Senin, 11 Maret 2013

Renungan (2)


Rasanya menyesakkan, seperti menemukan jalan buntu. Terhimpit, butuh helaan nafas panjang agar bisa tenang dan kemudian berpikir jernih.
Masalah...silih berganti datang. Perlu kesiapan dan kekuatan mental untuk menghadapinya, mencari jalan keluar yang paling baik, dan menyelesaikannya. Bagi pecundang, mungkin akan lebih baik lari dari masalah yang ada di hadapannya. Akan ada pengingkaran-pengingkaran dan juga pembelaan diri akan aksinya itu. Puncaknya adalah mengasihani diri sendiri, sehingga ia akan merasa sah-sah saja jika ia menghindari masalah yang ada.
Kemana kita akan berlari ketika masalah datang menghampiri?  Ketika kemudian gagal fokus dan gagal paham, berbelok dan salah arah bukan menuju Allah. Maka makin terasa berat beban yang menghimpit. Makin terasa besar masalah yang ada. Makin tersesat dalam labirin dilema. Seringkali kita alpa, menggantungkan harap pada sesama, bersandar pada yang fana. Lupa bahwa itu semua akan sia-sia. Hanya akan berbuah kecewa, bahkan duka.
Ada kalanya kita begitu jenuh menghadapi suatu hal. Merasa telah sampai di titik maksimal daya juang kita dan berpikir untuk menyerah. Seringkali kita lupa bahwa selalu ada hikmah di setiap kejadian. Selalu ada ujian di setiap kenaikan derajat iman. Selalu ada jalan keluar di setiap masalah.*) Selalu ada kemudahan bersama kesulitan.**) Diri ini boleh lelah, tapi tak boleh menyerah.
Selalulah ingat bahwa akan ada akhir dari sebuah awal, seberat apapun itu. Bahwa Allah tidak akan memberikan kita soal ujian yang tidak bisa kita jawab ***) Aku harus tetap positif dalam menghadapi semua hal, tetap tersenyum, tak usahlah selalu menangis, toh tidak akan merubah apapun.****) Saat ini menerima kesulitan sebagai ujian, lain hari bisa jadi mendapat kemudahan, pun sebagai bagian dari ujian yang Allah berikan.
Note :
*) Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
**)”Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.” (Al Insyiroh [94]: 5-6).
***)"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Al-Baqarah [2]: 286).
****)“…..Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita..,” (At-Taubah [9]: 40).
Read More

Senin, 04 Maret 2013

2013 : Tahun Jerawat

Sejak jaman dahulu kala, aku memang sudah akrab dengan yang namanya jerawat batu. Itu tuuh yang kalau muncul bakalan senut-senut sakit, trus kalau udah nongol keliatan guede kaya udun, merah merona endut gitu penampakannya. Sebel bangeeet. Maklum sih, secara wajahku ini tipenya kulit berminyak, keling-keling dan konon yang jenis kulitnya berminyak itu bakal awet muda *cihuuyy*. Jadi, biarlah akrab dengan jerawat batu, asalkan bisa awet muda wkwkwk *gagalfokus*.

Nah, selama ini si jerawat batu ini memang rutin muncul. Well, paling tidak sowannya sebulan sekali pas deket-deket waktunya datang bulan gitu deh. Normal kan ya, jumlahnya juga palingan sebiji doang, guede, sakit, trus ilang deh. Ga pake obat ga pake sembur (dukuun kaleee) tuh jerawat batu udah say byebye. Sejak aku join jadi konsultan Oriflame pada Januari 2012 yang lalu, mulai deh tuh aku uji coba beberapa produk perawatan wajah plus kosmetiknya ke mukaku yang biasanya polosan ga make apa-apa blas (asli males, bukan karena ga ada duit atopun pedit, suweeerr).

