri kita sendiri. Berat memang, tapi harga surga memang tidak murah. Sedih banget lho, kalau kita sampai berlarut-larut dalam melakukan dosa, menuruti hawa nafsu lagi dan lagi. Awalnya masih terasa tuh, ga enak di hati, ya feel guilty. Tapi lama-kelamaan, ketika kita malah tidak berhenti tapi melakukannya lagi dan lagi, hati kita makin gelap dan hitam, makin hilang rasa penyesalan, maka hilang pula sifat kemanusiaan kita, kemuliaan kita sebagai manusia. Habis, tinggal kenangan dan malah menjadi indikasi kedunguan dan kelemahan.

"Dan adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya." (An-Nazi'at 37-41)



*ngingetin diri sendiri





Read More

Kamis, 30 Desember 2010

[Kopas] Jagalah Anak Ketika Maghrib Menjelang

Matahari senja baru saja tenggelam di ufuk barat. Malam pun merambat datang sementara kegelapan perlahan mulai menyelimuti bumi. Tampak beberapa anak kecil sedang bermain, berkejaran di pekarangan sebuah rumah. Sesekali, mereka berlari ke jalanan kampung. Di teras sebuah rumah, seorang ibu terlihat tengah meninabobokan bayinya, beralasan “mencari angin” karena si bayi kepanasan di dalam rumah.

Datangnya malam usai matahari tenggelam hingga datangnya waktu ‘Isya adalah saat bertebarnya para setan. Tak heran jika rutinitas masyarakat semisal aktivitas jual beli justru mengalami puncak keramaian (baca: godaan) nya di waktu ini. Sesungguhnya agama mulia yang sempurna ini telah mensyaratkan kepada kita utamanya anak-anak kita untuk tidak keluar rumah di waktu-waktu ini.

Gambaran ini, yakni keluarnya anak kecil ketika malam mulai datang adalah pemandangan biasa yang kita jumpai di sekitar kita, di masyarakat kita yang awam dan jauh dari bimbingan agama. Anak-anak mereka dibiarkan begitu saja, tanpa pencegahan dan tanpa penjagaan. Tahukah mereka bahwa pada saat yang demikian itu setan, makhluk yang jahat, musuh manusia, bertebaran sehingga dapat memudharatkan anak-anak tersebut dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Belumkah sampai pada mereka bimbingan dari Rasul mereka yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam titah beliau yang agung:

إِذَا اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ – أَوْ كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – فَكُفُّوا صِبْيَا نَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقْ بَابَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ الله… الْحَدِيْثَ

“Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka, tutuplah pintumu, dan sebutlah nama Allah (mengucapkan bismillah pen.)…” (HR. Al-Bukhari No. 3280 dan Muslim No. 2012)

Maksud dari kalimat ( اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ ) atau ( جُنْحُ اللَّيْلِ ) adalah kegelapan malam, yakni datangnya malam setelah matahari tenggelam. ( فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ) yakni tahanlah anak-anak untuk keluar pada waktu tersebut karena dikhawatirkan mereka akan diganggu oleh setan yang banyak berkeliaran pada saat itu. (Syarah Shahih Muslim 14/185-186, Fathul Bari 6/411)

Belumkah pula sampai pada mereka larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang semakna dengan perintah dalam hadist di atas:

لاَ تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ وَ صِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ فَحْمَتُ الْعِشَاءِ، فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّي تَذْهَبَ فَحْمَةُ العِشَاءِ

“Janganlah kalian melepas hewan-hewan ternak dan anak-anak kalian apabila matahari telah tenggelam hingga berlalu fahmah isya karena para setan keluar/berjalan cepat apabila matahari tenggelam sampai berlalu fahmah isya.” (HR. Muslim No. 2013)

Kalimat ( فَحْمَةُ الْعِشَاءِ ) (fahmah isya) dalam hadist di atas maknanya adalah gelap dan hitamnya malam, atau datangnya malam dan awal gelapnya. (Syarah Shahih Muslim 14/186). Sebagian ahlul ilmi memaknainya dengan datangnya waktu ‘Isya dan awal gelapnya. Kegelapan antara shalat Maghrib dan ‘Isya diistilahkan fahmah sedangkan antara shalat ‘Isya dengan shalat Shubuh diistilahkan ‘as’asah. (Nihayatul Gharib , 3/317)

Dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di atas, jelas sekali beliau memberi bimbingan agar anak-anak tidak dibiarkan keluar rumah, tapi ditahan di dalam rumah, ketika matahari telah tenggelam dan malam telah datang dengan kegelapannya. Bimbingan ini beliau berikan untuk menjaga anak-anak dari gangguan setan karena di waktu tersebut setan banyak bertebaran.



Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:

“Dalam hadist ini terdapat sejumlah kebaikan dan adab yang mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk melakukan adab-adab ini karena dengan melakukannya berarti menempuh sebab keselamatan dari gangguan setan. Setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup dan tidak dapat pula mengganggu anak kecil dan selainnya apabila dilakukan perkara ini (dengan menyebut nama Allah/mengucapkan bismillah).” (Syarah Shahih Muslim, 14/185)

Ibnul Jauzi Rahimahullah menyatakan bila anak-anak kecil berkeliaran di luar rumah pada waktu tersebut dikhawatirkan mereka akan mendapat gangguan dari setan sementara anak-anak umumnya belum dapat berzikir dimana dengannya bisa membentengi diri mereka dari setan. Setan ini ketika bertebaran mereka bergantungan dengan apa yang memungkinkan bagi mereka untuk bergantung. (Fathul Bari, 6/411)

Dari hadist di atas, kita pun mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan menutup pintu rumah dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghalangi masuknya setan yang akan membawa kemudharatan bagi penghuni rumah. Bila pintu telah ditutup dengan mengucapkan bismillah, setan tidak akan mampu membukanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup.” (HR. Al-Bukhari No. 3304 dan Muslim No. 2012)

Ibnu Daqiqil ‘Ied Rahimahullah berkata: “Dalam perintah menutup pintu ada maslahat diniyyah dan duniawiyyah (kebaikan dunia dan akhirat) berupa penjagaan jiwa dan harta dari ahlul batil dan pembuat kerusakan terlebih lagi dari para setan. Adapun hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup”

Merupakan isyarat bahwa perintah menutup pintu bertujuan untuk menjauhkan setan dari bercampur baur dengan manusia.”

Beliau Rahimahullah juga menyatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa setan tidak diberi kekuatan untuk melakukan sesuatu pun dari perkara yang disebutkan dalam hadist (seperti membuka pintu yang tertutup, bejana yang tertutup, dsb, pen.) walaupun ia diberi kekuatan yang lebih besar daripada itu seperti masuk ke tempat-tempat yang tidak mampu dimasuki manusia.” (Fathul Bari, 11/90)

Al-Mubarakfuri Rahimahullah menyatakan bahwa setan ini bisa dikatakan tertolak untuk masuk ke rumah seseorang dari seluruh sisinya dengan barakah tasmiyah (ucapan bismillah). Dalam hadist hanya disebutkan perintah menutup pintu (dengan membaca bismillah) karena pintu merupakan bagian yang paling mudah untuk dilalui ketika masuk ke dalam rumah. Bila setan ini tertolak untuk masuk lewat pintu (karena pintunya tertutup dengan mengucapkan bismillah) maka tentunya setan ini lebih tertolak lagi untuk masuk ke dalam rumah lewat bagian rumah yang lebih sulit dilalui. (Tuhfatul Ahwadzi, 5/433)

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Rahimahullah berkata: “Menyebut nama Allah akan memisahkan setan dari melakukan perkara-perkara yang disebutkan. Dengan demikian, bila tidak disebut nama Allah, setan bisa melakukan perkara-perkara tersebut. Yang menguatkan hal ini adalah hadist yang dikeluarkan oleh Muslim1 dan Al-Arba’ah2 dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu secara marfu’ 3:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ الله عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَ لاَ عَشَاءَ. وَ إِذَ دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ دُخُوْ لِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ. وَ إِذَا لَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَيْتَ وَالْعَشَاءَ.

“Apabila seseorang masuk ke rumahnya dalam keadaan berzikir kepada Allah ketika masuknya dan ketika memakan makannya, berkatalah setan: Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam. Kalau orang itu masuk rumah, dia tidak berzikir ketika masuknya, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam. Dan bila dia tidak berzikir ketika makan, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (Fathul Bari, 11/90)

Duhai, alangkah jauhnya lingkungan kita dan masyarakat kita dari mengamalkan tuntunan agama ini. Semoga dengan membaca nasehat ini, mereka mendapatkan ilmu dan pemahaman, yang kemudian mereka amalkan dalam kehidupan mereka, amin… Allah sajalah yang memberi taufik!!!

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. II/No.15/1426H/2005, Rubrik Mutiara Kata, Hal. 76-78.

Read More