Jumat, 06 April 2012

Jodoh Untuk Adikku (2)

Setelah sekian lama mencari....dambaan hati, belahan jiwa,  apapun sebutannya. Alhamdulillah...akhirnya...insyaAllah he's the right man ya dik.
Teringat postinganku hampir setahun yang lalu, proses itu memang tidak mudah ternyata. Penuh liku, juga luka. Ada kejutan di setiap kisahnya, kadang bahkan seolah tak nyata, tapi itu benar adanya. Entah berapa banyak cerita tentang pencarian calon suami yang dibaginya padaku lewat sms-sms galaunya bahkan status-status gejenya di FB. Bermacam-macam usaha orang tua terutama mamaku tuk mencarikan jodoh untuk adikku yang sudah pasrah minta dicarikan saja, sudah males pacaran katanya, buang-buang energi hehe.

Cukup sulit memang, banyak sekali keinginan dan syarat dari mama. Mungkin dikarenakan adik bungsuku yang autis dan usia orang tuaku yang sudah cukup berumur, mama menginginkan calon mantu yang mau tinggal serumah dengan mereka, bisa membantu menjaga Yoga adikku. Paling tidak, misal tidak tinggal serumah, tapi jarak tempuh rumah adikku nantinya tidak jauhlah, sekitaran Malang saja. Berarti calon suami untuk adikku makin sempit wilayah pencariannya kan...selain itu kalau bisa ya sudah PNS. Dalam benak mama, PNS adalah pekerjaan paling aman dan nyaman hehe.

Bermacam-macam tipe dan model si calon mantu ini datang dan pergi. Pernah datang jauh-jauh dari Semarang lengkap dengan keluarga besarnya, si cowok yang baru pertama kali itu mau ketemu muka. Dan....pada pandangan pertama, mereka berdua sama-sama ga ada rasa. Ada juga si CPNS yang kata adikku sih "aneh" orangnya, tapi ortuku yang ngebet banget. Adikku menanggapi dengan adem ayem lempeng saja sampai akhirnya melempem. Untung tidak ada kelanjutan yang berarti, feel adikku sih kurang enak tentang si mas CPNS itu. Heemm...pernah juga dikenalin dengan pak tentara yang duren alias duda keren yang ditinggal mati istrinya, pernah juga sempat fall in love sama teman sesama terapis di sekolah autis tempat adikku bekerja, tapi gatot karena si cowok entah kenapa yang semula mau langsung nikah, kok lalu mundur teratur.

Mamaku? Beliau makin tertekan dan lebay, efeknya negatiflah ke suasana rumah. Beliau jadi sering uring-uringan dan makin sensi kalau menerima undangan pernikahan, apalagi kalau mendengar anak tetangga yang masih muda-muda itu sudah mau menikah. Alhamdulillah adikku masih bisa bertahan, meski status  facebooknya makin geje, dan dia makin menenggelamkan diri pada novel-novel fiksi anehnya yang tumpukannya memenuhi kamarnya itu.

Tiba-tiba, suatu hari dia mengirim sms pendek padaku, isinya hanya "hehehehe". Heran dong, kenapa nih adikku? Tidak lama kemudian dia mengirimkan sms serupa, hanya ditambah beberapa kata. Lalu sms lagi, menanyakan dimana bisa beli souvenir pernikahan murmer. Jiiaahh...ternyata sedang berbunga-bunga hatinya. Seorang teman lamanya ketika SMA, tiba-tiba meng-add-nya di facebook. Si cowok ini tahu adikku sewaktu SMA, anehnya adikku malah kurang ngeh. Dari pembicaraan basa-basi lalu entah bagaimana mereka berdua ternyata sama-sama klik dan langsung membicarakan pernikahan dengan serius.

Yup, dalam hitungan seminggu saja, cowok ini datang ke rumah, berbicara langsung pada kedua orang tuaku. Seminggu kemudian, adikku diajak berkenalan dengan orang tuanya. Dan beberapa minggu kemudian, keluarga besarnya datang ke rumah untuk melamar. Subhanallah, begitu cepatnya. Keinginan mamaku terwujud, mendapat calon mantu PNS, sama-sama guru seperti profesi orang tuaku, bahkan calon besannya malah Kepala Sekolah.

