Tampilkan postingan dengan label opname. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opname. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Desember 2010

(Episode RS) Kecewa pada RS Tria Dipa

Obat untuk Syifa dan Farah adalah antibiotik karena penyebab sakitnya adalah bakteri. Pada hari pertama masuk RS, kami disodori kertas kecil untuk ditandatangani. Isinya tentang persetujuan pembelian dan pemberian obat paten yang harganya ratusan ribu. Kenapa kami akhirnya setuju dan tanda tangan? Karena di atas kertas tidak tertulis pemberian obat itu untuk berapa hari. Kami pikir ya satu kali tanda tangan untuk satu kali pemberian/satu hari saja. Apalagi keterangan dari suster jaga yang kami tanyai beberapa hari kemudian menegaskan bahwa bila obat tersebut habis, kami akan diberitahu untuk pembelian berikutnya.

Entah kami yang salah mengerti atau suster yang kurang jelas dalam memberikan penjelasan, atau memang suster tidak tahu menahu masalah administrasi RS? Bukankah seharusnya suster-suster yang setiap hari bekerja di sana harusnya paham tentang semua aturan dan cara kerja RS? Atau tidak begitu ya?

Terjadilah insiden itu, ketika anak-anak akhirnya boleh pulang. Tagihan RS membuat mata terbelalak. Obat paten itu ternyata diberikan setiap hari, dan tentu saja jumlah total harganya bikin nyesek. Suami pun marah-marah kepada pihak administrasi dan para suster. Kami merasa tertipu dong. Masalah uang, insyaAllah ada rejeki lagi. Tapi seharusnya pihak RS tidak menyepelekan hal seperti ini. Kalau misal tidak mampu bayar gimana, kan jadi masalah lagi tuh.

Semua ini benar-benar menjadi pengalaman berharga bagi kami, insyaAllah ada hikmahnya, ada sisi positifnya. Hati-hati saja kalau berurusan dengan pihak RS manapun, semua harus jelas terlebih dahulu, jangan malu bertanya ya.

Read More

(Episode RS) Tamu Kejutan!

Hari Kamis yang lalu, selepas adzan Maghrib aku dibuat terkaget-kaget senang. Bagaimana tidak? Dikala kedua buah hati sama-sama terbaring dengan selang infus terpasang, plus jauh dari keluarga besar, ada seorang tamu tak terduga membuat kejutan. Datang menjenguk anak-anak di RS.

Masih teringat ketika ada mbak-mbak (bukan tante-tante lhoh ya) tiba-tiba muncul dari pintu sambil membawa sekotak roti di kedua tangannya. O..o..siapa diaaa...-nyanyi mode on- Aku bertanya-tanya dalam hati. Jangan-jangan ni mbak salah masuk kali ya, aku nggak kenal soalnya.

Eh, dia lalu bertanya apakah aku uminya Syifa dan Farah, dan aku pun mengangguk sambil masih pasang muka heran dan ingin tahu. Dan akhirnya dia pun memperkenalkan diri sebagai....MAKNYA DANIK!!! Huaa asli kageeet, seneeng deh! Langsung kami berjabat tangan erat. Aku masih takjub saja, tidak menyangka kalau teman mayaku di MP yang satu ini mau meluangkan waktu untuk menjenguk. Tentu saja aku sangat gembira!

Akhirnya kami bisa kopdar meski dalam suasana kurang menyenangkan, di RS gitu lho. Duh, mak Danik, terima kasih banyak ya atas kedatanganmu, atas waktu yang sengaja kau luangkan. Jujur, aku amat sangat gembira dan terhibur karenanya. Moga-moga kita bisa bertemu di lain kesempatan ya mak, plus Danik tentunya. Luv u maak *hugs...*
Read More

Kamis, 16 Desember 2010

(Episode RS) Dokter vs Pasien

Jaman sekarang, susah menemukan dokter yang idealis, informatif, baik hati, dan tidak sombong. :( Bagi pasien atau ortu pasien yang sudah mantap hati dan terutama mantap ilmu, pasti tidak akan menerima mentah-mentah anjuran dokter, apalagi ada juga yang menyesatkan -hiiy syereem-. Amat sangat diperlukan second opinion dan sedikit banyak kurang lebih tukar tambah -halaah- ilmu tentang kesehatan.

Untuk ortu parno macam saya, ilmu saja kurang, harus ditambah rasa pede dan kemantapan hati. Benar-benar saya harus banyak belajar, be positive gitu.