Beralih dari susu pembersih, toner, sabun muka, sampai akhirnya berani memakai alas bedak, day cream (sekalian night cream *kalo ga males), bedak, blush on (kadang-kadang), eye shadow (nyoba aja), dan lain-lain seabreg-abreg tuk pemakaian keluarga mulai dari sabun mandi sampai roll on. Dan...alhamdulillah wajahku baik-baik saja, cocok tuh ma si Oriflame ini. Memang awalnya aku ragu bakalan cocok, secara Mamaku selalu bilang bahwa yang cocok untuk kulit muka wanita tropis kaya di Indonesia, ya kosmetik buatan kita sendiri, Viva misal. Biar kata tanteku dulu, itu merek pembantu (nyebelin kan) tetep aja Mamaku termasuk aku make terus, udah murah, cocok lagi. Nah, berhubung aku nyemplung di Oriflame, yaaa tuntutan karir MLM laah *tsaah* maka aku harus ganti haluan, semua-semua by Oriflame.

Setahun berjalan, everything is ok. Jerawat datang dan pergi, bisa dibilang jarang sekali. Lah kok, ujug-ujug di tahun 2013 ini, muncullah jerawat batu yang guedeee dan meraaah, huaaa. Menjelang datang bulan sih, tapi kok bikin ilfeel bangeets, ga ilang-ilang meski haidnya udahan. Teman-teman di kantor selalu komentar plus godain kalau ketemu di jalan apalagi di toilet wanita (ya iyalaaah, masa toilet pria!!) Aarrgghh tidaaak!

Tuuh diaa, keliatan kan? Gede, merah, satu tapi bandeeell. Meski begitu, ternyata tidak menyurutkanku untuk tetap narsis hahaha. Malah sengaja berpose untuk mengabadikan acne of the year. Dan, sayangnya sodara-sodara, jerawat satu itu bukan akhir cerita. Dia adalah awal dari rentetan jerawat yang sambung-menyambung munculnya menghiasi wajahku :(





Asliii, ga ngerti deh, nyeraaah kalau ditanya sebabnya. Ga cocok kosmetik? Lha wong setahun terakhir ga popo kok. Lagi hamil? Huaaa, ampuuun si Azzam belum genap 2 tahun masa dah tekdung lagiiii. Puber? Wadduh, uhuk..uhuk....hihihi puber ngegandrungi Cowboy Junior barengan Syifa n Farah plus Ardhy di IMB kaleee.

Yo wis, kucuekin aja deh jerawat-jerawat tak tau diri itu, lagi dan lagi muncul di wajah. Biasanya juga ga dikasi apa-apa bisa ilang sendiri, kali ini juga kubiarin, ga ngobat apa-apa, mbuh wiis sak karepmuu. Lah dalah, malah tambah uakeh ik, huhuhu. Makin rame di muka, makin rame yang komentar, dari yang bener-bener prihatin sampai yang bahagia di atas penderitaanku hiks. Ini nih, ramenya si merah cenut-cenut di mukaku.
Hoho, narsis panceeettt ^_^


Sekarang sih, hanya pengen facial aja, dah lama banget ga sowan ke salon. Pencegahan yaaa aku ga boleh lalai, kudu rajin bersihin muka sebelum bobo. Ga boleh bablas ngiler bareng krucil dengan muka dekil berdebu belum dibersihkan. Trus ya stop memakai make up, yang biasanya (sok) rajin bedakan n blush on tipis, sekarang nggak deh, lebih ke malesnya sih ini hoho. Sehari-hari sekarang hanya oles day cream tipis, biar ga kering kulit kena AC seharian. Oya, akhirnya kemarin itu nyobain masker jerawatnya Sariayu, lumayan tokcer, jerawat jadi kering looh. Dan nanti mau rajin maskeran ma buah tomat aah. Pokoknya yang murmer maknyus :p
Read More

Selasa, 26 Februari 2013

Cinta Itu.....

Ketika aku mengingatnya...begitu membekas dalam angan.
Ketika aku menyebutnya...membuatku tersenyum manis dan bahagia.
Ketika aku berbicara dengannya...hatiku juga ikut berbicara.
Ketika aku memikirkannya...dia juga memikirkanku.
Ketika aku memandangnya...kulihat matanya merengkuhku dalam sejuta makna.
Ketika aku jauh darinya...hati ini terasa dekat.
Ketika sehari tak bertemu dengannya...rinduku membuah asa.
Ketika aku menyentuhnya...kutahu dia Cinta.