Kini ibuku sudah tidak uring-uringan lagi, senyum-senyum terus dan bersemangat membicarakan acara akad dan resepsi pernikahan yang insyaAllah akan diadakan tanggal 9 dan 10 Juni mendatang. Ya Rabb...tak henti-hentinya kuberdo'a semoga semuanya lancar jaya. Semoga mereka berjodoh dan dilimpahi keberkahanMu, semoga Dimas, nama cowok itu, bisa menjadi qowwam yang baik dalam rumah tangga nantinya. Amiin.
Read More

Rabu, 28 Maret 2012

[Azzam] Bronkiolitis

Azzam....bikin kangeeen deh. Kalau sementara merah trus iseng-iseng liatin foto-fotonya di HP, hati ini berasa rinduuu sekali, dag dig dug dueerr deh. Di rumah jadi kesayangan dua kakaknya yang hobi main rumah-rumahan itu. Azzam bisa jadi korban, dijadikan mainan juga wkwk.

Sejak lahir sampai sekarang, Azzam sudah beberapa kali sakit. Meski hanya batuk pilek, tapi kasihan melihatnya tersiksa begitu kalau lagi uhuk-uhuk dan susah bernafas. Minumnya jadi berkurang dan tidurnya tak nyenyak.
Kali pertama sakit ketika usia sekitar 2 bulan, gegara virus yang hobi ping-pong. Dari Syifa ke Farah lanjut ke aku, eh ke Azam deh. Tapi waktu itu tidak lama kok, semingguan saja. Karena ASIX, alhamdulillah ga pake ke dokter, meski orang tuaku tetep heboh saja sampai menelepon dari Malang sana.

Kali kedua sakit, sekitar awal bulan Februari yang dingin panas disertai sering hujan itu. Cukup lama tidak sembuh juga, hampir sebulan lah. Tetep, virus masih ping-pong saja. Sembuh beberapa hari, balik lagi meler dan uhuk-uhuk. Sampai akhirnya terlihat parah sekali batuknya, nafas beraaat banget. Bunyi grok-grok di dalam dada, susah tidur. Hiks, kasihan banget. Efeknya, minum ASIP jauh berkurang, dari 5 botol menjadi 3 botol saja, berat badan turun, terlihat kurang ceria meski masih saja hobi senyum-senyum. Akhirnya di akhir Februari aku ambil cuti 2 hari, melanjutkan libur wiken. Dikarenakan pas wiken Azzam bisa menyusui langsung dengan maksimal, lebih baik aku tidak ngantor agar bisa memantau langsung dan menyusuinya lebih lama. Alhamdulillah, Azzam baikan. Meski nafas masih mengi tapi sudah tidak terlalu berat. Jadwal ke dokter Markas Sehat pun kubatalkan.

Suatu malam, sambil penasaran nih, kubuka buku Q & A, Smart Parents for Healthy Children dari dr. Wati. Nyari deh tentang batuk pilek pada bayi. Baca-baca sampai akhirnya menemukan tentang Bronkiolitis yang disebabkan oleh virus dan sering menyerang pada bayi yang sering terpapar asap rokok. Langsung deh, esmosi jiwa kurasa...aarrgghh. Dengan semangat 45, kuangsurkan buku itu pada suami yang duduk di sebelahku. Kulihat terus nih, oke, dia membacanya. Kutunggu tanggapannya. Lalu akhirnya dia bilang, "Kayanya Azzam sakitnya yang ini ya." Yeah, yuo're so right mister!!! Berhenti dooonk rokokannyaaaaa, please dweeh. Azzam jadi korban tuuh.

Sejak Azzam lahir, aku terus wanti-wanti agar dia merokok jauh-jauh deh dari kami. Tetep aja dia merokoknya di depan rumah. Namanya rumah kontrakan kecil mungil ya, asap rokok terkutuk itu masiiih ada melenggang kangkung masuk ke kamar, bahkan ke dapur, dan terhirup kami semua tentunya. That's why dalam status Gtalkku pernah kutulis " Perokok itu 97% cinta rokok, 2% cinta keluarga, 1% cinta diri sendiri". Hoho, status nyindir para perokok terutama si dia, tapi tetep saja ga ngaruh tuuh.

Ternyata, seminggu setelah Azzam baikan. Tiba-tiba Sabtu malam di awal Maret, dia pilek lagi. Minggu malam langsung kena serangan (istilahku) karena dia batuk berat dan mengi. Susah bernafas, otot dada dan perut ikutan tertarik setiap Azzam menarik nafas. Kasihaaan banget. Semalaman aku, suami, dan Azzam begadang. Azzam susah tidur. Besoknya, aku tidak ngantor lagi, langsung membawanya ke RS. Di sana seperti biasa, kebanyakan dokter, langsung minta agar Azzam dirawat aja di RS. Ohoho, akunya nolak deh. Kubilang agar dirawat di rumah sajalah. Azzam pun diterapi uap, setelah itu alhamdulillah nafasnya lebih ringan dan dia langsung senyum-senyum ceria. Dokter pun (dengan agak kecewa) membolehkan kami pulang, dengan meresepkan beberapa obat termasuk vitamin. Ha? Bayi 5 bulan masih ASIX kok dikasi vitamin...please deh. Smuanya ga kutebus akhirnya hehe. Dokter juga mewanti-wanti agar bapaknya jauh-jauh kalau merokok (ke laut ajeee) agar tidak terhirup oleh Azzam.

