Minggu, 16 Agustus 2009

Mba M (part 2)

Aah, mba M, masih tersisa tanya dalam hati ini. Dan juga penyesalan. Kenapa aku selama ini tidak benar2 dekat dengannya? Sehingga tak pernah sekalipun dia membuka isi hatinya padaku. Secuek itukah aku selama ini? Hanya memanfaatkan tenaganya tanpa benar2 berusaha menjadi temannya?

Flash back ke beberapa bulan yang lalu, tak sedikitpun perubahan tingkah lakunya kuperhatikan, terutama perubahan pada tubuhnya. Padahal suami sempet tanya ketika dia datang liburan kemaren. Kenapa kok mba M jadi ndut dan perutnya besar? Dan aku hanya menertawakan pertanyaan yang menurutku aneh itu. Dan sekarang...ternyata...

Tanggal 12 kemarin, mba M resmi menikah. Lagi2 dengan muka datarnya, dia mencium tangan ibunda di acara adat, tanpa sedikitpun tetesan air mata. Ugh, gemes! Aku aja dah berkaca-kaca mau mewek, apalagi membayangkan posisi mba M.

Aah, hanya bisa mendo'akan mba M saja sekarang. Dan siap membantu bila suatu saat bantuanku diperlukan (mengingat suaminya yang pemabuk dan nganggur:-( )

5 komentar:

  1. smoga jd yg terbaik buwat mba M...

    Thx for share mbak ;)
    Membuatku lebih dekat sm mbak W-ku

    BalasHapus
  2. trus akhirannya gmn mba..? resign kah?

    BalasHapus
  3. @rina : iya rin, musti pdkt dgn ikhlas. From heart 2 heart gt yah.
    @alikastore: ho-oh mba. Hiks, smpt mbuatku stres.

    BalasHapus
  4. @niwanda : he-eh, kaya mimpi aja pe skrg.

    BalasHapus