Read More

Jumat, 22 Februari 2013

Playdate @playparq

Ternyataaaa, anak-anak imut SD kelas 1 jaman sekarang ya, udah ga imut kelakuannya haghag. Ngagetin banget, nggak kaya jamanku pas SD dulu *flashback, eeeemm brp puluh tahun yang lalu yaa?*. Kalau dulu kan nih, palingan main ya ke tetangga, paling jauh ke kampung sebelah. Itu juga udah berasa jauuh, dan pulang-pulang dicubitin Mamaku dari atas sampe bawah hikhik *kenangantakterlupa. Nah, sekarang ngerasain punya anak SD, tapi beda jaman, jauuuhlah bedanya. Ga bisa dibandingkan dengan jaman baheula kan.

Awalnya Syifa sekilas bercerita tentang teman-teman grupnya bahwa mereka ingin pergi main bersama-sama. FYI, di sekolahnya setiap kelas dibentuk kelompok-kelompok belajar gitu, tempat duduknya pun melingkar per kelompok, ada 4 sampai 5 orang murid. Nah, mau tidak mau tentu Syifa lebih akrab ya dengan teman segrup/kelompoknya itu. Nah, sekali, dua kali, Syifa menyampaikan rencananya beserta teman-temannya itu, aku cuma manggut-manggut doang. Lha, secara rumah teman-temannya jauh-jauh, ga bisa didatengin make mersikil alias jalan kaki aka walking-walking. Mau nganter Syifa gitu make motor? Iya kalau bapaknya mau anter, palingan juga ogah. Aku yang nganter gitu? Walah, nggak bisa bawa motor akunyaaa :'(

Hari ketiga atau keempat, makin kenceng Syifa menyampaikan niatannya pergi bareng teman-temannya. Kali ini dia memberikan padaku secarik kertas bertuliskan nama dan nomor hape dari ibu teman-teman segrupnya sambil berpesan,
"Ini lho Mi, nomer teleponnya Mamanya temen-temenku, disimpan ya, ntar kalau ada apa-apa bisa telpon-telponan."
Aku manggut-manggut sembari membatin, ini anak kok semangat bener ya, mau agar Uminya kenal dengan Mama-mama yang lain. Syifa juga bercerita bahwa nanti rencana main barengnya ke Dufan aja, diajak sama mamanya Keisha gitu. Apaaa!! Dufan yak, wadduh, jauhnya, mana tanggal tua lagi. Aku jadi was-was nih, ini rencana khayalan apa beneran seeh. Kok kayanya serius banget ini anak, ga hentinya bujuk-bujuk agar diperbolehkan ikut main. Sampe akhirnya aku nanya juga, nanti gratis apa bayar sendiri gitu, hahahah, ampuuun *emakgamaurugi.

Tiba-tiba di siang hari ketika aku di kantor, ada sms dari mamanya Keisha, ngabarin bahwa rencana mainnya beneran jadi, anak-anak mau ke Playparq hari Kamis tanggal 24 Januari, pas banget kan tanggal merah alias libur. Aku masih ragu nih, ini beneran mamanya Keisha yang ngajakin (dan bayarin *ngarep) apa ini murni rencananya anak-anak itu ya? Akhirnya aku telpon deh mama Keisha, sekalian kenalan lah, hitung-hitung nambah teman kan yak. Katanya, mama Keisha sudah hubungi mama-mama yang lain, dan setuju kalo ketemuan di Playparq Bintaro yang baru dibuka. Cerita Mamanya Keisha, ternyata Keisha yang maksa-maksa agar mamanya mau hubungin mama-mama temannya satu-satu. Jadi memang rencana mereka itu dah mateng, Keisha yang mukul gongnya. Nodong nih bocah-bocah haha.

Duh, aku ga ngeh dimana tuh lokasinya, cepet-cepet gugling deh. Sstt sekalian cek HTM, secaraaaa tanggal tua haha. Ga mungkin kan pergi anterin Syifa doang, lha Farah gimana? Kesian kan kalo disimpen di rumah aja, sedangkan kakaknya have fun dolan. Berarti ngitung HTM buat dua bocah nih hoho, slamet-slamet masih nemu lipatan duit di dompet haghaghag. Yo wis, bismillah berangkat, duo Syifarah sooo happy, sueneng pol mau dolan, dedek Azzam ga diajak, takut kehujanan.