Alhamdulillah, tanpa obat macem-macem, hanya terapi uap itu dan gempur ASI plus dijemur tiap pagi, Azzam sembuh. Tentu saja, tetep kudu galak ngusir bapaknya agar merokok jauh-jauh dari rumah. Huft, berdoa semoga cepet tobat tuk berhenti merokok. Kalau sudah perokok super duper aktif tuh susah banget ya ngebilanginnya... Sudahlah, yang penting Azzam sekarang sudah sehat, minumnya sudah banyak lagi, berat badan sudah naik lagi. Luph yu puuul Naak.

Share tentang bronkiolitis selengkapnya di sini.

 

Read More

Selasa, 27 Maret 2012

Nggliyeng

Kalau si MP itu seorang teman, cewek apalagi, pasti sudah kupeluk erat, cipika cipiki trus kuajakin joget-joget bareng ala India . Ya iya lah, soalnya si MP ini teman curhatku dan aku merasa punya hutang kalau tidak cerita sama dia, berasa ada ganjalan. Tidur tak nyenyak, makan pun tak banyak *lebaaayy*

Sejak setelah merah tadi, kok aku merasa muter-muter alias nggliyeng ya. Kepala rasanya berat dan pening. Mau deh, nih kepala ditaruh dulu bentar di atas printer....berat eeuuyyy. *ngaco
Makin nggliyeng lagi nih, gegara duit KPR dari bank tercintanya PNS se-Indonesia itu kok belum cair-cair juga. Duh Ya Rabb....kalo BBM jadi naik April, bahan bagunan bakalan makin ngelonjak dong harganya . Lah duit KPR bisa-bisa jadi mefet, syukur-syukur bisa cukup deh, jangan sampai ga cukup. Sekarang ini saja, harga semen, besi dan batu bata sudah merangkak naik cuy, lama-lama jadi galau beneran nih. Suamiku aja makin susah tidur mikirinnya.
Need money immediately...

Uhuk...uhuk....kayanya masuk angin nih, tenggorokan gatel dan sudah mulai batuk-batuk, ditambah nggliyeng. Berdo'a dulu yuk, semoga duit KPR bisa cair ASAP, sebelum BBM naik. Amiiin.
Read More

Selasa, 06 Maret 2012

[Syifa] Antar Jemput atau Mandiri?

Kejadian tadi sore

Kami pulang kantor setengah jam lebih awal dari biasanya, ternyata jam segitu Syifa belum pulang dari mengaji di TPA. Saya segera mandi sebelum Azzam meledak tangisnya karena mau nenen, alhamdulillah tepat waktu, pas pulang pas ASIPnya habis. Suami saya santai sejenak duduk-duduk di bale-bale depan rumah kontrakan mungil kami.vTak lama kemudian Syifa pulang, jalan kaki bersama seorang temannya, mereka datang dari arah kiri. Lalu mbak Anik yang bertugas menjemput Syifa pun datang, naik motor bersama anak dan suaminya, dari arah kanan.

Malam harinya, abinya Syifa bertanya pada Syifa sembari ngepel lantai (kalau bukan dia yang ngepel, bakalan dipel ulang deh, kurang bersih menurutnya ).
Abi : "Syifa tadi berangkat diantar siapa? Pulang tidak dijemput mbak Anik ya?"
Syifa : Agak takut-takut menjawab pertanyaan abinya yang bernada interogasi. "sama mbak Anik, Bi. Pulangnya aku nggak mau naik motor, pengen jalan kaki sama Diah."
Abi : Tetep sambil ngepel, tapi mukanya mimik serem. "Mi, bilang tuh ke mbak Anik, kok Syifa ga ditemani"
Aku : Manggut-manggut sambil menarik nafas dalaaam.... :p