Kasus Syifa, entah lebay atau tidak dokter amat sangat menyarankan opname. Dalam kacamata saya, Syifa kena radang tenggorokan dan leukosit tinggi karena memang lagi demam. Terus terang, merah-merah gatal di badannya saya belum tahu apa itu. Bidurankah? Saya belum punya pengalaman tentang hal ini, jadi saya parno hehe. Apalagi ketika dokter bilang dengan mimik kaget bahwa leukositnya tinggi banget, 22.000 lho. Jadi akhirnya ga kepikiran mencari second opinion, apalagi dengan keadaan Farah juga lagi opname. Siapa yang akan mengantar Syifa ke dokter lain? Abinya? Wah, anak-anak akan rewel apalagi bila diperiksa dokter
tanpa ditemani uminya. Selain itu, kalaupun saya ngotot Syifa rawat di rumah, saya tidak bisa menjaga dan menemaninya. Menyerahkan sepenuhnya ke para mbaknya, duh ga tega. Akhirnya saya setuju untuk opname Syifa.

Semalam Syifa diberi antibiotik yang harganya mahal, obat paten katanya. Ya sudahlah. Alhamdulillah, merah-merah di badannya sudah hilang dan sudah tidak panas lagi. Tadi pagi juga dapat 2 macam suntikan di infusnya plus antibiotik mahal lagi-nyesek-. Duh jadi kotak amal ni badan anakku. Jadi pengen ketemu dokternya, pengen nanya-nanya. Pengen cepat pulang dengan anak-anak.
Read More

(Episode RS) Ngumpul Semua

Hari keempat nginep di RS. Alhamdulillah setelah Farah berhasil diinfus dan diberi antibiotik lewat infusnya, seharian sudah tidak demam lagi.

Tapi yang membuat gelisah, di rumah Syifa juga demam sudah hari kedua, langsung tinggi pula, 39 derajat Celcius. Berdoa dalam hati semoga demam biasa, kuatir juga karena tidak ada batpilnya. Dia hanya mengeluhkan tenggorokannya sakit untuk menelan. Kupikir demamnya gara-gara radang tenggorakan saja.

Nah, pas malam harinya ada sms masuk dari mbak Anik yang mengabarkan bahwa di seluruh badan Syifa keluar tampek/campak yang gatal. Kagetlah aku! Syifa kan sudah pernah diimunisasi campak, kok masih bisa kena ya?

Duh, jantung dag dig dug. Waktu itu suami masih menjenguk Farah, jadi Syifa di rumah dengan mbak-mbaknya. Daripada kuatir, akhirnya Syifa dibawa saja ke DSA di RS Tria Dipa juga, sekalian gitu lagipula aku dah kangen sama dia, beberapa hari gak ketemu.

Oleh DSA ditanya ada tidak riwayat alergi, ada batpil tidak, dan kujawab tidak ada semua. Bingung juga dokternya, ''Bukan campak ini.'' katanya. Jadi diminta cek darah dulu deh, cuma di ujung jari. Dan hasilnya membuat dokter kaget, leukositnya tinggi. Ya Allah, sampai 22.000 yang mana normalnya 10.000.

Langsung saja DSA minta agar Syifa diopname aja. Katanya dia kena infeksi bakteri. Sewaktu kutanya apa bisa dirawat di rumah saja, dokter bilang tidak berani menyarankan itu. Duh, kebayang ga gimana perasaanku waktu itu? Anakku dua-duanya masuk RS euy, mana belum punya asuransi haha.

Ya sudahlah, kuterima saran dokter. Dengan pertimbangan kalaupun rawat mandiri, aku tidak bisa pegang langsung karena masih harus menemani Farah. Kebetulan tempat tidur di sebelah Farah kosong, jadi kuminta agar Syifa dirawat sekamar aja dengan adiknya. Untuk memudahkan aku juga lah ya.

Finally, malam keempat kami ngumpul bersama lagi, tapi TKP di RS. Kuanggap semua ini ujian dan cobaan, semoga kami bisa lulus. Tersenyum juga melihat wajah anak-anak yang polos, mereka saling memperlihatkan bekas tusukan jarum dan infusnya sambil membanggakan ada berapa tusukan yang didapat. Ah anak-anakku, cepat sembuh dan cepat pulang ke rumah yuk.

Read More

Rabu, 15 Desember 2010

(Episode RS) 13 Tusukan

Ke-1 : Cek darah.

Ke-2 s.d. Ke-9 : Tusuk tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri mau diinfus tapi gatot. Anaknya dehidrasi sih. Nangis sampai lemes, berkeringat. Emak n bapaknya ikutan lemes, jantung serasa jatuh ke lantai ;(

Ke-10 : Ambil darah di ujung jari

Ke-11 : Tes mantoux. Nangis n teriakannya dahsyat. Maknya sampai merinding.

Ke-12 dan 13 : Coba diinfus lagi. Alhamdulillah tusukan kedua berhasil. Sampai sekarang tangan kanannya masih sering diliat-liat, dielus, sambil mengaduh, hiks.

Walhasil, tiap ada suster, CS, pengantar makanan yang bermasker ria. Farah langsung parno, ketakutan, teriak-teriak minta dipeluk.

Moga menjadi pengalaman pertama dan terakhir ya Nak. Moga ga sakit sampai nginep di RS lagi.
Read More