Tibalah hari H, naik motor berempat kesono, sempet nanya sama mbak-mbak dan bapak-bapak di warung pinggir jalan soale ga ngeh sama lokasinya. Ternyata memang ga jauh sih, di Bintaro sektor 1 kok. HTM untuk hari libur Rp. 90.000,- per anak, kalau emaknya bawa KTP Bintaro jadinya cuma Rp.60.000,- aja. Sayang waktu itu KTP ku belum jadi, jadi ya bayar full. Oh ya, kalau pas Selasa malah murah lagi jadinya, Rp.30.000,- aja, tapi yaaa hari kerjaaa, siapa yang mau bolos anter anak main gitu? Haha.

Daan..alhamdulillah bener-bener have fun!! Aku dapet teman-teman baru, bisa kenal sama mama-mama cantik keren. Anak-anak juga syeneng buanget bisa main sampe puas, sayangnya ada satu temannya yng tidak datang karena sakit.















Nah, ini dia Syifa, Farah, Keisha, Kim, dan Khaira ^_^ Imut-imut yaaa, tapi dah berani nodong emak-emaknya hahaha.
Read More

Jumat, 25 Januari 2013

Si Bebe Sumber Galau

Koooyooo ngenee rasaneee *nyanyi lagu Jowo #muka galau

Gadget yang bernama handphone memang satu-satunya yang kumiliki, hape jadul yang setia menemani. Bukannya karena medit mlirit sehingga aku tidak segera menggantinya dengan hape baru (padahal emang bokek), tapi memang merasa belum butuh banget sih. Selama hape jadul bisa buat konek internet, udah cukup.

Seiring dengan berjalannya waktu *tsaaah, ada keinginan untuk kembali eksis jualan online, ditambah lagi dorongan faktor kepepet juga sih. Dan untuk melicinkan rencana tersebut, aku membutuhkan sarana, minimal ya hape yang memadai untuk upload foto-foto barang dagangan dan mempromosikannya di sosmed.

Sebenarnya, bebe adalah pilihan yang umum ya. Melalui BBM dan grupnya, oya bisa whatsapp-an juga, kita bisa dengan mudah mempromosikan dagangan, bisa eksis juga di sosmed yang rame seperti FB dan Twiter. Bisa kirim-kirim gambar juga ke supplier barang misalkan mau jualan sistem dropship.Tapi, kurang sreg sama si bebe ini. Konon, suka nge-hang dan dari banyak cerita teman sih sering "sakit" bebenya dan harus dibawa ke "dokter". Males banget ngebayanginnya, kurang nyaman.

Banyak teman-teman dumay yang selama ini sudah eksis dagang online menyarankan si bebe. Bahkan teman-teman bukan seller juga menyarankan hal yang sama. Sayang, sampai sekarang, dana yang seharusnya digunakan untuk modal membeli bebe harus dialihkan terlebih dahulu ke hal lain yang jauh lebih penting.

Tidak disangka, seorang sahabat menawarkan bebe jadulnya, model lawas yang dibelinya sekitar tahun 2010, si Javelin. Dia bercerita bahwa si bebe tersebut sudah lama nganggur, tidak ada yang menggunakannya. Istrinya tidak suka ber-bebe-ria dan anaknya pun lebih memilih si Android. Heem, lantas aku pun mengiyakan tawarannya itu. Si Javelin ini harga sekennya di pasaran sekitar Rp. 950.000,- ya, namun aku hanya perlu membayarnya dengan harga teman saja :D.

Nah, hari Rabu minggu lalu, si bebe sudah ada di genggaman, diantarkan oleh salah satu OB kantornya sahabatku itu. Langsung saja, aku asyik bercengkrama dengan si bebe yang sudah sekalian di up grade ke OS 5 ini, sehingga memungkinkanku untuk bisa ber-whatsapp-an juga. Kali pertama utak-atik bebe, membuat gelisah juga, langsung galau karena bebenya kurang mau bekerja sama, atau akunya yang belum terbiasa ya? Sempat mati soalnya, ternyata batrenya habis, aku ga sabar sih, ga ngecek dulu. Malamnya udah bisa dipakai sih, udah mulai ribut BBM-an, tapi kok terus nge-hang yak, duh. Ga bisa diapa-apain, dipencet-pencet juga ga ngefek.