FYI, sejak bulan Desember yang lalu anak semata wayang mbak Anik ikut masuk TPA di tempat yang sama seperti Syifa. Kuminta begitu memang, jadi mbak Anik tetep bisa antar jemput anaknya, sekalian anakku juga. Sebenarnya masalah Syifa berangkat dan pulang TPA sendiri, tanpa mbak Anik tapi bersama temannya, bagiku itu bukan suatu masalah. Malah bagus menurutku untuk melatih kemandiriannya. Selama aku di rumah ketika cuti bersalin kemarin, Syifa hampir setiap hari barengan temannya, tidak diantar jemput mbak Anik. Tapi, memang abinya tidak sepaham denganku sih.
Entah ya, dia begitu protektif menurutku, sampai-sampai anak-anak kurang bebas dalam banyak hal. Padahal kalau dilihat masa kecil dia dulu...aduuuh...ibunya saja sampai bilang kalau dulu suamiku tuh polahnya kaya anak setan wkwkwk. Lah kok sekarang anak-anaknya kurang dikasih kebebasan gini.
Sebenarnya alasannya masuk akal, TPA letaknya di pinggir jalan yang ramai, banyak mobil dan motor berlalu lalang. Ngeri kali ya kalau anak-anak jalan sambil guyonan, parno lah tepatnya. Padahal usia Syifa sudah hampir 7 tahun lho, sudah saatnya belajar mandiri kan....

Akhirnya malam itu aku sms mbak Anik. Dan sesuai dugaanku, mbak Anik menganggap tidak ada yang salah kalau Syifa pulang jalan kaki bersama temannya, sedangkan dia bersama suami dan anaknya. Akhirnya kujelaskan, bahwa maksudku dan suami itu ngeman-eman Syifa, menjaga banget Syifa. Makanya mbak Anik diberi tugas antar jemput. Kalau tidak begitu, ya lebih baik mbak Anik tetep di rumah saja tho, jaga si Azzam saja. Aku ngerti sih, bagaimana pun sebagai ibu mbak Anik pengen tiap hari antar jemput anaknya, tapi bagi kami, dalam jam kerja, tetep harus Syifa juga diutamakan. Toh ada suami mbak Anik yang juga selalu antar jemput anaknya.

Memang, Syifa tidak seberani dan sebebas aku dan suami dulu ketika masih kecil. Main ke sawah, ngilang ke kampung sebelah, babak belur berkelahi (aku dulu jago berantem jugaa ), sekolah, ngaji berangkat sendiri... Aah..mungkin jaman sudah banyak berubah. Sering parno juga mendengar banyaknya penculikan, kasus sodomi, perkosaan pada anak, duuuh miris hati ini. Ya Rabb...lindungilah anak-anak kami dan juga semua anak-anak yang masih polos dan lugu itu, merekalah calon pemimpin masa depan.

Read More

Jumat, 24 Februari 2012

[Farah] Kok Masih Cedal?

Si tengahku yang satu ini memang beda banget karakternya dibandingkan dengan Syifa kakaknya *yaiyalaaaah :p.  Lha wong sejak dari kandungan saja beda kondisi ya, kan berpengaruh banget tuh kondisi psikologis ibu saat mengandung terhadap si jabang bayi. Nah, sepertinya saat aku hamil Farah itu, lagi temperamental banget deh. Pas punya ART yang duuh ABG nyebelin suka bikin ulah gitu, pulang malem sama pacarnya, hiks nggak banget. Jadilah aku sering esmosi dibuatnya, dari nahan dalam hati sampe berdarah-darah nih *lebaaay, sampai akhirnya kuomelin tapi akunya yang sampe nangis-nangis di depannya, dianya lempeng aja.

Sewaktu Farah masih usia hitungan bulan saja sudah terlihat temperamennya. Masa di usia segitu dia sudah main cubit pukul siiih...asli sampe heran deh. Pernah nih, saat kuajak ikut pengajian ibu-ibu, Farah duduk berdekatan dengan anaknya temanku yang seumuran dengannya. Eh, tiba-tiba saja Farah yang tadinya anteng, langsung main hantam saja tuh ke anak temanku tadi. Seolah-olah dia merasa terancam *beuh bahasanya*, jadi langsung ciaat...ciaat membela diri deh. Yo nangislah anak temanku tadi, akunya cuma bisa melongo.

Sekarang usia Farah sudah 4 tahun 7 bulan lebih 9 hari, dikit lagi sudah 5 tahun saja. Subhanallah tidak terasa ya....bakalan jadi cewek aja nih (brarti aku makin tuwiiirr hahay). Selain suka emosi, Farah juga keras wataknya. Misal nih, tentang celana dalam, kubelikan yang ada gambar-gambar lucunya di bagian pantat. Nah, menurut dia, gambar lucu itu harusnya ada di bagian depan, bukan di belakang. Ngotot dia megang pikiran kaya gitu, akhirnya meski berasa kurang nyaman, dia tetep keukeuh memakai celana dalamnya dengan bagian belakang dipakai di depan. Kalau kutanya dan kukasih tahu, dia cuek aja. Seringnya, saat aku tidak bermaksud menertawakan atau marah, eh dia malah sudah sangar duluan. Langsung posisi mau mukul, manyun, kadang melotot, dan kadang juga langsung mewek. Huhuhu...mesti super sabaaar menghadapi si tengah ini.

Dulu saat masih berumur 3 tahun dan bicaranya masih belepotan tidak jelas, aku masih maklum. Meski pada umumnya di usia segitu anak cewek sudah cerewet ngomongnya dan sudah jelas kata-katanya. Dalam hati aku terus memupuk harap, Farah akan bisa bicara jelas dengan sendirinya nanti, tanpa harus terapi wicara atau macam-macam seperti yang diusulkan oleh orang tuaku. Toh, Syifa dulu juga sempat telat bicaranya. Namun, kok sampai sekarang bicaranya masih lebih parah dari cedal ya?? Tidak hanya susah mengucapkan huruf R tapi semua huruf mati diucapkan tidak jelas, bahkan ada yang hilang.

Oke, aku cek lidahnya, kali aja pendek. Ternyata tidak, normal tuh. Aku betulkan kata-katanya yang salah, sekali dua, dan dia menirukan...eh, bisa tuh. Tapi saat dia mengucapkannya lagi tanpa sadar balik lagi deh ga jelas gitu. Heemm.....kenapa ya??Atau dari dianya sendiri yang malas tuk bicara bener? Karena banyak yang dia harusnya bisa tapi tetep saja ngucapinnya salah. Meski, ada beberapa kata yang memang dia kesulitan untuk mengucapkannya sih.

Dulu, saat Syifa umur 3 sampai 4 tahun, dia rajin banget belajar. Seneng dan semangat banget diajari nulis dan baca. Kalau Farah?? Haha...baru nulis satu huruf saja sudah bilang capek, kadang bilang ngantuk. Mauku sih, ga kupaksa ya, biar dia nemuin kesenangannya sendiri. Meski aku tahu juga, sebentar lagi dia masuk TK (sengaja telat kumasukkan TK karena belum bisa ngomong dengan jelas), di sana pasti bakal diajari nulis dan baca dikit-dikit. Lha kalo Farah, di PG saja dia berani tuh ngambek dan nyubit bu gurunya kalau dia disuruh nyoba nulis. Pokoknya dia tidak bisa dipaksa, harus dengan kata-kata lembut rayuan pulau kelapa deh. Dan kalau suamiku, maunya dia si Farah tuh bisa kaya kakaknya. Duuh beda lah ya, dan seumuran Farah kan ga usah dipaksa baca tulis dulu harusnya. Sayang, suami beda paham, meski sudah seringkali dibicarakan tetap saja, dalam anggapannya anak umur segitu harus bisa baca tulis sebelum masuk SD. Hiks, memang sih kenyataannya SD sekarang seperti ini, masuknya saja dites ya, mana bayarnya mahal *mewek di pojokan.

Hem....apakah masalah Farah ini semua bersumber pada sifatnya yang keras dan teguh pendirian meski salah?? Jadi agak susah rasanya kalau mau mengarahkannya, salah body language atau kata sedikiiit saja, dia sudah antipati. Kalau kita malah emosi, dia bakal makin menarik diri dan ngambek. Bener-bener harus ekstra sepertinya, ekstra sabar, dengan taktik yang mengena agar Farah tidak merasa digurui, tapi diajak ngobrol santai. Tapi kan nemu kliknya yang sering susah...

Haruskah Farah ikut terapi wicara? Haruskah Farah masuk sekolah yang khusus, maksudku benar-benar bisa memahami dirinya? Tapi sekolah dimana? Terpikir olehku Sekolah Alam, tapi kan mihiiil...Ah, anakku sayang...semoga umi dan abimu bisa makin sabar dan pinter membimbingmu ya Nak...

*Farah dan Azzam



 



Read More

Kamis, 23 Februari 2012

Bangkit Dari Kubur

Hiiiyy...sereeeem....kaya judul pilem jadul yak hihi. Ternyata sudah sebulan lebih 12 hari sejak postingan terakhirku. Kemana aja ya....... :p

Makin (sok) sibuk nih ceritanya. He-eh, sejak ikutan gabung meramaikan dunia bisnis MLM yang memang sudah amat sangat rame (di MP jg rameee yg ikut), kok malah susah mau ngejurnal. Sudah banyak yang tau kan d'BC-Network?? *ckck ngacung semuanya.... Aku baru saja join tanggal 11 Januari yang lalu. Entah kesambet angin apa kok tiba-tiba nyemplung juga di situ. Padahal aku tau Oriflame sejak tahun 2002, waktu itu baru saja masuk di Makassar lho. Aku iseng-iseng bantuin saudaranya suami yang kebetulan member Oriflame. Hanya menjualkan saja, tidak masuk jadi anggota. Plus bawa juga katalog Sophie Martin dan apa lagi ya yang satu namanya...*duuh lupa hehe. Lumayan dapat uang jajan sedikit-sedikit, secara waktu itu masih baru saja lulus D1 di Makassar.