Galauku berangsur hilang, saat seharian besoknya si bebe cukup lancar bisa dipakai. Meski, ternyata tetap sempat ngambek lagi sih. Nah, pas pulang kantor, baterainya sudah low, minta dicolok, sayang sudah tidak sempat lagi. Sesampainya di rumah, si bebe tetap ngambek, tidak bisa dipergunakan meski bisa dicharge baterainya, hiks. Ya seperti yang sebelumnya, nyala sih iya, tapi dipencet-pencet tetap tidak bereaksi, duuuh. Sahabatku sampai heran dan merasa tidak enak hati, karena sebelumnya si bebe baik-baik saja kok, tidak rewel. Heemm...apa nih bebe ngikutin pemiliknya ya? Diriku yang mudah galau geje dan suka ngambek ini? Hahaha...entahlah.

Sampai hari ini, si bebe sudah masuk tempat servis dua kali. Katanya sih keypadnya yang eror, sudah diganti baru, bebe seharian bisa dipake, tapi sorenya ga bisa lagi. Yasud masuk diservis lagi, nanti malam pulang kantor baru mau diambil. Semoga lancar jaya bisa dipergunakan lah ya...Aamiin.

Read More

Senin, 21 Januari 2013

Rahasia Mengerjakan Pekerjaan Domestik Dengan Masa Depan

Repost dari Fan Page nya Darwis Tere Liye

**Rahasia mengepel, mencuci, dll dengan masa depan Anda

Tulisan ini untuk main-main saja, tidak serius–saya nulisnya saja sambil cengar-cengir, tidak pakai landasan ilmiah apalagi hingga riset lama.
Nah, ditulis, agar banyak orang realized, menyadari begitu beragamnya pekerjaan rumah yang boleh jadi kita tinggal terima beres saja.
Semoga dengan membaca tulisan ini, jadi ngeh, kalau semua pekerjaan rumah itu penting dan pantas diapresiasi.
Kabar baiknya, karena saya tidak suka menggurui orang lain, memaksa kalian, catatan akan saya tulis dengan pendekatan berbeda.

Topik tulisan ini adalah: jika kita sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan sebuah pekerjaan rumah, maka kelak, kita akan jadi pribadi seperti apa?

1. Mencuci piring
–Kalau dia cewek, maka kelak saat tumbuh besar, dia akan jadi gadis yang anggun.
Anak cewek usia 5-6 tahun, terampil mencuci piring, mulai dari membuang sisa makanan, menyiramnya dengan air, disabun, dibasuh, lantas mengeringkannya, disusun di rak piring, itu simbol betapa anggunnya kelak saat dia menjadi wanita dewasa. Kalau dia cowok, maka kelak akan jadi pemuda yang penyabar. Mencuci piring itu pekerjaan yang butuh kesungguhan bukan? Orang2 habis makan tinggal pergi, eh kita disuruh cuci piringnya. Maka, para cowok yg sejak kecil terbiasa disuruh mencuci piring, adalah laki-laki yang pantas dipertimbangkan sebagai calon suami.
Dia type suami yang penyabar.

2. Mencuci dan menyetrika pakaian
–Berlaku untuk dua-duanya, cowok dan cewek. Anak-anak yang sejak kecil dibiasakan bertanggungjawab mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, atau bahkan mencuci pakaian seluruh keluarga, akan tumbuh jadi anak yang disiplin dan paham tentang pengorbanan. Tidak mudah loh
mencuci pakaian sendiri. Banyak yang suka ditumpuk2 dulu pakaiannya, kelupaan direndam, sampai bau, maka melihat anak-anak yang sejak kecil sudah terampil mencuci pakaian, itu sama saja dengan melihat calon pemuda-pemudi masa depan yang tangguh. Apalagi menyetrika, itu menghabiskan banyak waktu, belum lagi hanya untuk tahu, disetrika rapi-rapi nanti-nanti juga lusuh lagi saat dipakai. Bagaimana kalau anak2nya bahkan semangat mau mencuci baju-baju tetangga? teman2nya? Kalau yang ini, bisa dipastikan, bakal sukses besar kalau dibuatkan bisnis laundry.