Dari dulu sampe kemarin itu ada saja yang ngajak ikutan join d'BCN tapi aku ga minat blas. Lalu tiap hari lihat status teman maya di FB yang cerita asyiknya dan enaknya dapet penghasilan di MLM ini...hem kok jadi mupeng hihi *mataduitanmodeon. Puncaknya nih...shock sewaktu tahu biaya masuk SDI di sekitaran Bintaro sana yang jumlahnya puluhan juta . Beneran, kaget maakk!! Ada yang 11 jeti, ada yang 20 jeti, bahkan 25 jeti *mewekdarah. Lalu teringat gajiku dan suami yang bakalan dipotong sama bank sampe bertahun-tahun yang akan datang *makinngenes. Di situlah, aku lalu niat nyemplung juga di bisnis ini, meski MLM *sowhatgetolooh* yang konon ribet dan banyak yang ga suka. Pikirku, kalau ada banyak orang yang bisa sukses di situ, kenapa aku tidak?? InsyaAllah bisa lah ya..dan bismillah aku join deh. Kebetulan uplineku teman maya juga, sesama pegawai pajek, jadi dah kenal cukup lama. Heran dan kaget, ternyata banyak teman2 kantor yang rame-rame ikutan. Heemm...mau pada resign rame-rame kali yak kalau sudah sukses smua di sini hihi...bisa heboh DJP kalau ditinggal resign rame-rame sama pegawai ibuk2nya .

Begitulah, hari demi hari makin padat rasanya. Di sela-sela kerjaan kantor yang tiada habis, aku manfaatkan waktu istirahat atau pas senggang tuk ngutek2 bisnis baruku ini. Jualan VCD, krupuk Kenny dan satu lagi yang baru kupegang, si sprei merk Star masih jalan juga, pelan-pelan sih, yang penting dapet untung meski sedikit alhamdulillah. Tuk nambah-nambah pemasukan lah.

Berdo'a semoga semuanya ini berkah, semoga semua teman2 MP maupun FB yang juga sibuk kerja, sibuk dagang bisa sukses smuanya ya.... Amin Ya Rabb...


Read More

Kamis, 12 Januari 2012

Berkubang Dalam Hutang

Asal tidak berkubang dalam dosa yaaa....tapi tetep deh yang ini tetep bikin nyesek. Hutang ooh hutang. Benar-benar bisa bikin orang galau sampai kacau apalagi kalau tidak ada uang untuk melunasinya.

Alkisah, kemarin tiba-tiba seorang teman di Majene memberi kabar. Cukup lama memang tak terdengar kabar darinya, terakhir sekitar beberapa bulan yang lalu setelah aku melahirkan. Itupun setelah suaminya yang tanpa sepengetahuannya meneleponku untuk meminjam sejumlah uang yang mana tidak dapat kuberikan karena aku juga lagi bokek :D. Heran juga, nih suaminya kok tidak bercerita kepada temanku, kan istrinya sendiri, main rahasia-rahasian segala.

Ah....musibah, datang tak dinyana, siapa kan menyangka, bikin kaget saja. Cukup terkejut juga aku mendengar kabar darinya. Tersedu sedan tangisnya. Bicaranya kacau dan terbata-bata. Suaminya itu pergi meninggalkan dia dan anaknya yang masih 9 bulan usia, entah kemana. Makin terpukul, karena ternyata suaminya pergi dengan meninggalkan hutang di mana-mana dan berbunga. Duuuh...miris dan super sedih aku dibuatnya. Suami berhutang tanpa bercerita padanya, rencananya untuk mengurus sertifikat tanah atau apalah. Sialnya orang yang diserahi uang hasil berhutang untuk mengurus sertifikat itu malah kabur entah kemana, membawa serta semua uang itu. Tinggal suami temanku yang melongo ditagih utang rentenir, mungkin karena tak sanggup menghadapi (ah tak jantan kau jadi laki-laki ) dia malah pergi, sendiri. Meninggalkan sang istri untuk menghadapi kejaran penagih hutang yang datang ke rumah setiap hari dengan marah-marah.

Ah....nasib, membawamu ke dalam situasi macam ini, teman. Ingin hati aku membantu, ingin hati aku membobol rekening untuk membantumu, tapi rekening siapa?? Aku saja tak punya tabungan, gaji tiap bulan ya habis dimakan hari-hari. Lalu apa yang bisa kulakukan...ah, pasti kan kucarikan jalan, kan kucoba bantu sekuat tenaga.