3. Menyapu dan mengepel rumah
–Kalau cewek, ini jelas akan tumbuh jadi gadis yang gesit dan cekatan. Kalau cowok, saat dewasa nanti akan tumbuh jadi pemuda yang bisa diandalkan, semua pekerjaan yang diberikan padanya akan beres. Nah, mau cewek atau cowok, anak-anak yang sejak kecil dibiasakan menyapu dan mengepel rumah, pasti akan tumbuh jadi anak yang cerdas, memakai logikanya dan sistematis. Kalian tahu, lulusan sarjana sekalipun, kalau tidak pernah mengepel lantai, maka dia akan kagok, dan lupa logika
bahwa ngepel itu harus mundur. Logika, bukan?

4. Memasak
– Wuah, anak2 cowok yang sejak kecil dibiasakan masak, besok lusa akan punya istri cantik jelita. Nah, ibu-bapak, kalau mau punya menantu cantik, anak bujangnya diajari masak, ya. Kalaupun ternyata rumus ini gagal–dan sy jelas ngarang saja, setidaknya di rumah akan ada koki kecil yang bisa diandalkan. Semua wanita suka dengan cowok yg pandai masak. Sementara kalau anak cewek yang dibiasakan masak sejak kecil, sama, besok lusa juga akan punya suami yang tampannya pol, plus baik hati. Ditambah bonus, disayang anak2nya.Jadi membiasakan anak-anak masak sejak kecil, adalah strategi paling mudah untuk memperbaiki keturunan.

5. Menyikat kamar mandi
–Bukan main, kalau dia cowok, maka sungguh beruntung Bapak/Ibu yg punya anak demikian. Kelak kalau sudah besar, dia berbakat jadi pemimpin semacam gubernur DKI Jakarta yg rendah hati dan suka mendatangi orang2 kecil itu. Tanya saja sama beliau, waktu kecil pasti rajin menyikat kamar mandi. Nah, kalau dia cewek, dia akan tumbuh jd ibu yang sayang dgn anak2nya, menjaga keluarganya, dan bisa selalu menjaga amanah.
Apa hubungannya menyikat kamar mandi dgn hal2 tersebut? Cobalah menyikat kamar mandi, toilet, dsbgnya, maka akan paham sendiri. Ilmu ini hanya bisa dipahami jika dipraktekkan. Kurang lebih demikian. Maka adik2 remaja atau juga orang2 dewasa di page ini, bersyukurlah selalu jika keluarga kita berkecukupan dan kita tdk perlu melakukan hal ini semua–sebab ada yg sudah membereskannya. Tapi se kaya apapun keluarga kita, se makmur apapun orang tua kita, kita selalu bisa memilih utk bisa bekerja di rumah, mengurus pekerjaan rumah. Jangan sebaliknya, sudah orang tuanya ngos-ngosan cari nafkah, kita susaaaahnya minta ampun disuruh ngepel. Lebih sering ribut minta pulsa biar bisa
facebookan, internetan, dan itu tuh, lebih asyik menghabiskan waktu baca tulisan2 di page tere-liye.

------------------

Bisa haha hihi juga bacanya.
 Inget jaman dulu ga biasa kerjain pekerjaan domestik kaya gitu. Nyuci baju sendiri aja baru ngejalanin pas SMA, itu juga jarang.  Kalau nyuci piring sih masih lumayan sering, malah itu pekerjaan yang akan kupilih daripada mengepel lantai dan mencuci baju haha. Memasak? Ampuun, aku doyan banget nyicip dan makan euuy, untung syukur alhamdulillah misua udah paham banget, kata dia sih mending aku ga masak deh, daripada dapur kotor berantakan, hahaha *paraaah. Alhasil, tumpukan resep makin meniggi, belajar masak juga hanya dalam khayalan :p.

Hem, jadi inget sama dua anak cewek di rumah. Harus bisa mendidik mereka lebih baik, lebih rajin, lebih mandiri, daripada jaman aku kecil dulu. Biar nanti dewasanya disayang suami dan mertua ^_^
Read More

Jumat, 18 Januari 2013

Cinta Tanpa Pamrih?

Cinta tanpa pamrih. Banyak yang bilang, cinta seperti itu ada pada cinta ibu kepada anaknya. Benarkah? Apakah memang sudah tepat dan sesuai porsi maupun peletakannya?
Sebagai ibu dari tiga orang anak, saya akan memberikan pengakuan.