Baru saja dia menelponku lagi, masih sambil menangis. Mengemis katanya padaku agar aku bisa membantu, melunasi sebagian hutangnya itu...Makin sedih aku saat dia berkata terlintas keinginan untuk bunuh diri beserta anaknya yang masih bayi....oh no!! Jangan wahai teman, lebih besar masalah yang akan kau hadapi di alam akhirat nanti. Semoga kau tetap tegar dan sabar, jangan jauh-jauh dari Allah...merapatlah...mohonlah pertolongan, baca terus doa agar terlepas dari hutang yang dicontohkan Rasulullah saw.

*aah sedihnya....
Read More

Rabu, 11 Januari 2012

Dimana...Dimana...Dimana...

*ayuting2 mode on
Hedeeeh....beneran nih, mulai deh galaunya. Begini ceritanya...

Sejak pertengahan bulan Desember 2010 yang lalu, aku dan suami berniat membeli (dengan kredit tentu sajaaa) sebuah rumah hunian di daerah Bintaro dan sekitarnya. Pokoknya nyari yang harganya terjangkau oleh kreditan gaji PNS golongan II . Hampir tiap hari kami berdua keliling melihat-lihat berbagai macam rumah yang infonya didapat dari mantengin situs-situs penjualan rumah. Tidak hanya ke Bintaro tapi juga sempat ke Ciledug, tapi nihil, tidak ada yang cocok. Ada rumah yang harganya oke tapi kecil, ada rumah yang harganya lumayan maksa tapi kegedean rumahnya, ada yang terlalu jauh jaraknya dari kantor, susah transportasinya, macem-macem deh. Sedangkan rumah impian kami adalah rumah mungil dengan halaman cukup luas.

Akhirnya banting setir, dari keliling-keliling lihat rumah sekarang jadi cek lokasi tanah. Hampir banget beli di Pondok Safari tapi ga jadi. Ketemu jodoh deh sama tanah di jalan Cucur Bintaro 4 dan kami adalah pembeli pertama sehingga lumayan dapet harga lebih murah dari pembeli selanjutnya. Dengan bermodal kreditan kami pun bisa memiliki tanah idaman, nah rumahnya gimana? Hehe namanya juga PNS, kredit lagi laaah. Sayang urusan kredit kali ini agak terhambat dengan pengurusan IMB sehingga rencana pindahan kami dari Mampang ke Bintaro sebelum waktu tahun ajaran baru sekolah dimulai terancam njlimet.

Ternyata...ngurus IMB tuh bisa mahal bisa murah, tarif beragam. Biasa deh birokrasi yang dibikin njlimet dengan pungli dimana-mana. Karena keterbatasan dana itulah maka pengurusan IMB untuk calon rumahku bisa 2 sampai 3 bulan baru selesai, termasuk yang lama. Padahal rencana semula, kalau bisa cair pembiayaan pembangunan rumah dari bank bulan ini dan langsung dimulai pembangunannya, kira-kira dalam 3 bulan kami sudah bisa menempati rumah tersebut. Tentu saja proses masuk sekolah Syifa ke SD dan Farah ke TK akan lebih mudah karena sudah domisili di Bintaro.

Kenyataannya sekarang tidak demikian. Artinya demi sekolah anak-anak, mau tidak mau kami sekeluarga harus tetap pindah ke Bintaro meski belum ada rumah alias ngontrak. Dimana?? Belum tau nih, belum kebayang, belum nyari. Lalu bagaimana sekolah anak-anak nantinya ya, pengen masukin Syifa ke SDIT tapi mihil kan, begitu juga TKIT, biaya yang tidak sedikit untuk mereka berdua -sigh-. Biaya masuk sekolah anak TK dan SD saja jumlahnya hampir setara uang kuliah jaman dulu (ga tau kalau sekarang, kurang lebih sama ya?). Itupun masih dengan pertanyaan yang sama...Dimana?? Lha wong sekolahnya saja belum nemu kok, duh pusing jadinya.

NB : Kalau ada teman MP yang punya info sekolah di sekitaran calon rumah di Jalan Cucur, Pondok Aren, Bintaro 4...mohon sharingnya ya....matur tengkyuuu




Read More

Kamis, 05 Januari 2012

Cinta Buta

I think, it's needed sometimes. Tanya kenapa?
Tahu dong yang namanya cinta buta. Sejelek apa pun si dia, entah fisiknya, tindak tanduknya, atau perangainya, ealah masiiiih saja dibela-belain. Model cinta seperti ini biasanya melanda pasangan yang masih  pacaran, belum menikah lah. Pokoknya serasa bunga-bunga dimana-mana, dunia milik berdua yang lain pada ngontrak.

Bagi pihak yang sedang dijatuhi cinta buta, bagaimanapun keadaan pasangan, dia tidak peduli, nggak ambil pusing gitu. Seringkali melihat, si cowoknya pengangguran, muka pas-pasan, oalah kelakuan ga bener, suka mabuk gitu misalnya. Kok ya si cewek tetep keukeuh bilang I Love U. Sedangkan bagi pihak lain yang masih mikir waras bin terang benderang, pasti sudah mengurut dada, istighfar sambil geleng-geleng kepala.

Lha terus kapan dan bagaimana cinta buta (kadang) dibutuhkan? Jawabannya (menurutku) adalah saat kita sudah menikah, baik yang menikahnya karena dijodohkan atau karena sudah pacaran sebelumnya.

Setiap diri kita dan pasangan pasti punya kekurangan yang mana pada masing-masing pasangan pasti punya trik tersendiri untuk menyiasatinya agar bisa hidup tenteram damai aman sentosa bahagia selamanya. Lagipula yang punya kekurangan toh bukan hanya pasangan kita, tapi kita juga gitu lhoooo. Jadi nggak usah terlalu ribet, banyak menuntut dan tidak sabar menghadapinya. Intinya sih, saat melihat kekurangan pasangan, merem aja deh. Maksudnya mbok ya sabar, sama-sama sadar untuk terus memperbaiki diri. Tidak mungkin bagi kita dan pasangan untuk tiba-tiba menjadi sesuai seperti yang kita inginkan. Bukannya bahkan ada kekurangan yang sudah jadi cetakan pasangan kita alias susah dirubah tho?? Masa mau maksain agar pasangan kita berubah sesuai dengan apa yang kita mau. Tidak mungkin juga tiba-tiba kekurangan itu cliiiiing....lenyap dan menghilang begitu saja. Bisanya kan paling tidak dikurangi ya, sedikit demi sedikit menuju ke arah yang lebih baik.

Di sinilah peran cinta buta itu. Jangan sampai gara-gara tidak berkenan dengan kekurangan pasangan lantas kita melupakan kebaikan-kebaikannya yang sebenarnya banyaaak deh. Hati-hati lho, terlalu mempermasalahkan kekurangan malah bisa menurunkan kadar cinta kita pada si dia. Dulu sewaktu sebelum menikah kita bisa tuh (sok) menerima dia apa adanya, tidak banyak mempermasalahkan, setelah menikah resiko itu ditanggung bersama dooonk. Sama-sama saling menghargai, memperbaiki, jangan saling menuntut saja.

Jadi, cintailah pasangan dengan kadar yang tak berkurang meski kini kita sudah mulai enek dengan kekurangan-kekurangannya, lapangkan dada biar lebih bisa memahaminya, empati, dan lebih sabar. Cinta buta pada pasangan karena Allah bukankah berpahala .


Read More

Rabu, 04 Januari 2012

Waktu Untuk Menulis

Susaaaahh...........
Makin kesini makin susah saja menyisihkan waktu untuk menulis jurnal di sini. Kalau hanya untuk menulis curcolan sih gampang ya, cepet gitu kaya ini ni. Tapi pengen banget bisa menulis yang bener, hal-hal yang lebih berat (batu kaleeee) yang seringkali berseliweran di benakku dan begitu ingin kuingat dengan menuliskannya agar dapat menjadi jejak-jejak dalam kehidupanku (jadi ingat buku jejak-jejak terseraknya mas jampang).

Kerjaan banyak, harus merah ASIP pula. Barang dagangan terbengkalai, tersimpan (tak) rapi di dalam dos di bawah meja kerjaku. Kalau dulu ada waktu luang langsung dipakai untuk nawarin dagangan dan ngeblog, sekarang kan buat pumping tho. Gak enak hati kalau aku jadi maruk korupsi waktu banyak-banyak bin kebanyakan :(

Menejemen waktu.
Harusnya bisa ya, diatur sedemikian rupa agar semua bisa berjalan seimbang. Jalan semua gitu. Kalau nulis yang ini sih sembari kerja juga, nggak make mikir makanya bisa nulis cepet. Pas cuti kemarin itu sempat nulis di notes kecil, rencana mau diposting kalau sudah bisa megang kompi lagi, ternyata sampai sekarang belum sempat juga .

Apalagi blogwalking....huuu....mana sempaaatt.....kangen euy mampir di MP-nya si anu, si itu, si dia, banyak deh, kangeeeeen *mewek di pojokan.

Weits udah jam segini, waktunya pumping...............
Read More