Ya, saya amat sangat mencintai mereka. Saya siap mempertaruhkan nyawa, setiap kali melahirkan satu demi satu anak saya. Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti bahwa cinta saya tanpa pamrih?
Siang penuh lelah dan malam tanpa jengah, saya jaga dan rawat mereka, dari bayi merah mungil sampai menjelma menjadi bocah. Menyusui setiap saat mereka menginginkannya, mengganti popoknya entah yang kesekian kalinya dalam sehari, menggendong dan meninabobokannya di setiap malam yang panjang, dan betapa banyak yang tak kan bisa disebutkan satu persatu apa yang telah dilakukan oleh seorang ibu. Bukankah semua itu sudah cukup menjadi bukti akan cinta saya yang tanpa pamrih?

Hingga, lalu saya sadari, bahwa mungkin saya salah selama ini.
Tak ada raut wajah kecewa, sebal, apalagi marah, ketika mereka berulah, dulu. Ya, itu dulu. Kala mereka masih 100% tergantung kepada saya, ibunya. Kala mereka murni 100% di bawah kontrol saya. Kala mereka belum mempunyai kemandirian untuk menyuarakan keinginan mereka dengan kuat.

Cinta tanpa pamrih, masihkah itu menjadi jargon, ketika anak sudah pandai memilih dan saya, ibunya, malah berdalih? Ah, banyak peristiwa berkelebat dalam putaran memori saya. Terbayang Syifa dan juga Farah. Raut muka kecewa mereka, sebal, marah, tapi juga takut. Tangisan keras yang membuat emosi makin tersulut, atau terkadang hanya sesenggukan halus di sela isak tangisnya. Aaah... :( Dan berada di pihak manakah saya? Sebagai kawan ataukah lawan? Sebagai motivator ataukah komentator, bahkan kritikus? Sebagai ibu ataukah bos?

Ternyata tak mudah mempertahankan cinta tanpa pamrih itu, apalagi ketika saya mulai berharap dan meminta balasan, entah apa pun sebutannya, kepada mereka, anak-anak saya. Sudah umum menjadi do'a semua orang tua, ingin agar anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan bermanfaat bagi orang lain. Adanya nilai-nilai umum di masyarakat yang seolah menuntut untuk dipenuhi, tanpa sadar telah meracuni pikiran saya sebagai ibu. Sebut saja, anak harus pandai di sekolah, anak harus rajin, mandiri, bisa membaca menulis di usia dini, tidak cengeng, pemberani alias bukan penakut, anak penurut, dan lain-lain.  Begitu banyak label yang seolah dipaksakan harus dipenuhi oleh anak-anak kita. Dan ketika pencapaian anak tidak sesuai harapan, apa yang terjadi? Kecewa, marah, sebal, uring-uringan, atau ngomel-ngomelkah kita? Sepertinya, meski saya berusaha untuk tidak melakukannya, saya sudah pernah mengekspresikan semuanya itu, di depan maupun di belakang anak-anak saya.

Seringkali saya melupakan satu hal penting, yaitu proses. Proses amat sangat panjang dan tidak instan dalam mendidik anak. Proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses yang berpeluh dan tak boleh jenuh. Dan faktor utama pendukungnya adalah keteladanan. Yup, keteladanan dari orang tua bagi anak-anaknya. Apa yang kita inginkan bagi mereka, tentu saja yang terbaik bagi mereka (ingat, menurut kita ya, jadi tidak semua pilihan kita adalah baik bagi mereka). Apakah kita sudah mencontohkannya?

Seharusnya anak diajak dan dibiasakan, bukannya hanya menyuruh anak, untuk sholat misalnya. Seharusnya diajak muroja'ah rutin bersama-sama, tidak hanya diminta untuk hafal sekian surah, dan hanya menagih saja. Akan menjadi konflik, ketika orang tua melewatkan proses. Atau...jangan-jangan orang tua hanya bisa menuntut anak-anaknya tanpa mereka melakukan hal yang sama? Kalau seperti itu, berarti kita sudah menjadi orang tua yg melakukan kecurangan dan juga menjadi diktator. Dan kemanakah cinta tanpa pamrih itu?

Betapa saya masih saja mudah lupa, bahwa anak-anak adalah bukan hak milik saya. Mereka adalah titipan Tuhan. Mereka memiliki dirinya sendiri, jalan hidup dan takdirnya sendiri. Sebagai orang tua, kita tidak bisa selamanya campur tangan dan memaksakan semua hal harus sesuai dengan keinginan kita. Tugas orang tua hanyalah merawat, mendidik, dan yang terpenting, memberi teladan yang baik. Semua itu sebagai ikhtiar orang tua dalam proses perkembangan anak agar mereka bisa survive menuju gerbang kemandirian anti galau. Menjadi generasi yang tangguh dengan modal iman dan takwa serta kecerdasan emosional yang stabil.


*catatan tengah malam
Read More

Jumat, 11 Januari 2013

Renungan

Hidup itu keras. Hidup itu penuh perjuangan. Hidup itu penuh intrik dan lika-liku.
Dan itu semua tidak akan terasa, kalau kita masih selalu berada di dalam zona nyaman.
Dataaarrrr. Adem ayem di dalam sanctuary yang seolah aman.

Someday, kita akan terkaget-kaget, ketika tiba-tiba keluar dari zona nyaman kita.
Katakanlah, musibah, ujian, cobaan yang tanpa permisi datang menerpa.
Begitu mendadak, unpredictable, mak bendunduk, ujug-ujug menimpa hidup kita.
Dan kita seolah baru tersadar, terpukul, lebih dari tersentil, shock.
Di saat seperti itulah, mau tak mau kita berhenti sejenak, tarik nafas panjaaang dan memulai perjalanan imagi sendiri untuk menyelami diri kembali, instropeksi.

Bersegera melakukan tindakan perbaikan, agar bisa meminimalisir kerugian. Kalaupun kerugian materi bukanlah hal yang terlalu dipermasalahkan, yang terpenting sebenarnya adalah mental kita. Bagaimana agar bisa bangkit dan tidak merasa down.
Bersyukurlah, kala akhirnya kita bisa menemukan hikmah yang terserak, memaknainya dalam, dan bisa membuat kita melangkah lagi, meski tersaruk dan pernah terpuruk.
Jangan pernah berputus asa, be positive all the time, karena Allah melarang kita untuk berputus asa akan rahmatNya.

 


Read More

Rabu, 26 Desember 2012

Keping Hati

Hari ini, rasanya ingin berlari

Sekedar menjauh dari hiruk pikuk duniawi

Mungkin harus mencipta batas imaji

Agar aman nyaman di dunia sepi

Murni mencerna memaknai

Hanya aku...tanpa gundah hati

Hanya aku...tersaruk mendekat pada Illahi



Read More

Rabu, 19 Desember 2012

Jalan Kembali

Senin, 17 Desember 2012

Hari yang telah menjadi saksi. Ketika takdir Allah dilakoni. Ada sebab dan akibat, ada pahit namun berhikmah, manis yang pekat.

Masih jelas di ingatan, gerimis merinai kala itu, menjelang malam. Kami berdua berboncengan di atas sepeda motor tua yang setia. Menuju rumah, pulang setelah seharian berpenat lelah mencari nafkah.

Tak seperti dulu, saat kelabu. Ketika adzan berkumandang dan kami masih berjibaku di jalanan. Ketika aku minta dia menepi, berhenti, untuk bersegera sholat. Ketika dia selalu menjawab ringan bahwa masih ada waktu untuk itu, nanti ketika tiba di rumah.

Tertegun aku, namun sisi hatiku bersorak. Aku bahagia. Aku bersyukur. Hari itu, tanpa kuminta, dia menepi, berhenti di depan rumah Illahi. Tanpa kata dia melewatiku, masuk ke dalam masjid. Aku masih tercenung, namun kemudian bergegas mengikutinya di belakang. Sambil terus berucap syukur, lantas menikmati suasana damai di dalam masjid, juga di dalam hati.

Kali pertama, dan semoga bukan yang terakhir, tidak, jangan. Hidayah Allah memang mahal, jangan sampai terjual. Kamu, aku, kini mencicipinya dengan bayaran yang tidak mudah apalagi murah. Cobaan atau musibah, mari kita cecap kini, dengan hati bening dan ikhlas, tanpa culas. Ya, karena insyaAllah berbuah hikmah, manis, indah.
Read More